Nama Saya Rosi

Ini cerita tentang sebuah nama. Boleh saja Om Shakespeare bilang kepada dunia, apalah arti sebuah nama. Tapi buat saya itu sedikit masalah, Om. 
Begini sobat, sadar atawa engga seringkali kita mengasosiasikan seseorang dari namanya duluan. Ambil contoh ketika kita baca nama Budi Priyambodo di Koran, tanpa ngeliat orangnya pun kita langsung tahu kalo si empunya nama itu pria. Atau nama Sri Pujihastuti, pastilah pikiran kita berasosiasi orang ini berjenis kelamin perempuan. Lain halnya dengan nama Anis. Ada Pak Anis Matta, Pak Anis Bawesdan, tapi juga ada mba Anis tetangga saya, atau Bu Anis –sa Bahar (hehe maksa bangets). 

Nah, soal nama ini saya punya cerita, sobat. 
Introducing dulu. Ehem, Perkenalkan nama saya Rosi Atmaja, saya perempuan. 

Sebelum ini banyak yang salah mengira saya laki-laki, mungkin gara-gara nama saya yang mendua makna. Kasian banget yah. Jadi curhat, rasanya aneh banget ketika ada sahabat blogger yang meninggalkan jejaknya di sini dan memanggil saya “mas Rosi”. Ngga itu aja, bahkan ada yang memasang alamat blog saya di blogroll dengan sebutan “Mas” di depannya. Catat, M A S dengan huruf besar-besar ... patrick mode ON dah.  Suer, it’s really ..really weird for me. To aviorclef thanks berat coz uda ngerubah nama saya di blognya ;-p . Nah, dari hasil analisa amatiran saya ada beberapa poin kemungkinan itu terjadi :

 
Pertama, sahabat blogger tersebut belum sempat membaca profile saya yang bertuliskan gender : perempuan (probablilitas ini terjadi 60%) 

Dua, saya emang sengaja tidak meng-upload foto di profile, alasan ini peluangnya saya perkirakan 20%. 

Ketiga, mungkin karena rumah blog saya yang jauh dari kesan girly. Secara… karena aslinya rada tomboy hehe (peluang 10%) 

Alasan keempat adalah Valentino Rossi. Loh bawa-bawa nama om Vale ? yup, karena sosok Vale yang uda kesohor duluan. Kadang orang mengasosiasikan nama Rossi pastilah satu gender sama doctor motogp itu. Yah, generalisasi yang ngga bisa disalahin sih sebenarnya. (kemungkinannya 10% ) 

Sekedar tulisan curahan hati aja, sobat. Lagian orang tua tercinta udah kadung tirakat 7 hari tujuh malam buat sekedar menghadiahkan nama “tomboy” ini buat anak gadis mereka (hehe lebay...). Poinnya, don’t judge a box by it’s cover … gimana setuju atuh ?


Honesty

Honesty (Billy Joel, 1979)

If you search for tenderness
it isn't hard to find.
You can have the love you need to live.
But if you look for truthfulness
You might just as well be blind.
It always seems to be so hard to give.

Honesty is such a lonely word.
Everyone is so untrue.
Honesty is hardly ever heard.
And mostly what I need from you.

I can always find someone
to say they sympathize.
If I wear my heart out on my sleeve.
But I don't want some pretty face
to tell me pretty lies.
All I want is someone to believe.

Honesty is such a lonely word.
Everyone is so untrue.
Honesty is hardly ever heard.
And mostly what I need from you.

I can find a lover.
I can find a friend.
I can have security until the bitter end.
Anyone can comfort me
with promises again.
I know, I know.

When I'm deep inside of me
don't be too concerned.
I won't as for nothin' while I'm gone.
But when I want sincerity
tell me where else can I turn.
Because you're the one I depend upon.

Honesty is such a lonely word.
Everyone is so untrue.
Honesty is hardly ever heard.
And mostly what I need from you.


Ketika Billy Joel menyanyikan lagu ini tahun 1979 silam, saya memang belum terlahir ke dunia. Namun, mendengar suara Beyonce yang membawakan kembali “Honesty” di tahun 2009 ini, membawa saya ke dalam satu ruang perenungan. Betapa kejujuran teramat jarang ditemukan.
Kekayaan, kemewahan, pangkat, jabatan, sanjungan mungkin tidak sulit untuk dicari, kawan. Tapi ketika kita mencoba menemukan kebenaran, ketulusan, kejujuran,… yang tersisa hanyalah sesuatu yang fatamorgana.
Kita bisa saja membayar seseorang untuk mengatakan apa-apa yang ingin kita dengar. Kita bisa juga memiliki kawan yang selalu memberi kita kenyamanan dengan kata-kata manisnya. Tapi apakah kita sanggup berdiri di atas kebohongan itu ?
Apa benar nurani kita mampu tersenyum di balik topeng kedustaan ?
Membohongi orang lain dengan beribu satu alasan pembenaran bisa saja kita lakukan, tetapi membohongi hati kita sendiri, bisakah itu ?

Belakangan ketika tikar ramai digelar, layar dikembangkan, proyektor dinyalakan, lalu kita dipertontonkan tayangan para petinggi Negara yang saling beradu bukti untuk menunjukkan “ketidakjujuran”. Kita mendapatkan pelajaran berharga, bahwa kebenaran tak jarang harus dibayar dengan harga mahal, dengan mempertaruhkan kehormatan bahkan nyawa. Maka saya menyesalkan ketika ada yang menganggap perjuangan menegakkan kebenaran itu sebagai hal yang “nggedabrus”.
Sejauh yang saya yakini  kebenaran pasti terungkap pada waktunya. Meski butuh puluhan hingga ratusan purnama. “Tuhan Maha Tau, tetapi Dia Menunggu”, demikian ungkapan Leo Tolstoy.

Kejujuran adalah kata yang asing,
Setiap orang bisa saja berdusta dengan seribu satu alasan pembenaran
Kejujuran, begitu sulit untuk didengar
Tetapi , … itulah yang kubutuhkan darimu.

Potret Anak Jalanan Madiun


Luluk dan kawan lagi ngamen di perempatan Te'an Demangan Madiun.
Berdandan menor, hanya demi segepok rupiah...


Pak Haris (Pengelola Rumah Singgah) lagi mendata 3 pengemis bersaudara
di sebelah barat Odiva jalan Diponegoro. Mereka uda hidup di jalanan sejak dalam gendongan
 

Yang tersisa dari Acara Pondhok ramadhan lalu bareng anjal
 









Buka bareng temen-temen loper koran




Potret anak-anak pengamen yang menyimpan sejuta mimpi,
"Yakinlah Besok masih ada asa, dik ..."












 Rumah Singgah Anak Jalanan, Dalam segala keterbatasan


 







KISAH SEBATANG POHON (PART TWO)


Masih inget postingan saya yang judulnya Kisah Sebatang pohon dan Pelajaran tentang kesetiaan ? Jangan khawatir, kawan, ini bukan seri sekuelnya koq. Biarlah Sang pohon dalam tulisan terdahulu tetap bertahan dalam dekapan musim yang berangin, di lembah Korphe dengan latar puncak K2 yang berlangit ranum. (menulis tentang itu selalu bikin saya mellow ;-p )
Ini tentang nasib pohon dadap merah yang saya tanam beberapa hari lalu di samping rumah. Niatnya sih buat balas budi kepada bumi yang sudah memberi saya banyak saripati kehidupan. 
Butuh perjuangan yang keras untuk mempertahankan pohon itu. Berhubung halaman saya yang sempit, apalagi tinggal di kampung yang sangat tidak memungkinkan memperlebar jarak antar rumah. Jadilah pohon dadap merah yang baru saya tanam diprotes tetangga sebelah. Gara-garanya takut kalo besar nanti bisa rubuh menimpa rumah dia. Please deh, alasan yang really.. really unacceptable menurut saya.
Belom juga tumbuh besar, koq udah dipermasalahkan.  Bener - bener ngga habis pikir saya.
Saya yang memerjuangkan sang pohon itu habis-habisan akhirnya musti “ngalah”juga. Dari hasil sidang paripurna barengan bapak sama ibu, sang pohon dadap merah harus dicabut dari tanahnya padahal belum genap berumur 2 minggu. 

“Nanti dipindah di Drum saja”, kata Bapak.
Saya Cuma bisa merintih dalam batin. Merasa bodoh karena ngga bisa melakukan apapun. Bukan apa-apa, cuman di musim hujan kayak gini, kalo ngga ada pohon di sekitar rumah, trus banjir kan repot ? Pas musim kemarau kemarin juga rasanya panas luar biasa. Kalo ada makhluk-makhluk berklorofil pasti kan jadi lebih adem. 
Tapi ya udahlah, daripada ribut sama tetangga, ngga baik juga. Prinsip saya, ngga ada rotan akarpun jadi. Ngga boleh ditanam di halaman rumah, ya pohonnya bakal saya tanam di drum aja!!!!!!
Buat kawan -kawan, mohon doanya moga tetangga saya cepet tobat, kembali ke jalan yang benar hehe ;-p