Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

26/12/10

Refleksi

Lima hari menjelang lembar 2011. Lima hari tersisa untuk sebuah refleksi, mengkaca diri. Apa saja yang telah tertulis dalam catatan hidup kita setahun ini.

Setiap manusia tentu berharap yang terbaik dalam hidup. Kehidupan yang cukup, pasangan yang setia, anak-anak yang lucu, status dan citra terhormat. Kehidupan yang sempurna tanpa retak. Namun adakalanya semua tak berjalan sesuai harapan. Semua yang dikalkulasi meleset jauh dari perkiraan. Kegalauan, keresahan, kegundahan meleburkan rasa tidak berdaya.

Ya, sebab memang bukan kitalah penentu ujung dari setiap ikhtiar itu. Otoritas kita hanya sebagai lakon yang diberi pilihan. entah bagaimana akhir dari pilihan itu tergantung pada Sang Hidup membuatnya.

Tiap kegagalan, ketidak berhasilan, dan rasa sakit tentu menyimpan pelajaran tentang hidup. Tak perlu menyesalinya. Jika kita mampu berdiri tegak di atas itu semua dan mengambil untaian hikmah yang tersimpan, maka rasa lapang akan memenuhi rongga jiwa.

Dunia ini tempat manusia buat "dicoba", buat "diuji", begitu sabda Qur'an. Ada ujian kebahagian, kesuksesan, juga ada kalanya buat kesedihan, kegagalan. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba mampu bertahan dengan segala keikhlasan atas itu semua. Memang tidak mudah, tapi selalu saya coba ingatkan diri sendiri, "pasti semua ada hikmahnya.." . Mungkin ujian yang mendera kali ini akan menempa kita menjadi dewasa dan lebih bijak dalam memandang hidup.

Setelah kemarau pastilah akan tiba penghujan. Setiap kesulitan disertai dengan kemudahan. Setiap persoalan telah ada kunci-kunci jawabannya...

Maka sekarang adalah saatnya menyeka air mata duka, menggulung gundah dan prasangka, menyerap pelajaran dari setiap episode yang menyinggahi nafas kita...
Besok pastilah ada asa....




06/12/10

Transformasi


by : Ali Waringin



Dulu saya seringkali merasa takut dan cemas akan segala sesuatu, entah karena hutang, takut kekurangan, terutama takut kehilangan. Dalam perjalanannya ketakutan-ketakutan itu semakin menggunung. Semakin saya lawan rasa takut itu, semakin kuat tekanannya. Akibatnya batin saya semakin menderita.


Ketakutan itu sempat membuat saya sulit berkembang dan maju, hidup saya pun selalu dalam kemiskinan. Karena ketakutan juga saya pernah mencoba menipu orang lain yang sebenarnya bisa menjadi mitra bisnis yang sangat prospektif. Karena takut juga, saya terus menghindari pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, saya terus mencoba mencari alasan supaya bisa selamat dari hal-hal yang saya takuti. Namun sepertinya rasa takut itu justru menyukai saya, kawan. Ia sulit sekali pergi meski saya mencoba lari dan menghindarinya.


Ya, itulah cerita hidup saya beberapa tahun yang lalu. Saya ingat betapa ketakutan itu menghabiskan energi saya, menyebabkan saya mengalami banyak kerugian.


Sekitar tahun 2006 saya merasakan pertanyaan yang sangat kuat, “kenapa saya tidak mencoba menghadapi rasa takut itu? kenapa saya tidak mencoba bertanggung jawab atas perasaan saya sendiri?.......... pertanyaan-pertanyaan itu terus mengetuk batin seakan-akan meminta saya untuk bangun dan sadar.

Dari situ saya memulai untuk menghadapi ketakutan itu. Lalu semakin lama, semakin saya tahu bahwa ketakutan ternyata hanya buatan pikiran, atau dengan kata lain ketakutan hanyalah bualan pikiran yang tidak pernah terbukti.


Makin hari saya semakin membuktikan kata-kata itu. Dan semakin jelas bahwa penderitaan dan kesulitan itu di sebabkan oleh ketakutan saya sendiri. Lebih jelas lagi ketika saya mengetahui bahwa ketakutan itu terjadi karena ketidaktahuan saya, ketidakmengertian saya dan ketidaksadaran saya.


Sama halnya ketika orang-orang dilanda ketakutan menghadapi pernikahan. Banyak dari kita merasa takut tidak mampu membahagiakan pasangannya, takut tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, takut kekurangan, takut dikatakan pernikahannya tidak bahagia, dan lain sebagainya. Saya juga memperhatikan banyak generasi sekarang yang justru memilih seks bebas tanpa menikah. Di sisi lain, ada pula yang takut menyampaikan kata cinta karena takut di tolak, merasa tidak pantas, dll, padahal itulah penyebab tidak terwujudnya pernikahan dengan orang yang didambakan. Hasilnya, tentu saja pernikahan itu tidak pernah terjadi.


Kini saya mengetahui, di saat saya merasa takut, saya tidak bisa menyadari bahwa hidup adalah perubahan, perubahan itulah hidup. Bahwa di dalam perubahan itulah saya sedang menjalani kehidupan ini. Ketika saya bisa mengerti hal itu, dan bisa menyadarinya maka ketakutan-ketakutan itu menguap dengan cepat, dan yang lebih menakjubkan adalah seakan-akan hidup bekerja untuk saya, seakan-seakan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi dengan mudah hanya dengan menyadari bahwa hidup itu perubahan, pergerakan terus menerus tanpa henti, dan yang lebih mengejutkan lagi saya berani memberi lebih banyak dan lebih banyak lagi, yang sebelumnya saya berusaha menggenggam apa yang saya punya.


Kesadaran saya semakin tumbuh dengan berusaha terus memberi dan memberi. Saya menemukan bukti bahwa dengan memberi kita adalah peserta dalam evolusi hidup ini, evolusi yang sangat cepat dan tidak terjangkau oleh matematika pikiran saya selama ini.


Ah... betapa gilanya saya selama ini yang terus menyembunyikan dan menggenggam apa yang saya miliki, entah itu uang, informasi, ide atau lainnya. Selama ini saya terus berusaha menyimpannya dari orang lain, padahal ternyata sikap seperti itu malah menghambat aliran kelimpahan dalam hidup saya. ketika saya terus memberi entah itu uang atau kata-kata yang membangun dan menghibur justru kelimpahan terus menerus saya alami.


Saya ingin Anda juga mempercayai bahwa jalan pintas untuk hidup mudah dan berlimpah adalah “memberi”. Semua guru besar berulang kali mengatakan hal itu, semua buku-buku hebat yang pernah saya baca juga mengatakan hal yang sama, memberi dengan tanpa syarat apapun adalah jalan pintas menemukan harta karun kelimpahan hidup.


Kesulitan, penderitaan, kekurangan dan kemiskinan itu terjadi karena ada ketakutan, kecemasan, kekhawatiran bahwa esok anda tidak bisa makan, besok anda tidak bisa membayar tagihan, besok anda takut di anggap miskin oleh orang lain. Maka musnahkanlah dalam pikiran dan batin anda semua itu, sebab ketika anda mengikuti rasa takut itu, justru anda semakin menderita kekurangan dan di dera kesulitan.


Pernah suatu ketika saya mencoba menipu seorang kasir toko buku. Harusnya uang saya hanya cukup untuk membeli 2 buku, tapi karena ada 5 buku yang saya inginkan maka dengan berbagai cara saya berhasil membeli 5 buku dengan harga 2 buku. Tapi setelah itu saya malah kehilangan banyak klien, dengan berbagai alasan mereka membatalkan janji yang telah disepakati. Dan 5 buku itu sampai sekarang tidak pernah saya baca, entah di mana buku-buku itu berada bahkan saya sudah lupa.


Mengikuti pikiran takut hanya akan mendapatkan ketakutan yang lebih banyak lagi, dan sebaliknya mengikuti pikiran kelimpahan membuat hidup kita tambah berlimpah. Dan sekali lagi kawan, sikap yang menunjukkan keberlimpahan adalah dengan memberi.


Jika Anda benar-benar merasa cukup, Anda akan memberi tiap bertemu siapapun. Senyum kebahagiaan yang Anda berikan ketika bertemu orang lain, itupun merupakan pemberian kelimpahan.


Saya pernah mendapati klien yang menolak membayar jasa konsultasi yang saya berikan dengan alasan karena masih banyak hutang yang ia harus bayar. Namun belakangan ia menyadari bahwa tindakannya itu adalah tindakan kekurangan, segera dia menghubungi saya dan mengatakan,Jika saya membayar konsultasi yang Anda berikan setelah saya melunasi hutang-hutang saya... setelah saya berhasil... atau setelah saya sukses,... bukankah itu sama saja saya merencanakan kegagalan saya, kekurangan saya, kemiskinan saya. Bukankah aliran hidup itu sedang terjadi saat ini... sekarang juga...dan bukan nanti”. Itulah kalimat yang saya ingat dari klien saya waktu itu. Dia tersenyum gembira sambil membayar jasa konseling yang telah saya berikan. Sekitar satu tahun lalu saya mendapatkan kabar bahwa usahanya telah merekrut banyak karyawan.


Saya mengalami dan mengamati bahwa Perubahan-perubahan yang terjadi meski nampak buruk, itu hanya di permukaan, hal tersebut justru bisa kita gunakan untuk mengingatkan diri kita jika kita sedang merasa takut akan sesuatu. Dan ternyata bukan sesuatu yang di luar yang perlu kita hadapi, tapi rasa takut itu ada di dalam diri kita sendiri, bukan di dalam diri orang lain atau pada sesuatu yang lain.


Kabar baiknya, perubahan yang terjadi saat ini sedang menuju ke arah lebih baik, jadi kenapa kita harus takut? kenapa kita tidak menikmati hidup ini saja? kenapa kita tidak bisa hidup berlimpah ruah?...sebab memang sebenarnya hidup ini berlimpah tanpa batas.


Sekarang cobalah Anda jujur, apa yang Anda takuti saat ini ? Tentu akan banyak daftar ketakutan yang Anda temui. Tetapi semakin anda temukan ketakutan itu, semakin tumbuh kesadaran Anda akan hidup yang sedang berlangsung dalam perubahan. Anda pun akan mendapati bahwa sebenarnya di alam ini tidak ada satupun yang berkurang dan hilang, hanya bentuk yang terus berubah, dan perubahan bentuk itu bukanlah hal nyata.


Saya ingin menutup catatan ini dengan pernyataan luar biasa dari Alan Watts yang mungkin patut kita renungkan bersama:


“Kita tidak ‘datang ke dalam’ dunia ini,

kita keluar dari dunia ini sebagai daun-daun dari sebuah pohon.

Sebagai gelombang samudera, orang-orang alam semesta.

Setiap individu adalah ungkapan dari seluruh bidang alam, tindakan yang unik oleh keseluruhan alam semesta.”


Transformasi : Hidup adalah perubahan terus menerus menuju ke arah yang lebih baik






05/11/10

SAKSI



Juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan, satu hari sebelum letusan Gunung Merapi di rumahnya di Desa Kinahrejo, Sleman, Yogyakarta, Senin (25/10). (FOTO ANTARA/Regina Safri)


Tim SAR gabungan mengevakuasi korban meninggal di kawasan Kinahrejo, Kepuharjo, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10). (FOTO ANTARA/Wahyu Putro)


Sejumlah siswa SD melakukan sholat ghaib di Masjid Sabilillah, Malang, Jawa Timur, Kamis (28/10). Aksi yang diikuti sekitar 200 siswa SD tersebut untuk mendoakan arwah korban bencana Gunung Merapi dan tsunami Mentawai. (FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto)


Kendaraan melintas di jalan raya Yogya-Magelang yang diselimuti abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi, di Muntilan, Magelang, Jateng, Rabu (27/10). Letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10) sore menyemburkan awan panas disertai abu vulkanik hingga 50 kilometer, selain mengganggu pengendara mobil maupun sepeda motor karena jarak pandang hanya 10-15 meter abu vulkanik juga menggangu pernafasan. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)



Pekerja membersihkan stupa candi Borobudur akibat abu vulkanik erupsi Gunung Merapi di Borobudur, Magelang, Jateng, Rabu (27/10). Untuk sementara waktu candi Borobudur ditutup untuk wisatawan selama proses pembersihan permukaan candi Borobudur yang diselimuti abu vulkanik. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)

Sejumlah pengungsi tidur di lantai Tempat Pengungsian Akhir (TPA) Tanjung, Muntilan, Magelang, Jateng, Rabu (27/10) dini hari. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)



Penduduk mengamati kerusakan akibat erupsi Gunung Merapi di Desa Kinahrejo, Kamis (28/10). (AP Photo/Binsar Bakkara)


Awan panas terlihat keluar dari puncak Gunung Merapi, diabadikan dari Sidorejo, Kemalang, Klaten, sekitar pukul 06.17 WIB Jumat (29/10). (FOTO ANTARA/Andika Betha)


Lava terlihat menyala bersama hembusan asap vulkanik dari kawah Gunung Merapi yang terlihat dari Cangkringan, Yogyakarta, Jumat (29/10) pagi. (AP Photo/Binsar Bakkara)



Semua gambar dikutip dari situs : id.news.yahoo.com

29/10/10

Have You Ever Really Loved A Woman ?

by : Bryan Adams


To really love a woman
To understand her , you gotta know it deep inside
Hear every thought , see every dream
And give her wings, when she wants to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
You know you really love a woman

When you love a woman you tell her
that she's really wanted
When you love a woman you tell her that she's the one
she needs somebody to tell her
that it's gonna last forever
So tell me have you ever really loved a woman?

To really love a woman
Let her hold you,
til ya know how she needs to be touched
You've gotta breathe her, really taste her
Til you can feel her in your blood
And when you can see your unborn children in her eyes
You know you really love a woman

When you love a woman
you tell her that she's really wanted
When you love a woman you tell her that she's the one
she needs somebody to tell her
that you'll always be together
So tell me have you ever really ever loved a woman?

You got to give her some faith, hold her tight
A little tenderness, gotta treat her right
She will be there for you, takin' good care of you
Ya really gotta love your woman...



25/10/10

Bonjour les amis ...

Bonjour les amis... Selamat pagi kawan, apa kabar?

Semoga semangkuk bahagia dan secangkir kasih mewarnai lembaran langkah kita. Kemarin adalah sejarah, hari esok belum lagi terangkai. Di hari inilah kita siapkan kanvas dan kuas untuk mewarnai mozaik kita.

Selamat pagi langit ? Moga birumu menaungi kalbu kami yang kemarau. Keringkan galau di tiap jengkal langkah yang berjelaga. Sebarkan hangat dalam balutan awan yang menyimpan hujan tak mengenal musim.

Selamat pagi angin? Kuharap belaimu sejukkan jiwa-jiwa yang penat, bebaskan nafas cinta yang terpendam bersama Teracotta. Membangunkan kuncup mimpi yang tertidur, lantas menyemikan kembali harap yang tergadaikan oleh ego.Rata Penuh
Selamat pagi embun, rumput, dan daun-daun... dari selaksa sibuk yang kuteguk, membaui harum-mu kan selalu kurindu, membuai sukmaku dalam pagi yang syahdu. Mengisi rongga jiwa yang semula mengeras dengan butiran syukur tanpa batas.

Selamat pagi matahari, sapamu menggulung malam yang temaram, redakan badai di ujung hari. memandu anak-anak adam yang bersiap mencangkuli bumi.

Selamat pagi, hati, Kabar baikmu kutunggu hari ini...

Bonjour les amis, Que Dieu bénisse...

18/10/10

MENGHARGAI SEBUAH PROSES


Bumi terus merotasikan waktu. Siang, malam, merangkai lembar demi lembar sejarah anak adam dengan berjuta cerita. Ada yang singgah, ada pula yang pergi, ada yang berlalu begitu saja tanpa membekas di hati. Namun kenangan demi kenangan itulah yang mewarnai mozaik kita. Dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama.


Terkadang kita ingin waktu berputar menjejak masa lalu. Kita ingin memperbaiki keadaan, mencegah hal yang seharusnya tak dilakukan, mengerjakan apa yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Ya, sesal selalu datang di belakang...


Namun bukankah dari situ kita bisa belajar tentang hidup? Belajar menjadi bijak... belajar menjadi dewasa... belajar untuk lebih bersyukur. Karena mungkin saja tanpa sadar kita terlalu menuntut kepada Tuhan. Kita selalu mengeluh tentang apa-apa yang terjadi. Kita jarang memahami maknanya bagi jiwa, bagi hidup. Maka segala episode yang terlalui, sedih, kecewa, terluka, ataukah bahagia, semestinya bisa menjadi pelajaran buat hari esok yang menyimpan tanya.


Kemarin adalah sejarah, besok belum lagi terlewati, di sini... di detik kita bernafas, di saat inilah kita tinggal. Kita warnai Kanvas yang telah disiapkan. Menjadi merah, hijau, ungu atau kelabu kitalah pemegang kuasnya, kitalah sang Claude Monet. Hanya saja, memang setiap komposisi yang kita tuang mengandung konsekuensi. Setiap langkah dan pilihan mengandung hasil. “Setiap aksi, ada reaksi”, begitu rumusan hukum ke III Newton empat abad silam. Bahkan jauh seribu tahun sebelumnya, Quran telah mewahyukan bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berikhtiar mengubah keadaannya.



Namun tentu bukan otoritas kita menentukan bagaimana kelak design akhirnya. Tugas kita hanyalah bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, kemudian memasrahkan hasilnya pada Sang Pembuat Design Kehidupan. Pasrah dan ridha. (mudah-mudahan kita mampu melakukannya, amin)


"Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah design holistik yang sempurna. Menerima kehidupan, berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan." {Andrea Hirata diinterpretasikan dari pemikiran Harun Yahya}

Menghargai sebuah proses. Saya kira begitulah intinya. Bagaimana kita mampu menghargai detik demi detik yang kita lewati, tiap helaian nafas yang kita hembuskan, setiap pertemuan yang mengajari kita tentang kehidupan, jua setiap tetes usaha yang kita jalankan.


Hidup ini ibarat ladang. Mau ditanami apapun terserah diri kita. Mau dibiarkan kering tak tergarap juga itu urusan masing-masing. Akan tetapi ketika kita menanam dan merawat ladang itu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dengan semaksimal mungkin. Dengan benih yang terbaik, dengan pengairan yang cukup, dengan pupuk yang proporsional. Perkara nanti hasilnya berlimpah atau tidak, itu sudah di luar kewenangan kita. Ada Dzat yang lebih Kuasa menentukan perkara-Nya. Kita hanya mampu melakukan yang terbaik, ikhtiar yang maksimal, dan menikmati setiap proses itu. Kalaupun nanti hasilnya banyak ya syukur, kalaupun sedikit ya tak kecewa sebab kita telah menghargai tiap titik keringat demi merawat ladang tadi.


Sebab tujuan akhir kita bukanlah pada hasil semata. Gimana dengan anda ?



picture is taken from here



18/09/10

Episode Tentang Bunga



Facing the sky


Young rose



Bloomy rose



Water jasmine


White rose


Fresh red



The orchid


Grass flowers


Grass flowers (2)


Young rosela


Bloomy rosela



" KADANG SATU GAMBAR TELAH MEWAKILI SERIBU KATA...."

(Gambar diambil dengan Sony Ericsson K750)





16/09/10

Lebaran, lalu...


Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke kota masing-masing.


Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…


Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.


Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.


Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…


picture is taken from here


09/09/10

“Memaafkan” : satu Rahasia Kelimpahan yang sering terabaikan

Memaafkan : menerima apapun sebagaimana adanya di dalam batin


BY : ALI WARINGIN


Lebaran telah tiba,…orang- orang akan saling bersilaturahmi, saling bersalaman, saling bermaaf-maafan. Namun adakah permintaan maaf itu benar-benar tulus dari hati ? Apakah mereka yang bersalaman hanya berpura-pura sekedar untuk penghormatan di hari besar ? Ataukah mereka hanya ikut-ikutan terjebak dalam efuria selebrasi tanpa makna ?

Mungkin ada diantara kita yang mengobral beribu kata maaf di hari raya Idul Fitri, tapi baru beberapa menit saja kita sudah membicarakan aib orang yang dimintai maaf sebelumnya. Sehingga yang sering terjadi, tak berapa lama setelah lebaran, pertengkaran dan perselisihan muncul kembali. Rasa benci , curiga dan dendam yang mengkarat terasa sulit terhapus begitu saja dengan ritual bersalam-salaman.

Demikianlah obrolan saya dengan seorang teman suatu ketika, di sebuah kafé kecil di kota kami sambil minum kopi…hehehe…

taken from here


Dalam bingkai pemahaman saya, memaafkan artinya menerima segala sesuatu sebagaimana adanya di dalam batin. Tidak ada lagi penilaian dan penghakiman terhadap apapun baik dalam pikiran maupun dalam hati. Memaafkan juga berarti menerima apa adanya diri anda saat ini, menerima apapun masa lalu, serta tidak mencemaskan apapun yang akan terjadi di masa depan.

Menerima apapun situasi dan kondisi anda saat ini berarti juga memaafkan diri sendiri. Jika masih ada perasaan curiga, cemburu, iri hati, jenuh, rasa tidak puas, gelisah, dendam serta emosi-emosi yang negatif lainnya, jika masih ada orang lain yang anda nilai kurang baik atau tidak benar sikapnya, meski anda tidak mengucapkannya, itu berarti anda belum bisa memaafkan diri anda sendiri.

Sebelum anda bisa mengampuni diri sendiri, anda belum bisa memaafkan orang lain. Ampuni apapun yang terjadi, sampai tidak ada lagi rasa dendam, curiga, dsb. Sebab mengampuni diri sendiri juga berarti membuka diri akan kelimpahan hidup. Dan ketika anda bisa menerima apa adanya diri anda saat ini, anda mulai bisa memaafkan, maka kelimpahan hidup anda dimulai.

Bisa jadi saat ini anda telah memperoleh segala impian anda seperti mobil, rumah, pasangan ideal dll, tapi anda tidak bisa merasakan kelimpahan hidup. Rasa kepemilikan yang Anda miliki terhadap semua benda-benda itu tidak ada artinya lagi. Yang ada hanya perasaan kekurangan dan ketidakpuasan. Ini akan terus menciptakan jurang yang cepat atau lambat akan menceburkan tuannya sendiri yaitu anda yang tidak bisa memaafkan.

Anda pun tidak benar-benar bisa bersyukur jika anda tidak bisa memaafkan. Maka sebelum memaafkan, ampunilah dulu diri anda sendiri sebab tanpa mengampuni diri sendiri, anda tidak akan bisa menikmati indahnya syukur.

Kenyataanya, ada banyak orang yang merasa telah menjalani hidup dengan baik dan benar, tapi mereka tetap diliputi rasa takut dan khawatir terhadap kemiskinan. Banyak masalah yang menimpa rumah tangga mereka, juga masalah-masalah lain yang terus menghantui. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum bisa memaafkan, yang juga berarti mereka belum bisa mengampuni diri sendiri.

taken from : here


"Ampuni dirimu, maka kamu telah memaafkan. Memaafkan diri sendiri juga berarti memaafkan orang lain."

Dalam artikel “Buanglah Bagasimu, telah banyak orang yang merasakan kebebasan, tapi banyak pula dari pembaca yang masih merasakan beban di pundaknya. Maka ambilah langkah memaafkan dengan mengampuni diri sendiri terlebih dahulu.

Lantas apa yang perlu diampuni? Mudah sekali, yaitu apa yang selalu menjadi pikiran anda saat ini, sebutkan, kemudian ampunilah keberadaannya, sadari bahwa semua itu sudah terjadi dan hanya dimiliki oleh masa lalu, dan itu hanya berguna untuk masa lalu. Hidup Anda adalah sekarang, rumah anda adalah di sini, bukan di masa lalu. Segala sesuatu sedang terbentang di saat ini sekarang ini. Dengan memaafkan, maka anda sedang hidup untuk saat ini. Jika anda belum bisa memaafkan, maka anda hidup untuk masa lalu. Anda ada di sini tapi diri anda ada dimasa lalu….itu akan memunculkan perasaan-perasaan yang mencabik-cabik Anda.

"Maafkan segala sesuatunya, apapun itu, maafkan. Karena dengan begitu, anda selaras dengan hidup ini. Kelimpahan kemakmuran dan kesejahteraan serta kebahagiaan tidak berada di masa lalu ataupun di masa depan, tapi alamatnya ada di sini sekarang juga. Dan hal itu bisa terjadi jika Anda bisa mengampuni dan memaafkan apapun adanya diri anda saat ini di sini."

Dengarkan suara dalam kepala anda saat ini. Jika di sana masih ada penilaian dan penghakiman, menilai warna baju saudara atau teman, menilai sikap pejabat di berita TV semalam, dll, berarti anda masih belum mengampuni, dan anda belum bisa memaafkan. Belum ada keselarasan antara apa yang ada di dalam diri dengan apa yang ada di luar diri.

Tidak peduli apapun itu, ampuni dan maafkan. Anda masih mungkin mengungkapkan apa yang membuat Anda kesal dan kecewa, tapi anda sudah tidak akan merasakan berat lagi di dalam, tidak ada sesuatu yang membekas lagi akan masa lalu. Hmm….maafkan saja ya…

Anda tahu tentang cerita masa kecil Oprah Winfrey ? …hmm…kita mungkin tidak mengalami hal seberat dia, tapi ada pelajaran hebat dari kisah hidupnya : ketika kita bisa mengampuni diri sendiri dan memaafkan, kita benar-benar selaras dengan alam semesta, kita benar-benar terang dalam melihat hidup ini, daya memaafkan sungguh akan membawa anda kepada kemudahan dan suka cita hidup. Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang orang-orang hebat lainnya yang di masa lalu mengalami hal yang sulit di terima. Namun karena mereka bisa mengampuni dan memaafkan, mereka tumbuh menjadi pribadi luar biasa.

Memaafkan juga sangat efektif membantu kita dalam mengambil keputusan. Hanya hati yang jernih yang menuntun kita melakukan tindakan tepat. Sebab bagaimana mungkin anda mampu mengambil keputusan tepat, dan bagaimana pula anda bisa mengarahkan anak panah ke sasarannya jika anda belum bisa memaafkan diri sendiri, belum bisa menerima saat ini sebagaimana adanya.

Hanya situasi serba salah yang akan terus mendera jika anda belum bisa memaafkan. Maka maafkan dirimu dengan memaafkan semua hal. Semua situasi dan kondisi apapun itu maafkan. Tidak perlu anda ikut mencela pejabat korup yang anda lihat di TV, tidak perlu anda mengumpat kendaraan bermotor yang melaju kencang, juga tidak perlu anda menggerutu akan masa lalu ataupun masa depan orang lain, maafkan saja.


Terimakasih... mohon maaf lahir batin.