Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

18/07/10

Manusia-manusia Cerobong Asap


“Assalamualaikum, bagaimana ya caranya mengingatkan orang yang merokok di dalam bis umum?”, begitulah kira-kira bunyi pesan pendek yang dikirim seorang sahabat. Saat mengirim sms itu ia memang sedang dalam perjalanan di atas bis dengan fasilitas plus-plus, yaitu full musik dangdut dan gratis mandi asap rokok sepuasnya. Serasa menikmati sauna dengan aroma terapi TAR, dipadu karbonmonoksida lantas disempurnakan dengan komposisi nikotin.

Saya yakin potret itu bisa saja terjadi pada setiap kita. Pada anda, saya, atau orang-orang yang merasa terdzalimi haknya karena ada orang yang merokok di tempat-tempat umum tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam kotak imajinasi saya, perokok-perokok ini ibarat manusia-manusia cerobong asap ;-p (maaf......hehe). Bukannya saya membenci perokok, toh merokok adalah prerogatif masing-masing. Akan tetapi ketika aktivitas merokok itu dilakukan di tempat-tempat publik , tidakkah terpikir asap yang dihasilkan akan mengganggu orang lain?

Hak hidup jelas diatur dalam hukum dasar manusia termasuk konvensi PBB, sedangkan untuk hidup manusia butuh bernapas. Jika dalam proses bernapas itu ada zat-zat membahayakan dari asap rokok yang disumbangkan para perokok di sekitar kita, apakah itu tidak melanggar hak hidup juga namanya ? Apalagi menurut sejumlah riset, perokok pasif menerima 75 % dampak dari asap rokok yang dihirup akibat berada dalam radius yang dekat dengan perokok aktif.


Gambar diambil dari sini


Perjalanan dengan naik bis umum atau KA ekonomi sebenarnya sangat menyenangkan , karena saya bisa mengamati perilaku orang-orang dengan rentang kasta yang berbeda-beda, mendengar dialek-dialek yang polos dan meriah seperti pasar malam, plus live music dari para pengamen jalanan. Dari itu semua alasan yang paling rasional tentu karena tarifnya yang cocok dengan kantong saya. Namun yang menjadi pantangan terbesar adalah mendapat tempat duduk di dekat perokok. Fiuhhh, dan beruntungnya saya sebab hampir setiap perjalanan selalu saja ada momen-momen menyiksa semacam ini.

Pernah suatu ketika dalam perjalanan melewati alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir bis mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh waktu itu, bahkan lorong antar kursi pun tak bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk.


Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor seperti di cerita Harry Potter : D hihihihi.....


***


Yah, itu hanya satu penggal pengalaman, sahabat. Sebenarnya tiap daerah bisa saja memberlakukan Perda tentang kawasan bebas rokok. Jakarta dan Surabaya sudah memulainya meski implementasinya masih jauh dari harapan. Selain sosialisasi yang kurang maksimal, minimnya kesadaran individu juga menjadi faktor gagalnya realisasi peraturan tersebut. Saya rasa tanpa Perda sebenarnya kawasan bebas rokok (dalam hal ini tempat-tempat publik, termasuk transportasi umum) bisa ditegakkan. Asalkan ada kesadaran dan penghormatan akan hak orang lain.




13 komentar:

  1. hisap keluar, lalu hisap lagi.... siklus itu terhenti saat pribadi2 perokok tengah terlelap. harusnya pemerintah siapkan lapangan kerja yang banyak, lalu tutup pabrik rokok, (dengan konsekuensi siap2 kehilangan pendapatan negara yg sangat besar.. :D )

    BalasHapus
  2. Mari kita berhenti merokok, alihkan ke ruang masak saja untuk mengolah masakan keluarga!

    BalasHapus
  3. Jangan merokok bila disekitar anda ada orang yang tidak merokok! Atau menyendirilah bila ingin merokok!

    BalasHapus
  4. Aku sedih banget jika orang2 merokok di sekitarku.
    Gak tahan bau dan asapnya..!

    BalasHapus
  5. aku setuju, n itu semua kembali ke pemda tuk buat perda khusus larangan merokok ditempat umum, jadi satpol pp ada fungsinya hehehe

    BalasHapus
  6. Susah memang menyadarkan orang agar tidak merorok di tempat umum. Mungkin seperti harus mencuci otak. Bagi saya peran semua pihak harus dikencangkan.

    BalasHapus
  7. amien...amien...amien...ya rabbal 'alamin...

    BalasHapus
  8. dree ga suka roko... tapi yayank dree ngeroko... gimana yak??!! :sweatdrop:

    BalasHapus
  9. sy ada matematik utk rokok: dlm sbatang roko trdapat ribuan racun mematikan. disisi lain dlm sebtangnya juga terdpat berjuta2 kenikmatn. coba kt hitung dgn mengurangi jml knikmtn dgn jml racun. alhasil slisihny ckup signifikan. hohoho. nmun utk msalh mrokok d t4 publik sperti halnya kecing dimeja makan..

    BalasHapus
  10. si aby yang merokok,,
    benci deh

    BalasHapus
  11. Pengennya semua tempat terbebas dari asap rokok...
    Apa kabar ? Lama tak mampir nih, mbak.

    BalasHapus
  12. Masalah rokok adalah masalah kompleks yang perlu ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dan ini memang tidak mudah, butuh waktu yang panjang untuk menanamkan kesadaran etika merokok di tempat umum.

    BalasHapus
  13. thnks ilmunya sob bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi saya sendiri..
    teruslah membuat artikle yang bermanfaat semangat happy blogging..
    bila berkenan kita tukeran link yahh..kalau mau comment di bloggku yah.. thnks sebelumnya

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.