Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

26/10/08

SOULMATE ITU.....


 
Pernah ngga menemukan orang yang benar-benar klik dengan kita ?(minjem istilahnya mba’ Ussy Sulistyowati nie…hehe). Seseorang yang punya cara pandang yang sama dengan kita tentang suatu hal. Seseorang yang ketika kita kita mau ngomongin sesuatu, dia uda nyambung duluan bahkan sebelum kita belum mulai ngomong. Seseorang yang disaat kita memikirkannya tiba-tiba dia sms kita ngga terduga ?
Seseorang yang sepertinya benar-benar bisa merasa apa yang kita rasakan. Seperti ada sebuah ikatan yang dihubungkan oleh kabel serat optic tak kasat mata yang bekerja karena adanya senyawa hati. 

Pernahkah merasakannya ?
Is there a soulmate for everyone ?” demikian Natasha Beidingfield bertanya-tanya dalam lagunya (ini lagu kebangsaan temen saya aroitreng  hehe)

Mungkinkah Sepasang belahan jiwa itu 2 orang yang lahir di tanggal, bulan, tahun yang sama tapi dari rahim yang berbeda ? Atau dua teman Taman Kanak-kanak yang setelah belasan tahun dipisahkan jarak dan juga ruang akhirnya bertemu di pesta reunian ?

Atau bahkan antara dua insan beda benua antara ras negroid dari Afrika dengan seorang Japanese tulen yang ketemu karena lagi liburan di Bali… hehe…

Atau mungkin dia adalah sahabat kita, teman yang selalu ada di dekat kita ? 

Banyak orang yang percaya adanya soulmate (belahan jiwa – red) dan mungkin kamu termasuk diantaranya. Tapi sebagian lagi memilih untuk bersikap skeptis soal ini. 

Ngga ada definisi atau teori yang jelas tentang soulmate. Edgar Cayce, Richard Bach, dan Elizabeth Clare telah mengupas banyak hal mengenai soulmate. Ada tiga tipe atau ciri yang sering dibicarakan terkait dengan definisi soulmate antara lain : 1. Seseorang yang sejiwa dengan kita, 2. seseorang yang mengasihi kita dan akan slalu mendukung kita dalam meraih impian, 3. seorang guru yang datang dalam hidup kita dan mengajarkan kita tentang makna hidup.

Yang pasti dalam setiap episode hidup, kita selalu bertemu dengan banyak orang. Ada yang datang kemudian pergi. Ada yang lewat begitu saja, tapi ada pula yang singgah dan membekaskan kenangan di hati kita. Ketika kita berusia 17 tahun lalu kita bertemu dengan seseorang yang tepat, kita bisa saja berkata, " This is the one. Dialah yang saya cari, saya begitu cocok dengannya....". Namun waktu terus berputar dan kadang berbagai hal yang tak kita inginkan terjadi. Kita beranjak dewasa dan di usia 23 tiba-tiba kita menemukan orang lain yang ternyata satu pemikiran dengan kita dalam memaknai hidup, dan kita membatin, "Oh, God, mungkinkah dia soulmate itu...?" Semua itu bisa saja terjadi pada kita.

Pikiran kita terus saja dijejali pertanyaan-pertanyaan tentang dimanakah soulmate kita berada. Otak kita terus memvisualisasikan gambaran tentang soulmate yang tentu saja sempurna ibarat The Prince/princess charming yang datang di waktu tak terduga seperti di cerita-cerita cinderella

Trus, apakah salah kalo kita bermimpi dan membuat gambaran sendiri tentang soulmate kita ?Ngga salah, cuma kita musti realistis, guys. Kita hidup di dunia realita, bukan negeri dongeng. Kadang sesuatu terjadi ngga seperti yang kita harapkan. NOBODYS PERFECT. So, kita musti buka mata, buka fikiran, buka hati dan tetap terjaga dalam dunia nyata. Dan kalopun kamu sudah menemukan The Prince/Princess Charming itu, terimalah mereka apa adanya, jangan pernah menginginkan mereka berubah menjadi seseorang yang kamu inginkan. Bukan berarti kita ngga boleh membantunya untuk berkembang lebih baik, tetapi jangan memaksa mereka menjalani sesuatu yang membuat mereka jadi ngga nyaman. 

Tidak sedikit dari kita menghabiskan separuh hidupnya hanya untuk menemukan belahan jiwa. Menunggu dan terus mencari, bahkan terkadang melakukan hal-hal konyol seperti ikut reality show untuk menemukan pasangan jiwa dan blind date yang sering berakhir dengan kekecewaan karena sang pasangan instan yang ditemui jauh dari kriteria.
Ada yang sering berganti-ganti pasangan hanya demi alasan ingin menemukan seseorang yang benar-benar pas untuknya. Sementara itu Ribuan surat cerai pun telah dikeluarkan hanya karena alasan tidak ada kecocokan setelah puluhan tahun menikah…

Berarti dua orang yang telah menikah pun, belum tentu sepasang soulmate gitu ?

Wallahu a’lam. Keterbatasan sebagai manusia menghalangi saya untuk bisa membuka tabir tinta-Nya dalam Lauhul Mahfuz

Sekarang gantian saya deh yang bertanya… percaya ngga sih sama soulmate ???

2 komentar:

  1. Dulu saya mencari soulmate yang sejiwa dan sehati... Ternyata ini bisa menjadi 'bumerang' karena kita mencari seorang yang sempurna yang sesuai dengan kriteria dan impian kita. Satu2xnya 'orang' sejiwa dan sehati itu tak lain dan tak bukan adalah refleksi dari diri kita sendiri (narsis dong...mencintai diri sendiri)...

    Selanjutnya saya mencari orang yang bisa saya terima ketidaksempurnaannya dan bisa menerima ketidaksempurnaan saya... Compatibility... that's the keyword!. Dan... saya pun menemukan sang soulmate... :)

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.