Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

12/11/11

Pengkaderan, aspek penting membangun usaha

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam mengelola sebuah usaha adalah pengkaderan. Percayalah, saya baru saja belajar tentang ini.

Jika selama ini, usaha yang sedang anda jalani atau perusahaan yang sedang anda pimpin dapat berjalan mulus, lancar, dengan keuntungan yang melampaui break even point, yakinlah itu tidak pernah lepas dari faktor sumber daya manusia. Semakin bagus kualitas manusianya tentu semakin baik hasil kinerjanya. Maka jangan pernah meremehkan, bahkan menganggap mereka hanya “sekedar” properti perusahaan kita, sebab mereka punya loyality, akal dan hati. Kita nggak akan pernah tahu sampai tiba-tiba orang-orang yang sudah bekerja bersama kita, tiba-tiba harus resign atau vakum untuk waktu yang lama karena berbagai alasan.

Saya mengalami sendiri ketika usaha yang –dipercayakan kepada saya- tiba-tiba kehilangan beberapa pilar penyangga. Orang-orang senior yang berdiri di belakangnya sebagian cuti sementara karena hamil, melanjutkan study atau mengundurkan diri karena urusan keluarga. Usaha yang di tahun-tahun sebelumnya telah berjalan mulus, lancar, tiba-tiba sedikit goyang.

Ketika pengganti tidak disiapkan secara matang, tentu akan ada gap yang lebar, dan tentu butuh waktu buat penyesuaian visi, misi, karakter, dan penguasaan “medan”. Terlebih menghadapi konsumen yang sudah terlanjur mengkultuskan seseorang yang senior tadi dalam transaksi usaha. “kalo enggak sama si A, saya nggak mau.” Atau “Koq si B tidak seperti si A sih?”

Pasti akan ada proses membandingkan karakter dan kualitas. Dan mau tidak mau kondisi ini bakal mempengaruhi laju perusahaan. Ibarat bis yang rodanya kempis salah satu, tentu jalannya tidak akan maksimal.

Dari situ saya belajar pentingnya pengkaderan, dan fase inilah yang sedang saya jalani saat ini bersama kawan-kawan muda saya. Belajar, melihat, mendengar, mengobservasi, berinteraksi, lantas aksi. Melihat jiwa-jiwa muda itu seperti melihat ke dalam diri saya sendiri enam tahun lalu. Pagi menuntut ilmu di bangku kuliah, sore mengasah ilmu di bimbingan belajar, malam melayani privat ke rumah-rumah, dan tengah malam masih ngerjain job translate artikel. Benar-benar ngga ada kata lelah.

Ada semangat di mata-mata belia itu, ada keinginan untuk bisa, ada tantangan yang menggoda untuk ditaklukkan. Well, bukan berarti saya merasa sudah begitu tua dari mereka, hanya saja fase-fase seperti itu telah saya lalui beberapa tahun silam dan telah menempa saya sekarang.

Tiap orang itu unik. Untuk itu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi seperti si A atau si B. Yang kita bisa hanyalah membantu melejitkan potensi yang mereka punya, mereduksi kekurangan yang mungkin mengganggu, dan kita akan melihat mereka melaju dengan akselerasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Memang hasil itu tidak bisa instan. Butuh kesabaran, ketelatenan, serta supervisi yang kontinue. Dan yang tidak boleh disepelekan adalah perlakuan kita terhadap orang-orang baru, terlebih jika mereka benar-benar “fresh from the oven”. Senioritas terkadang menjadi penyakit yang memabukkan , tapi alangkah bijaknya jika gap senior-junior itu dipangkas dengan sering-sering berbagi ilmu dan pengalaman jam terbang. Saya yakin tidak ada ilmu yang akan hilang jika kita bersedia berbagi.

Dan pada akhirnya, dari semua upaya pengkaderan itu, percayalah di momen yang tepat kita akan memanen hasilnya.