Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

14/06/11

Serenada senja

Senja telah menggulung siang, merumahkan matahari dalam istirahat singkatnya. Belum ada tanda-tanda angin berhenti menari. Sedari pagi tariannya memeluk bumi, angkuh, acuh akan sumpah serapah anak-anak adam yang sedang mencangkuli hari. Tariannya dingin seperti membawa pesan tentang kemarau yang kian mendekat.

Dingin. Memang dingin sekali senja ini, bahkan secangkir dua cangkir kopi panas pun tak kuasa mengusir aliran udara dalam pori-pori kulit.

Di hadapanku belasan ekor nila masih asyik berorkestra, seakan tak peduli pada hari. beranak- pinak pada sebuah kolam kecil di belakang rumah. Nyaman sekali tampaknya, kerjaannya hanya berputar-putar, melenggak-lenggok menunggu pakan. Sementara paku-pakuan sengaja kugantung di sekelilingnya, menjuntai-juntai, sebagian hijau, sebagian lagi menguning terbakar matahari. Ada juga mawar merah yang sedang puasa berbunga, hadiah pernikahan tujuh bulan yang lalu.

Tidakkah kau dengar juga suara burung-burung senja itu kawan? Seperti ikut bertakbir bersama suara adzan. Mengabarkan malam yang segera datang berkawan gemintang.

Dan langitpun mulai bertukar warna. Tapi aku masih betah disini, memandangi air, mengintip nila-nila yang tak lelah berputar, menghirup aroma senja yang berangin. Rasanya waktu seakan berhenti, tersekat dalam dimensi paralel yang kompleks. Membaca serenada senja dengan roman-nya sendiri.

Hey, kawan, lihatlah bulan baru saja muncul dari balik randu. Malu-malu mengeja senyum di langit timur. Diameternya hampir satu lingkaran penuh, memikat, dan penuh misteri. Tak ingin melewatkan romansa nila-nila yang sepertinya hendak beranak. Kian menawan saja pendar sinarnya, berbalut purnama yang belum sempurna. Biar saja dia menunaikan tugasnya malam ini bersama awan mengabarkan cuaca.

Angin kian kencang saja menari. Makin dingin menusuk tulang. Ibarat seringai tajam musim dingin Karakoram yang bersalju. Baiknya kukhatamkan dulu cerita ini, lusa aku kembali bersama pelangi.


gambar diambil dari sini

11 komentar:

  1. hi sist, dah lama gak lihat tulisanmu yg seperti ini :)salam tuk pelangi ya :)

    BalasHapus
  2. lama gak tengok blog u..... tetep asik artikel u..
    kunjung balik ya ke blog baru ku

    BalasHapus
  3. Begitu indah bak di sorga alam jagad ini. Indonesia negeri yang penuh pesona. Keindahan alamnya yang tiada duanya. Penduduknya yang ramah dan santun. Budayanya yang tinggi. Ibu Pertiwi mengapa engkau sekarang menangis ? Apakah memikirkan anak-anakmu yang nakal, tidak rukun dan tidak menurut kata-katamu ? Senja yang kutunggu. Maha Besar kekuasaanMu.

    BalasHapus
  4. dari balik randu, aku rindu membaca postingan2 mbak rosi. Apa kabar?

    BalasHapus
  5. kayak puisi yah bahasanya...

    BalasHapus
  6. @ aulawi : hehe ya ntar saya sampaikan salamnya bang

    @ shinta : thanks kunjungannya sob, tapi situs anda banyak link dewasanya ya jadi agak gimana gitu...hehe

    @ herdoni : makasih kunjungannya pak ..

    @ ivan : alhamdulillah kabar baik bang ivan. makasih kunjungannya

    @ nuel : hehe

    BalasHapus
  7. pelangi + hujan rintik2 adalah perpaduan yang indah menurut aku :D

    BalasHapus
  8. kalau dipanjangin jadi cerpen pasti lebih keren lagi mbak
    prosa yang indah

    BalasHapus
  9. @ niee : sayangnya kala itu senja tak menyimpan pelangi

    @ ninda : hem, belum punya pasion ke cerpen soalnya hehe, thank for coming

    BalasHapus
  10. salam kenal mbk rosi...lama gak berkunjung...gimana pyk kabar

    BalasHapus
  11. Sis salam kenal tulisanya bagus....
    saya yg membaca serasa ikut merasakan :)

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.