Dilema Masa Skripsi

Kalo masa kuliah diibaratkan dengan sebuah kurva parabola terbuka ke bawah, maka titik pucaknya yang terdiri dari absis sumbu simetri dan ordinat maksimum adalah masa-masa tugas akhir yang rawan dan penuh godaan. Jika titik kulminasi ini berhasil dilewati dengan baik, maka grafik selanjutnya bakal turun dengan mulus membentuk kurva parabola yang sempurna. Itu analogi hidup dari menjadi mahasiswa tingkat akhir yang ngga akan bisa lari kejaran tugas akhir alias skripsi. Diburu waktu, dan pikiran setelah lulus nanti mau kerja dimana semakin melengkapi penderitaan karena pasca wisuda biasanya status demografi yang melekat adalah pengangguran paling intelek di kampung asal.
Belakangan banyak sahabat yang mengaku berada pada titik jenuh, pusing hingga tablet aspirin pun ngga sanggup meredakan, stagnate, dan putus asa karena terjebak pada pilihan judul TA-nya sendiri. Belum lagi pressure dari dosen yang luar bisaa intens. Tiap pengajuan ditolak dengan alasan kurang inilah, kurang itulah, secara teori benar tapi secara statistic pembuktian keliru, dsb. Atau ketika uda lolos sensor pertama, lalu gagal pada sensor dosen pembimbing II. Fiuh.., itu belum termasuk wira-wiri plus begadang sampai ubanan menunggu sang dosen pembimbing tercinta yang sering pura-pura lupa kalo sudah bikin janji. Apalagi kalo dosen sama sekali tidak kooperatif dengan mahasiswanya.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi waktu mengerjakan skripsi dua tahun lalu. Saya memang nekat mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) yang masih menjadi kontroversi diantara para pendidik. Alasannya PTK hanya boleh dilakukan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya, mahasiswa yang belum berpengalaman mengajar tidak berhak menggunakan metode ini. Saya membela diri karena saat itu saya juga sedang menjalani program guru magang di salah satu SMP, jadi saya punya murid sebagai subyek observasi.
Ujian kesabaran itu datang dari dosen pembimbing II yang memang terkenal angker, otoriter, paling ditakuti se-fakultas, bahkan se-kampus karena beliau ketua yayasan, dan yang paling mengerikan adalah beliau termasuk golongan yang kontra terhadap skripsi PTK. Itu belum seberapa, perlu saya beri tahu juga beliau adalah penganut mahzab klasik yang sering tidak bersedia menerima ide-ide pembaharuan dalam dunia pendidikan. Friksi itu pun terjadi, beliau menampik pendapat saya dan puncaknya skripsi saya sempat dilempar di atas meja dan saya digadang-gadang akan dianugerahi maksimal label C minus. Hiks, saya benar-benar membeku seketika itu, frozen. Tidak menyangka dan speechless.
Setelah kejadian itu saya dilanda frustasi. Kehilangan semangat. Kampus bagi saya ibarat ladang pembantaian, yang keluar dengan selamat akan berakhir di RS Jiwa Menur berkumpul bersama para caleg gagal. Benar-benar menakutkan.
Berminggu-minggu saya mengacuhkan skripsi dan penelitian saya hingga berlumut. Saya melarikan diri dengan kesibukan lain mengajar privat anak-anak SMA yang akan menghadapi UAN.
Di tengah kesibukan itu entah bisikan dari mana yang tiba-tiba secara ajaib menegur saya, “Well, sampai kapan mau terus begini ? hampir empat tahun kamu lewati, dan tinggal satu satuan lagi langkahmu tiba”. Magis. Kata-kata singkat itu membius saya dan menjadi pelecut semangat untuk kembali ke jalur penelitian. Waktu itu saya hanya berharap sang dosen terkena amnesia sebagian sehingga lupa telah melempar skripsi saya.
Untung dosen pembimbing I selalu memberikan support dan mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Saya cukup termotivasi. Alhasil kekhawatiran tentang nilai C itu tidak terbukti dan poin 3 koma sudah cukup mengantar saya untuk lulus.
Saya yakin hampir semua mahasiswa tingkat akhir di luar sana mengalami dilemma yang sama dengan konfliknya masing-masing. Karena itulah saya berani mengeneralisasi ini sebagai suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita bisa menjaga niat, konsistensi, dan tujuan hingga batu ujian seberat apapun tidak akan membuat kita berhenti. Em, berhenti sebentar boleh sih tapi jangan lama-lama sampe karatan. Setelah mampu melewati semua itu, saya taruhan anda akan setuju dengan pendapat saya kalo skripsi adalah intisari kehidupan mahasiswa. So, goodluck and wish all the best !!!

Presented to : 'uteng' dan semua mahasiswa tingkat akhir yang lagi dilanda frustasi. Keep on spirit !!

Gertak Sambal

Saya memang baru mengenal tugas sebagai jurnalis radio sejak beberapa bulan terakhir. Tetapi kasus-kasus intimidasi yang melibatkan wartawan dan jurnalis media massa sudah tidak asing lagi di telinga. Wartawan diancam akibat tulisannya yang menyudutkan pihak tertentu, sudah sering. Wartawan diancam di bawah todongan pistol agar menghentikan peliputan, saya pernah dengar. Wartawan dibunuh lalu mayatnya dibuang di laut, itu pernah terjadi. Jadi intinya adalah tentang sebuah konsekuensi logis dalam mengemban tugas dan menyampaikan kebenaran.
Ceritanya beberapa hari ini saya mencoba mengumpulkan informasi terkait final four Proliga yang diselenggarakan di GOR Ki Mageti Magetan. Sejak awal pelaksanaan babak semifinal ini memang sedikit bermasalah. Setelah tidak mendapatkan ijin gelar di Solo, panitia memindahkan kompetisi ini ke Magetan. Berita yang kemudian muncul di public adalah kenapa perhelatan berskala nasional semacam ini terkesan ditutup-tutupi. Wartawan Jawa Pos bahkan sempat dicekal karena telah memberitakan hasil pertandingan hari pertama yang digelar pada Sabtu (21/3). Alasan panitia melarang peliputan karena dikhawatirkan pemberitaan media akan mengundang massa yang ingin menyaksikan even voli paling akbar di Indonesia tersebut. Sebab jelang Pemilu 9 April aparat memang melarang berbagai kegiatan yang mengarah kepada pengerahan massa termasuk even kompetisi olah raga.
Saya coba menghubungi Kepala Polisi Resort tempat final four digelar agar bersedia diinterview via telepon. Awalnya saya berbasa-basi bahwa poin interview akan mengarah kepada pengamanan jelang Pileg. Beliau hampir saja mengiyakan ketika berikutnya beliau bertanya, “ Kenapa tidak langsung dengan Polwil, mbak? Polwil lebih punya kewenangan dalam hal ini.”
Mau tidak mau saya harus menyinggung tentang penjagaan super ketat kompetisi Proliga di Magetan jelang Pileg.
Menanggapi apa yang saya singgung, saya bisa merasakan nada bicara Bapak tersebut mulai berubah, amplitudo gelombang suaranya meninggi, dan kata-katanya menjadi sengak.
“Masalah Proliga, Kita Cuma pelaksana pengamanan. Yang lain saya tidak mau berkomentar.”
“Mengapa pertandingan ini tertutup untuk umum?” pancing saya
“Dari awal kita uda sepakat sama panitia. Kompetisi boleh digelar di Magetan, perjanjiannya tanpa penonton.” Suaranya emosi.
“Lalu sampai panpel melakukan pencekalan terhadap media yang meliput ?”
"Siapa yang bilang? Coba sapa yang bilang ada pencekalan? Tidak benar itu..." Nada bicaranya makin tinggi.
“Pokoknya Kami Cuma ditugaskan untuk pengamanan. Wartawan dan Aparat punya tugas masing-masing. Jalan sendiri-sendiri.”
“Saya rasa masyarakat perlu klarifikasi tentang pelaksanaan Proliga yang terkesan kucing-kucingan.” Tanya saya meminta jawaban lebih.
“Siapa yang bilang kucing-kucingan !! Polisi itu Cuma mengamankan titik, yang lain saya ngga mau berkomentar. Dari awal kesepakatannya seperti itu, jangan di lebih-lebihkan.” Klik.

Saya kira dari petikan itu sudah jelas. Padahal kalau saja Si Bapak bersedia memberikan klarifikasi secara langsung di media, masyarakat tidak akan berprasangka macam-macam tentang penyelenggaraan Kompetisi Proliga yang tertutup untuk umum dengan penjagaan super ketat. Yah, mungkin karakter orang memang beda-beda. Ada yang kooperatif ada yang berlawanan. Tapi yang pasti indah banget kalo aparat bisa mengayomi warganya, apalagi untuk sekedar menyampaikan klarifikasi lewat media.

DO MORE TALK LESS : SAVE THE WATER!!



Did you ever think that the number of water in this world is decrease day after day ?
Okay, maybe you’ll say that more than 70% earth contains of water, but this is kind of salty water. We can’t drink or wash something with it.
I’m talking about the fresh water, the water that comes from the rivers and the depth under the ground, saved by the trees.
The population increase every second, and this condition isn’t balance with the water supply. The experts estimated that If we’re not save the water right now, millions people will lack of water in the next ten years. The world commemorate March 22nd  every year as Water Day. So this is the right time to make any reflection, “ Have we really care with the water existence ?”
Now, look at our rivers! We’re faced in serious conditions. The rivers are full with garbage and industrial cesspool. The rivers are polluted. We have to be honest, our people still don’t have any attention with their environment. People just blame the nature when disasters come. Floods and landslides are happen every years because of us, and the solutions is back to ourselves, could we change our bad habbits?
Actually there’re so many ways that we can do to save the water. For a simple example, don’t forget to turn off the water faucet after we use it. Use the water wisely, don’t waste it in useless ways. The most important, don’t ever through the garbage in to the rivers, I’m begging you please ! 
The other way, we can plant some trees in front of our house. The roots will save the water that comes from the rain and keep it in the ground to prevent floods and landslides.
The answer now, Why do we have to care ? Because we are part of the ecosystem and the keeper of the nature. We live in here and depend on another creatures. So, we should give respect to the nature which has give us all we need.
There’s no other way, DO MORE TALK LESS. SAVE THE WATER !

Start from a simple thing
Start from ourself
Start right now !!!


Membangun Komunikasi Politik Antar Elite

Tingginya tensi politik di pusat maupun di daerah semakin terasa kuat. Kampanye terbuka dan penandatanganan deklarasi damai telah dimulai Senin (16/3) kemarin secara serentak dari pusat hingga pemerintahan tingkat II. Sejalan dengan itu para tokoh politik yang berkepentingan terhadap Pemilihan Presiden juga makin menggalang kekuatan untuk memudahkan jalan menuju RI I dan II. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu Ketua MPR Hidayat Nurwahid (PKS) telah menghadiri undangan Taufik Kiemas (PDIP). Kemudian belakangan yang masih hangat dibicarakan publik adalah pertemuan Wapres JK (Golkar) dengan Megawati Soekarno Putri  (PDIP) yang menghasilkan beberapa butir  kesepakatan politik. Seberapa pentingkah komunikasi/silaturahmi antar elite politik ini dilakukan ? Bukankah Sebuah koalisi baru bisa ditentukan pasca hasil Pemilu Legislatif 9 April diumumkan?
Pernyataan resmi majunya Jusuf Kalla untuk menjadi capres dari partai Golkar pada Pilpres 2009 memang menuai banyak pendapat. Ada yang mengkrikitik bahwa JK dianggap menyalahi etika, sebab saat ini statusnya masih menjadi wapres sekaligus pasangan resmi SBY. Namun di lain pihak, ada kalangan yang menilai manuver politik JK cukup berani. Kamis (12/3) pekan lalu JK menghadiri undangan mantan presiden Megawati di Jakarta. Lima butir kesepakatan tertulis menjadi hasil pertemuan kedua tokoh partai besar tersebut. Inti dari isi kesepakatan adalah tentang membangun pemerintahan yang kuat untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Baik JK maupun Mega sendiri berdalih tidak ada kesepakatan koalisi capres-cawapres antara keduanya meskipun spekulasi ke arah sana cukup kuat.
Menanggapi majunya wapres Jusuf Kalla sebagai kandidat capres 2009, Presiden SBY merespon positif. Dirinya yakin kompetisi yang terjadi nantinya akan berlangsung dengan baik dan sehat. Sejauh ini hubungan antar SBY – JK yang masih berstatus RI 1 dan RI 2 tetap terjalin dengan baik. SBY juga belum berani memutuskan siapa yang akan mendampinginya maju pada Pilpres nanti, semuanya masih menunggu hasil Pileg bulan April.
Sementara itu tentang pertemuan JK-Megawati, presiden SBY menganggap itu hal yang wajar apalagi dilakukan jelang Pemilu. Entah itu akan berujung pada koalisi atau tidak, SBY tidak berani berspekulasi sebab dalam politik apapun dapat terjadi. Dalam konferensi pers di Puri Cikeas Bogor kemarin, SBY berharap dirinya juga bisa bertemu dengan Megawati, sebab upaya menjalin komunikasi antara keduanya sejauh ini belum membuahkan hasil. Memang sejak naiknya SBY menggantikan Megawati sebagai Presiden 2004 lalu, banyak pihak menilai komunikasi politik antara keduanya tidak begitu harmonis. Siapapun koalisi yang akan menang dalam Pemilihan Umum Presiden kelak, semua berharap ini akan membawa perbaikan bagi roda kehidupan rakyat.

Kasus Munir dan Keadilan yang Mati Suri



Perempuan itu bernama Suciwati. Perempuan yang setiap hari Kamis jam 4 – 5 sore berdiri di depan istana Negara mengetuk keadilan yang sedang mati suri. Saya bisa membayangkan sosoknya yang tegar, berteriak lantang di depan pengadilan, bersama para sahabatnya mencari kebenaran atas kematian suaminya, almarhum Munir. Tapi dari getaran suaranya di seberang line telepon, saya bisa merasakan luka itu, luka yang menganga sejak lima tahun lalu, sejak kasus Munir tidak pernah menjadi jelas. Bahkan ketika bukti-bukti dipaparkan, para tersangka pembunuh Munir disidangkan, lagi-lagi semuanya berakhir buram.
Ketika  ditanya, sampai kapan akan memperjuangkan kasus Munir ? Dengan tegas dijawabnya, dia tidak akan berhenti sampai kapanpun, sampai keadilan benar- benar di tegakkan demi substansi keadilan itu sendiri, yang telah dikebiri bersama lolosnya tokoh-tokoh intelektual dibalik pembunuhan Munir. Dia akan bertahan demi anak cucunya, demi para sahabat yang telah mendukungnya dengan sepenuh hati. 
Saat ini kasus Munir memang pada tahap kasasi, Suciwati berharap Komisi Judicial bisa memeriksa para hakim yang telah membebaskan Muhdi PR.
Ketika ditanya, apakah dirinya tidak takut menghadapi kekuatan tak kasat mata yang meng-cover lawan-lawannya, dia hanya mencibir, “Suami saya telah dibunuh, … maka tidak ada alasan bagi saya untuk takut.” 
Perempuan itu bernama Suciwati, yang setiap hari Kamis jam 4- 5 berdiri tegak di depan istana Negara menyuarakan keadilan, memberi tanda kepada para penguasa agar selalu ingat bahwa keadilan harus segera dibangunkan dari tidur panjangnya. 




Trafficjam in the morning




















Mengurangi Kantong Plastik = Save the earth



Kawan, pernah terbayang ngga berapa ton sampah kantong plastik yang terkumpul di muka bumi ini tiap harinya ? setiap kali kita belanja, entah itu belanja sayur, garam, buku ampe sepatu, di mall atau di pasar loak, kantong plastik menjadi sarana buat mempermudah bawaan kita. Simple, ringan, ngga memakan tempat, usai pake langsung buang, praktis dan ekonomis. Tetapi sekedar mengingatkan, plastik sebagai ikon kepraktisan ini harus dibayar mahal dengan mengorbankan eksistensi lingkungan. Kantong plastik atau lebih familiar dengan sebutan “tas kresek” adalah sejenis polimer sintetik, yaitu jenis plastik yang sulit terurai. Menurut riset, bumi membutuhkan waktu sedikitnya 500 tahun untuk bisa mengurai plastik jenis ini.
Berdasarkan data dari S.F. Department of the Environment, Worldwatch Institute, setiap tahun ada 4-5 trilyun kantong plastik yang beredar, sementara untuk bikin 100juta kantong plastik yang non-degradable saja jumlah minyak bumi yang diperlukan adalah 430.000 gallon, kebayang kan borosnya.
Membakar sampahnya pun bukan solusi bijak. Karena jika dibakar dibawah 800 derajat celcius, justru akan menghasilkan senyawa dioksin yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup.
Karena sifatnya yang sulit terurai, sampah plastik bisa menghambat proses penyerapan air oleh bumi. Ditambah dengan perilaku masyarakat kita yang masih suka membuang sampah (termasuk plastik) secara sembarangan hingga menutup saluran air, alhasil bencana banjir pun tak bisa dielakkan.
Karena ketidakramahan polimer yang satu ini, maka sejak tahun 2008, gabungan pengusaha Indonesia sudah memulai kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik. Di beberapa belahan dunia lain bahkan penggunaan kantong plastik sudah digantikan dengan kantong belanja dari kain atau kertas (menurut saya kantong kertas pun sebenarnya juga ngga beda jauh, karena untuk memproduksi 1 ton kantong kertas dibutuhkan 13-14 pohon untuk ditebang). Negara tetangga Singapura sudah menerapkan denda 3 sen bagi warga yang tidak membawa tas sendiri saat berbelanja … amazing ya, bandingkan dengan orang Indonesia yang malah “gremeng” kalo belanja ngga dikasi tas plastik sama si empunya toko.
Sudah saatnya kita hidup berharmoni dengan alam. Kurangi penggunaan kantong plastik = sumbangan besar buat kelestarian ekosistem.
(source : gagasawards.blogspot.com)

Bapak, Aku dan Hujan

Beliau orang yang sangat pendiam, tidak boros memproduksi kalimat dengan siapa pun lawan bicaranya. Bapak terlahir dari keluarga Hindu kental di dusun kecil Kalianget, Singaraja, Bali yang kemudian berhijrah menjadi mualaf di tahun 1995. Sebagai orang perantauan yang tinggal di tanah orang, mungkin beliau lebih berhati-hati dalam bersikap. Alhasil, banyak teman terkadang sungkan dengan attitude bapak yang kalem (dan diakui atawa engga ini menurun pada anaknya yang nomor satu hihihi). 
Sore itu hujan turun dengan intensitas tinggi. Saya sedang asyik terbengong-bengong mengagumi hujan di halaman belakang, sejak dulu saya selalu terpesona dengan hujan meskipun siklusnya telah dijelaskan secara ilmiah di buku IPA sekolah dasar, tapi tetap saja saya terpesona.  
Di tengah asyiknya terbuai alunan hujan, tiba-tiba ibu berteriak mengagetkan saya, “Air masuk !!! Komputermu….”
Waa… saya langsung berlari pontang-panting menyelamatkan CPU dan speaker aktif dari serbuan air yang tidak biasanya bertandang ke dalam rumah. Ternyata ada lubang di hati ups, maksudnya pada tembok tepat berlokasi di bawah meja komputer. Sebelumnya lubang yang jadi biang kerok banjir lokal saat itu tidak terdeteksi karena air hujan selalu mengalir mengikuti kaidah hukum gravitasi di selokan belakang. Tetapi karena memang halaman belakang baru saja mendapat buangan material sisa bangunan dari tetangga sebelah rumah, walhasil air hujan dengan debit yang lumayan besar tidak mau mengalir. 
Untung saat itu bapak sedang libur . Dengan sigap, beliau mengambil sekop menggali parit-parit kecil untuk jalan air. Sebagai anak pertama, saya ngga tinggal diam. Saya ambil sekop dan turun langsung ke medan pertempuran bersama bapak. Meskipun bapak sudah melarang, tapi bukan karakter saya untuk diam saja dan menunggu. 
Di bawah rinai hujan yang jatuh dengan tekanan tinggi, kami berpacu menggali, mencangkul, membuka jalan bagi air untuk mengalir seperti semula. 
30 menit di bawah guyuran hujan, saya mulai menggigil, tapi tangan ini tidak berhenti menggali. Bapak diam dan terus bekerja dengan resultan gaya maksimal. Dalam hati saya merasa seperti ada koneksi yang terhubung antara saya dan bapak dengan perantaraan air hujan, sekalipun kami tidak mengucap sepatah kata pun. 
Saya tahu kami jarang bercakap satu sama lain, dan terkadang kediaman ini membingungkan saya. Kenapa bapak tidak seperti bapak-bapak yang lain, yang bisa mesra dengan anak-anaknya. Indah sekali jika bapak dan anak bisa meluangkan waktu melakukan hobi bersama, makan di tempat favorit bersama, atau berbicara dari hati ke hati tentang anaknya yang lagi jatuh cinta mungkin ? Tapi saya tahu sejak dulu bapak tidak begitu. Bapak membiarkan saya tumbuh mandiri tanpa larangan apa pun karena beliau percaya penuh pada anaknya. Dan baru-baru ini saya mengetahui, ternyata bapak lebih senang saya tetap tinggal di madiun untuk menjaga ibu, menggantikan tanggung jawab beliau yang bekerja di luar kota. Menjadi tulang punggung, menjadi kakak, sekaligus anak pertama yang diserahi tugas menjaga keluarga ini. 
Hujan turun semakin deras, biarlah, biar begitu, biarkan hati kami berbicara dalam kebisuan, dalam keheningan. 


Single Happy

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian, terlalu keras menjalani hidup
Beribu petuah yang diberikan, berharap aku bahagia
Mereka bilang sudah saatnya karena usia,
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku pada waktu dan cara yang indah…

Saya tersenyum sendiri mendengar penggalan lagu Oppie Andaresta yang satu ini. “Single Happy”, judul dan liriknya benar-benar melegitimasi status jomblo yang entah kenapa seringkali didiskreditkan. Ketika usia uda mencapai kepala dua, dan undangan pernikahan dari kawan sebaya terus berdatangan, maka orang-orang di sekitar yang mengaku peduli sama kita bakal berkomentar, “Kamu kapan ?” Dan Ringgo Agus Rahman menjawab, “Mei… meibe yes, meibe no” Hehehe… what a great answer !
Menurut saya menjadi jomblo adalah pilihan. Sebuah jalan yang memang kita pilih karena kita nyaman dengan status ini, bukan lantaran karena ngga laku (kayaknya ada yang ngga terima sama tuduhan ini hehehe…hayo ngaku !!).
Selama kita (para high quality jomblo_red) merasa hepi-hepi aja berjuang menghadapi hidup sendirian (cie bahasanya gubrak kuadrat ;-p), menjalani hari tanpa harus terbebani sama “kewajiban” terhadap pasangan yang notabene sebuah konsensus tanpa keabsahan, then we don’t have to be worry being a single.
Seorang sahabat pernah bilang pada saya, pasangan hidup itu bakal tiba pada saat dan waktu yang tepat. And I agree with that. Kalo pun sekarang belum ada pasangan hidup, berarti memang belum waktunya buat kita, dan bisa jadi karena sebenarnya diri kita belum siap untuk itu. Akan ada satu momen dimana Tuhan menganggap kita uda pantes lahir dan batin untuk memulai sebuah komitmen dalam ikatan suci pernikahan.
Sekarang ketika kita masih diberi waktu menjadi para lajang bahagia, ini kesempatan buat kita untuk mengejar mimpi, berbakti membahagiakan ortu, traveling qeqeqeqeqe, pokoknya just enjoy your life…

Aku baik-baik saja,
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy