Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

26/12/10

Refleksi

Lima hari menjelang lembar 2011. Lima hari tersisa untuk sebuah refleksi, mengkaca diri. Apa saja yang telah tertulis dalam catatan hidup kita setahun ini.

Setiap manusia tentu berharap yang terbaik dalam hidup. Kehidupan yang cukup, pasangan yang setia, anak-anak yang lucu, status dan citra terhormat. Kehidupan yang sempurna tanpa retak. Namun adakalanya semua tak berjalan sesuai harapan. Semua yang dikalkulasi meleset jauh dari perkiraan. Kegalauan, keresahan, kegundahan meleburkan rasa tidak berdaya.

Ya, sebab memang bukan kitalah penentu ujung dari setiap ikhtiar itu. Otoritas kita hanya sebagai lakon yang diberi pilihan. entah bagaimana akhir dari pilihan itu tergantung pada Sang Hidup membuatnya.

Tiap kegagalan, ketidak berhasilan, dan rasa sakit tentu menyimpan pelajaran tentang hidup. Tak perlu menyesalinya. Jika kita mampu berdiri tegak di atas itu semua dan mengambil untaian hikmah yang tersimpan, maka rasa lapang akan memenuhi rongga jiwa.

Dunia ini tempat manusia buat "dicoba", buat "diuji", begitu sabda Qur'an. Ada ujian kebahagian, kesuksesan, juga ada kalanya buat kesedihan, kegagalan. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba mampu bertahan dengan segala keikhlasan atas itu semua. Memang tidak mudah, tapi selalu saya coba ingatkan diri sendiri, "pasti semua ada hikmahnya.." . Mungkin ujian yang mendera kali ini akan menempa kita menjadi dewasa dan lebih bijak dalam memandang hidup.

Setelah kemarau pastilah akan tiba penghujan. Setiap kesulitan disertai dengan kemudahan. Setiap persoalan telah ada kunci-kunci jawabannya...

Maka sekarang adalah saatnya menyeka air mata duka, menggulung gundah dan prasangka, menyerap pelajaran dari setiap episode yang menyinggahi nafas kita...
Besok pastilah ada asa....




06/12/10

Transformasi


by : Ali Waringin



Dulu saya seringkali merasa takut dan cemas akan segala sesuatu, entah karena hutang, takut kekurangan, terutama takut kehilangan. Dalam perjalanannya ketakutan-ketakutan itu semakin menggunung. Semakin saya lawan rasa takut itu, semakin kuat tekanannya. Akibatnya batin saya semakin menderita.


Ketakutan itu sempat membuat saya sulit berkembang dan maju, hidup saya pun selalu dalam kemiskinan. Karena ketakutan juga saya pernah mencoba menipu orang lain yang sebenarnya bisa menjadi mitra bisnis yang sangat prospektif. Karena takut juga, saya terus menghindari pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, saya terus mencoba mencari alasan supaya bisa selamat dari hal-hal yang saya takuti. Namun sepertinya rasa takut itu justru menyukai saya, kawan. Ia sulit sekali pergi meski saya mencoba lari dan menghindarinya.


Ya, itulah cerita hidup saya beberapa tahun yang lalu. Saya ingat betapa ketakutan itu menghabiskan energi saya, menyebabkan saya mengalami banyak kerugian.


Sekitar tahun 2006 saya merasakan pertanyaan yang sangat kuat, “kenapa saya tidak mencoba menghadapi rasa takut itu? kenapa saya tidak mencoba bertanggung jawab atas perasaan saya sendiri?.......... pertanyaan-pertanyaan itu terus mengetuk batin seakan-akan meminta saya untuk bangun dan sadar.

Dari situ saya memulai untuk menghadapi ketakutan itu. Lalu semakin lama, semakin saya tahu bahwa ketakutan ternyata hanya buatan pikiran, atau dengan kata lain ketakutan hanyalah bualan pikiran yang tidak pernah terbukti.


Makin hari saya semakin membuktikan kata-kata itu. Dan semakin jelas bahwa penderitaan dan kesulitan itu di sebabkan oleh ketakutan saya sendiri. Lebih jelas lagi ketika saya mengetahui bahwa ketakutan itu terjadi karena ketidaktahuan saya, ketidakmengertian saya dan ketidaksadaran saya.


Sama halnya ketika orang-orang dilanda ketakutan menghadapi pernikahan. Banyak dari kita merasa takut tidak mampu membahagiakan pasangannya, takut tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, takut kekurangan, takut dikatakan pernikahannya tidak bahagia, dan lain sebagainya. Saya juga memperhatikan banyak generasi sekarang yang justru memilih seks bebas tanpa menikah. Di sisi lain, ada pula yang takut menyampaikan kata cinta karena takut di tolak, merasa tidak pantas, dll, padahal itulah penyebab tidak terwujudnya pernikahan dengan orang yang didambakan. Hasilnya, tentu saja pernikahan itu tidak pernah terjadi.


Kini saya mengetahui, di saat saya merasa takut, saya tidak bisa menyadari bahwa hidup adalah perubahan, perubahan itulah hidup. Bahwa di dalam perubahan itulah saya sedang menjalani kehidupan ini. Ketika saya bisa mengerti hal itu, dan bisa menyadarinya maka ketakutan-ketakutan itu menguap dengan cepat, dan yang lebih menakjubkan adalah seakan-akan hidup bekerja untuk saya, seakan-seakan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi dengan mudah hanya dengan menyadari bahwa hidup itu perubahan, pergerakan terus menerus tanpa henti, dan yang lebih mengejutkan lagi saya berani memberi lebih banyak dan lebih banyak lagi, yang sebelumnya saya berusaha menggenggam apa yang saya punya.


Kesadaran saya semakin tumbuh dengan berusaha terus memberi dan memberi. Saya menemukan bukti bahwa dengan memberi kita adalah peserta dalam evolusi hidup ini, evolusi yang sangat cepat dan tidak terjangkau oleh matematika pikiran saya selama ini.


Ah... betapa gilanya saya selama ini yang terus menyembunyikan dan menggenggam apa yang saya miliki, entah itu uang, informasi, ide atau lainnya. Selama ini saya terus berusaha menyimpannya dari orang lain, padahal ternyata sikap seperti itu malah menghambat aliran kelimpahan dalam hidup saya. ketika saya terus memberi entah itu uang atau kata-kata yang membangun dan menghibur justru kelimpahan terus menerus saya alami.


Saya ingin Anda juga mempercayai bahwa jalan pintas untuk hidup mudah dan berlimpah adalah “memberi”. Semua guru besar berulang kali mengatakan hal itu, semua buku-buku hebat yang pernah saya baca juga mengatakan hal yang sama, memberi dengan tanpa syarat apapun adalah jalan pintas menemukan harta karun kelimpahan hidup.


Kesulitan, penderitaan, kekurangan dan kemiskinan itu terjadi karena ada ketakutan, kecemasan, kekhawatiran bahwa esok anda tidak bisa makan, besok anda tidak bisa membayar tagihan, besok anda takut di anggap miskin oleh orang lain. Maka musnahkanlah dalam pikiran dan batin anda semua itu, sebab ketika anda mengikuti rasa takut itu, justru anda semakin menderita kekurangan dan di dera kesulitan.


Pernah suatu ketika saya mencoba menipu seorang kasir toko buku. Harusnya uang saya hanya cukup untuk membeli 2 buku, tapi karena ada 5 buku yang saya inginkan maka dengan berbagai cara saya berhasil membeli 5 buku dengan harga 2 buku. Tapi setelah itu saya malah kehilangan banyak klien, dengan berbagai alasan mereka membatalkan janji yang telah disepakati. Dan 5 buku itu sampai sekarang tidak pernah saya baca, entah di mana buku-buku itu berada bahkan saya sudah lupa.


Mengikuti pikiran takut hanya akan mendapatkan ketakutan yang lebih banyak lagi, dan sebaliknya mengikuti pikiran kelimpahan membuat hidup kita tambah berlimpah. Dan sekali lagi kawan, sikap yang menunjukkan keberlimpahan adalah dengan memberi.


Jika Anda benar-benar merasa cukup, Anda akan memberi tiap bertemu siapapun. Senyum kebahagiaan yang Anda berikan ketika bertemu orang lain, itupun merupakan pemberian kelimpahan.


Saya pernah mendapati klien yang menolak membayar jasa konsultasi yang saya berikan dengan alasan karena masih banyak hutang yang ia harus bayar. Namun belakangan ia menyadari bahwa tindakannya itu adalah tindakan kekurangan, segera dia menghubungi saya dan mengatakan,Jika saya membayar konsultasi yang Anda berikan setelah saya melunasi hutang-hutang saya... setelah saya berhasil... atau setelah saya sukses,... bukankah itu sama saja saya merencanakan kegagalan saya, kekurangan saya, kemiskinan saya. Bukankah aliran hidup itu sedang terjadi saat ini... sekarang juga...dan bukan nanti”. Itulah kalimat yang saya ingat dari klien saya waktu itu. Dia tersenyum gembira sambil membayar jasa konseling yang telah saya berikan. Sekitar satu tahun lalu saya mendapatkan kabar bahwa usahanya telah merekrut banyak karyawan.


Saya mengalami dan mengamati bahwa Perubahan-perubahan yang terjadi meski nampak buruk, itu hanya di permukaan, hal tersebut justru bisa kita gunakan untuk mengingatkan diri kita jika kita sedang merasa takut akan sesuatu. Dan ternyata bukan sesuatu yang di luar yang perlu kita hadapi, tapi rasa takut itu ada di dalam diri kita sendiri, bukan di dalam diri orang lain atau pada sesuatu yang lain.


Kabar baiknya, perubahan yang terjadi saat ini sedang menuju ke arah lebih baik, jadi kenapa kita harus takut? kenapa kita tidak menikmati hidup ini saja? kenapa kita tidak bisa hidup berlimpah ruah?...sebab memang sebenarnya hidup ini berlimpah tanpa batas.


Sekarang cobalah Anda jujur, apa yang Anda takuti saat ini ? Tentu akan banyak daftar ketakutan yang Anda temui. Tetapi semakin anda temukan ketakutan itu, semakin tumbuh kesadaran Anda akan hidup yang sedang berlangsung dalam perubahan. Anda pun akan mendapati bahwa sebenarnya di alam ini tidak ada satupun yang berkurang dan hilang, hanya bentuk yang terus berubah, dan perubahan bentuk itu bukanlah hal nyata.


Saya ingin menutup catatan ini dengan pernyataan luar biasa dari Alan Watts yang mungkin patut kita renungkan bersama:


“Kita tidak ‘datang ke dalam’ dunia ini,

kita keluar dari dunia ini sebagai daun-daun dari sebuah pohon.

Sebagai gelombang samudera, orang-orang alam semesta.

Setiap individu adalah ungkapan dari seluruh bidang alam, tindakan yang unik oleh keseluruhan alam semesta.”


Transformasi : Hidup adalah perubahan terus menerus menuju ke arah yang lebih baik