Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

09/06/09

Ujian Nasional Ulang

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi siswa kelas XII saat ini. Di tengah kecemasan menunggu predikat lulus/ tidak lulus, beredar rumor bahwa pengumuman hasil Unas akan ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Semua jadwal menjadi berantakan. Schedule pendaftaran untuk daftar ulang PTN, sekolah kedinasan maupun angkatan, bahkan bisa-bisa jadwal SNMPTN juga ikut kena imbasnya. 

Iya, keputusan Ujian nasional ulang yang kemudian dibatalkan, adalah penyebab kekacauan ini. Bagaimana tidak, secara mendadak BSNP mengumumkan setidaknya ada 33 sekolah yang harus menjalani UNAS ulang karena siswanya tidak lulus 100%. Tidak ada penjelasan tegas mengapa harus ada Unas ulang yang kemudian menimbulkan kontroversi. Tapi berdasarkan dugaan paling kuat, scanner di pusat tidak dapat membaca lembar jawaban siswa akibat adanya jawaban ganda. Artinya ada oknum tertentu yang sengaja mengubah jawaban para siswa ini. Menghapus jawaban asli dengan tergesa-gesa lalu mengisikan jawaban lain yang mungkin dianggap benar. Entahlah, sampai detik ini belum ada penjelasan akurat dari BSNP

Permasalahan Ujian Nasional sejak awal seringkali menuai kontroversi. Terlebih sejak standar kelulusan mulai diterapkan sejak tahun 2003 dengan passing point 3.00 dan terus dinaikkan tiap tahunnya. Tahun ini ketika standar kelulusan Unas ditetapkan menjadi 5.50 kontan saja semua pihak yang berkepentingan mensakralkan Unas akan melakukan segalanya demi kelulusan itu. Tak terkecuali pihak sekolah.
Bukan berarti saya tidak percaya kepada sekolah yang telah dipasrahi untuk mendidik para siswanya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri memang ada sebagian yang rela menukar kejujuran hanya demi selembar predikat ‘lulus’. Guru yang harusnya mampu menjadi teladan agung kejujuran ironisnya mengajarkan taktik koordinasi penyaluran jawaban dari siswa pandai kepada teman di bawahnya. Apakah ini bentuk degradasi kepercayaan diri yang mulai menggerogoti dunia pendidikan dalam institusi sekolah

Ada pernyataan menggelikan, kenapa tidak salahkan saja pemerintah yang telah menetapkan Unas dengan standar nilai sekian koma sekian ? Jawabannya, terlalu klise kalau terus menyalahkan kebijakan pemerintah. Kalau memang Unas diniatkan untuk memacu prestasi siswa, mengkatalisasi proses belajar hingga pada akhirnya mampu mencetak SDM berkualitas mengapa tak coba membuktikannya ? 
Buktikan bahwa sekolah mampu menjawab tantangan itu. Bukan dengan merancang strategi agar jawaban siswa bisa benar semua, akan tetapi dengan menanamkan bahwa belajar adalah sebuah proses. Dan lulus/tidak lulus bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya satu dari sekian lompatan menuju episode belajar berikutnya.  

Memang suatu saat nanti, perlu ada alat evaluasi yang lebih baik dari sistem Unas sekarang. Satu bentuk evaluasi pendidikan yang tidak memberikan ruang bagi ketidakjujuran, satu bentuk evaluasi yang mampu menilai proses belajar secara adil, objektif dan akurat. 

Oya, Saat saya menulis ini, barusan aja ada kabar pengumuman kalo Unas ulang akan digelar tanggal 10 Juni 2009, well Goodluck buat yang besok musti ketemu ujian lagi. Moga hasilnya jauh lebih baik, tapi di atas itu semua, kejujuran dan kepercayaan diri adalah batu ujian sesungguhnya. 


3 komentar:

  1. santai bro, waktu gw sma gw juga deg2an nunggu hasil. tapi karena gw yakin atas apa yang gw kerjakan waktu ujian. akhirnya gw lulus dengan nilai yg memuaskan, skrng masalahnya loe yakin ga dengan ujian loe ?

    BalasHapus
  2. hehe yakin bangets gitu loh ...

    BalasHapus
  3. santai aja..... biasanya asal kerja keras insyaallah kita bisa.. lulus.

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.