Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

15/07/09

Buku versus Layar Lebar

Oke, harus saya akui kalo dunia kecil saya saat ini ngga bisa lepas dari mesin ajaib bernama komputer. Yah gara-gara motherboard rusak, stabilitas beberapa agenda jadi terganggu. Termasuk tugas-tugas dari Bayu Mukti yang biasanya saya lembur malam hari akhirnya harus canceled (sorry Bay, cuti dulu ampe guncangan finansial mereda). Tapi kali ini saya ngga bakal membahas motherboard yang lagi rusak, saya cuma ingin menanyakan, kalo seandainya teman-teman diminta memilih antara buku dengan layar lebar, kira -kira mana yang bakal lebih disuka?
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Juga Laskar Pelangi yang fenomenal, jujur mata ini lebih betah memelototi tulisan Andrea Hirata selama berjam-jam ketimbang menonton filmnya yang berdurasi 2 jam. Maaf mas Riri Riza, bukannya filmya tidak bagus. Sama sekali bukan, tapi mungkin imajinasi saya sudah terlanjur membayangkan yang lebih hehehehe.
Pun sama halnya dengan Ayat-Ayat Cinta, saya lebih jatuh hati pada tulisannya Habiburrahman Elzirazy. Saya rasa ini karena faktor aktor/aktris yang profilnya uda terlanjur dikenal publik sebagai VJ atau anak band jadi hmmm …., tapi bukan berarti saya ngga suka latar syutingnya yang eksotis. Untuk KCB, saya masih belum nonton filmnya tapi mudah-mudahan bakal seindah novelnya ( versi saya hehehe...).
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?

22 komentar:

  1. Tulisan yang mantap. Kalau saya bisa buku atau bisa juga layar lebarnya, tergantung mana yang lebih bagus menurut selera saya. Kalau penulis bukunya memang seorang penulis yang ruh/gaya kepenulisannya saya sukai, saya cenderung lebih menyukai bukunya daripada layar lebarnya (kalau bukunya difilmkan orang). Kenapa begitu, karena kecewa saja bila ternyata filmnya tidak menampilkan kesan yang sama seperti yang saya tangkap saat membaca bukunya.

    BalasHapus
  2. (tapi kadang kita juga bingung ketika harus memilih, .... lalu bgmn mengetahui pilihan itu benar atau salah ?)



    tulisan di atas adalah pertanyaan kamu di blog q n sekarang aq mau jawab itu...:

    Pilihan,adalah sebuah keadaan di mana kita di hadapkan dengan dua hal yang bertentangan,kadang dua hal itu sama-sama baik n pantas di pilih...kadang yang satu baik,satu lagi tidak....namun untuk memilih yang baik kita berat meninggalkan yang tidak itu tadi.......(ngertikan maksudnya) makanya kita bingung untuk menentukan pilihan.itulah yang di sebut konflik.....dan keharusan untuk memilih adalah perjuangan kita memerangi sebuah konflik.


    Dengar kawanku,semuanya pernah berbohong pada kita,ibu kita pernah membohongi kita,begitu juga dengan ayah(meski untuk mendidik kebaikan),teman,kekasih,sahabat,pernah berbohong pada kita.....
    waktu...seringkali culas dan menipu,siang dan malam,juga sering menipu.....sesuatu yang kita kagumi,banyak di antaranya bersembunyi dalam kepalsuan.....kecantikan,ketampanan,harta,bahkan diri kita sendiri....adalah tipuan dan kebohongan,


    Tapi ada satu benda yang tidak pernah berbohong pada kita,benda itu begitu merah dan asli,menampakan wujudya tanpa harus di lihat,selalu menemani kita meski hanya bisa di rasakan,


    Benda itu adalah hati....dan inti dari hati...adalah nurani kita yang sebenarnya tak pernah tersentuh sedikitpun oleh setan......

    Percayalah pada hatimu,karena hati tak pernah berbohong.

    bila ia mengatakan tidak(meskipun pilihan itu terlihat baik)ya jangan di lakukan,tapi bila ia mengatakan ya!!!!(sekalipun pilihannya sangat buruk/tampak buruk) maka lakukanlah.....karena km harus percaya



    HATI TAK PERNAH BERBOHONG!!!!

    BalasHapus
  3. PENGUMUMAN Mau tau rahasia di balik nama blog ruangkremasi? klik di sini

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah akhirnya bisa juga aku koment disini, aku takut kalo di bilang sombong.

    Hmmm... kalo menurut Semut ni ya, membaca bukunya itu juauh lebih mengasyikkan ktimbang nonton filmnya, kenapa?
    Karena dengan membaca, imajinasi kita akan kebawa, kita akan ikut aktif dan terlarut dalam alur cerita yg ditawarkan. Gitu.

    Kalo nonton layar lebarnya, Paling kita kayak di dikte, dipaksa mengakui kalo si tokoh ini begini, yg ini begitu dst.
    Imajinasi kita mati.

    BalasHapus
  5. Buku 10x lebih bagus dari film kalo menurutku. Khusus utk Harry Potter, dianjurkan tuk baca yg versi Inggris. Memang ratusan halaman, tp justru krn kita membacanya dlm waktu lama, kesannya lbh lama pula melekat di hati. Sedang kalo nonton filmnya, begitu filmnya habis, gambar2nya akan hilang dr ingatan.

    Dlm hal itu aku salut pada JK Rowling, sebab ternyata penggambaran dia di bukunya jauh lbh indah daripada setelah dituangkan di film.

    BalasHapus
  6. saya lebih memilih baca bukunya. biasanya apa yg ada di buku itu lebih seru ketimbang setelah dituangkan dlm layar lebar.

    lagipula dg membaca bukunya, saya bisa mengembangkan daya imajinasi saya. menangkap kata demi kata dalam buku itu dan merangkumnnya, membayangkannya di benak saya.

    BalasHapus
  7. Kalau Harry Potter, film atau bukunya sama bagus mbak, kecuali yang film ke 5, Order of Phoenix, jelek banget, terlalu banyak hal fundamental yang dirubah dari bukunya.

    BalasHapus
  8. aku pilih buku....hehehehehehheheh

    BalasHapus
  9. memang kalo udah baca bukunya pasti males nntn filmnya, kalo baca bukuny imajinasi kita lbh dahsyat mb rosi, hehehehe...

    BalasHapus
  10. wah kalau suruh milih novel fiksi, atau versi filmnya, aku lebih milih versi filmnya. walaupun mungkin novelnya lebih berkesan, bagus, dll, tapi aku lebih suka nonton filmnya, karena tidak buang banyak waktu buat ngerti inti ceritanya.
    tapi bukan berarti aku tidak suka baca buku lo..
    malah aku seneng banget. tapi bukan novel. hehe..

    BalasHapus
  11. biasanya sih buku dulu trus layar lebar
    tul nggak
    hehehhe

    BalasHapus
  12. jawabanya simpel.....hati...selalu mengajak kita melakukan hal yang tidak kita suka...atau bertentangan dengan keinginan kita...tapi sebenarnya itu adalah hal baik....
    nafsu..mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan,tapi sebenarnya tidak boleh untuk di lakukan.....
    hati....membuat kita tertekan akan aturan....
    nafsu...selalu membuat kita merasa bebas untuk melakukan apa saja tanpa peduli pada kebenaran yang hakiki....
    trims

    BalasHapus
  13. piala kmenangan : iya, mudah2n stelah sgl kebejatan diri ini,msh ada cahaya yg membuat hatiku tdk mati

    BalasHapus
  14. Kalau aku lebih memilih buku, mbak.
    Three cups of tea aku sangat suka (eh, aku udah pernah buat reviewnya lho..).
    Bahkan film trilogi Lord of The Ring pun aku lebih suka memelototi buku-2nya..!!
    Soalnya aku bukan pecinta film sih mbak. Nonton film hanya sekali-kali aja...

    BalasHapus
  15. ya ampyuun satau postingan linknya kok ya sekampung hehehe. selain bikin mata pembaca pedes lihat link. toh link yang lebih dari 3 per post engga baik bagi kesehatan blog. hallah kok malah komen linknyah, au ah *kabuur

    BalasHapus
  16. hehehehe... tengkyu masukannya, sob

    BalasHapus
  17. Kalo saya lbh senang baca bukunya Mbak, lebih asyik.

    Salam kenal Mbak dari saya, mantan manusia bejat yg sudah insyaf

    BalasHapus
  18. kyknya tgantung orgnya......
    org yg suka nonton pasti pilih film...
    kl suka baca ya pasti pilih buku...
    kan org pny kencenderungan bt jd mns audio, visual, dlll...(yg laen lp)
    klo aq c lbh seneng film, tp klo da buku yang bagus utk dibaca knp ga?

    BalasHapus
  19. ketika baca aku sering punya imajinasi sendiri mengenai isi buku sama seperti mbak, dan ketika buku tersebut difilmkan saya jadi kurang merasa puas...

    BalasHapus
  20. aku pecinta buku harry potter, malah punya beberapa tapi karena berbagai kesibukan akhirnya baca buku jadi keteter dan dengan adanya film buatku jadi lebih terbantu, mungkin karena durasi yang jadi pendek...

    BalasHapus
  21. untuk buku tertentu yang difilmkan ada beberapa yang menurutku sangat beda hasilnya (lebih bagus dibuku) dan ada lagi sebagian yang lebih bagus di film..

    BalasHapus
  22. tergantung selera, hehe...biasanya lebih suka film dari pada buku nya. soale ngga hobi baca novel :) :)...

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.