Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

13/07/11

It's (not) cooking time....


Dari dulu saya tidak pernah menganggap memasak adalah pekerjaan yang mudah. Ibarat proses rumit yang melibatkan segenap panca indera, memasak bagi saya butuh ketekunan, ketelitian, keuletan serta daya kreasi tingkat tinggi yang tidak bisa dilakukan sembarangan.

Tiap komposisi bumbunya haruslah seimbang, balance, proporsional, perfect. Salah takar sedikit saja bakal merusak keseluruhan citarasa masakan. Ibarat membuat gambar kubus, salah kalkulasi sudut surutnya , atau keliru menghitung perbandingan sisi frontal dan ortogonalnya, akan membuat gambar kubusnya menjadi berantakan.

Itulah mengapa sampai detik ini saya belum bisa (bahasa halusnya) menguasasi ranah permasakan. Jika disuruh memilih, tentu saya akan lebih pilih membersihkan plus merapikan seisi rumah daripada memasak. Tapi apa boleh dikata, tinggal dalam lingkup masyarakat partriaki yang mengharuskan isteri memasak buat suami membuat saya mau tidak mau harus turun ke dapur juga.

Jadilah dapur menjadi semacam laboratorium percobaan hasil masakan saya yang amatiran ini. Jangan tanya bagaimana hasilnya, amazing... semangkuk sayur asam saja rasa asam-nya bisa selangit, untuk semangkuk sup kadang gurihnya nendang ke utara kadang ke selatan...alias ngga jelas rasanya....qeqeqeq. kalo sudah seperti itu suami tercinta Cuma geleng-geleng kepala sambil bilang “rasanya benar-benar natural... “ (alias masih mentah; kurang matang; red.. hehehe...)

Beruntung suami sangat pengertian dengan “kelebihan” istrinya ini. Dan hingga bulan ke-delapan pernikahan kami , jadilah ‘aneka tumis’ menjadi menu andalan sehari-hari. Mulai dari tumis bayam, tumis kangkung, tumis tahu, tumis tempe, tumis terong, tumis wortel.... bla..bla. ini karena saya sebisa mungkin menghindari masakan berkuah apalagi yang bersantan kalo tidak ingin melihat suami bergidik mencicipi hasil karya saya.



Tidak bisa disalahkan, double pekerjaan menuntut saya lebih banyak di luar daripada di rumah untuk belajar memasak, meski alasan ini bisa jadi hanyalah pembelaan saya saja. hehe...

Mungkin karena saya tipikal orang yang simple dan praktis, kadang saya bertanya-tanya kenapa model irisan wortel untuk capjay beda dengan wortel untuk sup? Toh akhirnya juga masuk ke dalam mulut, diproses lewat mekanisme pencernaan makanan yang sama, dengan hasil akhir yang sama pula. Sampai sekarang saya benar-benar tak faham dengan bab ini.

Mungkin hanya mereka yang memahami memasak sebagai proses karya instalasi seni yang menyadari kompleksitasnya secara fanatis. Mudah-mudahan saja kelak saya bisa menjadi salah satu diantaranya... mudah-mudahan...



picture was taken from here

13 komentar:

  1. ndak papa\Jeng ndak bs masak kuah.... yg pntng ada makanan di meja ketika suami laper, masakan apapun bolehlah.... di meja ketika suami laper, masakan apapun bolehlah....

    BalasHapus
  2. Tampaknya memasak butuh 'keahlian' juga disamping ada unsur hobby (memasak). Kita pikir dengan membaca resep masakan yang banyak tersebar di berbagai majalah dan internet, maka 'bereslah' sudah. Ternyata tidak semudah itu. Tentu masakan yang disajikan dan dimasak oleh orang yang disayangi berbeda dengan masakan restoran misalnya. Perhatian dan hasil masakan itu mempunyai nilai plus. Namun dengan berjalannya waktu dan terus mencoba dan mencoba 'berkreasi', tentunya lama-lama akan jadi 'koki' yang handal. Salam blogger. Sukses selalu.

    BalasHapus
  3. irisan wortel berbeda krn liat brp bnyk air yg digunakan utk memasak. sop akan cendeung lebih tebal drpd cap jay ato wortel oseng2. krn sop butuh lbh banyak air, kl cap jay or oseng kan dikit airnya. wortel punya tekstur sedang, kl dia tipis trs direbus terlalu lama jg ga bagus, hancur jadinya, nutrisinya jg ilang...Kalo rasa itu butuh latihan dan jam terbang masak ukh...gt kata org2 tua. jadi menurut q rumusnya adh semakin sering kita masak maka akan berbanding lurus dengan rasa masakan yang akan didapat...tapi kata temen q (entah bener ato enggak) rasa masakan jg bhub dengan hormon dan mood, tp sampai skrg blm jd tesis yg paripurna...

    BalasHapus
  4. salm kenal semoga dapurnya tetep tetep mengepul dan ter cipta inofasi inofasi masakan baru he he

    BalasHapus
  5. Mungkin mamasak sperti juga bermusik atau menyanyi yang perlu latihan dan penghayatan. Tapi saya yakin kamu juaga bisa lama kelamaan.
    Btw, maaf lama gak nongol abis kemarin gak ada kompi n modem. Saya juga baru mulai ngeblog lagi sekarang ini.

    BalasHapus
  6. memasak,.. saya juga ngga begitu mbak,,
    tapi kalo soal kue,,
    saya tau,,
    hahahhaha

    BalasHapus
  7. yang penting sudah mencoba mbak, memasak katanya gampang-gampang susah, apalagi kalau menuruti selera masing-masing orang yang berbeda..hehe.

    BalasHapus
  8. aku inget sayur sop anti yg d sarangan pas kemah smp...lezat kriuk2*.<

    diah

    BalasHapus
  9. Horeee... bahagia rasanya nemuin teman sealiran..wkwkwk...

    Memasak itu susah, Jeng. Susaaahhh.... Aku nyerah! Untung suamiku sabar dan subur :D

    BalasHapus
  10. Hm, senangnya bisa masak-masak. Kelihatannya yummy tuh. Kabar saya baik mba Rosi, cuma sekarang sudah jarang bw aja. Semoga baik juga ya...

    BalasHapus
  11. Hallo masih sibuk masak nih? :)

    BalasHapus
  12. memasak...gampang2 susah, tapi kata orang kalau kita sering melakukannya makan masakan kita akan menjadi enak dan pastinya bikin kita ketagihan terus ingin membuat atau mencoba yg lain.

    Karna itu banyak orang2 memilih membuk arumah makan, restoran atau toko kue..yg sebenarnya mungkin mereka itu tidak tau akan menjadi seperti itu.

    BalasHapus
  13. memasak,harusnya menjadi sesuatu yang indah bagi waktu, dan dinikmati bak sebuah karya seni.

    terima kasih

    Dea Situmorang

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.