Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

07/11/08

KEKUATAN MENULIS

Saya begitu terinspirasi oleh buku QUANTUM WRITING. Ibarat quantum, energi yang diberikan penulisnya lewat kata-kata dalam buku ini begitu powerfull seperti pancaran cahaya yang amat dahsyat.
“Menulis adalah salah satu cara melakukan perjalanan batin”. Ya, mungkin itulah salah satu alasan saya membuat blog ini.
Saya ingat akan kisah seorang gadis kecil dan diarinya. Setiap hari sepulang sekolah tak lupa ia menulis dalam buku diari birunya, membiarkan tangan mungilnya terus bergerak meninggalkan jejak-jejak coretan. Laksana Claude Monet, dengan lihai ia menarikan kuasnya di atas kanvas diari. Menuangkan cerita-cerita tentang sekolah, tentang mimpi, harapan, tangis, tentang cinta. Lalu ketika sang gadis sudah beranjak dewasa, saat “waktu adalah uang” sudah menjadi slogan hidup, tak ada lagi cerita untuk dibaca, dan buku diari itu hanya menjadi penghuni box kayu di bawah tempat tidur. Tak tersentuh lagi.

Mungkin gadis kecil itu adalah saya, mungkin juga anda. Lihatlah betapa sering kita menertawakan kegiatan menulis diari sebagai ritual anak ingusan yang ngga punya kerjaan. Padahal lewat catatan harian, pengalaman itu distrukturkan, dikristalkan dan diberi karakter diri. Luar biasa.
Tanpa tulisan-tulisan dalam memoarnya, kita ngga akan pernah tahu kalo di hari kematian Hasan Al Banna, menyusul penembakan misterius dengan luka yang masih bias diobati, pihak rumah sakit membiarkan tokoh kharismatik ini terkapar tanpa pertolongan.
Lewat buku harian pula, Anne Frank, gadis 13 tahun keturunan Yahudi berkewarganegaraan Jerman mengisahkan pelarian bersama keluarganya dari kejaran tentara Nazi. Sampai akhirnya Nazi berhasil membawa mereka ke kamp konsentrasi hingga Anne meninggal dunia. Kemudian pada tahun 1947 buku harian Anne diterbitkan dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dicetak dan diterjemahkan.
Anda mungkin salah satu penggemar Soe Hok Gie. Seorang aktivis muda sekaligus pendaki gunung tangguh yang tumbuh di tengah keluarga Tiong Hoa yang sederhana. Pemikirannya yang kritis, tulisan-tulisannya yang menggigit , tajam dan seringkali sinis. Cerita tentang akhir hidupnya yang berakhir tragis di Puncak Semeru 1969 bisa anda selami dalam Catatan Harian Seorang Demonstran.

Kisah-kisah besar seringkali berawal dari yang kecil dan sederhana. Siapa tahu suatu saat kita bakal jadi orang terkenal, lumayan kan kalo biografi kita bias dijual…
Rosi Atmaja, The Biography ..hihihi…misal lho…ngayal ga papa kan ;-p ?

Fatima Mernisi, seorang penulis wanita kelahiran Maroko menyatakan, bahwa menulis jauh lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah. Ini didukung oleh sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa menulis meningkatkan aktivitas sel, sehingga dengan menulis setiap hari akan membuat kulit kita menjadi segar kembali. Apalagi kalo kita bias melepaskan perasaan emosional kita lewat tulisan, itu bakal memberikan kepuasaan dan perasaan lega. Menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif dan tentu saja ini bakal berimbas pada kesehatan fisik kita. Mengeksplorasi pikiran dan perasaan terdalam lewat tulisan memang sih bukan obat yang bias mengobati segalanya, tapi paling engga menulis akan menolong kita untuk memberikan sedikit jarak dan perspektif dalam kehidupan. Ciiee, bahasanya koq makin filosofis gini… belajar dari Pluto, eh, Plato ;-)

Maka dari sini saya mengajak anda, juga diri saya sendiri donks, untuk memasyarakatkan kegiatan tulis menulis… (wah kalo ini kayak himbauannya menteri olahraga heee…). Ngga perlu takut buat memulai, ngga usah jengah dengan berbagai aturan yang ada. Just Write !!! anggap saja kita hidup sendirian di muka bumi. Bayangkan kita bebas dari semua postulat dan kaidah tulis menulis yang dulu cuma bikin nilai Bahasa Indonesia saya pas SMA ngga pernah beranjak dari 7 koma nol. Alirkan semua titik-titik cahaya yang menggumpal dalam neuron saraf, perasaan, dan sudut-sudut tersembunyi di diri kita ke dalam rangkaian huruf yang menjelma menjadi kata-kata, lalu bersimbiosis membentuk paragraf, dan tanpa anda sadari anda terus menulis menulis dan menulis seolah anda barada di dalam aliran…(jangan khawatir ngga bakal tenggelam koq).
Mengutip pendapat seorang Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, “Ketika orang berada dalam suatu kondisi sangat focus, sangat waspada, merasa senang dan kehilangan jejak waktu, saat itulah mereka berada dalam aliran”.
Maka ngga heran kalo penulis-penulis besar bias menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menulis tanpa merasa lapar dan lelah. Dan saat itulah mereka di titik sangat produktif.

So, are you ready to start ???
Warna akan pudar, kuil akan ambruk, kerajaan akan runtuh, namun kata-kata bijaksana tetap abadi - Edward Thorndike

6 komentar:

  1. Betul sekali, seharusnya kita memang punya catatan hidup yang akan memberi gambaran kepada banyak orang seperti apa kita ini, ya minimal untuk analisa diri kita sendiri, melihat jejak yang telah kita tapaki selama kita bernafas di dunia ini. :D

    BalasHapus
  2. WAH ANDAI SAJA GURU SAYA NGAJARNYA ENAK, PALING ENGGA CAKEP LAH, PASTI BETAH DI KELAS HE...

    BalasHapus
  3. Iya, menulis itu sangat berguna untuk hidup kita.
    Saya merasakannya sendiri. Saat tidak ada teman untuk diajak bicara apalagi bermain, keyboard yang saya jadikan pena, dan Ms. Offixx adalah bukunya.
    Namun saya sangat sedih sekali karna 4 tahun yang lalu hardisk saya tiba-tiba rusak. Dan seluruh data hilang bersama pengalaman hidup saya selama 6 tahun. termasuk sajak, dan novel yang pertama saya buat.
    Sekarang saya mulai lagi semuanya.
    Thanks to Google&BlogSpot.. ^^

    Saya Arofah,
    Salam kenal..^^

    BalasHapus
  4. tulisan yang memberikan ispirasi, tks ya...

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.