Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

01/05/10

POLITIK WARUNG KOPI

Secangkir kopi panas ditemani satu atau dua potong pisang goreng ala rakyat, disempurnakan dengan aroma nikotin kental yang mengepul tanpa dosa. Beberapa lelaki dalam interval usia yang berjauhan secara diametral, berkumpul melepas penat dari ritual hidup. Yang awalnya saling tidak kenal, kemudian saling menawarkan rokok, berlanjut ke pertemuan rutin setiap sore di bawah atap baner produk obat sakit kepala.



Itulah deskripsi khas sebuah warung kopi. Sederhana, jauh dari bau ekslusivisme coffe latte ala starbucks. Merakyat, akrab dengan nuansa keringat kaum urban yang termarginalkan. Tapi hangat, sehangat Keukenhoff di bulan Maret.


Transaksi jual beli antara mbok pemilik warung kopi dengan pelanggannya, boleh jadi merupakan bingkai ritual yang familiar dari sebuah warung kopi. Tapi itu dulu, kawan. Transaksi jual-beli secangkir kopi itu tentu saja ada, akan tetapi dalam perkembangannya, ritual yang terjadi tidak berhenti sampai di sana.

Obrolan-obrolan yang dulu hanya berkisar tentang harga gabah di pasar atau kilogram gula yang meroket tajam, sekarang telah berkembang jauh melesat-lesat ke segala penjuru sudut kehidupan. Mulai dari gosip tentang Manohara sampai dengan polemik bola ruwet mafioso pajak semua tersaji lengkap dalam menu obrolan sehari-hari. Membicarakan sepak terjang Presiden yang dulu dianggap tabu dan angker, sekarang seolah semudah menelan bubur kacang hijau. Mencerca perilaku korup dewan yang terhormat, kini tanpa diembel-embeli ketakutan orde baru.

Masyarakat telah menemukan embrio kebebasan berbicara setelah dikukung bertahun-tahun dalam fatamorgana feodalisme bertopeng swasembada beras. Menuju titik kritis dalam kurva perjalanan demokrasi yang lama mati suri.

Maka tidaklah berlebihan ketika sebuah pendapat berbicara bahwa kini ada dua kekuatan besar sebagai pengontrol pemerintahan yang berdaulat. Bukan parpol yang memproklamirkan diri sebagai oposisi, bukan juga kalangan legislative yang dipenuhi artis. Akan tetapi media massa dan rakyat. Meski bentuk kontrol ini hanya bersifat sporadis, bahkan hanya berakar dari petak-petak warung kopi di sudut-sudut gang, tetapi jangan pernah meremehkan kekuatannya.

Rakyat telah berkembang sedemikian cerdas tanpa kurikulum, tanpa silabus pendidikan. Teknologi informasi sudah menyajikan akses informasi yang meluap-luap seperti segelas teko dengan isi yang meluber dari alfa sampai teta. Bagi mereka yang tidak cukup modal untuk bergaul dengan akses-akses informasi super cepat itu, cukup datang ke warung kopi. Semua tersaji lengkap, selengkap menu empat sehat lima sempurna. Panas, sepanas kopi hitam mbok Rah di ujung gang. Dan kental, sekental aura kebesamaan yang dibangun masyarakat pinggiran jauh dari radius metropolitan.




Gambar diambil dari sini.



35 komentar:

  1. jadi inget cak urip warkop langganan waktu kul dulu hehehe, btw aku suka philosofi warkopnya tq dah berbagi :)

    BalasHapus
  2. memang banyak percakapan yg terjadi di waroeng kopi, tanpa basa-basi :)

    BalasHapus
  3. kali ini saya tidak bisa komen.....esai di atas...hmmmm,....kereeeeeennn.,

    BalasHapus
  4. seperti mas ivan,gak bisa koment...dibacanya asikk mba ^^

    BalasHapus
  5. Masyarakat telah menemukan embrio kebebasan berbicara setelah dikukung bertahun-tahun dalam fatamorgana feodalisme bertopeng swasembada beras. Menuju titik kritis dalam kurva perjalanan demokrasi yang lama mati suri.


    saya suka ungkapan ini, keren. sekarang semua lapisan masyarakat sudah tidak dilarang berbicara politik kaya dulu lg...

    BalasHapus
  6. tulisan-tulisanmu bagus,..puisi-puisinya juga..ijin ctrl+D ya....

    BalasHapus
  7. saya masih belajar tentang politik nie Gan..

    BalasHapus
  8. warung kopi..? sepertinya itu angkringan dah :P

    BalasHapus
  9. di tempat saya : angkringan = warung kopi

    BalasHapus
  10. halo,thanks atas kunjungannya ya,salam kenal : )

    BalasHapus
  11. bagus sekali penggunaan kata per katanya, sangat mengena.

    BalasHapus
  12. tetapi jangan pernah meremehkan kekuatannya.
    setuju sekali....mereka membentuk komunitas dgn kekuatan tersendiri.

    BalasHapus
  13. wah...ternyata blog saya baru dikunjugi oleh blogger senior....
    keren mbak tulisannya.....
    foto warkopnya juga keren....
    salam kenal....

    lostphobia.blogspot.com

    BalasHapus
  14. Mbak.., tulisannya bagus sekali... Salut..!

    BalasHapus
  15. Begitulah, warung kopi telah memberikan nuansa tersendiri dalam perbincangan pilitik negeri yang kian memanas ini.

    BalasHapus
  16. Hmmm....ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul hal-hal yang beraroma politik, makin mantab. Bener-bener pas!

    BalasHapus
  17. salam kenal dari
    http://aby-umy.blogspot.com/

    law ada waktu mampir ya??

    BalasHapus
  18. sip markusip neh artikelnya, cuman matur tenkyu...

    BalasHapus
  19. kekuatan yang tak berkurikulum, kata yang wow...

    BalasHapus
  20. jangan salah, dikampung saya warung kopi adalah jembatan judi tersembunyi, bukan kekuatan pengontrol pemerintah yang lambat laun hadir disini, tapi kaum tertindas yang gak merasa perekonomiannya diam-diam perlahan ditindas oleh cukong kupon putih dan aparat berdasi..

    BalasHapus
  21. orang kampung : saya rasa itu bentuk lain dari spora yang ditumbuhkan warung kopi... selalu ada sisi-sisi yang tak melulu seragam. ada hitam , ada putih. itulah hidup, kawan

    to all commentators : maturnuwun (terimakasih) sudi mampir ke blg ini

    BalasHapus
  22. diwarung kopi itu bermacam-macam pembicaraan bisa terjadi
    dari yang paling umum sampai yang khusus bisa di buka luas dan dibahas secara gamblang tanpa apa maksud-maksud tertentu, mengalir seperti kopi yang mengalir menuju muara perut

    BalasHapus
  23. pemikiran wong cilik lebih tepatnya..:)

    BalasHapus
  24. CARITO PALANTA YO, warung kopi memang tempat yang menarik untuk bicara apa saja.

    BalasHapus
  25. di gresik beda lagi mbak, saya baca koran namanya warung kopi pangku. haayyooo.. apan itu?

    BalasHapus
  26. Emang warung yg merakyat bgt mbak, t4 buat santai, ngerumpi, asal yg positif..aja

    BalasHapus
  27. Wach keren bgt sobat filosofinya dan saya juga lbh suka percakapan diwarung kopi coz lebih realistis dan jujur tanpa ada yg ditutup2i,slm knl dari kediri sobat semoga sukses selalu...:D

    BalasHapus
  28. wah, berarti aku sering berpolitik nih?huehehehehe

    BalasHapus
  29. salah satu sifat yg harus dihindari di angkringan adalah "sok teu" dan yg paling menarik disana adalah ada hal2 baru setiap hari.(cukup dengan mmakai kaca mata merah maka langit berwana merah)

    BalasHapus
  30. salam kenal...bagi2 tips nya donk

    BalasHapus
  31. gelap amat nih, saya jadi sulit membaca postingannya.

    BalasHapus
  32. "Rakyat telah berkembang sedemikian cerdas tanpa kurikulum, tanpa silabus pendidikan". saya suka tulisannya

    marhaban ya ramadhan .. slamat menjalankan ibadah puasa

    BalasHapus
  33. Emang warung yg merakyat bgt mbak, t4 buat santai, ngerumpi, asal yg positif..aja

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.