Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

04/03/10

Suara Hati Seorang Tutor


Jika ditanya siapa yang paling sibuk beberapa hari ini selain Pansus Angket Century, jawabannya adalah anak-anak kelas 12. 
Sebagai tutor, saya seolah masuk ke dalam pusaran rutinitas dengan medan pressure luar biasa di sekitar anak-anak. Nyaris setiap hari, saya melihat sendiri bagaimana lingkaran habitualitas membelit hari-hari terakhir mereka di bangku SMA. Masuk 1 jam lebih awal dari dari schedule normal, mulai 6 pagi sampai 1 siang, lanjut dengan tambahan belajar di sekolah. Belum sempat ganti seragam langsung meluncur ke bimbel sampai maghrib menjemput. Sampai di rumah, tugas-tugas dan PR sudah menanti digauli, plus sajian menu ulangan harian buat keesokan hari sebagai dessertnya. 
Wajah-wajah muda yang menyimpan lelah, merefleksikan beban psikologis luar biasa demi selembar ijazah berstempel “LULUS UJIAN NASIONAL”. Di antara belaian mesra angin jam 14.30 siang, saya tahu betul mata-mata belia itu masih menahan sekerat kantuk dan dahaga, but the show must go on. Saya harus tetap menyajikan hidangan limit trigonometri sebagai makan siang mereka. 
Sementara beban berat UNAS 22 Maret belum lagi berkurang, kampus-kampus berlabel BHP sudah berlomba menjaring calon maba dengan menggelar ujian masuk di berbagai kota. Saatnya kurikulum sekolah diadu dengan materi terapan ala pendidikan tinggi. Apakah tidak bisa kampus-kampus itu bersabar barang sebentar ? paling tidak sampai anak-anak menunaikan hajatan UNAS mereka. Apakah mereka takut kehilangan lahan basah jika membuka kran pendaftaran seusai Ujian Nasional? Tidak berpikirkah mereka bahwa tetek bengek tes masuk universitas ini akan menyedot energi, fikiran, dan konsentrasi jelang UN yang tinggal menghitung hari ? 
oya, saya lupa, kampus-kampus itu sudah memiliki otoritas penuh mengatur sumber-sumber pemasukannya pasca regulasi Badan Hukum Pendidikan disahkan. Jadi mungkin momen-momen “panen” ini terlalu sayang untuk dilewatkan barang sehari saja. Sebab semua orangtua pasti menginginkan anaknya bisa cepat dapat kampus idaman setelah melepas seragam SMA. Mereka tentu tidak ingin anaknya menyandang status demografi sebagai golongan yang jumlahnya menempati urutan pertama dalam diagram klasifikasi pengangguran di bumi pertiwi ini.
Pada akhirnya saya hanya takut beban psikologis yang telah menggunung, dipicu rasa lelah dan tekanan yang luar biasa suatu ketika bisa meledak. Lantas menghancurkan kerangka yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Telah jamak kita lihat, mereka yang stress berat kemudian memutuskan mengakhiri hidup lantaran tak kuat menahan pressure dari berbagai pihak. 

Anak-anak ini juga butuh untuk “dimanusiakan”. Biarlah mereka menjalani masa sewajarnya, sesuai tumbuh kembang mereka sebagai remaja. Seperti air yang mengalir memenuhi kaidah gravitasi menuju hilir. Menikmati ilmu pengetahuan ibarat jamuan lezat yang menggoda untuk disantap. Bukan sebagai ramuan puyer yang harus dijejalkan. Apalagi menyiapkan ujian nasional sebagai lahan pembantaiannya.



25 komentar:

  1. Demikianlah ...
    Semoga para siswa, para tutor, para guru, dapat melewati semua ini dengan baik. Meski saya berharap ada perbaikan dalam proses kelulusan siswa selain melalui jalan UN.

    Siang Rosi ...

    BalasHapus
  2. wah ga disangka dan diduga..ternyata emang sudah mendekati ujian nasional..cepet juga ya...
    sebagai tutor harusnyalah menyisipkan dukungan dan semangat kepada anak didik..supaya mreka tidak merasa terbebani..seperi zamanku dulu..hehe

    semangat untuk masa depan yang cerah dan gemilang..

    BalasHapus
  3. Wah, kasihan juga ya anak-2 itu... pasti saat ini sdg dalam tekanan yang luar biasa.
    Rasanya memang perlu ada pembenahan dalam sistem pendidikan kita, karena yg sering terjadi adalah anak-2 menjadi stress dalam belajar dan bukannya malah enjoy.

    BalasHapus
  4. Mbak Rosi jadi turot dimana sih..? Ajarin Shasa matematika dong.., aku kewalahan nih hehehe..

    Ohya mbak, aku emang balik ke 'blogspot' karena kontrakku dg 'dotcom' emang hanya setahun.
    Ternyata, aku dapat masalah waktu balik ke blogspot krn beberapa teman gagal mengganti URL blogku ke blogspot, dan yg muncul tetap saja yg dotcom. Jadinya postingan terakhirku tak terdeteksi teman-2 nih mbak. Aku tak tahu mengapa spt itu.

    BalasHapus
  5. siang kag...
    makasih yah kunjungannya ke blog ina...
    besok mampir lagi ya hehehehe...

    BalasHapus
  6. Ups.. salah ketik, maksudku mbak Rosi jadi tutor dimana ?

    BalasHapus
  7. Sepertinya memang harus ada perbaikan dari sistim pendidikan kita ya bu, jangan sampai UN jadi lahan pembantaian seperti yang ibu bilang....

    BalasHapus
  8. memang dilematis sekali ya... saya juga merasakannya tahun lalu. Aku dipusingkan dengan 2 hal antara ujian nasional dan SNMPTN. Alhamdulillah aku bisa lulus UN dan tidak mendapat ijin lulus SNMPTN

    BalasHapus
  9. memang bila ilmu dicari hanya untuk bisa mencari sesuap nasi iyyya jadi begini... :-)

    BalasHapus
  10. rasanya perlu dikaji lagi ya, lulus sekolah hanya karena nilai UAN... :-)

    BalasHapus
  11. yah sudah resiko anak sekarang, biar mereka sekalian belajar "perjuangan" hidup, toh kesuksesan akan mereka rasakan sendiri..:)

    BalasHapus
  12. Disaat kebutuhan akan Pendidikan yang begitu tinggi, Sekarang Pendidikan memang jadi tambang emas bagi kelompok tertentu mbak. Mereka akan mengeksplorasi habis-habisan. Dan nggak akan pernah mau ngerti kondisi siswa-siswi tersebut.

    sekarang standart kelulusan berapa mbak? tiap tahun pasti naik ya mbak? hehe..

    BalasHapus
  13. o iya, cewek yang pakai jilbab itu, peserta didik mbak Rosi ya? cantik. haha...

    BalasHapus
  14. oh iya,, bentar lagi UN yaahh.. jadi inget beberapa tahun yang lalu deh, capek badan dan capek pikiran banget dah...

    BalasHapus
  15. Perspektif yang bagus. Ujian Nasional memang udah jadi momok buat para siswa, tapi bukan karena tingkat kesulitannya, melainkan karena beban mental yang dihadapi siswa itu sendiri.

    Lulus dari UN pun ga menjamin siswa bisa lega, karena justru tantangan terbesarnya ada setelah Ujian nasional ini. Siswa dihadapkan pilihan utk memilih antara melanjutkan kuliah atau tidak. Kalau melanjutkan, mereka juga dihadapkan lagi banyak pertimbangan seperti biaya dsb.

    kemarin Saya menulis di blog saya tentang Kuliah Gratis di Bogor Edu Care, semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah namun terkendala masalah biaya.

    Salam kenal,

    BalasHapus
  16. -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-
    Assalamualaikum,
    *******Salam ‘Blog’!!*******
    “Menangapi kalimat awal di pargraf pertama. Saya gak sibuk mba,,,santai2 aja,,,,,,malah pengin cepet2 ujian nih...dah galk sabar..bosan menunggu. HHAHAHA
    -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-

    BalasHapus
  17. Yup... biarkan anak2 kita menemukan jalannya sendiri sambil kita arahkan.
    Kasian kalo mereka terlalu dibabani...

    BalasHapus
  18. Pendidikan untuk anak memang harus proporsional, setuju mbak. Nice post sobat.

    BalasHapus
  19. wah itu nak didiknya cantik banget yg di foto wakkwakwk bisa ajah nuyy



    Berkunjung Dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    makasih
    :D

    BalasHapus
  20. heeemmm...... aku pernah merasakannya.. dan untung sdah melewatinya.. hehe
    well, ini mmg sbuah proses yg hrus dilewati.. pendekatan psikologis maybe jg tdak klah pnting dri pnjejalan materi2.. gud luck unas this year!!! semangat semangat :)

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.