20/08/16

Filosofi Gentle Birth



Kelahiran Yang Pertama 

Sebagian wanita merasakan proses melahirkan sangatlah menakutkan, menyakitkan dan menyisakan trauma yang mendalam hingga bertahun-tahun lamanya.
Di kehamilan pertama, sebagai seorang “pemula” hari-hari saya diwarnai mual dan muntah hingga 8 bulan lamanya. Setiap hari terasa menyiksa. Rasanya saat itu ingin segera tiba di hari-H persalinan dan segera menyelesaikan “tugas kehamilan” ini.  Jelang persalinan, saya juga terus  menahan kesakitan yang luar biasa setiap datangnya kontraksi  selama 1 hari 1 malam. Hingga akhirnya lahirlah gadis kecil saya yang kini hampir berusia 4 tahun,  Jasmine Larasati dengan berat 2,9 kg. 


Saya kira semua rasa sakit  akan berhenti sampai disitu, tapi nyatanya tidak. Seminggu setelah bersalin, saya tidak bisa berjalan dan mengalami kesulitan untuk BAB akibat luka jahitan di perineum yang membengkak. Sepertinya cerita-cerita semacam ini tidak asing ya bagi para ibu yang melahirkan???

Sampai disini saya sepakat bahwa hamil dan melahirkan adalah peristiwa yang traumatis.






Mengenal Gentle Birth

Setiap kehamilan memiliki cerita yang berbeda, meskipun berasal dari rahim yang sama.

Hanya selang satu setengah tahun, dengan trauma yang masih tersisa, saya dihadiahi kehamilan yang kedua. Disinilah awal perkenalan saya dengan Gentle Birth.

Dari Filosofi gentle birth saya baru memahami bahwa proses melahirkan seharusnya adalah momen indah yang bisa “dinikmati” oleh para ibu (termasuk keluarga dekatnya). Sebuah momen sakral menyambut lahirnya jiwa baru,  tidak hanya bagi sang bayi melainkan juga bagi sang ibu dan ayah   yang memasuki tahapan kehidupan sebagai manusia baru. 

Beberapa pasangan yang menerapkan gentle birth bahkan rela melakukan persiapan yang luar biasa dari sisi mental , material, dan spiritual untuk bisa melahirkan di rumah demi menikmati momen sakral ini hanya dengan bantuan seorang doula. 


Untuk  merasakan persalinan yang indah banyak hal yang harus dipersiapkan sejak awal kehamilan itu sendiri.  Makanan yang baik, hati dan pikiran yang bersih, rajin berlatih olah nafas, yoga untuk ibu hamil, rajin ber-afirmasi, dsb. Silahkan untuk meng-googling ilmunya secara lebih lengkap dari internet.
 
Meskipun belum mampu menerapkannya secara utuh, namun filosofi gentle birth banyak membantu saya menjalani kehamilan kedua dengan lebih tenang. Saking tenangnya, kami (saya dan suami) hanya periksa ke dokter kandungan dua kali selama periode kehamilan ini. Kali pertama, di usia satu bulan untuk memastikan posisi calon janin benar di dalam rahim. Dan kali kedua, pada bulan ketujuh, hanya untuk mengetahui si adik siap dilahirkan secara normal.  Sisanya saya hanya beberapa kali kontrol ke bidan, minum vitamin, latihan yoga sesekali , dan sama sekali tidak menjaga pola makan (nah yang ini mohon untuk tidak ditiru). 

Jelang persalinan,  bulan ke-9, 4 hari melewati Hari Perkiraan kelahiran (HPL), tepat setengah satu malam saya merasakan keluarnya cairan dengan volume yang banyak dari jalan lahir. Karena khawatir ketuban telah pecah, malam itu juga saya dan suami bergegas ke rumah sakit. Belum ada kontraksi, baru bukaan 2 dan ketuban masih utuh.  Jam 2 dini hari barulah saya mulai merasakan kontraksi yang saya nanti-nantikan. Makin lama makin intens. Saya mengatur nafas panjang dan menikmati setiap gelombang cinta yang datang.  Semakin sakit, semakin dekat waktunya perjumpaan dengan anak kedua kami. Saat itu saya masih bisa berjalan-jalan di lorong rumah sakit sambil mengobrol dengan ibu mertua.  Barulah sekitar jam 4  pagi saya merasakan dorongan yang luar biasa untuk mengejan. 

Di atas bed bersalin  saya berusaha  tetap tenang dan yakin, sembari mengejan mengikuti irama kontraksi. Saya tahu si adik juga sedang berusaha di dalam sana. “Bantu ibu ya nak..” batin saya berulang kali. Namun para ibu bidan muda di rumah sakit itu ternyata lebih panik dari saya, “Ayo bu... mengejan yang kuat... ini bayinya besar... kasian kalo tidak segera dikeluarkan... ayo cepat bu....ayo...ayo !!!!!”. Dan teriakan-teriakan (atau aba-aba??) dari para bidan di rumah sakit itu membuat konsentrasi saya jadi buyar... alhasil saya jadi panik membayangkan ukuran janin yang besar, takut tidak kuat mengejan, nafas jadi tidak karuan.

Namun akhirnya setelah mengejan kuat beberapa kali lahirlah gadis saya yang kedua dengan berat 3,8 kg.  Inilah akibat tidak menjaga pola makan selama hamil. namun, sungguh saya sangat lega dan bersyukur bisa melahirkan bayi sebesar  itu dengan normal dan mudah. Bayi berambut lebat ini kami beri nama Jihan Sekarjati.






Dari gentle birth saya baru mengetahui bahwa perilaku bayi di masa awal kehidupannya banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu selama kehamilan dan persalinan. Anak kedua saya, boleh dibilang termasuk bayi yang sangat tenang. Tidak rewel, tidak pernah mengajak bergadang di malam hari. Dan sangat sangat mandiri... hingga sekarang. Berlawanan dengan kakaknya.








Rahasia Gravitasi
Believe me, miracle did happen
Diberkahi dengan kehadiran dua balita ternyata belum cukup buat kami, dan akhir tahun lalu saya kembali dihadiahi kehamilan ketiga. Sama seperti kehamilan anak pertama dan kedua, mual muntah juga mewarnai aktivitas saya. Bahkan saat itu saya sedang sibuk-sibuknya mengajar persiapan UN dan SBMPTN di bimbingan belajar milik  kami.  Mungkin karena sudah mempraktekkan sedikit ilmu tentang gentle birth, jadilah saya tidak terlalu memikirkan mual muntah itu. Pengin makan ya makan saja, mau muntah ya muntah saja. Lama-lama “kerewelan” tubuh  ini hilang juga. 

Karena kesibukan mengajar dan mengasuh balita, di kehamilan ketiga ini saya paling malas periksa. Alhasil di usia 32 minggu, janin saya divonis ..... sungsang. Degg,... saya mulai cemas. Suami  saya minta mendowload video beberapa posisi yoga dari bidanku.com untuk  mengembalikan posisi janin. Dengan perut besar, saya mempraktekkannya beberapa kali sehari. Dari gerakan yang standar macam knee chest hingga yang cukup ekstrim macam headstand. 

Berharap ada perubahan, selang dua minggu kami kembali USG, ... dan .....si adik masih belum mau berputar, kepala masih vertikal di atas.  Hikss... kekhawatiran saya terus bertambah. Apalagi usia kandungan sudah semakin tua. Di usia 36 minggu kami kembali periksa dan si adik masih anteng-anteng saja belum mau berputar. Padahal gerakannya sangat aktif. Sampai disini kami memutuskan untuk menunda USG karena hanya semakin menambah kepanikan saya.
 
Bukan apa-apa, waktu itu saya berharap agar tetap bisa melahirkan normal agar pemulihan lebih cepat. Pikir saya jikalau harus sectio karena bayi saya sungsang, lantas bagaimana dengan kakak-kakaknya ?? Tentu saya tidak akan bisa leluasa bergerak karena proses pemulihan pasca operasi lebih lama daripada melahirkan spontan. Tidak enak rasanya kalau harus merepotkan orangtua fulltime dengan dua balita yang lagi aktif-aktifnya. 





Jadilah di minggu-minggu jelang HPL saya hanya fokus untuk berlatih yoga dan menguatkan afirmasi. Di sisi lain saya belajar mengikhlaskan diri kalaupun nantinya  harus melahirkan dengan jalan operasi. Biarlah si adik sendiri yang memilih bagaimana cara ia ingin lahir ke dunia.

Lalu dua minggu sebelum HPL, di pertengahan Ramadhan, saya mulai merasakan kontraksi yang samar. Jangan-jangan ini sudah waktunya... saya cemas karena belum mengetahui bagaimana posisi janin saya. Saya ingat pagi  itu saya dan suami masih sibuk mengurus beberapa kepentingan dan setelah ashar barulah kami sempat cek ke dokter. Pikir saya sekalian berkonsultasi kapan waktu yang tepat untuk operasi caesar. 


Dan ...gravitasi menunjukkan keajaibannya...  Dari pemeriksaan USG, si adik ternyata mau berputar. Posisi kepala sudah berada di bawah dan siap masuk panggul. Alhamdulillah......terimakasih.... semesta maha baik. 

Saya selalu meyakini, apabila tidak ada lilitan tali pusar atau penghambat lain, kepala janin yang ukurannya paling berat dibanding ukuran tubuh harusnya bisa bergerak ke bawah sesuai hukum gravitasi... inilah Rahasia Gravitasi.  


Di titik ini perasaan syukur yang mendalam menjalari hati saya hingga rasa sakit akibat kontraksi menjadi tidak terasa. 




Hari itu juga pulang dari dokter selepas berbuka, kami berkemas untuk bersalin di klinik bidan senior dekat rumah. Dan akhirnya putra ketiga kami, Krishna Damarjati lahir dengan sehat dan selamat pukul 21.30 dengan ketuban yang masih utuh. Alhamdulillah.




Miracle did happen. 

Satu hal yang luar biasa , momen kelahiran Krishna benar-benar sebuah keajaiban bagi kami. Sebelumnya, di usia kehamilan sudah menginjak 36 bulan, banyak yang memvonis posisi janin saya yang sungsang tidak bisa lagi berubah.  Dengan berpasrah diri dan mencoba tetap yakin, saya menulis dan membayangkan akan melahirkan normal di tempat bidan senior di dekat rumah ( ini agar persalinan saya lebih nyaman dan tenang , tidak ada lagi teriakan atau aba-aba dari para tenaga medis ketika mengejan, seperti yang saya alami sebelumnya di Rumah Sakit). Saya juga menuliskan bayi saya akan lahir dengan berat sekitar 3 kg (agar tidak terlalu besar seperti kakak keduanya). Dan tanpa jahitan di jalan lahir (tahu sendiri kan bagaimana rasanya dijahit.....).  Dalam afirmasi itu juga saya menulis akan melahirkan seminggu sebelum HPL agar tidak bersamaan dengan masa cuti lebaran. and I got more.. karena baby Krishna lahir dua minggu sebelum Idul Fitri...

Ya, semuanya terjadi persis dengan apa yang saya tulis sebelumnya. Percayalah, jangan pernah meremehkan kekuatan afirmasi. Karena kita tidak pernah tahu, keajaiban apa yang menyertainya.  Miracle did happen... just believe it. 














Ada banyak cerita lain dari para ibu hebat di luar sana yang mengalami persalinan indah setelah mempelajari dan menerapkan tentang gentle birth. Satu  hal yang perlu kita yakini proses melahirkan adalah hal yang sangat alami, rasa sakit setiap kontraksi adalah sinyal bahwa tubuh sedang menyiapkan jalan untuk perjumpaan dengan bayi kita. 

Pada saat persalinan, bukan hanya kita yang berjuang keras, sang bayi pun juga sama berusahanya dengan kita . Karena itulah dalam gentle birth para ibu dianjurkan untuk sesering mungkin berkomunikasi dengan  si adik agar mau bekerjasama. Ini akan lebih memudahkan proses persalinan.


Pada akhirnya persalinan  adalah sebuah momen sakral menyambut hadirnya jiwa baru, bagi sang bayi, bagi ibu, bagi ayah, dan para kerabat dekatnya. 

Ini bisa jadi merupakan pengalaman spiritual setelah 9 bulan lamanya , yang menghadiahkan kesabaran, ketenangan, dan kehidupan yang baru.
 
Semoga sedikit cerita ini bermanfaat bagi anda. Terimakasih telah membaca.