Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

28/11/09

Fragmen Jiwa Bernama Kepasrahan

Sekian waktu terjebak dalam rutinitas, hari-hari ini saya mulai mengurangi laju kecepatan. Menikmati setiap detik yang berdetak dengan tafakur. Dalam bahasa mbak Newsoul mungkin itulah yang dinamakan kontemplasi itu.
Maka dalam dimensi saya, sekeliling rasanya bergerak melambat ibarat film slow motion. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang ke rumah, berangkat lagi, pulang di petang hari, tidur lagi, bangun berangkat lagi. Begitu seterusnya. 
Hidup kadang membawa kita jauh berenang mengikuti aliran, menikmati riak airnya yang nakal menuju pucuk-pucuk mimpi tak bertepi hingga lupa ke mana kan bermuara.




Betapa banyak waktu dan pikiran telah terpenjara hanya untuk mencari dan mencari apa yang disebut pujangga sebagai “lubang hati”. Entah itu pencarian terhadap cinta atau cita.
Ketika lelah telah menggelayuti diri, barulah jiwa ini tersadar, ternyata begitu banyak cinta terhampar dari orang-orang di sekitar. Cinta yang selama ini justru luput dari perhatian, tulus dari orang-orang terdekat, orang tua, keluarga, sahabat, karib kerabat. Dan yang terpenting di atas semua itu ada cinta kekal yang tak pernah lekang dari Sang Maha Hidup.

“Syukuri apa yang ada”, begitu syair lagu D’massive (dasar penyiar hehe...). Sungguh saya tak pernah peduli dengan lagu ini sebelumnya. Namun kata-kata itu terus mengiang meresonansikan makna luar biasa : Kepasrahan total.
Ya, setelah lautan ikhtiar yang dilalui dan puzzle-puzzle optimisme yang telah dirangkai, maka fragmen berikutnya adalah kepasrahan total kepada Sang Maha Hidup. Ketika usaha telah kita lakukan mati-matian tetapi hasil keringat tak sejalan garis takdirNya, lantas kita mau apa ? Semua ada di bawah otoritas Ar-Rahman yang menuliskan tiap desah nafas kita dalam Lauhul Mahfuz. Dan sebagai makhluk, episode yang harus kita jalani adalah pasrah dan tawakal.
Memang melakukan tak semudah mengatakan, kawan. Diri ini pun masih tertatih-tatih memproyeksikannya dalam kehidupan. Namun satu yang saya yakini, di ujung sungai kepasrahan itulah muara ketenangan berada.

Maka secangkir kepasrahan itu yang saat ini sedang saya butuhkan... mudah-mudahan ada yang rasa moccacinno ...

21 komentar:

  1. sebuah muara.. airnya mngalir begitu lembut..
    tempat dimana semua ujung dari perjalanan liku dan berbatu...

    BalasHapus
  2. Meski bagi sebagian orang pasrah itu identik dengan sikap lembek, lamban dan malas, pasrah itu adalah hal paling logis di titik akhir. Ya, bila ikhtiar dan doa sudah dilakukan, maka pasrah pada putusanNya adalah paling masuk akal untuk dilakukan ketimbang berlarut-larut menyesali diri, lalu merasa tidak bahagia. Nice post.

    BalasHapus
  3. salam kenal...gantian berkunjung^^ Blognya cantik....tulisan ini sangat menyentuh...ya walau kadang lelah mendera berulang kali, pada satu waktu kita juga diingatkan unt mengharagai dan mensyukuri apa pun yang Ia telah titipkan pada kita...bhawa setiap sisi kehidupan adalah nikmat yang Ia berikan

    yuliku.wordpress.com

    BalasHapus
  4. Pasrah dan tawakal memang harus, tapi tak harus mematikan optimisme khan bu !?

    BalasHapus
  5. Fragmen pencerahan yang menyentuh sekali, saya jadi ingin merasakan secangkir kepasrahan rasa moccacinno!

    BalasHapus
  6. apapun bentuk kepasrahan itu maka itu juga adalah bentuk lain dari kekuatan

    BalasHapus
  7. pasrah, aq sekarang juga pasrah sama yang ada.... soalnya kalau dipaksain malah jadi sakit kayak kemaren langsung ngedrop...... hehehehe koment gaje.... ^^

    BalasHapus
  8. Pasrah itu ada di tataran quantum, bersama dengan ikhlas dan tawakal, maka jangan jadikan hal itu bermakna negatif, sebab disitulah kekuatan sejati.
    Bagus, mbak ...

    BalasHapus
  9. Kepasrahan... dimaknai berbeda oleh masing-2 orang. Meskipun begitu tak semua orang mampu sampai pada kepasrahan itu.

    BalasHapus
  10. Pasrah itu bukan karena kita menyerah mbak, tapi pasrah itu adalah berserah diri
    dan itulah yang mampu memperkuat keadaan kita dalam hal apapun..

    BalasHapus
  11. Thanks ya mbak, atas sharingnya tentang kepasrahan ini
    semoga menjadi renungan buat kita

    BalasHapus
  12. Itulah yg diinginkan olehNya dari kita. Kepasrahan kepadaNya Sang Pemberi Hidup.

    Rosi, ada award buatmu ya, tolong diambil di Curhat Fanda...

    BalasHapus
  13. Saya juga sedang belajar pasrah. Saya ssudah melakukan yang terbaik tapi belum berhasil ya sudah pasrah dan tawakal. Nice posting Ros

    BalasHapus
  14. Yup... rutinitas memang terkadang membuat kita bosan, tp kalo semua dijalani dengan ikhlas, Insya Allah rasanyapun akan lebih menyenangkan

    BalasHapus
  15. pasrah bukan berarti menyerah... tapi lebih kepada percaya pada jalan yang diberikan Tuhan... :)

    BalasHapus
  16. jangan hanya diam, ya mungkin itu yang bisa saya sampaikan..pasrah bukan berarti tidak melakukan apa2.

    BalasHapus
  17. Lama tidak singgah kesini, rupanya ada rumah baru. Semoga kita selalu mensyukuri kehidupan. Bersyukur dengan apayang diberi dan, bersabar apabila diuji. Insya Allah...

    BalasHapus
  18. Untaian kata yang indah jeng rosi saya mengulang2 sampai 3 kali membacanya hehe.. cinta memang anugrah dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada mahluknya begitu dalam surah Ar-rahman di firmnkanNya

    BalasHapus
  19. hidup,mati,masa depan,pekerjaan,harta,anak,suami/istri,pengharapan,sgl hal,sgl kondisi jika TOTAL kita pasrahkan kpd Tuhan maka Tuhanlah yg akan menangani sgl urusan kita dengan CARA-NYA,yg kt sndiri tdk menduganya.ketika kita pasrah scr total pd Allah,itu brarti kita percaya dan yakin bahwa Allah akan menolong,dan mensukseskan kita,yg memang hanya Dia yg bisa.
    dan prinsip2 hukum ketertarikan(LoA) bnar2 akn bekerja ketika kt pasrah total..

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.