Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

18/09/10

Episode Tentang Bunga



Facing the sky


Young rose



Bloomy rose



Water jasmine


White rose


Fresh red



The orchid


Grass flowers


Grass flowers (2)


Young rosela


Bloomy rosela



" KADANG SATU GAMBAR TELAH MEWAKILI SERIBU KATA...."

(Gambar diambil dengan Sony Ericsson K750)





16/09/10

Lebaran, lalu...


Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke kota masing-masing.


Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…


Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.


Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.


Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…


picture is taken from here


09/09/10

“Memaafkan” : satu Rahasia Kelimpahan yang sering terabaikan

Memaafkan : menerima apapun sebagaimana adanya di dalam batin


BY : ALI WARINGIN


Lebaran telah tiba,…orang- orang akan saling bersilaturahmi, saling bersalaman, saling bermaaf-maafan. Namun adakah permintaan maaf itu benar-benar tulus dari hati ? Apakah mereka yang bersalaman hanya berpura-pura sekedar untuk penghormatan di hari besar ? Ataukah mereka hanya ikut-ikutan terjebak dalam efuria selebrasi tanpa makna ?

Mungkin ada diantara kita yang mengobral beribu kata maaf di hari raya Idul Fitri, tapi baru beberapa menit saja kita sudah membicarakan aib orang yang dimintai maaf sebelumnya. Sehingga yang sering terjadi, tak berapa lama setelah lebaran, pertengkaran dan perselisihan muncul kembali. Rasa benci , curiga dan dendam yang mengkarat terasa sulit terhapus begitu saja dengan ritual bersalam-salaman.

Demikianlah obrolan saya dengan seorang teman suatu ketika, di sebuah kafĂ© kecil di kota kami sambil minum kopi…hehehe…

taken from here


Dalam bingkai pemahaman saya, memaafkan artinya menerima segala sesuatu sebagaimana adanya di dalam batin. Tidak ada lagi penilaian dan penghakiman terhadap apapun baik dalam pikiran maupun dalam hati. Memaafkan juga berarti menerima apa adanya diri anda saat ini, menerima apapun masa lalu, serta tidak mencemaskan apapun yang akan terjadi di masa depan.

Menerima apapun situasi dan kondisi anda saat ini berarti juga memaafkan diri sendiri. Jika masih ada perasaan curiga, cemburu, iri hati, jenuh, rasa tidak puas, gelisah, dendam serta emosi-emosi yang negatif lainnya, jika masih ada orang lain yang anda nilai kurang baik atau tidak benar sikapnya, meski anda tidak mengucapkannya, itu berarti anda belum bisa memaafkan diri anda sendiri.

Sebelum anda bisa mengampuni diri sendiri, anda belum bisa memaafkan orang lain. Ampuni apapun yang terjadi, sampai tidak ada lagi rasa dendam, curiga, dsb. Sebab mengampuni diri sendiri juga berarti membuka diri akan kelimpahan hidup. Dan ketika anda bisa menerima apa adanya diri anda saat ini, anda mulai bisa memaafkan, maka kelimpahan hidup anda dimulai.

Bisa jadi saat ini anda telah memperoleh segala impian anda seperti mobil, rumah, pasangan ideal dll, tapi anda tidak bisa merasakan kelimpahan hidup. Rasa kepemilikan yang Anda miliki terhadap semua benda-benda itu tidak ada artinya lagi. Yang ada hanya perasaan kekurangan dan ketidakpuasan. Ini akan terus menciptakan jurang yang cepat atau lambat akan menceburkan tuannya sendiri yaitu anda yang tidak bisa memaafkan.

Anda pun tidak benar-benar bisa bersyukur jika anda tidak bisa memaafkan. Maka sebelum memaafkan, ampunilah dulu diri anda sendiri sebab tanpa mengampuni diri sendiri, anda tidak akan bisa menikmati indahnya syukur.

Kenyataanya, ada banyak orang yang merasa telah menjalani hidup dengan baik dan benar, tapi mereka tetap diliputi rasa takut dan khawatir terhadap kemiskinan. Banyak masalah yang menimpa rumah tangga mereka, juga masalah-masalah lain yang terus menghantui. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum bisa memaafkan, yang juga berarti mereka belum bisa mengampuni diri sendiri.

taken from : here


"Ampuni dirimu, maka kamu telah memaafkan. Memaafkan diri sendiri juga berarti memaafkan orang lain."

Dalam artikel “Buanglah Bagasimu, telah banyak orang yang merasakan kebebasan, tapi banyak pula dari pembaca yang masih merasakan beban di pundaknya. Maka ambilah langkah memaafkan dengan mengampuni diri sendiri terlebih dahulu.

Lantas apa yang perlu diampuni? Mudah sekali, yaitu apa yang selalu menjadi pikiran anda saat ini, sebutkan, kemudian ampunilah keberadaannya, sadari bahwa semua itu sudah terjadi dan hanya dimiliki oleh masa lalu, dan itu hanya berguna untuk masa lalu. Hidup Anda adalah sekarang, rumah anda adalah di sini, bukan di masa lalu. Segala sesuatu sedang terbentang di saat ini sekarang ini. Dengan memaafkan, maka anda sedang hidup untuk saat ini. Jika anda belum bisa memaafkan, maka anda hidup untuk masa lalu. Anda ada di sini tapi diri anda ada dimasa lalu….itu akan memunculkan perasaan-perasaan yang mencabik-cabik Anda.

"Maafkan segala sesuatunya, apapun itu, maafkan. Karena dengan begitu, anda selaras dengan hidup ini. Kelimpahan kemakmuran dan kesejahteraan serta kebahagiaan tidak berada di masa lalu ataupun di masa depan, tapi alamatnya ada di sini sekarang juga. Dan hal itu bisa terjadi jika Anda bisa mengampuni dan memaafkan apapun adanya diri anda saat ini di sini."

Dengarkan suara dalam kepala anda saat ini. Jika di sana masih ada penilaian dan penghakiman, menilai warna baju saudara atau teman, menilai sikap pejabat di berita TV semalam, dll, berarti anda masih belum mengampuni, dan anda belum bisa memaafkan. Belum ada keselarasan antara apa yang ada di dalam diri dengan apa yang ada di luar diri.

Tidak peduli apapun itu, ampuni dan maafkan. Anda masih mungkin mengungkapkan apa yang membuat Anda kesal dan kecewa, tapi anda sudah tidak akan merasakan berat lagi di dalam, tidak ada sesuatu yang membekas lagi akan masa lalu. Hmm….maafkan saja ya…

Anda tahu tentang cerita masa kecil Oprah Winfrey ? …hmm…kita mungkin tidak mengalami hal seberat dia, tapi ada pelajaran hebat dari kisah hidupnya : ketika kita bisa mengampuni diri sendiri dan memaafkan, kita benar-benar selaras dengan alam semesta, kita benar-benar terang dalam melihat hidup ini, daya memaafkan sungguh akan membawa anda kepada kemudahan dan suka cita hidup. Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang orang-orang hebat lainnya yang di masa lalu mengalami hal yang sulit di terima. Namun karena mereka bisa mengampuni dan memaafkan, mereka tumbuh menjadi pribadi luar biasa.

Memaafkan juga sangat efektif membantu kita dalam mengambil keputusan. Hanya hati yang jernih yang menuntun kita melakukan tindakan tepat. Sebab bagaimana mungkin anda mampu mengambil keputusan tepat, dan bagaimana pula anda bisa mengarahkan anak panah ke sasarannya jika anda belum bisa memaafkan diri sendiri, belum bisa menerima saat ini sebagaimana adanya.

Hanya situasi serba salah yang akan terus mendera jika anda belum bisa memaafkan. Maka maafkan dirimu dengan memaafkan semua hal. Semua situasi dan kondisi apapun itu maafkan. Tidak perlu anda ikut mencela pejabat korup yang anda lihat di TV, tidak perlu anda mengumpat kendaraan bermotor yang melaju kencang, juga tidak perlu anda menggerutu akan masa lalu ataupun masa depan orang lain, maafkan saja.


Terimakasih... mohon maaf lahir batin.


04/09/10

Buanglah Bagasimu!...

                  
By : Ali Waringin


“Ramadhan telah memasuki 10 hari terakhir. Momen-momen ini mengingatkan saya pada waktu kecil, saat orang tua, paman dan bibi membelikan baju dan sepatu baru, segala sesuatunya serba baru. Rasanya luar biasa, ada perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. Saat itu terasa begitu hidup, benar-benar terasa ringan di dalam hati, seperti ada rasa kemenangan yang menggembirakan dan menyenangkan. Merayakan hari besar yang sangat ditunggu-tunggu dengan perasaan sangat ringan tanpa beban, seperti bulu yang terbang di terpa angin….
Namun seiring waktu berjalan, usia menjemput dewasa, perasaan-perasaan seperti dulu menjadi sulit didapatkan kembali. Yang terasa hanyalah beban, ketidakpuasan; karena mobil, rumah, jabatan yang diinginkan serta tujuan-tujuan lainnya belum terwujud, sementara kali ini sudah mau lebaran lagi... sungguh terasa sangat tidak menyenangkan dan tidak mengenakkan hati….”

Demikianlah kalimat-kalimat curhat seorang klien saya, yang merasa tidak bisa bahagia ketika lebaran tiba. Baginya lebaran adalah momen ketika nanti bertemu dengan saudara, teman, sanak famili, ia bisa menunjukkan bahwa dirinya sudah sukses, agar semua orang memandangnya sebagai orang berhasil dan bisa dibanggakan.

Saya ingat pernah datang di acara reuni SMA. Mereka yang hadir di sana membawa cerita tentang prestasi dan jabatan masing-masing, tapi mata saya tertuju pada seorang teman yang hanya tampak diam dan tertunduk lesu. Ketika saya dekati teman itu bilang, “Aku malu dan minder karena tidak ada prestasi bisa diceritakan dan kendaraan yang dibanggakan seperti teman yang lain”.

Bukan hanya saat lebaran, di momen-momen lain seperti Tahun baru, reuni sekolah, temu kangen dengan rekan sejawat, dan lain-lain,…hampir semua moment seperti itu dijadikan tempat untuk menunjukkan diri akan prestasi dan semua bentuk-bentuk kesuksesan. Maka bagi mereka yang tidak bisa mewujudkan keinginan untuk menunjukkan kesuksesan itu, hanya kelesuan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan. Bahkan tak jarang mereka cenderung menghindar karena alasan kurang pantas, tidak percaya diri, merasa tidak ada yang bisa di tunjukkan atau dibanggakan. 

“Apakah Anda juga merasakan hal yang sama ? Apakah anda telah menetapkan target tertentu dan ingin sekali menunjukkannya pada saudara dan teman Anda ketika target itu telah terpenuhi di momen lebaran atau pulang kampung?”...hehe..

Dalam keadaan seperti ini bisakah si klien dan teman tadi mewujudkan keinginan mereka? Dapatkah mereka benar-benar memaafkan orang lain ketika lebaran nanti? Mampukah hal baru, semangat baru dan inspirasi datang kepada mereka ?...

Jawabannya mungkin Anda sudah tahu: yaitu teman dan klien saya jadi sulit sekali mewujudkan impian mereka. Mereka juga tidak bisa memaafkan orang lain karena mereka sendiri tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. 

Insprasi dan semangat sebenarnya selalu datang dari berbagai arah, tapi ketika kondisi batin tidak jernih, banyak ruang batin yang di gunakan untuk menyimpan hal-hal negatif.
Banyaknya “benda-benda” yang tersimpan dalam ruang batin menjadikan inspirasi sulit terjadi- meski inspirasi itu sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan. Ini karena mereka menjadikan ruang batinnya sebagai tempat “benda-benda” yang tidak berguna tadi. Selalu menyediakan bagasi untuk menyimpan hal-hal yang telah dicapai dan ingin di capai. 

Kehidupan ini mirip aliran yang tanpa henti,…jika Anda menyediakan bagasi untuk apapun yang telah terjadi dan keinginan-keinginan yang belum terjadi, maka Anda sebenarnya membatasi diri dari aliran kehidupan yang begitu berlimpah yang melewati Anda.
“Jangan kamu kotori jiwamu dengan benda-benda dan keinginan-keinginan yang semuanya bersifat sementara, karena tidak satupun yang akan kita bawa. Kita sedang mengalir, seperti tubuh kita juga sedang mengalir dari lahir tumbuh dan dewasa serta tua dan akhirnya mati”. Itu artinya memang tidak ada satupun yang tersisa, jadi kenapa Anda masih membawa-bawa masa lalu dan masa depan yang belum terjadi kemana-mana?

"Jika kamu bersedia membersihkan dan membuang bagasimu, maka kamu menyatu dengan kehidupan, tidak akan ada lagi rasa takut, rasa benci, minder, iri, dendam, dan rasa tidak puas".

Dengan tidak membiarkan ruang batin Anda dipenuhi hal-hal yang anda kira bisa memberikan kepuasan abadi berupa materi, atau keinginan untuk diakui dan di hormati, maka anda akan dapat merasakan hidup tanpa beban, sangat ringan seperti kapas yang terbang di terpa angin, diliputi perasaan kemenangan. Begitu riang dan bahagia seperti di anak-anak yang baru dibelikan baju baru setiap jelang lebaran. 

Maka di hari yang fitri nanti, anda akan benar-benar tulus memaafkan orang lain karena anda telah mampu memaafkan diri anda sendiri. 

Ini tentu yang menggembirakan buat Anda; ketika Anda menyatu dengan hidup, menyatu dengan segala apa yang ada tanpa ada rasa berat dalam batin Anda. Itu juga berarti Anda sangat beriman kepada Allah tanpa ragu sedikitpun. Anda sedang membuka diri untuk hal-hal yang serba mungkin, Anda sedang berada dalam serba Kemungkinan, seperti yang telah tertulis dalam Alquran, bahwa “Allah memberikan rizkiNya dari berbagai penjuru yang tidak bisa di terka oleh pikiran manusia”

“Anda tetap hidup dengan keinginan-keinginan, tetap menghargai benda-benda dan prestasi yang telah Anda raih, tapi Anda sudah tidak melekatkan diri dan tidak berharap lagi pada semua keinginan akan benda-benda dan pengakuan itu. Tak ada lagi rasa ingin dihormati oleh manusia bisa memberikan kepuasan bagi Anda, tidak ada ruang lagi bagi dunia dalam batin Anda, tidak ada lagi bagasi untuk dunia dalam diri Anda.”. 

Ini juga telah dirasakan begitu kuatnya oleh psikolog Swiss Carl Jung, yang mengatakan tentang sinkronitas hubungan tanpa sebab akibat, bahwa akan ada kejadian-kejadian pertolongan, pertemuan-pertemuan yang sangat membantu, kebetulan-kebetulan yang menjadikan berkelimpahan suka cita, jika kita telah berhasil melenyapkan semua bentuk kelekatan pada dunia, atau saya menyebutnya “bagasi dalam diri”

Cobalah periksa dalam diri anda, apakah masih ada handphone yang terus terngiang-ngiang dalam hati yang ingin sekali Anda miliki, catatlah keinginan itu dan buanglah rasa keakuan akan handphone itu dalam batin anda…nikmati yang Anda miliki saat ini dengan ringan, perasaan-perasaan yang membebaskan. 

Saya bisa memberikan beberapa contoh bahwa dalam diri anda sudah tidak ada bagasi lagi. Jika handphone anda rusak atau hilang maka Anda tidak akan merasakan kehilangan yang berat lagi, jika Anda datang ke pertemuan keluarga di waktu lebaran, maka Anda sudah tidak ingin menunjukkan prestasi Anda atau minder karena kondisi sedang terpuruk. Anda juga begitu ringan dalam memberi entah uang, makanan atau lainnya, Anda juga tidak menunggu disebut sukses untuk membantu orang lain, dll… Maka Jangan ada lagi bagasi dalam dirimu. 

Jika perasaan Anda begitu ringan seperti kapas, Anda telah berhasil melenyapkan bagasi Anda. Ini mungkin juga bisa sebagai bentuk iman yang sangat kuat kepada Allah, dan bentuk sikap syukur yang sangat dahsyat…hmmm…mohon maaf lahir batin…