Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

19/07/11

Dejavu Rumah Jiwa


“Apakah rumah tangga kita sudah seperti rumah jiwa yang kau impikan?”, begitu tanyamu.

Pertanyaan yang sulit.. atau jawabannya yang sulit ?

Kita memang baru berlayar beberapa purnama, namun jika parameter kebahagiaan itu diukur dari seberapa banyak materi yang dipunyai, rumah mewah yang dimiliki, BMW yang dikendarai, atau status terhormat di masyarakat... maka betapa sulitnya mendapatkan bahagia itu.

Engkau selalu mengatakan, bahagia itu saat ini bukan nanti. Bukan ketika kita sudah memiliki ini, itu, terima dan nikmati apa yang ada, maka Tuhan akan mencukupi kita.

Mungkin sekarang aku telah tercemari akan segala filosofimu tentang hidup, tentang sesuatu yang dulu kutentang begitu frontal. Dan aku tahu kau mungkin juga terwarnai olehku, oleh sesuatu yang tak pernah diriku atau dirimu sadari apa itu.

Maka bisa kukatakan saat ini, aku bahagia denganmu.

Aku bahagia dengan kesabaranmu ketika aku marah,

Aku bahagia dengan belaianmu ketika aku letih,

Aku bahagia kau menjagaku dikala aku sakit,

Aku bahagia kita selalu punya waktu menghirup aroma kopi di depan kolam nila,

Dan aku bahagia kau mengatakan masakanku enak, meski aku tahu itu hanya caramu membuatku tersenyum.

Rumah jiwa itu akan terus kita bangun, di sini di dalam jiwa kita. Dikelilingi rerumputan hijau yang terhampar dari serbuk sari bernama kasih dan cinta. Hari demi hari, tahun demi tahun, masa demi masa.

Tak akan berhenti meski langit tukar warna,

Meski musim mulai menua.



25 komentar:

  1. setiap orang punya parameter yang berbeda untuk mengukur kebahagian dan juga tak semua orang bisa menerima "Terima dan nikmati yang ada, maka Tuhan akan mencukupi kita".

    Rumah jiwa dibangun bersama-sama, dan bersama-sama juga menjaga tiang2nya agar tak runtuh. Namun jika salah satu melemah atau malah merusak tiang2 yang terbangun...tak akan ada lagi jiwa disana.

    BalasHapus
  2. membangun rumah jiwa, tak mudah memang, apalagi kalau tolak ukurnya pada materi, tapi sesulit apapun musti diperjuangkan... dalam kedalaman rasa syukur, mengarungi perahu sampai ke muara..

    BalasHapus
  3. dmanapun rumahna yg penting kenangan yg pernah dirasakan

    BalasHapus
  4. rumah jiwa hmmmm, dalem banget tuh maknanya

    BalasHapus
  5. semoga selalu menjadi keluarga yang harmonis bersama rumah jiwa,, hihihi

    BalasHapus
  6. Alangkah 'bahagianya' bila kita dapat memiliki dan tinggal di villa seperti ilustrasi diatas. Walau konon bahagia itu tempatnya ada di lubuk hati kita yang paling dalam. Salam blogger. Sukses selalu.

    BalasHapus
  7. Dan dari sini saya bisa mengatakan bahwa saya bahagia dg apa yg saya miliki sekarang.terimakasih Tuhan

    BalasHapus
  8. Hidup adalah belajar, belajar menjadi lebih baik, kadang rumah jiwa kita tidak selamanya indah, kadang tergoncang, dan itulah seninya hidup untuk bisa mempertahankan rumah jiwa.

    BalasHapus
  9. untuk menjadi rumah tangga yg sakinah mawaddah warohmah, tentu materi bukan satu2nya ukuran menjadi keluarga yg bahagia. Kuncinya tetaplah bersyukur kpd Tuhan apa yg kita miliki baik kurang apalagi lebih. Salam blogger bekasi.

    BalasHapus
  10. bahagia itu terletak di lubuk jiwa, tidak bisa di ukur :)

    BalasHapus
  11. kebahagiaan bukan dari apa yang kita miliki, bukan dari yang di depan kita, ato yang di belakang kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Kebahagiaan bukan kita cari, melainkan kita ciptakan sendiri, dari dalam hati.

    BalasHapus
  12. ukuran yang kurang pas jika kebahagiaan itu kita ukur dengan materi dan apa yang kita korbankan merupakan sebuah kebahagiaan bagi yang menerima.dalam sebuah rumah kebersamaan itulah yang menjadikan sebuah kebahagiaan.salam .

    BalasHapus
  13. wow! so nice

    *opsss.. kok kayak iklan :)*

    BalasHapus
  14. setuju aja deh sama komen temen-temen kita itu hidup memang mencari 2 kebahagiaan
    1. kebahagiaan dunia
    2. kebahagiaan akhiret
    so kalau udah dapat dua-duanya otomatis kita akan menjadi orang yang paling bahagia
    Mampir ke blog ku ya.... Prekdut : selamat menunaikan ibadah puasa ya.

    BalasHapus
  15. entah kenapa baca tulisannya mbak rosi ini aku jadi inget mas aulawi
    ada hubungannya ngga yaa hehe :P

    BalasHapus
  16. Mungkin memang benar bahagia itu ada di dalam pikiran, batin atau jiwa kita. Sebab saya dulu waktu rajin puasa sunah n dzikir hati ini terasa selalu bahagia. Saya sendiri ingin merasa hal seperti itu lagi. Ya bahagia itu sekarang bukan nanti.

    BalasHapus
  17. Aku langsung ingat lagu iki

    Saat aku lanjut usia
    Saat ragaku terasa tua
    tetaplah kau slalu di sini
    Menemani aku bernyanyi

    Saat rambutku mulai rontok
    Yakinlah ku tetap setia
    Memijit pundakmu
    hingga kau tertidur pulas

    Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
    Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
    Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
    Saat kaki tlah lemah kita saling menopang

    hingga nanti di suatu pagi
    salah satu dari kita mati
    sampai jumpa di kehidupan yang lain

    Saat perutku mulai buncit
    Yakinlah ku tetap terseksi
    tetaplah kau slalu menanti...
    Temani aku di malam hari


    Selamat melanjutkan pelayaran ukh...
    aku masih didermaga..

    BalasHapus
  18. all temans : trimakasi komennya ;D
    ninda : hehe... emang bang aulawi aja yg boleh punya kata dejavu. dejavu rumah jiwa dlm tulisan ini, maksudnya sy sedang ingin flashback ke tulisan rumah jiwa beberapa bulan lalu, trus sy refleksikan dg kehidupan saat ini ... btw thanks uda mmapir

    m. dadan : So, tak perlu kita mencarinya terlalu jauh ya mas...

    tiwi : yups... sheila on 7.. like it much

    BalasHapus
  19. Aduh.. aduh.. indah sekali tulisannya. Rumah jiwa yang menentramkan karena penuh kasih dan sayang ya mbak...

    BalasHapus
  20. semoga keluarganya selalu bahagia sejahtera ya :)

    BalasHapus
  21. subhanalloh, sebuah gambaran yang sagat ideal dan indah memaknai kehidupan rumah tangga. karena jika unsur-unsur nurani terbangun dengan indah maka disitulah harta keluarga yang tak ternilai yang Insya Alloh menjadi penompang pondasi kehidupan rumah tangga menuju sakina mawaddah warrohmah

    BalasHapus
  22. mbak rosy,
    aku bingung mo bilang apa... baiknya, kapan2 kita ngopi yuk? saya paham banget apa yang kamu rasakan (soalnya aku pernah merasakannya juga). semoga kita bisa melewati masa suka duka bersama suami dan anak-anak tercinta, ya...

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.