Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

16/03/09

Membangun Komunikasi Politik Antar Elite

Tingginya tensi politik di pusat maupun di daerah semakin terasa kuat. Kampanye terbuka dan penandatanganan deklarasi damai telah dimulai Senin (16/3) kemarin secara serentak dari pusat hingga pemerintahan tingkat II. Sejalan dengan itu para tokoh politik yang berkepentingan terhadap Pemilihan Presiden juga makin menggalang kekuatan untuk memudahkan jalan menuju RI I dan II. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu Ketua MPR Hidayat Nurwahid (PKS) telah menghadiri undangan Taufik Kiemas (PDIP). Kemudian belakangan yang masih hangat dibicarakan publik adalah pertemuan Wapres JK (Golkar) dengan Megawati Soekarno Putri  (PDIP) yang menghasilkan beberapa butir  kesepakatan politik. Seberapa pentingkah komunikasi/silaturahmi antar elite politik ini dilakukan ? Bukankah Sebuah koalisi baru bisa ditentukan pasca hasil Pemilu Legislatif 9 April diumumkan?
Pernyataan resmi majunya Jusuf Kalla untuk menjadi capres dari partai Golkar pada Pilpres 2009 memang menuai banyak pendapat. Ada yang mengkrikitik bahwa JK dianggap menyalahi etika, sebab saat ini statusnya masih menjadi wapres sekaligus pasangan resmi SBY. Namun di lain pihak, ada kalangan yang menilai manuver politik JK cukup berani. Kamis (12/3) pekan lalu JK menghadiri undangan mantan presiden Megawati di Jakarta. Lima butir kesepakatan tertulis menjadi hasil pertemuan kedua tokoh partai besar tersebut. Inti dari isi kesepakatan adalah tentang membangun pemerintahan yang kuat untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Baik JK maupun Mega sendiri berdalih tidak ada kesepakatan koalisi capres-cawapres antara keduanya meskipun spekulasi ke arah sana cukup kuat.
Menanggapi majunya wapres Jusuf Kalla sebagai kandidat capres 2009, Presiden SBY merespon positif. Dirinya yakin kompetisi yang terjadi nantinya akan berlangsung dengan baik dan sehat. Sejauh ini hubungan antar SBY – JK yang masih berstatus RI 1 dan RI 2 tetap terjalin dengan baik. SBY juga belum berani memutuskan siapa yang akan mendampinginya maju pada Pilpres nanti, semuanya masih menunggu hasil Pileg bulan April.
Sementara itu tentang pertemuan JK-Megawati, presiden SBY menganggap itu hal yang wajar apalagi dilakukan jelang Pemilu. Entah itu akan berujung pada koalisi atau tidak, SBY tidak berani berspekulasi sebab dalam politik apapun dapat terjadi. Dalam konferensi pers di Puri Cikeas Bogor kemarin, SBY berharap dirinya juga bisa bertemu dengan Megawati, sebab upaya menjalin komunikasi antara keduanya sejauh ini belum membuahkan hasil. Memang sejak naiknya SBY menggantikan Megawati sebagai Presiden 2004 lalu, banyak pihak menilai komunikasi politik antara keduanya tidak begitu harmonis. Siapapun koalisi yang akan menang dalam Pemilihan Umum Presiden kelak, semua berharap ini akan membawa perbaikan bagi roda kehidupan rakyat.

3 komentar:

  1. saya dukung mbak rosi aja jadi presiden.....hehehehe

    BalasHapus
  2. wkkkkkckk
    jangan Bay, sungkan sama pak SBY kalo nanti aq menang ...

    BalasHapus
  3. saya buta politik, yang saya tahu hidup ini indah, meski ada ataupun tak ada politik hidup septi ;D

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.