Rabu, 2009 Juli 15

Buku versus Layar Lebar

Oke, harus saya akui kalo dunia kecil saya saat ini ngga bisa lepas dari mesin ajaib bernama komputer. Yah gara-gara motherboard rusak, stabilitas beberapa agenda jadi terganggu. Termasuk tugas-tugas dari Bayu Mukti yang biasanya saya lembur malam hari akhirnya harus canceled (sorry Bay, cuti dulu ampe guncangan finansial mereda). Tapi kali ini saya ngga bakal membahas motherboard yang lagi rusak, saya cuma ingin menanyakan, kalo seandainya teman-teman diminta memilih antara buku dengan layar lebar, kira -kira mana yang bakal lebih disuka?
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Juga Laskar Pelangi yang fenomenal, jujur mata ini lebih betah memelototi tulisan Andrea Hirata selama berjam-jam ketimbang menonton filmnya yang berdurasi 2 jam. Maaf mas Riri Riza, bukannya filmya tidak bagus. Sama sekali bukan, tapi mungkin imajinasi saya sudah terlanjur membayangkan yang lebih hehehehe.
Pun sama halnya dengan Ayat-Ayat Cinta, saya lebih jatuh hati pada tulisannya Habiburrahman Elzirazy. Saya rasa ini karena faktor aktor/aktris yang profilnya uda terlanjur dikenal publik sebagai VJ atau anak band jadi hmmm …., tapi bukan berarti saya ngga suka latar syutingnya yang eksotis. Untuk KCB, saya masih belum nonton filmnya tapi mudah-mudahan bakal seindah novelnya ( versi saya hehehe...).
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?
Diposkan oleh Rosi Atmaja di 18:29 | 14 komentar   Link ke posting ini
Label: ,
Sabtu, 2009 Juli 04

Kisah Sebatang Pohon dan Pelajaran tentang Kesetiaan

Alkisah hiduplah sebatang pohon di tengah gersangnya lembah Korphe, di antara cekungan Karakoram yang dingin, membisu dalam salju abadi, sekaligus menyimpan keangkuhan maha indah tak terperi.

Ya, tempat dimana burung gagak pun enggan untuk memalingkan penglihatan, karena dari radius berpuluh kilometer dia bisa mencium bahwa tak ada sepotong makananpun yang layak masuk dalam jalur rantai makanannya. 


Disanalah, dengan keajaiban Sang Pencipta, pohon itu tumbuh. Dalam balutan siang yang berdebu dan malam yang menjanjikan angin sepanjang waktu. Tak ada hujan, hanya sesekali bongkahan-bongkahan gletser meluncur ibarat muntahan Karakoram yang sedang murka, menjadi pemandangan dari bawah pohon yang kesepian itu.

Suatu ketika, lewatlah seorang penunggang kuda yang hendak melintas menuju Askole, desa lain di kaki Karakoram. Ia ternyata adalah seorang saudagar muda dari Islamabad yang bermaksud untuk memperluas ekspansi bisnis hingga masuk ke dusun-dusun terpencil.

Namun karena letih atau apa, saudagar itu memutuskan untuk berhenti dan bernaung di bawah sang pohon. Peluh mengalir dari dahinya cukup menunjukkan bahwa siang sedang tidak bersahabat. Angin pun seakan tak mau diajak berkompromi. Bersama teriknya matahari, mereka benar-benar membuat musim panas bersolek dengan sempurna. Sambil bersandar pada sang pohon, dikibas-kibaskannya jubah sederhana itu untuk menciptakan aliran udara, lalu diambilnya sebotol air untuk membasahi dahaganya yang memuncak.

Baru tegukan pertama, saudagar kemudian menoleh pada sang pohon yang sedari awal tak berhenti mengawasinya. Dengan tatapan takjub, saudagar melepaskan bias kekaguman,
“Bagaimana mungkin sebatang pohon bisa tumbuh di tempat segersang ini ?” kira-kira begitulah batin si saudagar. Tidak ada tanda bekas air sedikitpun di sekitar sang pohon, tapi ia dapat bertahan dalam kejamnya musim. Pastilah Tuhan begitu Maha Kuasa membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin.

Si saudagar muda kemudian menuangkan sisa air dalam botolnya untuk menyiram sang pohon yang bahkan telah lupa bagaimana rasanya hujan. Dengan kasih, saudagar mengikhlaskan minuman terakhirnya demi sang pohon yang telah memberinya sedikit ruang untuk berlindung dari siang. Lalu kemudian saudagar itu beranjak kembali meneruskan perjalanannya ke Askole. Meninggalkan sang pohon dalam kebisuannya.

Pertemuan singkat dengan saudagar muda telah membekaskan sebongkah rasa dalam hati sang pohon. Rasa kasih yang belum pernah dijumpainya dari makhluk lain dalam ladang hidupnya. Pelajaran tentang cinta kasih yang tidak mengharapkan ucapan apalagi balasan. Dan tahukah kawan, sang pohon telah jatuh hati pada saudagar itu.

Siang berganti malam, tetapi musim panas masih enggan beranjak dari bumi Korphe. Mendung di langit hanya terbawa angin kemudian menjatuhkan butir-butir airnya di lembah lain entah dimana. Tapi sang pohon tetap menyambut hari dengan gembira. Dia tahu, dirinya harus tetap bertahan hidup, demi berjumpa kembali dengan saudagar muda.

Banyak manusia lain yang melintas. Sebagian hanya lewat meninggalkan debu, sebagian lagi sengaja menjadikan sang pohon sebagai shelter, tempat berteduh yang nyaman hingga sore tiba. Lalu sebagian lagi hanya singgah untuk menjadikan pohon sebagai lokasi sempurna untuk panggilan alam yang ia rasakan. Puhhffff, sungguh tersiksa.

Waktu bergulir, seiring ganasnya musim, sang pohon justru tumbuh semakin kuat, liat, dan anggun. Daunnya lebat menghijau seakan mengolok matahari, dan buahnya mulai ranum, lezat ibarat kurma surga. Kemudian banyak manusia lain yang mulai jatuh hati pada sang pohon, ingin memetik lalu menguasai buahnya yang elok. Beberapa bahkan berencana mencabut sang pohon dari akarnya untuk dibawa serta ke belahan bumi lain dimana sang pohon bisa hidup lebih terawat dan terpenuhi sepanjang waktu.

Akan tetapi sang pohon tidak bergeming. Baginya sudahlah cukup tinggal di lembah Korphe yang tandus asalkan ia bisa memberi sedikit naungan bagi manusia yang melintas. Lagipula sejauh ini, ia masih tetap hidup dan bernafas setiap hari sambil memandangi puncak Karakoram dengan latar langit sore yang merah jambu. Itu sudah cukup.

Dan yang lebih penting, sang pohon harus tetap ada demi berjumpa kembali dengan saudagar mulia yang telah memberinya beberapa tetes air kehidupan. Seorang manusia yang telah mengajarinya untuk mengikuti kata hati dan keyakinan. Walaupun saudagar tak pernah menjanjikan dirinya untuk kembali datang. Sang pohon akan tetap setia. Sekalipun itu akan membuatnya menderita. Sekalipun itu akan menghabiskan separuh hidupnya. Sekalipun itu akan membuatnya menua. Sang pohon akan tetap setia.
Diposkan oleh Rosi Atmaja di 13:06 | 18 komentar   Link ke posting ini
Label: ,
Selasa, 2009 Juni 23

Belajar Mendengar (Sebuah De Javu Tulisan)

Kenapa judulnya De Javu Tulisan ? Sebenarnya saya pernah memposting tulisan ini tahun lalu, tapi ngga tahu kenapa pingin aja memposting ulang. yah mungkin untuk lecutan buat diri sendiri yang semakin ngga peka ini. 

Mencintai diri sindiri. Itulah fitrah kita sebagai manusia. Sadar ngga sih tiap kali kita berbicara dengan orang lain, berapa sering kita mengucapkan ‘aku’ daripada ‘kamu’. Ngga peduli apapun yang lagi dibicarakan, “Emm, Kalau aku sih….gini… gitu…”, “ Aku dulu pernah kayak gitu… anu…”, “ Kalau aku malah …..bla…bla…bla”.
Yah, bicara tentang diri sendiri emang hal yang paling menyenangkan ya ?

Saya pernah punya pengalaman curhat dengan seorang teman, karena saya pikir dia bakal kasih solusi buat saya, tapi coba tebak apa yang terjadi setelah saya cerita tentang masalah saya. …. Twwiiing…, dia malah balik menceritakan masalahnya yang menurutnya jauh lebih besar, lebih hebat, pokoknya lebih … bla..bla. benar-benar saat yang tidak tepat pikir saya. Dari situ saya kemudian lebih hati-hati kalo cari teman buat curhat, sangat sangat selektif bahkan. Coba anda bayangkan, ketika anda sedang dirundung masalah, punya suatu beban yang ingin anda keluarkan, anda ingin ada orang yang bisa memberikan masukan atau paling tidak sekedar mendengar lah. Lalu teman anda dengan tanpa berdosa malah gantian mencenceritakan perihal dirinya, perihal hidupnya… fiuuuh.

Dalam berinteraksi memang dibutuhkan suatu timbal balik. Ketika dua sahabat bertemu bisa saja saling berkisah tentang pengalaman masing-masing. Tapi ada masanya kita juga musti panda-pandai membaca situasi. Ketika ada seorang teman yang datang dengan masalah yang memberatkan punggungnya, disitulah kita ada untuk menampung keluh kesahnya, mengeringkan air matanya, give a shoulder to cry on. Menjadi tong sampah yang baik buat mereka. Disinilah kedewasaan kita dibutuhkan, dan keegoisan kita untuk sekedar mengatakan “Kalau aku … bla bla ” ditahan sebentar deh.

Sekarang coba jujur pada diri sendiri, pastinya kita bakal lebih betah ngobrol dengan orang yang antusias mendengar cerita-cerita kita, orang yang menyimak setiap detil kata yang kita ucapkan. Bahkan ketika kita mulai membual tentang kehebatan diri sendiri, dia masih tampak setia memperhatikan kita sampai tenggorokan kita kering. Bandingkan ketika berada dengan orang yang begitu banyak bicara.

Sahabat saya pernah menceritakan pengalamannya makan bareng temen-temen kerjanya. Diantara mereka ada seorang yang memang sangat ekstrovert. Selama 2 x 60 menit acara makan-makan, dan pembicaraan hanya didominasi oleh cerita-cerita si ekstrovert tentang dirinya, keluarganya, pengalamannya, apa-apa yang dia sukai, hobinya , binatang peliaraannya , bla…bla…bla… (kalo boleh saya ilustrasikan sih dari terbit matahari sampai maghrib, ngga bakal selesai … hehehe…). Dan saya bisa menebak bagaimana perasaan sahabat saya yang sangat introvert itu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran buat siapapun, terutama buat diri saya sendiri, buat menjadi pendengar yang baik.

Setiap pertemuan menjadi petualangan. Setiap orang menjadi pelajaran kehidupan. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, dan yang kesepian, semuanya penuh impian dan keraguan sama seperti kita. Dan setiap orang memiliki kisah unik kalau saja kita bersedia mendengarkan. Betapa sering kita membiarkan kesempatan itu melewati kita. Seorang gadis yang menurut kita bisaa saja, penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah kita, orang orang itu memiliki cerita sama seperti kita. Dan sama seperti kita juga, mereka memimpikan akan ada orang yang mau mendengarnya.”(Chicken Soup For The Soul)

Diposkan oleh Rosi Atmaja di 12:12 | 13 komentar   Link ke posting ini
Label: , ,
Langgan: Entri (Atom)