Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

19/04/11

Kejujuran yang Terasing

Jam 2.30 dini hari. sudah sejak sejam lalu saya terjaga. Wajah-wajah murid-murid saya tadi sore masih berputar-putar memenuhi labirin pikiran yang terjebak antara dua dimensi : kantuk dan terjaga.

Pagi nanti hari kedua UN (Ujian Nasional; red). Yang duduk di kelas 3 masih berjibaku dengan soal-soal yang dianggap oleh sebagian mereka sebagai ladang pembantaian. Hingga, harus meloloskan diri sekuat tenaga dengan berbagai cara licik dan picik demi lolos dari sana. Yah, itu yang paling tidak saya tangkap dari cerita, dan keluh kesah mereka.


Ada apa sebenarnya dengan UN ? Bukankah UN hanya sebagian kecil dari fase yang harus dilewati semua kalangan. Saya, anda, siapapun juga yang mengenyam bangku pendidikan SMA pastilah melewati masa-masa itu. Tapi kenapa UN begitu menguras tenaga? Dijadikan momok? Hingga sekolah, komite, sampai dindik bekerjasama membentuk “tim sukses” untuk meloloskan siswanya. “tim sukses” yang akan menempuh berbagai cara, bergerilya, membuat kunci jawaban,mengatur formasi tempat duduk siswa pandai dan siswa bodoh untuk mengelabuhi pengawas, mengajari trik-trik tidak jujur... entah apa lagi.


Sadarkah anda adalah para pendidik yang bertanggung jawab terhadap siapa dan bagaimana yang anda didik ?

Toh tidak lulus UN juga bukan akhir dunia... sekali lagi ia hanyalah satu dari berbagai fase episode sekolah. Salut sekali ketika membaca tulisan A. Fuadi yang mendeskripsikan bagaimana pesantren Gontor menyiapkan Ujian sebagai sebuah “pesta” yang harusnya disambut dengan luapan semangat meneguk ilmu seperti orang yang dahaga. Semua santri belajar; di kamar, di antrean toilet, di aula, di masjid, di lantai menara, dimana-mana... hanya aura belajar yang terpancar. Seperti cahaya yang berpendar. Bukankah ilmu itu cahaya?..... lantas kenapa enggan menjemput ilmu itu? Malah menganggapya seperti musuh besar... yang ladang peperangannya kausebut Ujian Nasional ?

Miris rasanya mendengar dari kuping saya sendiri bagaimana murid-murid saya seharian berkeluh kesah tentang susahnya mencontek teman yang pandai, atau betapa enaknya si Anu mendapat jawaban instan dati si Ona. Atau dengan bangganya bisa mengelabuhi pengawas pas mencontek si Inu. Lalu dengan entengnya mengatakan, “dengan Cuma percaya pada diri sendiri apa bisa ngerjain soal?” ... Duh Gusti.... bagaimana pikiran pesimis akut itu bisa menggerogoti jiwa-jiwa muda yang harusnya penuh gairah akan potensinya? Tidak sadarkah pesimisme, ketakutan, ketidakjujuran itulah yang membangun jati diri mereka kelak?

Rasa-rasanya ingin “muntab” melihat sendiri bagaimana anak-anak muda itu begitu acuh tak acuh terhadap arti “kejujuran”. ...Klise; kata mereka. Rasanya ibarat hidup di zaman yang terasing. Ketika kebijakan sudah tidak lagi ditemui di sumur hati manusia. 10 atau 20 tahun lagi, merekalah yang memegang tonggak zaman. Mau jadi apa negeri ini? Saya tidak sanggup membayangkannya.....


(catatan hati seorang tutor...)




13 komentar:

  1. beruntung, udah ngga ngerasain ujian nasional lagi. masa-masa itu udah lewat, tapi sebenernya bagaimana cara kita menyikapi UN itulah yang membentuk kita. kalo toh, isinya cuman nyari contekan, bocoran, akan sangat mungkin di kemudian hari orang2 yang seperti itu menggunakan cara instan dan licik untuk segala urusannya..

    BalasHapus
  2. nah itu yg saya khawatirkan.. merekalah calon pemimpin masa depan. kalo sekrg uda belajar curang, ngga jujur, gimana kedepannya? suap menyuap membeli posisi pasti bakal dianggap hal yg wajar

    BalasHapus
  3. anak-anak muda itu begitu acuh tak acuh terhadap arti “kejujuran”...hmmm,ngeri juga membaca statement ini,karena kejujuran itu terbentuk melalui pendidikan dan teladan di sekolah dan di keluarga,dengan kata lain lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga juga gagal menanamkan nilai kejujuran pada anak-anak muda itu...banyak yang menjadi penyebab dan banyak pula yang menjadi akibat...

    BalasHapus
  4. tugas kita tetap trus menanamkan itu, kejujuran adalah aset yg luar biasa dimiliki oleh seseorang,
    btw.. makasih kunjungannya ya,

    BalasHapus
  5. disitulah tantangan bagi seorang guru sist ;) bagaimana mengemban amanat berat tuk membuat murid2nya menjadi lebih baik :)

    BalasHapus
  6. @eka : sekolah dan lingkungan kebanyakan mengejar nilai tinggi, pujian, hingga harus mengorbankan nilai2 kejujuran itu sendiri

    @h. sukma : keep on fighting bu guru...

    @aulawi : hehe mudah2n saja masih banyak guru2 mulia yang tidak luntur oleh sistem, tidak karam oleh tuntutan nilai kelulusan. sementara sy hanya bs "bergerilya" lewat profesi pengajar di bimbingan belajar...

    BalasHapus
  7. Aduh, bahas Un yah..

    Merinding nih, bentar lagi mau kelas 3..
    :(

    Salam satu Sprit
    "Putri JRs"

    BalasHapus
  8. Yep UN ini juga ujian buat masyarakat mbak. Praktek kecurangan di dalamnya, bagaimana perjuangan guru/sekolah agar kelulusan siswanya tinggi, kemalasan siswa. dll, bamyak yang masih harus dibenahi.

    BalasHapus
  9. salam kenal...

    jadi inget UN dulu, walaupun sudah berlalu..

    emang sekarang susah buat jujur ya...

    BalasHapus
  10. Follow Your Blog, Follow Me juga ya...

    BalasHapus
  11. Sebuah ungkapan hati yang paling dalam. Postingan yang perlu untuk direnungkan dikala usia dunia yang sudah sangat tua ini. Ungkapan yang dapat membuat kita bersedih hati. Padahal mereka adalah generasi penerus perjuangan cita-cita luhur bangsa. Bagaimana nasib bangsa ini bila banyak anak muda yang bermental seperti itu. Tentunya hal-hal yang 'minor' seperti itu dibenahi bersama akar masalahnya. Dicarikan solusi yang tepat buat mereka. Perlu 'penanaman' yang terus menerus dalam jiwa mereka 'benih-benih yang luhur'. Mereka adalah berlian hidup yang amat berharga. Trims sharingnya yang menarik dan menyentuh qalbu. Salam sukses!

    BalasHapus
  12. Salam kenal,..mampir ya ketempat aku. thank's infonya

    BalasHapus
  13. ya semoga bisa lulus semua. senin ganti muritku yang ujian. ya semoga bisa lulus 100%.

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.