Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

16/01/09

THe BIG TeN

Kira-kira begitulah saya menamai persahabatan kami. Sepuluh orang teman perempuan di bangku SMA dengan karakter A sampai Z, lengkap dan meriah seperti pesta kembang api.
Kenapa ‘Teh Big Ten” ? Ah, itu sebenarnya Cuma ide sepihak dari kepala saya saja tanpa ada konsensus dengan teman-teman lainnya. Saya pikir nama itu cukup merepresentasikan para anggotanya yang rata-rata memiliki massa tubuh cukup berbobot kala itu, ditambah dengan faktor gravitasi bumi ;-p (tanpa bermaksud mengesampingkan teman-teman lain yang berpostur mungil). Kami ibarat laskar tim basket putri Kelurahan Maju Mundur.
Introducing member : DiDi bersaudara, Full comment sister, Tinnytoon, Miss Deeply, Miss Shy, Mey, Terry, Woming, dan saya sendiri. Jadi serasa baca komik Fantastic Four.
Saya ingat betul masa-masa SMA beberapa tahun lalu, gelora darah muda memprovokasi kami melakukan petualangan-petualangan kecil penuh makna. Seringkali tiap libur sekolah kami bersepuluh (kadang ditambah teman-teman lain) menjelajahi tempat –tempat tertentu dengan cara kami sendiri. Menaklukkan rasa manja ala anak mama, memuaskan rasa penasaran akan hakikat sistem penciptaan, mengukur kekuatan fisik hingga batas terakhir. “Lihatlah Dunia, inilah kami para wanita perkasa”, mungkin itulah yang ada dalam otak kami saat itu.
Pernah kami berjalan kaki dari daerah Plaosan, memotong jalan, melewati perkampungan penduduk, melibas persawahan, menyeberangi sungai-sungai kecil menuju air terjun Ngancar di kaki gunung Lawu. “Benar-benar anak yang kurang kerjaan.”, barangkali begitu pikiran tiap orang yang kami jumpai di pematang sawah.
Di lain waktu kami melakukan outbond ke daerah perkebunan teh di Jamus Ngawi. Perjalanannya ternyata tak semulus yang kami duga. Untuk berangkat saja kami harus berganti kendaraan hingga beberapa kali sampai akhirnya naik kendaraan omprengan pengangkut sayur karena jarang sekali ada angkutan umum melewati jalur yang kami tuju. Di perjalanan pulang pun masalah kendaraan menjadi isu sentral petualangan. Bis yang mengangkut kami mengalami gangguan mekanis sehingga tidak mampu melakukan akselerasi dengan sempurna atau dengan kata lain, mogok. Walhasil saya pun kemalaman sampai di rumah plus dapat paket stimulus bentol-bentol kena ulat daun teh. Melihat saya, ibu berkomentar, “Udah…Ngga pake diulangi lagi ya…!!”. Saya Cuma bisa cengar-cengir menahan rasa panas dan gatal yang luar biasa di sekujur tubuh .
Ada lagi, suatu ketika kami sepakat naik ke daerah Kare di Kabupaten Madiun. Kami merangsek masuk ke sebuah alas kecil melihat berbagai spesies tumbuhan aneh dan mengalami pengalaman spiritual yang mengesankan. Saat itu kami sedang turun di daerah aliran sungai dan beristirahat di atas batu kali yang besar-besar. Lalu ketika salah seorang teman membaca Al Quran, tiba-tiba dia merasakan batu kali yang didudukinya bergetar. Barangkali karena tunduk akan kebesaran firman-Nya. Subhanallah.
Enam tahun sudah berlalu, nasib membawa kami menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang sudah menikah, memiliki momongan, ada yang merantau ke Kalimantan, ke ujung timur Papua, ada yang menjadi guru, perawat, ada yang masih berstatus mahasiswa, juga ada yang sekedar menjadi pengamat sosial seperti saya hehehe.
Bagaimanapun kondisinya sekarang dan pilihan hidup meletakkan kami dalam koordinat yang berbeda, saya rasa pengalaman masa lalu itu ibarat kepingan-kepingan mozaik, yang pada akhirnya menyusun sebuah montase kehidupan. Menyisakan sebuah kisah klasik untuk masa depan, seperti kata Sheila On 7.

1 komentar:

  1. Hiks...hiks jadi teringat masa-masa indah sekolah dulu :(

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.