Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

31/10/08

ANTARA IDEALISME DAN KEMAPANAN


Idealisme dan kemapanan, mana yang lebih kamu pilih ? itulah 2 pilihan yang pernah menggelitik fikiran saya pada suatu waktu dan itu juga pertanyaan yang pernah saya lontarkan pada beberapa teman.
Idealisme itu penting untuk eksistensi diri, sedangkan kemapanan penting untuk bangun diri, jadi kalo bisa ya seimbang antara keduanya. Demikian pendapat seorang kawan.
Lain lagi ketika saya menanyakan hal yang sama kepada teman saya yang guru Taman Kanak-kanak. Ketika ada seorang yang rela mengabdi di sebuah sekolah, meskipun gajinya kecil, meski ngga ada perhatian dari pemimpin, meski dia terjebak di tengah distorsi antar kepentingan pribadi dan sekolah, tapi dia rela dan ikhlas demi memajukan murid-muridnya. Itulah idealisme sejati.
Sedangkan teman saya yang seorang psikolog mengatakan, menurut teori di dalam diktat psikologi, dalam hierarki kebutuhan tentulah kemapanan yang kudu didahulukan, kecukupan sandang, pangan, dan papan. Baru kemudian pemenuhan hasrat akan idealisme. Tetapi tentu teori beda dengan kondisi nyata, lalu teman saya bilang semua itu tergantung bagaimana kenyamanan kita. Seorang pelukis bisa saja rela meninggalkan kemewahan hidupnya demi menyalurkan kegilaannya di atas kanvas. Seorang Avril Lavigne, berani menolak memakai baju sponsor yang membiayai konsernya karena karena dia ingin tampil apa adanya, menjadi dirinya sendiri, sesuai idealismenya.
Saya sempat berfikir idealisme itu ibarat air, tanpanya hidup pastilah kering tanpa makna. Sedangkan kemapanan itu ibarat kuda. Dengannya kita bakal cepet nyampe ke tujuan kita. Tapi tanpa itu pun kita masih bisa nyampe meskipun harus berjalan kaki (kalo ngga ada yang kasih tumpangan hehehe…).
Lalu kemudian ada seorang yang baik hati mengirimi saya email, salah satu isinya memuat artikel yang menyinggung tentang bagaimana seharusnya menghargai sebuah proses. Detik demi detik yang kita lewati, tiap helaian nafas yang kita hembuskan, setiap usaha yang kita jalankan, semua itu sebenarnya buat apa ?
Hidup ini ibarat ladang. Mau ditanami apapun terserah diri kita. Mau dibiarkan kering tak tergarap juga itu urusan masing-masing. Intinya ketika kita menanam dan merawat ladang itu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dengan semaksimal mungkin. Dengan benih yang terbaik, dengan pengairan yang cukup, dengan pupuk yang proporsional. Perkara nanti hasilnya berlimpah atau tidak, itu sudah di luar kewenangan kita. Ada Dzat yang lebih Kuasa menentukan perkara-Nya. Kita hanya mampu melakukan yang terbaik, ikhtiar yang maksimal, dan menikmati setiap proses itu. Kalaupun nanti hasilnya banyak ya syukur, kalaupun sedikit ya tak kecewa sebab kita telah menghargai tiap titik keringat demi merawat ladang tadi.
Sebab tujuan akhir kita bukanlah pada hasil semata.
Gimana dengan anda ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.