Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

16/01/09

Balada sekotak nasi

Karena dapat jadwal siaran pembuka tiga hari dalam satu minggu, paling engga di jadwal itu saya harus berangkat lebih pagi sekitar pukul 04. 45. Beruntung jarak rumah-studio ngga terlalu jauh, jadi dengan kecepatan 30 km/jam naik motor, saya uda bisa nyampe studio dalam waktu tujuh menit.
Namun belakangan ada hal yang sedikit merisaukan saya. Bukan Karena masalah bangun pagi atau udara dingin yang menusuk tulang, juga bukan karena tiap pagi buta saya harus ekstra berhati-hati tiap kali berpapasan dengan para pedagang sayur yang menaiki motor dengan kecepatan tinggi tanpa lampu yang menyala. Tapi karena ibu. Ya, belakangan ibu harus bangun lebih pagi hanya demi membuatkan saya sekotak nasi untuk sarapan. Mungkin ibu prihatin melihat anaknya yang pagi hari harus berangkat kerja dengan perut kosong, lalu terkadang pulang siang dengan kondisi yang sama. Atau barangkali beliau tidak tega melihat anak perempuannya harus sarapan nasi bungkus yang tidak begitu bersahabat dengan sistem pencernaan. Jadilah tiap subuh ibu repot sendirian menyiapkan bekal untuk saya bawa. Padahal saya sudah mencoba menolak, sungkan kalo musti merepoti ibu pagi-pagi. Tapi, karena ibu bersikeras, saya pada akhirnya harus tunduk dan manut saja pada pemilik gen yang mewarisi saya sifat keras kepala itu.
Terkadang saya begitu terharu melihat wanita mulia ini, beliau bisa menjadi ibu sekaligus bapak, karena bapak memang sudah lima tahun dinas di luar kota dan paling hanya pulang dua kali dalam sebulan. Dia selalu ingin melindungi anak-anaknya, lebih tepatnya tiga anak perempuannya. Mungkin itu salah satu alasan mengapa ibu melarang keras niat saya untuk hijrah ke Kalimantan. Dan sekotak nasi yang selalu menemani saya tiap siaran pagi seakan jadi pengingat agar saya tidak membantah wanita mulia itu, meskipun keinginan untuk pergi merantau begitu kuat. 
Sekotak nasi ini menjadi bukti, sebuah tanda cinta dari ibu kepada anaknya, tanpa pamrih tanpa mengharap bayaran. To ibu, makasi banyak buat semuanya. Love u so.

5 komentar:

  1. iya mbak mungkin ibu mbak rosi ga tega anaknya merantau ke pulau seberang :D . Udah di madiun aja mbak...hihihihi kerja sambilan kayak aye saja hahahah

    BalasHapus
  2. hehe... nyari temen, takut ditinggal sendirian di AE tuh...

    BalasHapus
  3. Yaaaa....h, sama nasib kita, moga kita segera membahagiakan mereka ya mbah rosi, cinta ibu memang tiada duanya, tar kalo jadi ibu juga harus gitu lo ya pada anaknya...:)

    BalasHapus
  4. Hehehe, yang diatas salah tulis, maksudnya bukan mbah, tapi mbak,hehe..kan masih muda masak dipanggil mbah...

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.