Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

21/02/09

Jejak Perjalanan Menuju Kota Singaraja



Senja telah jauh tergulung langit malam ketika saya melaju di atas bis jurusan Surabaya. Malam hari sengaja saya pilih untuk perjalanan kali ini demi memangkas waktu tempuh. Maklum siang berpeluang besar macet.
Destinasi saya adalah Sririt, Kota Singaraja. Kalo kita membuka peta Pulau Bali maka letak Singaraja ada di ujung utara, ditandai bulatan warna merah dengan noktah hitam di tengahnya, sebagai simbol bahwa ia adalah ibukota kabupaten Buleleng.
3 setengah jam perjalanan Madiun-Surabaya saya sempat terlelap, untungnya suara kondektur bis yang seperti kaleng pecah membangunkan tidur saya yang telah memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Bis tiba di Bungurasih tepat saat adzan subuh berkumandang. Saya turun untuk menunaikan dua rakaat di masjid di seberang terminal.
Sebenarnya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih untuk bertolak ke Banyuwangi dari Surabaya. Pilihan pertama, pergi ke stasiun terdekat lalu naik kereta api jurusan Ketapang, tapi saat itu tepat tengah malam, lagipula jadwal KA susah diprediksi. Alternatif kedua, naik bis malam jurusan Singaraja. Sejauh pengetahuan saya hanya ada dua PO yang punya otoritas mengangkut penumpang menyeberangi Selat Bali menuju Singaraja, PO Manggala dan Puspasari. Kelebihan naik bis malam jelas nyaman dan aman sampai tujuan, dan sesuai hukum alam kenyamanan itu tidak bisa dibeli dengan harga murah. Sekitar 120 ribu tarif bis malam Surabaya-Singaraja, dan saya harus realistis karena anggaran financial saya cukup terbatas untuk perjalanan ini, jadi pilihan kedua cukuplah sebatas wacana. Alternatif ketiga naik bis jurusan Muncar langsung nyampe terminal Ketapang, dan terakhir adalah naik bis jurusan Probolinggo. Alternatif terakhir inilah yang saya ambil karena lebih banyak pilihan bis.
Bungurasih dini hari tak ubahnya seperti siang yang redup, ibarat penonton Piala Dunia yang telah meneguk 7 cangkir kopi agar mata tetap terjaga, setengah dipaksakan. Diantara deretan koran dan tabloid yang bertengger di etalase kios tak berkaca, mata saya melirik berita kepindahan Samir Nasri dari Olimpic Marseille ke Arsenal di jendela transfer musim pertama, hehe sayang untuk dilewatkan, maklum saya memang penggemar The Gunners.
Lepas dari Surabaya, bis menembus fajar di Pasuruan. Saya tidak menyangka beberapa bulan setelahnya, nama Pasuruan akan terkenal karena tragedi zakat yang mengenaskan di daerah pinggiran ini.
Memasuki Probolinggo aroma pantai mulai tercium, karena Probolinggo berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Lalu saat matahari telah naik mengembangkan layar episode anak manusia di hari itu, saya harus estafet ke bis jurusan Banyuwangi. Jalanan masih sepi seperti kota yang baru saja membuka mata. Kemudian bis memasuki kabupaten Situbondo. Bagi saya Situbondo ibarat mutiara yang terbungkus lumpur, menunggu investor yang bisa mengeksplorasi kecantikannya yang tersembunyi. Ingat Situbondo, jadi ingat Pasir Putih. Dulu bermacam species kuda laut dan batu karang cantik banyak ditemui disana, ngga tau bagaimana eksistensi mereka sekarang, apakah masih bisa bertahan di tengah habitat yang mulai kronis akibat pencemaran.
Dan ujian sebenarnya dalam perjalanan ini adalah ketika bis memasuki alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh, bahkan lorong antar kursi pun ngga bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau berpangkat kopral memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk. Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor di buku Harry Potter.
Penyiksaan itu berakhir di terminal Ketapang. Saya turun dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kewarasan saya setelah beberapa jam terjebak oleh kepungan manusia-manusia cerobong asap. Mengisi perut saya yang mulai protes meminta jatah sarapan.
Syukurlah saya bisa bertemu nasi pecel di sana… hehe. Dasar lidah Madiun, ke manapun yang dicari ya nasi pecel walaupun lidah saya telah mati rasa bercampur mual kebanyakan suplai TAR, CO, dan nikotin.
Ya, perjalanan menuju Singaraja masih di seberang mata dan saya harus bersiap mental menghadapi apa lagi yang ada di depan sana. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

3 komentar:

  1. aku kangen suasana bedugul, pengen ketemu ma monyet2 tu, yang sepertinya gak pernah punya rasa sedih....selalu melompat sana-sini, mereka selalu gembira, entah ada makanan atau tidak, Andaikan Aku tidak pernah teracuni pikiran negatif atau selamanya bisa positif betapa aku terbebaskan....seperti saat aku tulis koment ini, aku lagi sedih gundah gulana, klienku hari ini sangat membuatku menangis, karena cerita hidupnya yang memilukan, aku tidak tahu harus berbagi pada siapa, tapi aku rasa pemilik blog ini sangat anggun dan baik, seakan selalu ada kesejukan bila di dekatnya, semoga pemilik blog ini selalu dalam lindungan Allah, amien...salam hebat...

    BalasHapus
  2. aku kapan ya bisa ke Singaraja :(

    BalasHapus
  3. Kalau dari jember mau ke singaraja lewat jalan apa?

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.