Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

06/12/10

Transformasi


by : Ali Waringin



Dulu saya seringkali merasa takut dan cemas akan segala sesuatu, entah karena hutang, takut kekurangan, terutama takut kehilangan. Dalam perjalanannya ketakutan-ketakutan itu semakin menggunung. Semakin saya lawan rasa takut itu, semakin kuat tekanannya. Akibatnya batin saya semakin menderita.


Ketakutan itu sempat membuat saya sulit berkembang dan maju, hidup saya pun selalu dalam kemiskinan. Karena ketakutan juga saya pernah mencoba menipu orang lain yang sebenarnya bisa menjadi mitra bisnis yang sangat prospektif. Karena takut juga, saya terus menghindari pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, saya terus mencoba mencari alasan supaya bisa selamat dari hal-hal yang saya takuti. Namun sepertinya rasa takut itu justru menyukai saya, kawan. Ia sulit sekali pergi meski saya mencoba lari dan menghindarinya.


Ya, itulah cerita hidup saya beberapa tahun yang lalu. Saya ingat betapa ketakutan itu menghabiskan energi saya, menyebabkan saya mengalami banyak kerugian.


Sekitar tahun 2006 saya merasakan pertanyaan yang sangat kuat, “kenapa saya tidak mencoba menghadapi rasa takut itu? kenapa saya tidak mencoba bertanggung jawab atas perasaan saya sendiri?.......... pertanyaan-pertanyaan itu terus mengetuk batin seakan-akan meminta saya untuk bangun dan sadar.

Dari situ saya memulai untuk menghadapi ketakutan itu. Lalu semakin lama, semakin saya tahu bahwa ketakutan ternyata hanya buatan pikiran, atau dengan kata lain ketakutan hanyalah bualan pikiran yang tidak pernah terbukti.


Makin hari saya semakin membuktikan kata-kata itu. Dan semakin jelas bahwa penderitaan dan kesulitan itu di sebabkan oleh ketakutan saya sendiri. Lebih jelas lagi ketika saya mengetahui bahwa ketakutan itu terjadi karena ketidaktahuan saya, ketidakmengertian saya dan ketidaksadaran saya.


Sama halnya ketika orang-orang dilanda ketakutan menghadapi pernikahan. Banyak dari kita merasa takut tidak mampu membahagiakan pasangannya, takut tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, takut kekurangan, takut dikatakan pernikahannya tidak bahagia, dan lain sebagainya. Saya juga memperhatikan banyak generasi sekarang yang justru memilih seks bebas tanpa menikah. Di sisi lain, ada pula yang takut menyampaikan kata cinta karena takut di tolak, merasa tidak pantas, dll, padahal itulah penyebab tidak terwujudnya pernikahan dengan orang yang didambakan. Hasilnya, tentu saja pernikahan itu tidak pernah terjadi.


Kini saya mengetahui, di saat saya merasa takut, saya tidak bisa menyadari bahwa hidup adalah perubahan, perubahan itulah hidup. Bahwa di dalam perubahan itulah saya sedang menjalani kehidupan ini. Ketika saya bisa mengerti hal itu, dan bisa menyadarinya maka ketakutan-ketakutan itu menguap dengan cepat, dan yang lebih menakjubkan adalah seakan-akan hidup bekerja untuk saya, seakan-seakan semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi dengan mudah hanya dengan menyadari bahwa hidup itu perubahan, pergerakan terus menerus tanpa henti, dan yang lebih mengejutkan lagi saya berani memberi lebih banyak dan lebih banyak lagi, yang sebelumnya saya berusaha menggenggam apa yang saya punya.


Kesadaran saya semakin tumbuh dengan berusaha terus memberi dan memberi. Saya menemukan bukti bahwa dengan memberi kita adalah peserta dalam evolusi hidup ini, evolusi yang sangat cepat dan tidak terjangkau oleh matematika pikiran saya selama ini.


Ah... betapa gilanya saya selama ini yang terus menyembunyikan dan menggenggam apa yang saya miliki, entah itu uang, informasi, ide atau lainnya. Selama ini saya terus berusaha menyimpannya dari orang lain, padahal ternyata sikap seperti itu malah menghambat aliran kelimpahan dalam hidup saya. ketika saya terus memberi entah itu uang atau kata-kata yang membangun dan menghibur justru kelimpahan terus menerus saya alami.


Saya ingin Anda juga mempercayai bahwa jalan pintas untuk hidup mudah dan berlimpah adalah “memberi”. Semua guru besar berulang kali mengatakan hal itu, semua buku-buku hebat yang pernah saya baca juga mengatakan hal yang sama, memberi dengan tanpa syarat apapun adalah jalan pintas menemukan harta karun kelimpahan hidup.


Kesulitan, penderitaan, kekurangan dan kemiskinan itu terjadi karena ada ketakutan, kecemasan, kekhawatiran bahwa esok anda tidak bisa makan, besok anda tidak bisa membayar tagihan, besok anda takut di anggap miskin oleh orang lain. Maka musnahkanlah dalam pikiran dan batin anda semua itu, sebab ketika anda mengikuti rasa takut itu, justru anda semakin menderita kekurangan dan di dera kesulitan.


Pernah suatu ketika saya mencoba menipu seorang kasir toko buku. Harusnya uang saya hanya cukup untuk membeli 2 buku, tapi karena ada 5 buku yang saya inginkan maka dengan berbagai cara saya berhasil membeli 5 buku dengan harga 2 buku. Tapi setelah itu saya malah kehilangan banyak klien, dengan berbagai alasan mereka membatalkan janji yang telah disepakati. Dan 5 buku itu sampai sekarang tidak pernah saya baca, entah di mana buku-buku itu berada bahkan saya sudah lupa.


Mengikuti pikiran takut hanya akan mendapatkan ketakutan yang lebih banyak lagi, dan sebaliknya mengikuti pikiran kelimpahan membuat hidup kita tambah berlimpah. Dan sekali lagi kawan, sikap yang menunjukkan keberlimpahan adalah dengan memberi.


Jika Anda benar-benar merasa cukup, Anda akan memberi tiap bertemu siapapun. Senyum kebahagiaan yang Anda berikan ketika bertemu orang lain, itupun merupakan pemberian kelimpahan.


Saya pernah mendapati klien yang menolak membayar jasa konsultasi yang saya berikan dengan alasan karena masih banyak hutang yang ia harus bayar. Namun belakangan ia menyadari bahwa tindakannya itu adalah tindakan kekurangan, segera dia menghubungi saya dan mengatakan,Jika saya membayar konsultasi yang Anda berikan setelah saya melunasi hutang-hutang saya... setelah saya berhasil... atau setelah saya sukses,... bukankah itu sama saja saya merencanakan kegagalan saya, kekurangan saya, kemiskinan saya. Bukankah aliran hidup itu sedang terjadi saat ini... sekarang juga...dan bukan nanti”. Itulah kalimat yang saya ingat dari klien saya waktu itu. Dia tersenyum gembira sambil membayar jasa konseling yang telah saya berikan. Sekitar satu tahun lalu saya mendapatkan kabar bahwa usahanya telah merekrut banyak karyawan.


Saya mengalami dan mengamati bahwa Perubahan-perubahan yang terjadi meski nampak buruk, itu hanya di permukaan, hal tersebut justru bisa kita gunakan untuk mengingatkan diri kita jika kita sedang merasa takut akan sesuatu. Dan ternyata bukan sesuatu yang di luar yang perlu kita hadapi, tapi rasa takut itu ada di dalam diri kita sendiri, bukan di dalam diri orang lain atau pada sesuatu yang lain.


Kabar baiknya, perubahan yang terjadi saat ini sedang menuju ke arah lebih baik, jadi kenapa kita harus takut? kenapa kita tidak menikmati hidup ini saja? kenapa kita tidak bisa hidup berlimpah ruah?...sebab memang sebenarnya hidup ini berlimpah tanpa batas.


Sekarang cobalah Anda jujur, apa yang Anda takuti saat ini ? Tentu akan banyak daftar ketakutan yang Anda temui. Tetapi semakin anda temukan ketakutan itu, semakin tumbuh kesadaran Anda akan hidup yang sedang berlangsung dalam perubahan. Anda pun akan mendapati bahwa sebenarnya di alam ini tidak ada satupun yang berkurang dan hilang, hanya bentuk yang terus berubah, dan perubahan bentuk itu bukanlah hal nyata.


Saya ingin menutup catatan ini dengan pernyataan luar biasa dari Alan Watts yang mungkin patut kita renungkan bersama:


“Kita tidak ‘datang ke dalam’ dunia ini,

kita keluar dari dunia ini sebagai daun-daun dari sebuah pohon.

Sebagai gelombang samudera, orang-orang alam semesta.

Setiap individu adalah ungkapan dari seluruh bidang alam, tindakan yang unik oleh keseluruhan alam semesta.”


Transformasi : Hidup adalah perubahan terus menerus menuju ke arah yang lebih baik






22 komentar:

  1. aku bersyukur bisa bertransformasi menjadi sosok yang lebih baik....

    BalasHapus
  2. Tulisan yang inspiratif. Menurut saya, Intinya adalah bersyukur dan berfikir positif...

    Terimakasih :)

    BalasHapus
  3. yuna : alhamdulillah, sama-sama ya kita menuju ke arah yang lebih baik

    sukadi : yup, setuju kawan, trims sudah mampir

    BalasHapus
  4. Begitulah hidup, kita harus selalu belajar agar siap menghadapi setiap perubahan, btw itu fotomu ya sist? selamat ya kok gak ngundang2 hehehe

    BalasHapus
  5. selamat pagi mbak rosi.......... masih ingat atau gak sama saya? hehe...
    maaf udah lama gak mampir. ni barusan mulai ngurusi blog lagi. blog saya sekarang alamatnya di http://www.jimox.asia (yang jimox.net diserobot orang mbak) kalau gak keberatan dirubah ya mbah link disamping... hehe..

    BalasHapus
  6. hemmm... saya langsung mendapatkan pencerahan dalam blog walking pertama saya ini (setelah sekian lama :) ) yap selama ini saya juga terbelenggu oleh rasa takut itu mbak.
    beberapa bulan terahir saya banyak mengalami kejadian yang bikin saya takut... sekarang saya sadar, semuanya harus dihadapi... semangat2...
    (kuangen banget mbak sama dunia blogging, hehe...)

    BalasHapus
  7. terimakasih untuk postingan ini.. bener2 pas dg yg saya alami.. ketakutan akan menghalangi transformasi dan menutup hal2 berlimpah yg dengan nyata ada di kehidupan kita.. Happy wedding mbak.. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah..

    BalasHapus
  8. aulawi : hem ... hehe

    agam : trims kunjungannya

    iklan gratis : thanks uda mampir

    jimox : jelas masih inget lah... gimana kabar ??? yah lama ngga ngeblog rasanya seperti lama berhibernasi di musim dingin yah ? hehe, ntar aq mampir balik ke situs baru mu kawan, thanks uda komen

    kiki : hehe ini tulisan mas ali, moga2 bermanfaat Kyu. amin, makasih doanya ya... ndang nyusul xixi...

    BalasHapus
  9. baca tulisanmu rasanya batin ini tertohok. jujur saya kalau bicara masalah ketakutan list saya bakalan panjang banget dan bener banget Rosi, memberi itu ternyata "tidak merugi" saya dulu juga susah banget memberi "sesuatu" pada orang lain, karena saya berpikir "sesuatu" itu saya dapat dengan susah payah...ternyata memang dengan menutup diri saya menjadi tidak maju^^... four thumbs up!

    BalasHapus
  10. transformasi adalah bagian dari proses pendewasaan hidup...sipppp mas :)

    BalasHapus
  11. alice : komen yang keren mbak, thanks

    angga : tengkyu kunjungannya

    BalasHapus
  12. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    ——
    Maaf baru mampir mba Rosi...

    Dulu, daftar ketakutan saya banyak sekali mungkin..terutama takut akan 'future'..
    tp alhamdulillah, sekarang semua teratasi satu prinsip saya, dari guru saya "Semua hidup diatur oleh ALLAH". Lkaukan saja yg terbaik dan jgn kecewakan sesama..

    Ngomong2 ttg memberi,,semoga kita jadi org2 yg sering beramal mba..^^

    Oh ya jarang nge-post ya mba?
    ——

    صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

    BalasHapus
  13. Salam Sahabat Common Cyber
    *********************************

    Common Cyber ikut mampir...
    Komen mbak Alice top!

    Mbak, boleh tanya gmn tuh caranya membeli 5 buku hny dg harga 2 buku? Kasirnya ditodong ya? hehehe (becanda.com)

    ^^

    Oh ya mbak, segala sesuatu kan memang bukan milik kita haknya,,,jadi mmberi memang seustu yg gak merugi..toh sejainya kita ini org miskin,tulang kulit mata pun bukan milik kita..

    alaah..ngaco.co.

    hehehhe

    BalasHapus
  14. Ukhti Rosiiiii...hiiiih gemes aq...masa' ga ngundang2 seh...bny yg bilang ant mo nikah dlm waktu dekat,tp q ga percaya...wah rugi nich dah ga percaya gossip di anak2 2003... adakah walimahannya ga nich??? hehehehehe...

    BalasHapus
  15. ahmad : thanks kunjungannya.. iya lagi jarang posting maklum musim hujan hehe ... ga nyambung mode on

    common cyber : soal cerita lima buku itu yah.. ntar saya tanyakan ke suami saya dulu ya yang posting tulisan ini

    tiwi : hehe maaf cuma akad sederhana aja tiwi.. and insyaallah ngga ada resepsi, hmmm ntar aja kalo aq mantu insyaallah aq undang xixixiixi...

    BalasHapus
  16. Mbak.., lupakan pertanyaanku di postingan terbaru ya..? Karena aku sudah tahu jawabannya sekarang.
    Rupanya sang penulis adalah suami mbak Rosie ya..?
    Kok nikah diam2 sih mbak..? Selamat ya.. (telat sih) semoga menjadi keluarga yg sakinah, mawaddah, warrohmah. Amin.

    BTW.., tulisan sang suami enak dibaca lho, sekaligus menginspirasi.
    Benar sekali mbak, dengan memberi kita ternyata mendapat lebih banyak hal di dunia ini.

    BalasHapus
  17. hehe... amin, makasi doanya mba ren

    BalasHapus
  18. cieeee....
    saya juga lagi nunggu saat yg tepat tuk brtransformasi mnjadi bumble bee.. (itu transformers bukan??)

    BalasHapus
  19. Salam Kenal mbk...............

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.