Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

19/07/11

Dejavu Rumah Jiwa


“Apakah rumah tangga kita sudah seperti rumah jiwa yang kau impikan?”, begitu tanyamu.

Pertanyaan yang sulit.. atau jawabannya yang sulit ?

Kita memang baru berlayar beberapa purnama, namun jika parameter kebahagiaan itu diukur dari seberapa banyak materi yang dipunyai, rumah mewah yang dimiliki, BMW yang dikendarai, atau status terhormat di masyarakat... maka betapa sulitnya mendapatkan bahagia itu.

Engkau selalu mengatakan, bahagia itu saat ini bukan nanti. Bukan ketika kita sudah memiliki ini, itu, terima dan nikmati apa yang ada, maka Tuhan akan mencukupi kita.

Mungkin sekarang aku telah tercemari akan segala filosofimu tentang hidup, tentang sesuatu yang dulu kutentang begitu frontal. Dan aku tahu kau mungkin juga terwarnai olehku, oleh sesuatu yang tak pernah diriku atau dirimu sadari apa itu.

Maka bisa kukatakan saat ini, aku bahagia denganmu.

Aku bahagia dengan kesabaranmu ketika aku marah,

Aku bahagia dengan belaianmu ketika aku letih,

Aku bahagia kau menjagaku dikala aku sakit,

Aku bahagia kita selalu punya waktu menghirup aroma kopi di depan kolam nila,

Dan aku bahagia kau mengatakan masakanku enak, meski aku tahu itu hanya caramu membuatku tersenyum.

Rumah jiwa itu akan terus kita bangun, di sini di dalam jiwa kita. Dikelilingi rerumputan hijau yang terhampar dari serbuk sari bernama kasih dan cinta. Hari demi hari, tahun demi tahun, masa demi masa.

Tak akan berhenti meski langit tukar warna,

Meski musim mulai menua.



13/07/11

It's (not) cooking time....


Dari dulu saya tidak pernah menganggap memasak adalah pekerjaan yang mudah. Ibarat proses rumit yang melibatkan segenap panca indera, memasak bagi saya butuh ketekunan, ketelitian, keuletan serta daya kreasi tingkat tinggi yang tidak bisa dilakukan sembarangan.

Tiap komposisi bumbunya haruslah seimbang, balance, proporsional, perfect. Salah takar sedikit saja bakal merusak keseluruhan citarasa masakan. Ibarat membuat gambar kubus, salah kalkulasi sudut surutnya , atau keliru menghitung perbandingan sisi frontal dan ortogonalnya, akan membuat gambar kubusnya menjadi berantakan.

Itulah mengapa sampai detik ini saya belum bisa (bahasa halusnya) menguasasi ranah permasakan. Jika disuruh memilih, tentu saya akan lebih pilih membersihkan plus merapikan seisi rumah daripada memasak. Tapi apa boleh dikata, tinggal dalam lingkup masyarakat partriaki yang mengharuskan isteri memasak buat suami membuat saya mau tidak mau harus turun ke dapur juga.

Jadilah dapur menjadi semacam laboratorium percobaan hasil masakan saya yang amatiran ini. Jangan tanya bagaimana hasilnya, amazing... semangkuk sayur asam saja rasa asam-nya bisa selangit, untuk semangkuk sup kadang gurihnya nendang ke utara kadang ke selatan...alias ngga jelas rasanya....qeqeqeq. kalo sudah seperti itu suami tercinta Cuma geleng-geleng kepala sambil bilang “rasanya benar-benar natural... “ (alias masih mentah; kurang matang; red.. hehehe...)

Beruntung suami sangat pengertian dengan “kelebihan” istrinya ini. Dan hingga bulan ke-delapan pernikahan kami , jadilah ‘aneka tumis’ menjadi menu andalan sehari-hari. Mulai dari tumis bayam, tumis kangkung, tumis tahu, tumis tempe, tumis terong, tumis wortel.... bla..bla. ini karena saya sebisa mungkin menghindari masakan berkuah apalagi yang bersantan kalo tidak ingin melihat suami bergidik mencicipi hasil karya saya.



Tidak bisa disalahkan, double pekerjaan menuntut saya lebih banyak di luar daripada di rumah untuk belajar memasak, meski alasan ini bisa jadi hanyalah pembelaan saya saja. hehe...

Mungkin karena saya tipikal orang yang simple dan praktis, kadang saya bertanya-tanya kenapa model irisan wortel untuk capjay beda dengan wortel untuk sup? Toh akhirnya juga masuk ke dalam mulut, diproses lewat mekanisme pencernaan makanan yang sama, dengan hasil akhir yang sama pula. Sampai sekarang saya benar-benar tak faham dengan bab ini.

Mungkin hanya mereka yang memahami memasak sebagai proses karya instalasi seni yang menyadari kompleksitasnya secara fanatis. Mudah-mudahan saja kelak saya bisa menjadi salah satu diantaranya... mudah-mudahan...



picture was taken from here

07/07/11

Going Home (catatan kecil REUNI)

oleh Ali WaRingin

“Kebahagiaan tidak mengenal apa yang kita miliki dan lakukan di dunia ini, karena kebahagiaan sumbernya ada di dalam diri”.

Menakjubkan!!!...itu kata yang mewakili perasaan saya saat menghadiri acara reuni kemarin. Bagaimana tidak, 14 tahun yang lalu kami masih memakai seragam, belajar, bermain dan mengasah pelajaran di sekolah itu. Kami tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi 14 tahun kemudian.

Seragam

Meski kemarin ketika hadir, semua mengenakan baju yang berbeda, namun hati kami masih sama seperti 14 tahun yang lalu, hati kami terasa masih memakai seragam itu.

Perbedaan menyatu

Saat acara di mulai hari sabtu, ketika itulah perbedaan mulai nampak, ada perasaan aneh muncul di hati, ketika sebagian orang mulai berbicara tentang status, pekerjaan, tingkat pendidikan, negara mana saja yang sudah pernah dikunjungi, dll. Perasaan yang muncul antara senang, kagum, inferior, superior bercampur menjadi satu dalam ruangan itu.

Pasti berlalu

Apa yang terjadi dalam reuni kemarin mengajarkan kami bahwa semua pasti akan berlalu dan sedang berlalu. Terjadinya sesuatu selalu di ikuti oleh perubahan. Dan karena perubahan itulah maka sesuatu itu ada. Jadi kami di ajarkan untuk tidak melekatkan diri pada apapun, termasuk pada apa yang sudah kami dapatkan dan apa yang sudah kami berikan.



Tarikan masa depan

Seperti makhluk hidup lainnya, dalam tiap diri ada tarikan masa depan, yang tidak terbantahkan. Seperti yang terlihat dalam diri para angkatan senior dan teman-teman, mereka telah membuktikan bahwa kita tidak perlu mencemaskan masa depan, karena masa depan itu pasti, sepasti apa yang kita pikirkan. Jika pikiran kita jernih dan perasaan kita bersih, maka masa depan akan seperti yang kita pikirkan. Mirip dengan bunga mawar yang dengan sendirinya tumbuh sesuai taqdirnya, ia tidak akan berubah menjadi bunga yang lain. Karena ketiadaan kecemasan, kekhawatiran, baik tentang masa lalu, masa depan atau apa yang terjadi saat ini, maka bunga mawar tetaplah tumbuh menjadi bunga mawar, bukan bunga yang lain. Seperti analogi mawar, kami juga telah mengalami hal yang sama. Mereka yang menyukai dunia pendidikan kemudian menjadi dosen, guru dll. mereka yang melihat masa depannya ada di dunia politik; akhirnya bergelut di partai , KPU, bahkan ada yang ingin menjadi walikota, yang menyukai perdagangan mereka berdagang dll. Dengan hanya mengikuti kecenderungan apa yang kita gemari dan sukai, kita akan menjadi apa yang selalu kita pikirkan. Tapi kita bukanlah seperti apa yang kita pikirkan terhadap apapun yang kita lakukan dan kita miliki .

Kembali yang tidak bisa di cegah

Pertemuan-perpisahan, berpisah-bertemu, itulah isi dari cerita pikiran kita, seperti juga pikiran yang datang dan pergi, kita juga datang dan pergi, bertemu dan berpisah. Senang dan sedih hal yang biasa dalam hidup, yang tidak biasa adalah kita tidak terserap oleh apa yang terjadi. Karena kita tidak seperti yang kita kira, maka tidak ada manusia yang bersedih ataupun menangis terlalu lama.

Mati sebelum mati.

Kami telah di ajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lain. Namun merasa sebagai manusia yang bermanfaat juga menunjukkan ketidakbaikkan kita. Kita telah mengambil pelajaran bahwa semua yang ada, yang belum ada, atau yang kita agungkan mau tidak mau terus berlalu. Seperti halnya asrama yang kita tempati dulu, kini juga telah beralih fungsi. Mungkin yang harus kita kembangkan adalah mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa memiliki apapun yang ada di dunia ini. Berharap bahwa hidup akan membawakan keabadian dalam setiap bentuk seperti melawan hukum alam yang sedang berlaku. Saat kami melihat data bahwa ada teman kami yang sudah tiada, ini menunjukkan bahwa ada kelahiran dan kematian. kita sangat bersyukur karena kalahiran dan kematian itulah yang memungkinkan kita berada dalam serba kemungkinan. Apa yang nampak terbatas menjadi tidak terbatas dan tanpa batas. Dengan menyingkirkan pandangan terbatas kita, rasa terikat dan memiliki sudah tidak ada. Kecemasan akan kematian juga sudah tidak ada, karena kita mengetahui bahwa kita bukanlah seperti yang kita pikirkan.

Apa yang belum atau sudah kami berikan pada hidup ?

Jadi apa yang belum kita berikan?... mungkin pertanyaan besarnya bukan pada apa yang belum kita berikan, tapi lebih pada apa yang belum kita syukuri, karena hidup selalu memberikan apapun pada kita, hidup juga tidak meminta kita untuk memberikan apa yang kita miliki, namun hidup hanya minta kita mensyukuri apa yang sudah kita alami, karena sebenarnya tidak ada yang dimiliki dan memiliki.

Mengizinkan.

Reuni kemarin telah mengajarkan kita untuk bisa melepaskan identitas kita, melepaskan semua, serta melebur menjadi satu, sama seperti saat kita masih sekolah di tempat itu dulu.

Jika semua yang ada sedang terus berubah dan berlalu, maka tugas kita hanya mengizinkan. Tidak ada lagi rasa keakuan; aku yang pekerjaannya A, aku yang lulusan universitas B, aku yang sudah mengunjungi negara C, dll, bukan lagi aku yang sudah bisa mempunyai mobil A, ataupun pejalan kaki, sudah tidak ada lagi aku yang superior atau inferior. Sudah tidak terikatnya diri kita akan hal-hal yang semuanya sementara berarti mengizinkan semua terus berlalu bukan mencegahnya atau menolaknya, karena kebahagiaan di dapatkan dari mengizinkan semua berlalu. Sebaliknya ketidakmampuan kita untuk mengizinkan, akan mendatangkan penderitaan. Saat kita melepaskan “mengizinkan” sebenarnya kita telah mati. Mati dari rasa kepemilikan bentuk, dan keakuan yang semu dan sementara.

Dengan mematikan ego, berarti kita sebenarnya telah hidup dan benar-benar sedang hidup. tidak ada lagi rasa keterpisahan dan kesendirian, kita sudah kembali (GOING HOME) sebelum bentuk-bentuk kita kembali. Kita telah menyatu sebelum bentuk-bentuk yang ada hancur dan menyatu lewat kematian.

Kosongkanlah dirimu dari segalanya

Biarlah pikiranmu damai

Puluhan ribu hal silih berganti

Sementara Diri mengamati mereka kembali.

Mereka tumbuh berkembang lalu kembali kepada sumbernya.

Kembali kepada sumbernya dengan tenang. Itulah jalan alam.

-LAO-TZU