Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

01/09/09

Satu lagi Frame Kehidupan

Setengah terkantuk saya membaca pesan singkat itu, “ Mbak nanti masuk enggak?”. Empat patah kata diakhiri tanda tanya. Simple, tapi kemudian membuyarkan gelembung imajinasi yang telah saya rangkai dengan sempurna untuk mengakhiri hari ini dengan indah.

Yah, setelah seharian penuh bergulat dengan nasib, beradu dengan radiasi matahari, pada akhirnya melepuh bersama hari di jelang senja yang ranum. Seperempat jam lagi bedug maghrib. Buka puasa, delapan rakaat tarawih, lalu segera bersua dengan kasur untuk merebahkan rangka tubuh ini. Hmm, sebuah rencana yang sempurna bukan buatan.

Saya bahkan sudah berpikir untuk membatalkan jadwal mengajar  di Rumah Singgah ba'da tarawih. Ego saya terus berbisik, toh tak mengapa kalo Cuma absen sekali.  Lagipula minggu depan kan masih ada waktu. Anak-anak itu pasti bisa mengerti.  Dan kasur di atas tempat tidur reyot itu rasanya bagai singgasana yang kian kuat memancarkan medan magnet di sekitar saya. 

Lalu sms kedua datang , " Mbak Ros, nanti malam masuk kan? ". Akhiran -kan di belakang pesan itu tidak hanya menegaskan pertanyaan pertama,  tetapi sekaligus harapan bahwa orang yang ditanya akan menjawab "iya". Tapi siapa yang bakal tega mengatakan tidak untuk wajah-wajah itu ? Anak-anak yang kala pagi harus bekerja entah sebagai PRT, loper koran, bahkan security, lalu malam harinya masih menyisakan semangat demi mendapat gelar paket C setara SMA. Anak-anak usia 20-an yang secara kurikulum harus mendapatkan Teorema fundamental integral meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana mengajarkannya untuk membuat mereka tidak "nggumun". Di saat siswa SMA lain bisa duduk nyaman di pagi hari dengan buku-buku berkualitas berstandar Chambridge, mereka harus puas hanya dengan mencatat dari papan tulis. 

Yah, sebuah kelas malam yang lebih sering molor hingga setengah jam demi menggenapkan muridnya menjadi 2 orang. Bahkan tak jarang si pengajar harus rela menjemput siswanya agar mau datang untuk belajar.  Satu lagi frame realita kehidupan. Hukum sebab akibat yang sangat populer,  "kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan". Tapi melihat semangat di mata anak-anak itu, menemukan pijar antusias ketika mereka baru tahu bahwa aktivitas belanja di pasar bisa dimanipulasi menjadi model persamaan linear. Saya rasa tak ada seorangpun yang akan  sanggup mengatakan tidak. 


18 komentar:

  1. Ya ini satu frame kehidupan, sederhana tapi sangat indah. sesuatu yang orang lain mungkin tidak mampu melakukannya. Inilah contoh nyata patriotisme dan nasionalisme yang bersahaja tapi indah. Terus semangat sobat. Semoga kebarokahan menjadi milikmu.

    BalasHapus
  2. sebenernya aQ ntu juga pengen lho ngasih support, semangat n motifasi buat te2h,,,“?!?!?!?!” tapiii diri Q aja nih macih suka males2an n malah ngelakuin hal2 yg nggak penthinkkk...
    eummm,,, kalo gtu, ngasih apa yaaa enaknya????
    “. . . . . . . . . . .”

    BalasHapus
  3. Sebuah frame kehidupan yang sering luput dari perhatian kita... Salut buat mbak Rosi yang tetap mau berkecimpung di dalamnya!

    BalasHapus
  4. ooh..'dewi pendidikan', kapan dikau mampir ke Indonesia tercinta ini...

    Akhirnya kalo mikirin pendidikan di Indonesia yang kacrut-kacrutan, aku cuman bisa mlongo..

    Mbak Rosi, mulia benar tugasmu..
    teruskan ya, jgn pantang menyerah...
    di tangan2 org spt dirimu-lah sebenarnya nasib bangsa di tentukan.

    BalasHapus
  5. Huhuhu, satu hal yang sebenernya sederhana tapi memiliki dampak yang besar....
    Tapi saya juga kadang suka males2'an, xiixiix...
    Paling sering ngucapin, "Ah..cuma sekalia doank kok nggak masuk..."
    Huhuhu...

    BalasHapus
  6. sebenarnya anak2 itulah yg pantas diapresiasi. mereka yg tetap memupuk mimpi demi asa di depan sana.. salut buat para murid yg luar biasa

    BalasHapus
  7. frame kehidupan yg luput oleh pengawasan .......

    tukeran link yahhh

    BalasHapus
  8. Satu lagi frame Kehidupan,, apalagi bila ditambah dengan bingkai-bingkai semangat untuk selalu ingin memenangkan setiap keinginan,, ditambah aksesori do'a yang ikut serta... akan semakin indah'a dunia berimbang dengan tujuan akhir di akhirat kelak,,

    BalasHapus
  9. Perkerjaan yang berat dan tidak mudah.Tetap semangat ya sis...

    BalasHapus
  10. Sungguh mulia hatimu, dari kejauhan hanya dapat berdoa semoga selalu diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa

    BalasHapus
  11. dedikasi dan keikhlasan. tidak semua orang mampu memilikinya.

    BalasHapus
  12. wah maaf mampir duyu ya....belum sempet mbaca lagi terburu buru....heheheehh

    BalasHapus
  13. salut sama kamu, Ros. mau berbagi pada anak2 jalanan. semangat terus ya...

    BalasHapus
  14. ayo bu guru...
    jangan malas untuk memberikan kebaikan

    BalasHapus
  15. Mampir lagi sahabat,
    Ada award untukmu ... diblogku dijemput ya.

    Salam

    BalasHapus
  16. mampir lagi
    dengan perut laper
    mencari takjilan

    BalasHapus
  17. Benar kata mba Tisti..alangkah mulianya tugas yang dijalankan mba Rosi..terus semangat dan semoga bisa jadi inspirasi dan teladan..

    BalasHapus
  18. Wah, aku salut dg mbak Rosi atas kepeduliannya yg besar thd pendidikan bagi anak-2 yg kurang beruntung...
    Tetap semangat ya mbak...!!

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.