Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

28/02/09

Ketapang - Gilimanuk


Saya mencintai perjalanan, berada dari satu tempat ke tempat lain membentuk prespektif tersendiri bagi saya dalam memandang kehidupan. Kita bisa melihat beragam budaya, bahasa, adat dan kebiasaaan manusia, serta karakter suatu daerah. Buat saya itu menyenangkan, memperkaya diri, mengembangkan pola pikir, dan membunuh rutinitas yang menjemukan. Terkadang saya bermimpi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan travelling dari daerah satu ke daerah lain seperti Riyanni Djangkaru mungkin…(hehe ngayal !!!). Lalu seorang teman merekomendasikan sebuah profesi yang bisa mengakomodir keinginan saya itu. Terus berkelana dari satu kota ke kota lain, bahkan memiliki otoritas penuh atas sejumlah nasib manusia. Ya, teman saya merekomendasikan saya untuk menjadi kondektur bis.
Perjalanan Madiun-Singaraja yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun kurang lebih 12 jam ternyata jauh melebihi prediksi. Ini karena bis dari Probolinggo menuju Banyuwangi yang mengangkut saya berjalan lambat merayap laksana pawai ta’aruf 1 Muharam, penderitaan terjebak bersama para manusia cerobong asap juga memaksa saya harus meluangkan waktu lebih untuk mengembalikan kewarasan di terminal Ketapang. 
Pukul 10.30 pagi, dengan naik kendaraan omprengan sejenis oplet saya menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya terminal-pelabuhan sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 2 km, tapi saya harus rela menunggu satu jam lamanya hingga oplet melebihi kurva maksimum bobot angkutan, fiuh molor lagi. 
Saya mengencangkan tali sepatu kets, membenahi ransel butut 10 kg yang bertengger di punggung, sembari menarik nafas dalam-dalam mengkerucutkan mental sebelum naik ke dek kapal. Maklum cuaca Selat Bali bulan ketujuh hingga kesembilan bisa dipastikan tidak begitu bersahabat. Saya naik ke dek atas karena di dalam telah penuh sesak manusia. Bule-bule dari Jerman acuh berfoto ria tak peduli dengan angin yang bertiup cukup kencang. Saya berpegangan erat pada besi tepian kapal dan berdoa agar tidak terlempar ke lautan. Asap hitam karbondioksida dari cerobong kapal berputar-putar menyengat hidung, tidak berapa lama ombak mulai tenang. Saya bahkan mulai bisa melihat makhluk-makhluk anggota filum coelenterata dan porifera melambai-lambai dari bawah air. Berbagai jenis nekton bahari dan ikan-ikan kecil berkejaran di sela-sela antozhoa, indah sekali. 
Di tengah keasyikan saya bercengkerama dengan para penghuni lautan, tiba-tiba seorang pemuda menegur saya, 
“Ombak uda lumayan tenang mbak …” 
“Iya”, pendek saya menjawab.
“Suka Arsenal ya ?” tanyanya melihat kalung handphone saya yang berlogo Arsenal.
“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab pendek.
“Sayang musim kemarin kalah lagi sama MU, ada Christiano Ronaldo sih.” Katanya mencoba akrab.
“Oya ?” komentar saya pendek lagi. 
“Napa suka Arsenal ?” Tanya pemuda yang kental dengan logat Bali itu.
“Percaya pada the young gun”. Kilahku. 
Dan percakapan berikutnya masih berkutat pada Liga Inggris dan tujuan perjalanan kami. Tapi anehnya kami samasekali tidak menanyakan nama masing-masing. Sekian titik tanpa koma.

30 menit terombang-ambing di laut, 11.45 siang kapal merapat di Gilimanuk. Akhirnya, Bali, I’m coming!!! Tetapi perjalanan ini belum berakhir, saya bergegas menuju terminal di seberang pelabuhan mencari bis jurusan Singaraja. (to be continued)


1 komentar:

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.