Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

12/11/11

Pengkaderan, aspek penting membangun usaha

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam mengelola sebuah usaha adalah pengkaderan. Percayalah, saya baru saja belajar tentang ini.

Jika selama ini, usaha yang sedang anda jalani atau perusahaan yang sedang anda pimpin dapat berjalan mulus, lancar, dengan keuntungan yang melampaui break even point, yakinlah itu tidak pernah lepas dari faktor sumber daya manusia. Semakin bagus kualitas manusianya tentu semakin baik hasil kinerjanya. Maka jangan pernah meremehkan, bahkan menganggap mereka hanya “sekedar” properti perusahaan kita, sebab mereka punya loyality, akal dan hati. Kita nggak akan pernah tahu sampai tiba-tiba orang-orang yang sudah bekerja bersama kita, tiba-tiba harus resign atau vakum untuk waktu yang lama karena berbagai alasan.

Saya mengalami sendiri ketika usaha yang –dipercayakan kepada saya- tiba-tiba kehilangan beberapa pilar penyangga. Orang-orang senior yang berdiri di belakangnya sebagian cuti sementara karena hamil, melanjutkan study atau mengundurkan diri karena urusan keluarga. Usaha yang di tahun-tahun sebelumnya telah berjalan mulus, lancar, tiba-tiba sedikit goyang.

Ketika pengganti tidak disiapkan secara matang, tentu akan ada gap yang lebar, dan tentu butuh waktu buat penyesuaian visi, misi, karakter, dan penguasaan “medan”. Terlebih menghadapi konsumen yang sudah terlanjur mengkultuskan seseorang yang senior tadi dalam transaksi usaha. “kalo enggak sama si A, saya nggak mau.” Atau “Koq si B tidak seperti si A sih?”

Pasti akan ada proses membandingkan karakter dan kualitas. Dan mau tidak mau kondisi ini bakal mempengaruhi laju perusahaan. Ibarat bis yang rodanya kempis salah satu, tentu jalannya tidak akan maksimal.

Dari situ saya belajar pentingnya pengkaderan, dan fase inilah yang sedang saya jalani saat ini bersama kawan-kawan muda saya. Belajar, melihat, mendengar, mengobservasi, berinteraksi, lantas aksi. Melihat jiwa-jiwa muda itu seperti melihat ke dalam diri saya sendiri enam tahun lalu. Pagi menuntut ilmu di bangku kuliah, sore mengasah ilmu di bimbingan belajar, malam melayani privat ke rumah-rumah, dan tengah malam masih ngerjain job translate artikel. Benar-benar ngga ada kata lelah.

Ada semangat di mata-mata belia itu, ada keinginan untuk bisa, ada tantangan yang menggoda untuk ditaklukkan. Well, bukan berarti saya merasa sudah begitu tua dari mereka, hanya saja fase-fase seperti itu telah saya lalui beberapa tahun silam dan telah menempa saya sekarang.

Tiap orang itu unik. Untuk itu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi seperti si A atau si B. Yang kita bisa hanyalah membantu melejitkan potensi yang mereka punya, mereduksi kekurangan yang mungkin mengganggu, dan kita akan melihat mereka melaju dengan akselerasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Memang hasil itu tidak bisa instan. Butuh kesabaran, ketelatenan, serta supervisi yang kontinue. Dan yang tidak boleh disepelekan adalah perlakuan kita terhadap orang-orang baru, terlebih jika mereka benar-benar “fresh from the oven”. Senioritas terkadang menjadi penyakit yang memabukkan , tapi alangkah bijaknya jika gap senior-junior itu dipangkas dengan sering-sering berbagi ilmu dan pengalaman jam terbang. Saya yakin tidak ada ilmu yang akan hilang jika kita bersedia berbagi.

Dan pada akhirnya, dari semua upaya pengkaderan itu, percayalah di momen yang tepat kita akan memanen hasilnya.

24/10/11

Pelajaran dari Sang Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana.
4. Berilah lebih banyak.
5. Tersenyumlah.
6. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. "Apakah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !


Dikutip dari conectique.com

13/09/11

Aku

oleh Ali WaRingin


Di tulisan ini
Bukan di lain tulisan ini
Saat berada di luar sini
Aku sudah bukan lagi Aku

Entah bagaimana aku tersesat
Inderaku ta’jub akan pengalaman
Hingga Aku hilang dalam kejadian

Itulah penyebab bukan Aku terus ada
Reinkarnasi yang membuat dunia ini terus ada

Seperti satu pikiran muncul lagi pikiran yang lain
Begitu juga dunia ini.

Bukan Aku mengulang-ulang peristiwa yang sama isi
Dengan wujud yang berona

Aku tertutupi dan terhalangi janji dan Ancaman masa depan
Aku terkurung dalam memori masa lalu

Entah bagaimana Aku ada di tulisan ini
Tapi bukan Aku terus ada di luar sini

Bukan Aku melekati rasa takut dan cemas
Hal-hal usang dan tidak berguna penyebab diriku
Tetap berada di tempat yang sama yaitu penjara ketakutan

Aku selalu berubah
Aku selalu hening dan tenang
Aku hanyalah Aku

Akulah yang membebaskan dari kemelekatan pada wujud
Aku juga yang mengisi hidup dan menghidupi
Jadi kenapa masih tenggelam dalam ragu dan takut akan masa depan?

Lintasan pikiran bukan Aku memang sulit di hentikan
Ia hanya bisa berhenti di tulisan ini
Di sini sedang berlangsung perubahan
Disinilah Aku



Picture was taken from here

21/08/11

SUPERMAN

A song by : five for fighting


I can’t stand to fly
I’m not that naive
I’m just out to find
The better part of me

I’m more than a bird...i’m more than a plane
More than some pretty face beside a train
It’s not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I’ll never see

It may sound absurd...but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed...but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
It’s not easy to be me

Up, up and away...away from me
It’s all right...you can all sleep sound tonight
I’m not crazy...or anything...

I can’t stand to fly
I’m not that naive
Men weren’t meant to ride
With clouds between their knees

I’m only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

I’m only a man
In a funny red sheet
I’m only a man
Looking for a dream
And it’s not easy ...

...Its not easy to be me ...


19/07/11

Dejavu Rumah Jiwa


“Apakah rumah tangga kita sudah seperti rumah jiwa yang kau impikan?”, begitu tanyamu.

Pertanyaan yang sulit.. atau jawabannya yang sulit ?

Kita memang baru berlayar beberapa purnama, namun jika parameter kebahagiaan itu diukur dari seberapa banyak materi yang dipunyai, rumah mewah yang dimiliki, BMW yang dikendarai, atau status terhormat di masyarakat... maka betapa sulitnya mendapatkan bahagia itu.

Engkau selalu mengatakan, bahagia itu saat ini bukan nanti. Bukan ketika kita sudah memiliki ini, itu, terima dan nikmati apa yang ada, maka Tuhan akan mencukupi kita.

Mungkin sekarang aku telah tercemari akan segala filosofimu tentang hidup, tentang sesuatu yang dulu kutentang begitu frontal. Dan aku tahu kau mungkin juga terwarnai olehku, oleh sesuatu yang tak pernah diriku atau dirimu sadari apa itu.

Maka bisa kukatakan saat ini, aku bahagia denganmu.

Aku bahagia dengan kesabaranmu ketika aku marah,

Aku bahagia dengan belaianmu ketika aku letih,

Aku bahagia kau menjagaku dikala aku sakit,

Aku bahagia kita selalu punya waktu menghirup aroma kopi di depan kolam nila,

Dan aku bahagia kau mengatakan masakanku enak, meski aku tahu itu hanya caramu membuatku tersenyum.

Rumah jiwa itu akan terus kita bangun, di sini di dalam jiwa kita. Dikelilingi rerumputan hijau yang terhampar dari serbuk sari bernama kasih dan cinta. Hari demi hari, tahun demi tahun, masa demi masa.

Tak akan berhenti meski langit tukar warna,

Meski musim mulai menua.



13/07/11

It's (not) cooking time....


Dari dulu saya tidak pernah menganggap memasak adalah pekerjaan yang mudah. Ibarat proses rumit yang melibatkan segenap panca indera, memasak bagi saya butuh ketekunan, ketelitian, keuletan serta daya kreasi tingkat tinggi yang tidak bisa dilakukan sembarangan.

Tiap komposisi bumbunya haruslah seimbang, balance, proporsional, perfect. Salah takar sedikit saja bakal merusak keseluruhan citarasa masakan. Ibarat membuat gambar kubus, salah kalkulasi sudut surutnya , atau keliru menghitung perbandingan sisi frontal dan ortogonalnya, akan membuat gambar kubusnya menjadi berantakan.

Itulah mengapa sampai detik ini saya belum bisa (bahasa halusnya) menguasasi ranah permasakan. Jika disuruh memilih, tentu saya akan lebih pilih membersihkan plus merapikan seisi rumah daripada memasak. Tapi apa boleh dikata, tinggal dalam lingkup masyarakat partriaki yang mengharuskan isteri memasak buat suami membuat saya mau tidak mau harus turun ke dapur juga.

Jadilah dapur menjadi semacam laboratorium percobaan hasil masakan saya yang amatiran ini. Jangan tanya bagaimana hasilnya, amazing... semangkuk sayur asam saja rasa asam-nya bisa selangit, untuk semangkuk sup kadang gurihnya nendang ke utara kadang ke selatan...alias ngga jelas rasanya....qeqeqeq. kalo sudah seperti itu suami tercinta Cuma geleng-geleng kepala sambil bilang “rasanya benar-benar natural... “ (alias masih mentah; kurang matang; red.. hehehe...)

Beruntung suami sangat pengertian dengan “kelebihan” istrinya ini. Dan hingga bulan ke-delapan pernikahan kami , jadilah ‘aneka tumis’ menjadi menu andalan sehari-hari. Mulai dari tumis bayam, tumis kangkung, tumis tahu, tumis tempe, tumis terong, tumis wortel.... bla..bla. ini karena saya sebisa mungkin menghindari masakan berkuah apalagi yang bersantan kalo tidak ingin melihat suami bergidik mencicipi hasil karya saya.



Tidak bisa disalahkan, double pekerjaan menuntut saya lebih banyak di luar daripada di rumah untuk belajar memasak, meski alasan ini bisa jadi hanyalah pembelaan saya saja. hehe...

Mungkin karena saya tipikal orang yang simple dan praktis, kadang saya bertanya-tanya kenapa model irisan wortel untuk capjay beda dengan wortel untuk sup? Toh akhirnya juga masuk ke dalam mulut, diproses lewat mekanisme pencernaan makanan yang sama, dengan hasil akhir yang sama pula. Sampai sekarang saya benar-benar tak faham dengan bab ini.

Mungkin hanya mereka yang memahami memasak sebagai proses karya instalasi seni yang menyadari kompleksitasnya secara fanatis. Mudah-mudahan saja kelak saya bisa menjadi salah satu diantaranya... mudah-mudahan...



picture was taken from here

07/07/11

Going Home (catatan kecil REUNI)

oleh Ali WaRingin

“Kebahagiaan tidak mengenal apa yang kita miliki dan lakukan di dunia ini, karena kebahagiaan sumbernya ada di dalam diri”.

Menakjubkan!!!...itu kata yang mewakili perasaan saya saat menghadiri acara reuni kemarin. Bagaimana tidak, 14 tahun yang lalu kami masih memakai seragam, belajar, bermain dan mengasah pelajaran di sekolah itu. Kami tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi 14 tahun kemudian.

Seragam

Meski kemarin ketika hadir, semua mengenakan baju yang berbeda, namun hati kami masih sama seperti 14 tahun yang lalu, hati kami terasa masih memakai seragam itu.

Perbedaan menyatu

Saat acara di mulai hari sabtu, ketika itulah perbedaan mulai nampak, ada perasaan aneh muncul di hati, ketika sebagian orang mulai berbicara tentang status, pekerjaan, tingkat pendidikan, negara mana saja yang sudah pernah dikunjungi, dll. Perasaan yang muncul antara senang, kagum, inferior, superior bercampur menjadi satu dalam ruangan itu.

Pasti berlalu

Apa yang terjadi dalam reuni kemarin mengajarkan kami bahwa semua pasti akan berlalu dan sedang berlalu. Terjadinya sesuatu selalu di ikuti oleh perubahan. Dan karena perubahan itulah maka sesuatu itu ada. Jadi kami di ajarkan untuk tidak melekatkan diri pada apapun, termasuk pada apa yang sudah kami dapatkan dan apa yang sudah kami berikan.



Tarikan masa depan

Seperti makhluk hidup lainnya, dalam tiap diri ada tarikan masa depan, yang tidak terbantahkan. Seperti yang terlihat dalam diri para angkatan senior dan teman-teman, mereka telah membuktikan bahwa kita tidak perlu mencemaskan masa depan, karena masa depan itu pasti, sepasti apa yang kita pikirkan. Jika pikiran kita jernih dan perasaan kita bersih, maka masa depan akan seperti yang kita pikirkan. Mirip dengan bunga mawar yang dengan sendirinya tumbuh sesuai taqdirnya, ia tidak akan berubah menjadi bunga yang lain. Karena ketiadaan kecemasan, kekhawatiran, baik tentang masa lalu, masa depan atau apa yang terjadi saat ini, maka bunga mawar tetaplah tumbuh menjadi bunga mawar, bukan bunga yang lain. Seperti analogi mawar, kami juga telah mengalami hal yang sama. Mereka yang menyukai dunia pendidikan kemudian menjadi dosen, guru dll. mereka yang melihat masa depannya ada di dunia politik; akhirnya bergelut di partai , KPU, bahkan ada yang ingin menjadi walikota, yang menyukai perdagangan mereka berdagang dll. Dengan hanya mengikuti kecenderungan apa yang kita gemari dan sukai, kita akan menjadi apa yang selalu kita pikirkan. Tapi kita bukanlah seperti apa yang kita pikirkan terhadap apapun yang kita lakukan dan kita miliki .

Kembali yang tidak bisa di cegah

Pertemuan-perpisahan, berpisah-bertemu, itulah isi dari cerita pikiran kita, seperti juga pikiran yang datang dan pergi, kita juga datang dan pergi, bertemu dan berpisah. Senang dan sedih hal yang biasa dalam hidup, yang tidak biasa adalah kita tidak terserap oleh apa yang terjadi. Karena kita tidak seperti yang kita kira, maka tidak ada manusia yang bersedih ataupun menangis terlalu lama.

Mati sebelum mati.

Kami telah di ajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lain. Namun merasa sebagai manusia yang bermanfaat juga menunjukkan ketidakbaikkan kita. Kita telah mengambil pelajaran bahwa semua yang ada, yang belum ada, atau yang kita agungkan mau tidak mau terus berlalu. Seperti halnya asrama yang kita tempati dulu, kini juga telah beralih fungsi. Mungkin yang harus kita kembangkan adalah mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa memiliki apapun yang ada di dunia ini. Berharap bahwa hidup akan membawakan keabadian dalam setiap bentuk seperti melawan hukum alam yang sedang berlaku. Saat kami melihat data bahwa ada teman kami yang sudah tiada, ini menunjukkan bahwa ada kelahiran dan kematian. kita sangat bersyukur karena kalahiran dan kematian itulah yang memungkinkan kita berada dalam serba kemungkinan. Apa yang nampak terbatas menjadi tidak terbatas dan tanpa batas. Dengan menyingkirkan pandangan terbatas kita, rasa terikat dan memiliki sudah tidak ada. Kecemasan akan kematian juga sudah tidak ada, karena kita mengetahui bahwa kita bukanlah seperti yang kita pikirkan.

Apa yang belum atau sudah kami berikan pada hidup ?

Jadi apa yang belum kita berikan?... mungkin pertanyaan besarnya bukan pada apa yang belum kita berikan, tapi lebih pada apa yang belum kita syukuri, karena hidup selalu memberikan apapun pada kita, hidup juga tidak meminta kita untuk memberikan apa yang kita miliki, namun hidup hanya minta kita mensyukuri apa yang sudah kita alami, karena sebenarnya tidak ada yang dimiliki dan memiliki.

Mengizinkan.

Reuni kemarin telah mengajarkan kita untuk bisa melepaskan identitas kita, melepaskan semua, serta melebur menjadi satu, sama seperti saat kita masih sekolah di tempat itu dulu.

Jika semua yang ada sedang terus berubah dan berlalu, maka tugas kita hanya mengizinkan. Tidak ada lagi rasa keakuan; aku yang pekerjaannya A, aku yang lulusan universitas B, aku yang sudah mengunjungi negara C, dll, bukan lagi aku yang sudah bisa mempunyai mobil A, ataupun pejalan kaki, sudah tidak ada lagi aku yang superior atau inferior. Sudah tidak terikatnya diri kita akan hal-hal yang semuanya sementara berarti mengizinkan semua terus berlalu bukan mencegahnya atau menolaknya, karena kebahagiaan di dapatkan dari mengizinkan semua berlalu. Sebaliknya ketidakmampuan kita untuk mengizinkan, akan mendatangkan penderitaan. Saat kita melepaskan “mengizinkan” sebenarnya kita telah mati. Mati dari rasa kepemilikan bentuk, dan keakuan yang semu dan sementara.

Dengan mematikan ego, berarti kita sebenarnya telah hidup dan benar-benar sedang hidup. tidak ada lagi rasa keterpisahan dan kesendirian, kita sudah kembali (GOING HOME) sebelum bentuk-bentuk kita kembali. Kita telah menyatu sebelum bentuk-bentuk yang ada hancur dan menyatu lewat kematian.

Kosongkanlah dirimu dari segalanya

Biarlah pikiranmu damai

Puluhan ribu hal silih berganti

Sementara Diri mengamati mereka kembali.

Mereka tumbuh berkembang lalu kembali kepada sumbernya.

Kembali kepada sumbernya dengan tenang. Itulah jalan alam.

-LAO-TZU



14/06/11

Serenada senja

Senja telah menggulung siang, merumahkan matahari dalam istirahat singkatnya. Belum ada tanda-tanda angin berhenti menari. Sedari pagi tariannya memeluk bumi, angkuh, acuh akan sumpah serapah anak-anak adam yang sedang mencangkuli hari. Tariannya dingin seperti membawa pesan tentang kemarau yang kian mendekat.

Dingin. Memang dingin sekali senja ini, bahkan secangkir dua cangkir kopi panas pun tak kuasa mengusir aliran udara dalam pori-pori kulit.

Di hadapanku belasan ekor nila masih asyik berorkestra, seakan tak peduli pada hari. beranak- pinak pada sebuah kolam kecil di belakang rumah. Nyaman sekali tampaknya, kerjaannya hanya berputar-putar, melenggak-lenggok menunggu pakan. Sementara paku-pakuan sengaja kugantung di sekelilingnya, menjuntai-juntai, sebagian hijau, sebagian lagi menguning terbakar matahari. Ada juga mawar merah yang sedang puasa berbunga, hadiah pernikahan tujuh bulan yang lalu.

Tidakkah kau dengar juga suara burung-burung senja itu kawan? Seperti ikut bertakbir bersama suara adzan. Mengabarkan malam yang segera datang berkawan gemintang.

Dan langitpun mulai bertukar warna. Tapi aku masih betah disini, memandangi air, mengintip nila-nila yang tak lelah berputar, menghirup aroma senja yang berangin. Rasanya waktu seakan berhenti, tersekat dalam dimensi paralel yang kompleks. Membaca serenada senja dengan roman-nya sendiri.

Hey, kawan, lihatlah bulan baru saja muncul dari balik randu. Malu-malu mengeja senyum di langit timur. Diameternya hampir satu lingkaran penuh, memikat, dan penuh misteri. Tak ingin melewatkan romansa nila-nila yang sepertinya hendak beranak. Kian menawan saja pendar sinarnya, berbalut purnama yang belum sempurna. Biar saja dia menunaikan tugasnya malam ini bersama awan mengabarkan cuaca.

Angin kian kencang saja menari. Makin dingin menusuk tulang. Ibarat seringai tajam musim dingin Karakoram yang bersalju. Baiknya kukhatamkan dulu cerita ini, lusa aku kembali bersama pelangi.


gambar diambil dari sini

02/05/11

Ingatlah tentang sakit...

Hampir sepuluh hari saya terkapar di rumah sakit.

Awal masuk rumah sakit saya terdiagnosa terkena tifus karena kelelahan. Kebetulan saya seorang wirausahawan sehingga kerja sesuka hati. Kadang baru pulang malam jam 2 kadang jam 3 walau jam masuk kerja juga sesuka hati.Kadang jam 12siang baru keluar rumah. Mungkin itu kali yang menyebabkan saya kelelahan. Terlebih saya baru pulangdari sumatera barat untuk survey lokasi selama 10 hari disana.

Sakit saya kali ini agak berbeda karena saya tidak lagi ditemani oleh pasangan yang menemani. Kebetulan kami baru saja berpisah beberawa waktu yang lalu. Sangat berbeda dibanding saya sakit yang sama satu setengah tahun yang lalu masih ada yang mengurusi, masih ada yang menghibur. Namun inilah ujian buat saya dimana saya harus bersabar melawan penyakit ini sendirian :)

Hari kedua saya didiagnosa DBD setelah hasil cek darah menunjukkan trombosit yang semakin turun, beruntung kk saya memberikan obat cacing sehingga pada hari keempat saya sudah lebih baik,

Namun dihari kelima ketika saya tes urine, malah Allah berkehendak lain, tingkat bilirium(atau bilibium yah) yang tinggi menunjukkan saya terkena liver hiks...16X sedih sekali rasanya sudah mau keluar karena DBD sembuh malah harus mempepanjang kontrak di rumah sakit, terlebih saat itu saya juga muntah darah. Mau ga mau harus istrirahat lagi disana. Hari ketujuh saya dicek darah, ternyata saya terkena HepatitisB. Bed rest full sampai akhirnya diizinkan pulang di hari ke 10

Luar biasa kenangan di rumah sakit. Ternyata kesehatan mahal harganya. Walau saya hanya 10 hari lebih dari 4 juta harus dikeluarkan. Karena saya ga punya mau ga mau ambil modal dagang tuk bayar.

Selain itu tetangga di kamar yang ternyata lebih parah dari saya yang pertama pak sitompul yang terkena kanker usus dimana dalam waktu dua bulan di rumah sakit harus mengikhlaskan rumahnya dijual untuk biaya rumah sakit.

Ada pak fery yang terkena pankreas bengkak yang akhirnya harus meminjam ke bank karena dana asuransi dari perusahaan tempat dia bekerja tidak mencukupi untuk biaya operasi yang diperkirakan mencapai 40 juta rupiah.

Saudaraku betapa kesehatan itu mahal sekali harganya, betapa mudahnya Allah menghinakan orang dengan cara mencabut nikmat sehat seseorang dari seorang bangsawan, bahkan membuat orang kaya menjaddi miskin lantaran terkena sebuah penyakit

Oleh karena itu, berdoalah kita dari salah satu hal yang seringkali kita sepelekan ingat sehat sebelum sakit

Allahumma afini fi badaani Allahumma afini fi sam'i Allahumma afini fi basarii Laa Ila ha Illa Anta


Dikutip dari : http://tausiah.blogspot.com

26/04/11

LOWONGAN KERJA

DIBUTUHKAN TUTOR FISIKA, KIMIA, MATEMATIKA DAN BAHASA INGGRIS UNTUK SMP/SMA DENGAN KUALIFIKASI :

  1. S1/S2 ATAU MAHASISWA SESUAI BIDANG YANG DILAMAR
  2. BERDOMISILI DI WILAYAH MADIUN
  3. MENGUASAI MATERI SESUAI KURIKULUM
  4. MAMPU BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK
  5. BERPENGALAMAN LEBIH DIUTAMAKAN
  6. BERSEDIA MENJALANI TES

BAGI ANDA YANG BERMINAT SILAHKAN MENGIRIMKAN LAMARAN LENGKAP DAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP KE :

LBB BRILLIANT COURSE

JL. SEMONGKO NO. 5 MADIUN (SEBELAH SELATAN LAP. GULUN MADIUN)

TELP. 0351 7798527/ CP : ROSI ( 087858241227)

19/04/11

Kejujuran yang Terasing

Jam 2.30 dini hari. sudah sejak sejam lalu saya terjaga. Wajah-wajah murid-murid saya tadi sore masih berputar-putar memenuhi labirin pikiran yang terjebak antara dua dimensi : kantuk dan terjaga.

Pagi nanti hari kedua UN (Ujian Nasional; red). Yang duduk di kelas 3 masih berjibaku dengan soal-soal yang dianggap oleh sebagian mereka sebagai ladang pembantaian. Hingga, harus meloloskan diri sekuat tenaga dengan berbagai cara licik dan picik demi lolos dari sana. Yah, itu yang paling tidak saya tangkap dari cerita, dan keluh kesah mereka.


Ada apa sebenarnya dengan UN ? Bukankah UN hanya sebagian kecil dari fase yang harus dilewati semua kalangan. Saya, anda, siapapun juga yang mengenyam bangku pendidikan SMA pastilah melewati masa-masa itu. Tapi kenapa UN begitu menguras tenaga? Dijadikan momok? Hingga sekolah, komite, sampai dindik bekerjasama membentuk “tim sukses” untuk meloloskan siswanya. “tim sukses” yang akan menempuh berbagai cara, bergerilya, membuat kunci jawaban,mengatur formasi tempat duduk siswa pandai dan siswa bodoh untuk mengelabuhi pengawas, mengajari trik-trik tidak jujur... entah apa lagi.


Sadarkah anda adalah para pendidik yang bertanggung jawab terhadap siapa dan bagaimana yang anda didik ?

Toh tidak lulus UN juga bukan akhir dunia... sekali lagi ia hanyalah satu dari berbagai fase episode sekolah. Salut sekali ketika membaca tulisan A. Fuadi yang mendeskripsikan bagaimana pesantren Gontor menyiapkan Ujian sebagai sebuah “pesta” yang harusnya disambut dengan luapan semangat meneguk ilmu seperti orang yang dahaga. Semua santri belajar; di kamar, di antrean toilet, di aula, di masjid, di lantai menara, dimana-mana... hanya aura belajar yang terpancar. Seperti cahaya yang berpendar. Bukankah ilmu itu cahaya?..... lantas kenapa enggan menjemput ilmu itu? Malah menganggapya seperti musuh besar... yang ladang peperangannya kausebut Ujian Nasional ?

Miris rasanya mendengar dari kuping saya sendiri bagaimana murid-murid saya seharian berkeluh kesah tentang susahnya mencontek teman yang pandai, atau betapa enaknya si Anu mendapat jawaban instan dati si Ona. Atau dengan bangganya bisa mengelabuhi pengawas pas mencontek si Inu. Lalu dengan entengnya mengatakan, “dengan Cuma percaya pada diri sendiri apa bisa ngerjain soal?” ... Duh Gusti.... bagaimana pikiran pesimis akut itu bisa menggerogoti jiwa-jiwa muda yang harusnya penuh gairah akan potensinya? Tidak sadarkah pesimisme, ketakutan, ketidakjujuran itulah yang membangun jati diri mereka kelak?

Rasa-rasanya ingin “muntab” melihat sendiri bagaimana anak-anak muda itu begitu acuh tak acuh terhadap arti “kejujuran”. ...Klise; kata mereka. Rasanya ibarat hidup di zaman yang terasing. Ketika kebijakan sudah tidak lagi ditemui di sumur hati manusia. 10 atau 20 tahun lagi, merekalah yang memegang tonggak zaman. Mau jadi apa negeri ini? Saya tidak sanggup membayangkannya.....


(catatan hati seorang tutor...)




17/04/11

Travelling the time..

Mencoba mengawali medio April ini dengan semangat yang belum sepenuhnya terbangun. Rasanya sudah lama sekali tidak “membangunkan” gairah blog ini. Beberapa kali hanya posting lirik lagu yang kebetulan senada dengan apa yang lagi saya rasakan, hmmm malu juga kalo Cuma copas lagu melulu…


Baru-baru ini saya iseng mengubah gaya template yang biasanya full nuansa black n white atau ngga gitu abu-abu. Akhirnya ketemu sama template cokelat dengan heading menara Eiffel dan traveling theme. Wew, buat saya ini cukup mengingatkan saya tentang kotak mimpi ber-backpacing ria untuk menikmati masa lajang dulu.

Sekarang kondisinya tentu berbeda, saya uda menikah dan tidak bisa seenaknya melancong kesana kemari sendirian hehe… Apalagi suami bukan tipikal “nekatmen” yang bisa diajak naik turun gunung atau “nggembel” dari kota ke kota hihi (ups, sorry, my man..!!!!)

Hm, paling engga spirit mimpi traveling dari template blog ini sudah sedikit banyak menghapus kesedihan karena kehilangan calon janin saya beberapa minggu lalu. (itu setelah dokter memvonis calon janin saya ngga bisa tumbuh dan harus dikuret). Saya sadar ngga boleh terus larut begini, life goes around...

Yah, siapa yang bakal tahu kemana hidup akan berjalan, atau kemana hari akan mengalir… hanya waktu… seperti kata Enya. Dan mudah-mudahan kata-kata ajaib ini juga bisa membangkitkan spirit anda... let’s traveling the time.

09/04/11

only time


by Enya

(To the love that has passed away...)

Who can say where the road goes, 
Where the day flows,
only time? 

And who can say if your love grows, 
As your hearth chose, 
only time? 

Who can say why your heart sights, 
As your live flies, 
only time? 

And who can say why your heart cries 
when your love lies, 
only time? 

Who can say when the roads meet, 
That love might be ,in your heart? 
and who can say when the day sleeps, 
and the night keeps all your heart? 

Who can say if your love groves, 
As your heart chose, only time? 
And who can say where the road goes 
Where the day flows, only time? 

Who knows? 
Only time ...



07/02/11

Fields

By : Maxi Priest


You'll remember me when the west wind moves
amoung the fields of the island
You'll can tell the sun in his jealous sky
when we walked in the fields of gold

So she took her love
For to gaze awhile
amoung the fields of the island
In his arms she fell as her fear came down
Among the fields of gold

Will you stay with me, will you be my love
Among the fields of the islands
You'll can tell the sun in his jealous sky
When we walk in the fields of gold
When we walk in the fields of gold

I never made promises lightly
And there's been some that I've broken
But I swear in the days still left
We'll walk in the fields of gold
We'll walk in the fields of gold

Many years have passed since those summer days
Among the fields of the islands
See the children run as the sun goes down
As we walk in the fields of gold
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of the islands
You can tell the sun in his jealous sky
When we walked in the fields of gold

When we walked in the fields of gold

11/01/11

Politik Plin-Plan

Maju, mundur. Sebentar-sebentar maju, kemudian mundur. Seperti mobil-mobilan yang dimainkan keponakan saya yang baru berumur tiga tahun. Mungkin itulah gambaran yang mewakili para pembuat kebijakan di negeri ini.


Coba anda lihat akhir pekan lalu, secara mendadak, tanpa sosialisasi ke seantero negeri tiba-tiba saja publik dikejutkan dengan pengumuman kenaikan tarif kereta api untuk semua kelas per 8 januari 2011 (Kompas, 8/01/2011). Penumpang kaget, pihak PT KA sibuk mengklarifikasi.

Lalu apa yang terjadi keesokan harinya ? per tanggal 9 Januari 2011 pukul 00.00 juga secara tiba-tiba, pemerintah membatalkan kenaikan tarif KA ekonomi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kaget? Jelas... senang? Mungkin saja. Lha wong kereta api banyak dipilih karena tarifnya yang murah dan merakyat. Ketika para masyarakat berjibaku dengan harga cabe yang kian menggila, pembatalan tarif KA ekonomi tentu ibarat angin sepoi-sepoi di siang yang terik. Tapi tentu semua itu harus ada penjelasannya. Jangan rakyat dibuat bingung seperti ini. Maju, mundur, plin-plan tak berketetapan.

Menurut pihak PT KA latar belakang awal kenaikan tarif adalah karena naiknya bea perawatan dan kurangnya subsidi pemerintah. Maka Demi menjaga kualitas pelayanan, inisiatif kenaikan tarif pun dimunculkan. Namun entah karena alasan apa, dengan diembel-embeli kalimat, “ Setelah mendengar masukan dari berbagai pihak.........” tiba-tiba cerita ini berakhir dengan pembatalan tarif KA ekonomi (Jawapos 10/01/11). Jadi kenaikan tarif KA ekonomi hanya berlaku satu hari, pada Sabtu 8 januari 2011.

Kejadian yang sama teryata juga terjadi pada kebijakan pencabutan subsidi premium yang awalnya diperuntukkan buat mobil-mobil produksi 2005 ke atas. Kebijakan itu kemudian direvisi berlaku buat semua mobil berplat hitam per 1 januari 2011. Tapi lalu direvisi lagi , pemberlakuannya diundur akhir kuartal pertama tahun 2011.

Kepada para pembuat kebijakan yang terhormat, kalau boleh usul, mbokya tiap kebijakan itu disertai perencanaan yang matang. Bagaimana Kalkulasinya, implikasinya terhadap semua bidang, penanganan dampak terburuknya, juga bagaimana manajemen kontroversinya. Jadi tidak ada kesan pemerintah plin-plan. Hari ini A, besok B. Kalo sudah begitu bagaimana rakyat bisa percaya ?

05/01/11

RESENSI BUKU A NEW REVOLUTION OF SUCCESS


A NEW REVOLUTION OF SUCCESS

PENULIS : ALI WARINGIN

HARGA : Rp. 50.000

UKURAN : 11, 5 X 16,5 CM

TEBAL : 117 HAL

KATEGORI : NONFIKSI/ PENGEMBANGAN DIRI DAN INSPIRATIONAL

ISBN : 979-1243-08-4

SOFTCOVER


Ketika Anda memulai segala sesuatunya dan melakukannya dengan tersenyum, Anda sedang menarik kelimpahan hidup untuk memihak Anda, maka tersenyumlah…

Kebahagiaan, kelimpahan, suka cita dan kemudahan dalam segala hal terus menjadi impian setiap orang. Tahukah anda, bahwa sebenarnya anda tidak perlu bersusah payah untuk mewujudkan impian-impian itu ????

Jika saat ini Anda belum bisa meningkatkan perubahan seperti yang diinginkan…. ini adalah kabar baik bagi Anda. Buku ini merupakan buku kelimpahan yang akan menunjukkan jalan yang mudah untuk mewujudkan impian Anda.

Bila selama ini Anda menganggap bahwa kesuksesan merupakan hasil perjuangan keras yang tanpa henti, buku ini akan membalikkan persepsi Anda itu.

Tidak masalah Jika Anda baru mendengar ini untuk pertama kalinya, ikutilah terus, karena ketika buku ini sudah berada di tangan Anda, berarti ia sengaja dikirimkan untuk kebahagiaan dan kelimpahan hidup Anda.

Akan ada perasaan dan pandangan yang berbeda dari sebelum Anda membaca buku ini, dan itu berarti kelimpahan sudah terbangunkan, kalau sudah begitu hanya Anda yang berhak memilih untuk menggunakan atau meninggalkannya.

Dengan bahasa yang sederhana buku ini akan mudah dipahami oleh semua orang yang menginginkan kelimpahan serta kebahagiaan hidup.

Bagikanlah kebahagiaanmu dengan memberikan buku ini kepada saudara, teman atau lainnya, jadikan ini hadiah kelahiran Anda yang kedua yaitu kelahiran kelimpahan Anda.

Special price selama masa promo : Rp. 50.000 (sudah termasuk diskon 30% dan ongkos kirim). Hubungi 0351 332 3326/ 081 808131333/ 087 858 241 227