Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

05/12/09

CintaVanilla

Jika diperbolehkan untuk memilih, pastinya setiap orang di dunia ini ingin menggenapkan separuh hidupnya (baca : menikah) dengan orang yang dicintai. Lantas gimana kalau Tuhan berkehendak lain ? 
Trus, berapa persen ya kira-kira orang yang bisa menikah dengan orang yang telah disuka sebelumnya ? Apakah dalam episode berikutnya ada jaminan mereka bakal hidup bahagia. Happily ever after kayak cerita-cerita Cinderella ?
Apakah hidup terus berakhir sampai di situ, di satu fragmen ketika kita dipertemukan sang belahan jiwa ?
Tentu saja tidak, karena setelah itu ada sebuah kapal besar yang siap untuk dinahkodai. Kapal yang di dalamnya ada panggung kehidupan yang memberi peran baru buat kita sebagai “istri”, “suami”, kemudian “orangtua”. Dan saya yakin peran-peran ini butuh lebih dari sekedar kata “cinta”.

Sebuah ungkapan dari seorang bapak masih tersimpan dalam ruang memori saya, bahwa cinta adalah rasional. Setelah dipikir-pikir bener juga yah. Ketika kita mencintai seseorang tapi orang tersebut ternyata hanya ingin menganggap kita sebagai teman, tentu kita ngga mungkin memaksa kan ? Meski sakit menghujam jiwa, awan pekat menggantung di depan mata (deuuhh......) tapi kita harus tetep rasional. Life must go on..

Ambil kasus lain, kita cinta mati sama Ben Joshua, sementara Ben-nya bahkan ngga pernah menganggap kita eksis di dunia, kalo tetep maksa itu ngga rasional namanya. In other situation, kita cinta sama seseorang dan fortunately, orang tersebut juga cinta sama kita. Cuman dua-duanya terlalu banyak persamaan, sama keras kepala, ngga mau kalah, sama-sama egois, sama –sama cemburuan, sama-sama suka adu jotos, walah. Kalo jadinya malah bikin kedua pihak sakit, masa cinta kayak gini juga mau dipertahankan ?



Cinta itu rasional. Ketika kita telah mantap untuk menambatkan hati pada satu pelabuhan. Tentu kita inginkan yang terbaik, akan tetapi ukuran baik versi kita belum tentu baik dalam pandangan Allah. 

Hmmm, gini saya punya sahabat wanita. Dia menikah dengan lelaki yang sesuai kriterianya, satu visi, tampan, pinter, mapan. He’s totally perfect for her, at the first time. Tahun-tahun berikutnya apa yang terjadi pada rumah tangganya tak sesuai harapan. Oke, dia memang menikah dengan pangeran pujaan, tetapi pangeran itu ternyata tidak memberi kebebasan sahabat saya untuk berkarya (baca : bekerja; berorganisasi; menuntut ilmu). Padahal saya tahu betul sang sahabat itu tipikal aktivis yang hanya bisa merasa “hidup” kalau tetap bersinggungan dengan dunia luar. Kini hidupnya 100% dituntut berada di rumah, mengurus anak dan suami. No more. Sedihnya, di tengah kekecewaan belakangan hari dia merasa telah salah memilih suami. Waduh.

Yah, saya memang tidak memiliki kompetensi pedagogic apalagi otoritas ilmiah tentang bab ini. Tapi setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil. Pertama, cinta itu rasional. Jadi cinta tak ada logika-nya Agnez Monica seharusnya bisa diredam dengan rasionalitas (even itu perih banget kadang). Kedua, ngga ada manusia yang sempurna. So, yang memimpikan the perfect soulmate kayaknya harus sedikit mengubah kriteria paling tidak menjadi lebih “membumi”, sebab jujur kalau kita melihat diri sendiri sesungguhnya kita pun juga penuh kekurangan kan?
Ketiga (buat yang muslim) istikharah is a must. Ini poin yang saya ambil dari beberapa buku yang membahas tentang pernikahan. Sekalipun kita merasa si dia sudah sangat sempurna, cocok dengan criteria dan impian selama ini, tetapi memohon petunjuk kepada Sang Hidup tetap harus dilakukan sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Dia lah yang benar-benar tahu who's the best for us.

Saya yakin, diantara para sahabat yang telah berkeluarga punya ilmu yang jauh lebih banyak masalah ini. Silahkan dibagi di sini ya….. eitt, bukan berarti yang masih lajang ngga boleh komen loh.

Oya, satu lagi. Kali ini izinkan saya memasang award dari Mba Fanda. Judulnya award kasih, keren ya. Thanks mba, saya kirimi secangkir cintavanilla deh dari sini gratisss hehehe. Terus bagi-bagi ilmu di blognya ya mba. Salam





14 komentar:

  1. cinta cinta...

    karena itu mengenal diri seseorang sebelum menjalin komitmen itu penting...

    BalasHapus
  2. Memang ada berapa varian cinta ya? hehe ...
    Yang pasti, cinta itu ada sebagai perekat yang diberikan Allah kepada kita yang mendamba Cinta-Nya. Usah dicari, sebab dialah yang akan menghampiri. Bukankah semua telah selesai dituliskan? Tak ada kebetulan sedikitpun di dunia ini.
    Kita hanya tinggal menjalani dan tentu saja sedikit ikhtiyar, jalani dengan ikhlas, akhiri dengan tawakal. Maka hidup akan terasa lebih indah dan bermakna.

    BalasHapus
  3. ohya lupa ... ada award buatmu, diambil yaaa. Ditunggu lho!!

    BalasHapus
  4. Yang jelas, cinta tetap harus dipelihara.
    Jika awalnya ada cinta, tapi tak pernah ditunjukkan saat sudah menikah... bisa-2 cinta yang ada lama-2 layu dan mati.
    Penyesuaian dalam sebuah pernikahan akan terus berjalan, karena manusia selalu berubah dari waktu ke waktu.
    Jadi tak boleh ada kata lelah utk terus menyesuaikan diri.
    TAk mudah memang, tinggal bagaimana kita memegang komitmen..

    BalasHapus
  5. Ohya, sepertinya jago juga dalam matematika ya mbak..?
    Emang selama ini sudah sering memberikan les matematika ?

    BalasHapus
  6. Cinta tetaplah cinta. Kalau menikah, itu penyatuan 2 orang menjadi satu nakhoda. Bahagia tidaknya tergantung kedua orang yang menjalani RT tsb. Tidak akan pernah tau tanpa mencobanya sayang, ya kan Rosi. Btw, template baru, lebih segar. But, honestly, saya kok kehilangan aura pohonku sepi sendiri itu ya, hihi. Tapi ya, ini lebih fresh juga membiru. Neh saya kirim juga cinta secangkir kopi saya, meski tanpa goreng ubi. Dinikmati ya....

    BalasHapus
  7. Mbak, aku balik lagi.
    Mau kasih tahu ada award utk mbak Rosie di sini : http://another-reni.blogspot.com/2009/12/pencapaian.html
    Tolong segera diambil ya...

    BalasHapus
  8. Wah, aku dapet secangkir cintavanila nih di sini. Yg pasti di Starbucks ga bakal ada ya? hehehe...
    Cinta itu selalu take and give. Dalam kasus temanmu, dia hanya memaknai take-nya aja. Apa yg kudapat? Paket lengkap: tampan, mapan, dll. Tapi ia lupa give-nya. Apa aku bersedia give apa yg ia minta? Karena sebenarnya masalah membatasi gerak pasangan itu pasti terlihat dari masa pendekatan kan? Kalo kita memang siap utk take dan give, pasti itu sdh dipertimbangkan dari semula deh..

    Makasih ya, udah pajang awardku di sini...

    BalasHapus
  9. moga saja cintaku selama ini rasional mbak, dan semoga kelak nggak ada penyesalan seperti yang telah di alami sahabat mbak rosi. tapi bukan mbak rosi kan yang mengalami? hehe....

    maaf ya mbak lama nggak kelihatan. hehe..

    BalasHapus
  10. Cinta....satu hal didunia ini yang memang paling sulit saya mengerti...btw selamat atas awardnya.

    BalasHapus
  11. udara puanass, perjalanan masih jauh, haus bgt nih!
    minta cintavanillanya boleh nggak??
    kalo gak boleh juga gak pa2 kok, gak maksa..
    (mencoba menyambung kembali tali2 yg telah terputus, meski sulit coz talinya mungkin udah terlalu rapuh..)
    么喝阿他哈色噢拉哼恶劣怕..
    artinya: haram hukumnya memutuskan tali silaturahmi..

    BalasHapus
  12. Setuju saya kalo cinta itu mesti rasional. Dan selamat ya atas ewotnya.

    BalasHapus
  13. cinta... masih gamang aku soal cinta.. hehe..

    terkadang aku juga mikir lho,, yg dinamain berjodoh itu kayak apa sih?! ada orang yg berpuluh-puluh tahun hidup bersama, eh tiba2 cerai,, lah itu dibilang jodoh ato bukan yah?! duh,, jadi binun sendiri neehh...

    BalasHapus
  14. "...cinta adalah rasional..."

    frase itu "baru" untukku, yang sekarang pun masih ngah-ngoh-ngah-ngoh soal 'cinta' dan segmen-segmennya. Masih terlalu muda untuk memikirkan soal menikah. Terbersit pun belum pernah. Tapi, memang layak untuk direnungkan, bahwa itu adalah kepastian yang akan kuambil sebagai gerbang baru dalam hidup.

    Rasional. Pria dan wanita. Itu rasional. Meski duniaku yang dulu adalah sebuah "segmen yang hanya dianggap di belakang layar" karena dicap irasional. Hal itu "ada", faktual dan aktornya banyak. Kisah cinta di antara mereka adalah irasionalitas dan difaktakan. Keabstrakan yang dipaksakan untuk dijelaskan. Kekurangan yang sengaja dilebih-lebihkan.

    Bahkan sampai sekarang pun, tidak ada buku atau kamus yang menafsirkan arti cinta, yang dapat diterima oleh semua orang. Tapi yang kutahu, cinta itu bukan sebuah penelitian, bukan rumus yang mampu dipecahkan dan didapatkan hasil kepastiannya. Soalnya aku masih mencari... Mencari banya hal yang akan membentuk dan menata diri juga hatiku yang kini masih berantakan...

    Cinta itu rasional...
    Satu frase yang sangat bisa diterima, dan aku akan mencari artinya.

    Aku menemukan satu jalan yang benar dan terarah lagi dalam perjalanan menyusuri 'maze' ku, sebelum aku menemukan ujungnya...

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.