Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

04/09/10

Buanglah Bagasimu!...

                  
By : Ali Waringin


“Ramadhan telah memasuki 10 hari terakhir. Momen-momen ini mengingatkan saya pada waktu kecil, saat orang tua, paman dan bibi membelikan baju dan sepatu baru, segala sesuatunya serba baru. Rasanya luar biasa, ada perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. Saat itu terasa begitu hidup, benar-benar terasa ringan di dalam hati, seperti ada rasa kemenangan yang menggembirakan dan menyenangkan. Merayakan hari besar yang sangat ditunggu-tunggu dengan perasaan sangat ringan tanpa beban, seperti bulu yang terbang di terpa angin….
Namun seiring waktu berjalan, usia menjemput dewasa, perasaan-perasaan seperti dulu menjadi sulit didapatkan kembali. Yang terasa hanyalah beban, ketidakpuasan; karena mobil, rumah, jabatan yang diinginkan serta tujuan-tujuan lainnya belum terwujud, sementara kali ini sudah mau lebaran lagi... sungguh terasa sangat tidak menyenangkan dan tidak mengenakkan hati….”

Demikianlah kalimat-kalimat curhat seorang klien saya, yang merasa tidak bisa bahagia ketika lebaran tiba. Baginya lebaran adalah momen ketika nanti bertemu dengan saudara, teman, sanak famili, ia bisa menunjukkan bahwa dirinya sudah sukses, agar semua orang memandangnya sebagai orang berhasil dan bisa dibanggakan.

Saya ingat pernah datang di acara reuni SMA. Mereka yang hadir di sana membawa cerita tentang prestasi dan jabatan masing-masing, tapi mata saya tertuju pada seorang teman yang hanya tampak diam dan tertunduk lesu. Ketika saya dekati teman itu bilang, “Aku malu dan minder karena tidak ada prestasi bisa diceritakan dan kendaraan yang dibanggakan seperti teman yang lain”.

Bukan hanya saat lebaran, di momen-momen lain seperti Tahun baru, reuni sekolah, temu kangen dengan rekan sejawat, dan lain-lain,…hampir semua moment seperti itu dijadikan tempat untuk menunjukkan diri akan prestasi dan semua bentuk-bentuk kesuksesan. Maka bagi mereka yang tidak bisa mewujudkan keinginan untuk menunjukkan kesuksesan itu, hanya kelesuan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan. Bahkan tak jarang mereka cenderung menghindar karena alasan kurang pantas, tidak percaya diri, merasa tidak ada yang bisa di tunjukkan atau dibanggakan. 

“Apakah Anda juga merasakan hal yang sama ? Apakah anda telah menetapkan target tertentu dan ingin sekali menunjukkannya pada saudara dan teman Anda ketika target itu telah terpenuhi di momen lebaran atau pulang kampung?”...hehe..

Dalam keadaan seperti ini bisakah si klien dan teman tadi mewujudkan keinginan mereka? Dapatkah mereka benar-benar memaafkan orang lain ketika lebaran nanti? Mampukah hal baru, semangat baru dan inspirasi datang kepada mereka ?...

Jawabannya mungkin Anda sudah tahu: yaitu teman dan klien saya jadi sulit sekali mewujudkan impian mereka. Mereka juga tidak bisa memaafkan orang lain karena mereka sendiri tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. 

Insprasi dan semangat sebenarnya selalu datang dari berbagai arah, tapi ketika kondisi batin tidak jernih, banyak ruang batin yang di gunakan untuk menyimpan hal-hal negatif.
Banyaknya “benda-benda” yang tersimpan dalam ruang batin menjadikan inspirasi sulit terjadi- meski inspirasi itu sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan. Ini karena mereka menjadikan ruang batinnya sebagai tempat “benda-benda” yang tidak berguna tadi. Selalu menyediakan bagasi untuk menyimpan hal-hal yang telah dicapai dan ingin di capai. 

Kehidupan ini mirip aliran yang tanpa henti,…jika Anda menyediakan bagasi untuk apapun yang telah terjadi dan keinginan-keinginan yang belum terjadi, maka Anda sebenarnya membatasi diri dari aliran kehidupan yang begitu berlimpah yang melewati Anda.
“Jangan kamu kotori jiwamu dengan benda-benda dan keinginan-keinginan yang semuanya bersifat sementara, karena tidak satupun yang akan kita bawa. Kita sedang mengalir, seperti tubuh kita juga sedang mengalir dari lahir tumbuh dan dewasa serta tua dan akhirnya mati”. Itu artinya memang tidak ada satupun yang tersisa, jadi kenapa Anda masih membawa-bawa masa lalu dan masa depan yang belum terjadi kemana-mana?

"Jika kamu bersedia membersihkan dan membuang bagasimu, maka kamu menyatu dengan kehidupan, tidak akan ada lagi rasa takut, rasa benci, minder, iri, dendam, dan rasa tidak puas".

Dengan tidak membiarkan ruang batin Anda dipenuhi hal-hal yang anda kira bisa memberikan kepuasan abadi berupa materi, atau keinginan untuk diakui dan di hormati, maka anda akan dapat merasakan hidup tanpa beban, sangat ringan seperti kapas yang terbang di terpa angin, diliputi perasaan kemenangan. Begitu riang dan bahagia seperti di anak-anak yang baru dibelikan baju baru setiap jelang lebaran. 

Maka di hari yang fitri nanti, anda akan benar-benar tulus memaafkan orang lain karena anda telah mampu memaafkan diri anda sendiri. 

Ini tentu yang menggembirakan buat Anda; ketika Anda menyatu dengan hidup, menyatu dengan segala apa yang ada tanpa ada rasa berat dalam batin Anda. Itu juga berarti Anda sangat beriman kepada Allah tanpa ragu sedikitpun. Anda sedang membuka diri untuk hal-hal yang serba mungkin, Anda sedang berada dalam serba Kemungkinan, seperti yang telah tertulis dalam Alquran, bahwa “Allah memberikan rizkiNya dari berbagai penjuru yang tidak bisa di terka oleh pikiran manusia”

“Anda tetap hidup dengan keinginan-keinginan, tetap menghargai benda-benda dan prestasi yang telah Anda raih, tapi Anda sudah tidak melekatkan diri dan tidak berharap lagi pada semua keinginan akan benda-benda dan pengakuan itu. Tak ada lagi rasa ingin dihormati oleh manusia bisa memberikan kepuasan bagi Anda, tidak ada ruang lagi bagi dunia dalam batin Anda, tidak ada lagi bagasi untuk dunia dalam diri Anda.”. 

Ini juga telah dirasakan begitu kuatnya oleh psikolog Swiss Carl Jung, yang mengatakan tentang sinkronitas hubungan tanpa sebab akibat, bahwa akan ada kejadian-kejadian pertolongan, pertemuan-pertemuan yang sangat membantu, kebetulan-kebetulan yang menjadikan berkelimpahan suka cita, jika kita telah berhasil melenyapkan semua bentuk kelekatan pada dunia, atau saya menyebutnya “bagasi dalam diri”

Cobalah periksa dalam diri anda, apakah masih ada handphone yang terus terngiang-ngiang dalam hati yang ingin sekali Anda miliki, catatlah keinginan itu dan buanglah rasa keakuan akan handphone itu dalam batin anda…nikmati yang Anda miliki saat ini dengan ringan, perasaan-perasaan yang membebaskan. 

Saya bisa memberikan beberapa contoh bahwa dalam diri anda sudah tidak ada bagasi lagi. Jika handphone anda rusak atau hilang maka Anda tidak akan merasakan kehilangan yang berat lagi, jika Anda datang ke pertemuan keluarga di waktu lebaran, maka Anda sudah tidak ingin menunjukkan prestasi Anda atau minder karena kondisi sedang terpuruk. Anda juga begitu ringan dalam memberi entah uang, makanan atau lainnya, Anda juga tidak menunggu disebut sukses untuk membantu orang lain, dll… Maka Jangan ada lagi bagasi dalam dirimu. 

Jika perasaan Anda begitu ringan seperti kapas, Anda telah berhasil melenyapkan bagasi Anda. Ini mungkin juga bisa sebagai bentuk iman yang sangat kuat kepada Allah, dan bentuk sikap syukur yang sangat dahsyat…hmmm…mohon maaf lahir batin…



15 komentar:

  1. Ya,...sepakat mbak. Bagasi harus dibuang sebelum lebaran. Sibhanallah, postingan perenungan yang dalem banget.

    BalasHapus
  2. sulit tapi harus begitu ya..tq 4 share :)

    BalasHapus
  3. @ ivan : renungan ini ditulis Ali Waringin. Mari belajar bersyukur, biar hidup ini jadi ringan tanpa beban

    @ aulawi : hehe yang penting mau berusaha bang...

    BalasHapus
  4. artinya jika kita masih terasa berat.. kita masih seolah memikul beban... kita blm bisa dikatakan terlahir fitri...?!?!?!?

    BalasHapus
  5. genial : maybe itu salah satu indikatornya...

    BalasHapus
  6. intisari kemenangan di hari idhul fitri adalah kembali kepada fitrah... Seperti bayi bayi yg baru lahir... Yg masih telanjang dan polos.... Terimakasih pencerahannya.. Semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca untuk kembali ke fitrah....

    BalasHapus
  7. yups benar sekali banyak ruang bathin yang disimpan untuk hal2 yang negatif, maka pada kesempatan yang baik inilah di bulan yang penuh maghfiroh kita bisa menyingkirkan bagasi yang negatif tersebut. dan yang terpenting adalah janganlah kita meninggalkan dzikir untuk mengingat Sang Maha Pencipta (SMP)

    BalasHapus
  8. buanglah bagasimu, isilah ruang yang kosong dengan hamparan putih untuk hidup yang lebih baik.. :)

    BalasHapus
  9. Yep, jangan sampai over loaded. Nice post.

    BalasHapus
  10. mantap bgt kata2nya sob...
    smoga di hari yg Fiti nanti, kita bnr2 menjadi org yg bersih dari segala mcm dosa, asalkan tulus saling memaafkan, kita pasti akan merasa seringan kapas...

    nice post
    mohon mf lhr dn btn

    BalasHapus
  11. mantap bgt kata2nya sob...
    smoga di hari yg Fitri nanti, kita bnr2 menjadi org yg bersih dari segala mcm dosa, asalkan tulus saling memaafkan, kita pasti akan merasa seringan kapas...

    nice post
    mohon mf lhr dn btn

    BalasHapus
  12. met lebaran....
    mohon maaf lahir dan batin..
    salam bwt kluargamu sob..

    BalasHapus
  13. Duh pencerahan diri yang sangat bagus n apik jeng Rosi..kadang begitu sulitnya kita membuang bagasi dalam diri kita.

    BalasHapus
  14. @ rangga : trims kunjungannya, smoga qt benar2 kembali kpada fitrah
    @ mas harto : saling mengingatkan ya mas harto, keyword SMP nya ttp ngga ketinggalan ;-)
    @ sukadi : hayuk... pada dibuang bagasinya
    @ newsoul : tanks telah mampir
    @ science box : amin
    @ penghuni60 : sm2 slm hormat juga bwt keluarga
    @ saung web : mari qt berusaha bang... tulisan ini dibuat mas Ali Waringin

    BalasHapus
  15. yup betul sekali mbak ros, kalo kita selalu memandang ke atas maka selama itu pula kita gak kan dpt bahagia, sebaliknya kalo kita pandai bersyukur, Insya Allah apa yg kita miliki saat ini adalah lbh dari cukup. #kangsugeng

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.