Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

24/09/12

Akal VS Kebijakan



Jikalau ada yang dapat benar-benar menerima bahwa hidup itu tersusun dari partikel siang dan malam, dari senang dan sedih, dari puncak dan lembah, dari elemen kebajikan dan dosa, dari episode tawa dan tangis, maka pastilah ia termasuk manusia bijak. Mengapa disebut bijak? 

Ya, sebab orang bijak selalu dapat menyelaraskan antara apa yang dipahaminya dengan kondisi batin, lantas mengaktualisasikannya dalam keseharian. Tidak berhenti dalam taraf keilmuan atau buku-buku bacaan saja. Ia tidak memaksakan kehendak, pendapat, dan ilmunya pada suatu kondisi. Ia sadar sepenuhnya eksistensi hidup bukanlah untuk itu. Bukan untuk memaksa kehidupan menerima keilmuannya yang ia sadar betul masih terlampau dangkal. Sedangkal perbandingan antara secangkir gelas dengan air di lautan.

Menerima segala sesuatu dengan ikhlas, entah itu baik atau buruk. Tampaknya begitu mudah dibaca, begitu sering didengar, begitu gampang diucapkan. Tapi mempraktekkannya dalam keseharian? Tunggu dulu, kawan...

Seseorang bisa saja secara angkuh mengklaim dirinya sebagai manusia dengan digit kedalaman keikhlasan  yang melebihi rata-rata manusia pada umumnya hanya karena kitab-kitab yang dilahap sehari-hari mengajarkan itu semua. Tapi apakah itu sudah cukup? Tanpa realisasi dalam batin dan tingkah laku? Bukankah mencap orang lain tidak ikhlas itupun menunjukkan kedangkalan spiritual itu sendiri ?

Orang-orang yang mengedepankan akalnya akan terjebak pada orientasi mencari untung semata. Entah itu keuntungan yang bersifat pujian, materi, status, dan hegemoni penghormatan di tengah masyarakat. Segalanya dilakukan untuk meraup semua itu. Sikut menyikut, menjatuhkan manusia lain, memanipulasi kehidupan. Ketika ia tidak mendapatkan salah satu dari keinginannya, batinnya akan tersiksa, jiwanya akan menangis, perilakunya tidak lagi mencerminkan banyaknya teori-teori keikhlasan yang ia dapat sebelumnya. Ia menjadi manusia yang begitu rapuh, Ibarat ranting pepohonan di musim kering yang mudah patah.

Lantas apa yang membedakan antara orang bijak dengan orang yang hanya mengandalkan akalnya saja?  Kawan, orang yang bijak tidak menyandarkan jiwanya pada sesuatu yang disebut banyak orang sebagai keuntungan materi. Ia berfikir, bekerja, dan berupaya sebaik mungkin, tapi tujuannya adalah untuk menyumbangkan setetes ilmu dan tenaganya bagi semesta.  Ketika di tengah perjalanan ia gagal, belum mencapai target, ia tak akan patah. Ia akan tersenyum, menarik positive point of view, dan menjadikan itu semua sebagai proses belajar. Baik sebagai manusia yang makin menebarkan keharuman pribadi, maupun sebagai person yang makin kaya pengalaman keahlian.

Hidup itu tidak semata tentang meraup hasil dan keuntungan sesuai kalkulasi matematis kita. Ada nilai-nilai tak kasat mata yang bisa kita pelajari dengan mata batin yang bersih, yang harganya tak sebanding dengan hitung-hitungan laba rugi kita.

Mudah-mudahan kita bisa belajar menjadi pribadi bijak yang menyejukkan kehidupan.


30/08/12

TAK HANYA DIAM

a song by PADI


Meresap kecup hangat… sebentuk cinta
T’lah terukir di dalam jiwaku
Seperti tetes embun menyegarkan hari
Terciptakan keajaiban di hati..

Cinta bukan hanya sekedar kata
Cinta tak hanya diam

Aku yang berkelana mengarungi hidup
Mencari untaian arti, makna…
Apakah sesungguhnya balasan dari cinta
Pasti bukan harta dunia semata…

Cinta bukan hanya sekedar kata
Cinta bukan hanya pertautan hati
Cinta bukan hasrat luapan jiwa
Cinta tak hanya diam…

Jika mungkin bumi harus terguncang badai
Tapi cinta takkan mungkin hilang

Cinta bukan hanya sekedar kata
Cinta bukan hanya pertautan hati
Cinta bukan hasrat luapan jiwa
Cinta adalah cinta

22/07/12

Marhaban ya Bulan Belanja

Ya, secara lugas saya memang sengaja mencopy-paste sebuah judul opini di Jawa Pos yang di tulis Jusman Dalle (19/7/2012) beberapa hari lalu. Jujur cuma membaca judulnya saja saya langsung tergelitik. Bagaimana tidak, memasuki Ramadhan berita di koran, radio sampai teve sebagian besar infonya didominasi oleh kenaikan harga komoditi sembako di semua daerah. Mulai dari telur, daging, minyak goreng, cabai, beras, dan kawan-kawannya.

Dan lagi-lagi penyebabnya (sesuai dengan hukum ekonomi), harga naik akibat jumlah permintaan yang naik. Klisenya, ini selalu terjadi tiap tahun tiap kali bulan puasa atau momen-momen hari raya. Seakan kenaikan harga di bulan ramadhan sudah menjadi hal yang wajar dan dihalalkan. Sudah biasa.....

Saya tidak perlu mengomentari tentang lambannya pemerintah kita menangani kondisi itu dari tahun ke tahun. Karena saya yakin banyak pakar-pakar ekonomi yang telah memberikan ide-ide kreatif sebagai solusinya, dan moga-moga saja tidak sekedar berlalu begitu saja tanpa dieksekusi.

Nah, yang jadi renungan, kenapa tiap kali puasa tiba, orang-orang cenderung malah berlomba berbelanja sebanyak-banyaknya. Menimbun bahan makanan, menyetok sembako, menumpuk kaleng-kaleng kue. Tanya kenapa ?

Mengutip data BPS triwulan III 2011 yang terbit November, dalam interval waktu yang bertepatan dengan Ramadan, konsumsi rumah tangga paling tinggi. Sebagai gambaran, pada 2009, total belanja konsumen di bulan Ramadan dan sebulan sebelumnya mencapai Rp 18 triliun. Penggerak belanja konsumen di pusat-pusat perbelanjaan modern adalah makanan yang permintaannya meningkat 29 persen di supermarket dan 19 persen di minimarket daripada bulan biasa. Bahkan, pada Ramadan 2008, ketika belum terjadi krisis ekonomi global, penjualan makanan di minimarket meningkat 40 persen dan di pasar tradisional naik 19 persen”. (Seperti ditulis Jusman Dalle, Jawa Pos, opini 19/7/2012)

Angka-angka itu belum termasuk tingkat konsumsi jelang Idul Fitri yang bisa dipastikan melonjak signifikan secara statistik. Melihat kondisi itu, Istilah marhaban ya bulan belanja... tampaknya jadi tepat sekali menggantikan jargon selamat datang Ramadhan yang kian hilang maknanya. Bulan yang harusnya menjadi momen pembersihan jiwa dan raga, madrasah untuk melatih pengendalian hawa nafsu, sekarang malah berbalik menjadi momen pelampiasan nafsu berbelanja.

Bukankah bulan ini harusnya mengajari kita untuk ingat dan merasakan penderitaan kaum papa ? tapi mengapa kita malah menimbun banyak makanan buat berbuka? Padahal kalau mau jujur, segelas air dan sepiring nasi pastilah sudah mengenyangkan untuk menggantikan energi yang hilang selama puasa sehari penuh, betul tidak? Kalau saja makna Ramadhan benar-benar secara kaffah diimplementasikan, mungkin tingkat konsumsi kita harusnya malah berkurang. Gaya hidup kita menjadi lebih sederhana. Secara ekonomi, pengeluaran pun jadi lebih hemat karena porsi dan jam makan lebih sedikit. Kita pun jadi benar-benar bisa “menjiwai” lapar dan hausnya kaum dhuafa’. Kalau di bulan puasa menu makan sahur dan berbuka kita malah dibikin jadi lebih “wah” daripada biasanya, lantas apalah makna berpuasa itu sendiri ?

Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa menjadi renungan buat kita semua.

Marhaban ya bulan belanja, eh maaf..... Marhaban ya Ramadhan

30/05/12

Menyiapkan Nama Bayi

Saya tidak menyangka, “proses kreatif” menyiapkan sebuah nama buat calon bayi tercinta nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan. William Shakespeare dalam roman Romeo and Juliet, boleh saja berujar “Apalah arti sebuah nama ?”, namun bagi banyak orang nama boleh jadi representasi sebuah doa dan harapan, memperjelas trah atau garis keturunan, bahkan merefleksikan tingkat kreativitas si orang tua dalam menyusun rangkaian kata.

Ya, alasan yang terakhir ini memang murni penilaian saya pribadi karena tergelitik sekaligus terbengong-bengong dengan nama-nama anak jaman sekarang yang biasanya panjang-panjang kayak gerbong kereta (biasanya terdiri dari MINIMAL 3 kata). Bukannya apa-apa, pengalaman saya pribadi memiliki nama yang lumayan panjang kadang bikin ribet juga. Proses mengisi berbagai jenis formulir jadi lebih lama, durasi waktu mengerjakan LJK ujian juga terpangkas hanya buat membulatkan kolom nama, nama di kartu ATM juga harus disingkat (hehe, yang ini alasan nggak rasional sih).

Tapi bagi saya pribadi, nama buat calon bayi kalo bisa tak perlu panjang-panjang. Keep it simple lah, sederhana tapi penuh makna. Untungnya soal ini, si ayah tidak pernah complain karena selalu manut saja dengan beberapa usulan yang saya tawarkan. Cuma yang jadi sedikit masalah, ternyata proses kreatif membuat nama tadi harus berbenturan dengan “pesanan” si eyang atau komentar negatif dari keluarga lainnya. Yang harus beginilah, tidak boleh begitulah, fiuuuhh. Sesuatu yang mestinya simple malah jadi menguras fikiran. Padahal seperti apapun nama yang disematkan orangtua kepada anak mereka tentu adalah yang terbaik dalam pandangan si orang tua. Namun pasangan muda seringkali mendapat intervensi yang berlebihan dari berbagai pihak ketika mereka baru belajar merajut pilihannya sendiri (jujur yang ini curhat pribadi ;P).

Bicara soal nama, di masyarakat pun masih ada kepercayaan yang berkembang, kalau si anak sering sakit-sakitan atau sering tertimpa sial, atau nakalnya bukan kepalang, maka orang tua boleh mengganti nama si anak. Ya tujuannya supaya nasib atau peruntungan anak tadi berubah menjadi lebih baik. Nah, tentang ini ada cerita dari ibu mertua saya sendiri yang juga punya pengalaman mengganti nama (entah apa alasannya). Di akta kelahiran suami tertulis nama ibu mertua yang asli, sedangkan pada KTP sekarang nama ibu mertua sudah berubah menggunakan nama baru. Akhirnya perbedaan nama ini sempat bikin masalah pas kami mengurus surat-surat nikah dulu. Fiuhhh. Kalo seperti itu apa bisa kami menyampaikan dalil Shakespeare yang fenomenal itu, “Apalah arti sebuah nama, pak?”

Balik lagi ke proses menyiapkan nama buat calon buah hati, biasanya para orang tua lebih senang berburu nama dari buku arti nama buat bayi, atau kalau ada koneksi internet ya langsung surfing ke situs-situs penyedia ribuan nama bayi. Tinggal pilih pingin nama berbahasa apa, Jawa, Arab, Sunda, sampai Italia tinggal googling saja. Sebagian orangtua senang menyiapkan nama-nama berbahasa asing dengan alasan punya garis keturunan indo (Indonesia maksudnya hehe), supaya beda, biar keren, dll. Namun hati-hati karena kalau pada akhirnya malah bikin orang lain salah tulis atau salah eja, malah bakal menyulitkan bukan?

Finally, menyiapkan nama bayi memang cukup menyenangkan sih. Saya sendiri sudah menyimpan beberapa pilihan buat calon bayi kami , yah meski masih harus utak-atik lagi biar benar-benar merefleksikan harapan kami sekaligus bisa mengakomodir keinginan para eyangnya.

Four months again, insyaallah… Can’t wait to see you born, my dear love.

15/04/12

Jika surga dan neraka tak pernah ada


Tak sengaja saya memutar mp3 kolaborasi Chrisye dan Ahmad Dhani itu dari Jazzler.

“Jika surga dan neraka tak pernah ada...masihkah kau bersujud padaNya?”

Tertegun tiba-tiba batin ini mendengarnya, tersengat oleh liriknya. Jikalau memang surga dan neraka tidak ada, apa benar manusia termasuk saya masih mau menjalankan perintah-perintah Tuhan? Beribadah, mengerjakan amal shalih, menghindari dosa...

Saya tersengat. Mungkin selama ini dogma dari para ‘guru’ atau siapapun yang disematkan sebutan kyai/ustad/ulama atas dirinya begitu kuat menghujam. Dogma agar manusia mengerjakan amalan A hingga Z, karena barang siapa mengerjakannya maka mereka akan dihadiahi surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...

Sebaliknya tinggalkanlah amalan-amalan yang dilarang, karena siksa luar biasa dalam neraka akan menjadi ganjarannya. Dan memang begitulah yang tertulis dalam Kitab Suci manapun.

Di sisi lain Kita juga diajarkan untuk ikhlas. Ketika bersedekah, kita diminta tidak berharap terimakasih atau pujian. Ketika beribadah, kita dilarang pamer karena ingin dipandang shaleh semata. Niatkan karena Tuhan agar mendapat ganjaran surga.

Tapi bukankah niatan ingin mendapatkan surga juga merupakan bentuk pamrih kepada Tuhan ?

“ Tuhan, dengan ikhlas aku niat bersedekah demi Engkau. Agar Kau berikan pahala dan ganti berlipat buatku ”. Memang kita telah bersedekah sembunyi-sembunyi, tak ingin dipuji pula, tapi diam-diam kita ingin Tuhan melipatgandakan nilai sedekah kita ... masihkah ini disebut ikhlas??

Sampai-sampai buku dan kajian tentang matematika sedekah yang ditulis seorang ustad laris manis di pasaran. Ambil contoh, penghasilan kita sekian rupiah, jika disedekahkan sekian persen, maka kita akan mendapatkan 700 kali lipatnya, maka tinggal mengkalkulasi saja... hehehe rasa-rasanya koq kita perhitungan sekali ya dengan Tuhan?? Lalu setelah menunggu lama tidak kunjung mendapat balasan hasil seperti yang dirumuskan, kita mulai bertanya-tanya. Kita mulai ragu dengan janji Tuhan...

Mungkin Tuhan Maha Tahu sifat dasar manusia yang serakah dan perhitungan sampai-sampai dalam kitab disebutkan tentang ganjaran 700 kali lipat bagi yang bersedekah.

Di sekitar kita pun banyak amalan-amalan yang mengajari kita membaca bacaan tertentu (biasanya dicuplik dari Kitab Suci) sebanyak ratusan hingga ribuan kali supaya kita mendapatkan “keistimewaan”, misal bisa bertemu malaikat, atau supaya cepat kaya, dll. Manusia sepertinya penuh dengan pamrih rupanya.

Sementara itu, setiap hari kajian-kajian di televisi hanya menyajikan iming-iming surga dan betapa mengerikannya siksa neraka.

“Ustad, gimana jika saya melakukan ini... ?” demikian tanya seorang jamaah.

“Itu DOSA!!! Barangsiapa berbuat demikian akan disiksa ....anda harus BEGINI , baru anda akan selamat dan bisa masuk surga” begitu jawab si ustad.

Lagi-lagi seolah setiap tindakan kita dilandasi pamrih atas surga dan ketakutan akan neraka. Lantas dimana letak Tuhan di hati kita?

Dimana sebenarnya letak ikhlas itu??

Bagaimana jika surga dan neraka itu tak pernah ada?? Masihkah manusia mau berbuat amal kebajikan? Masihkah orang takut berbuat keburukan??

Tidak cukupkah alam semesta beserta isinya yang setiap hari menyedekahkan udara, air dan sinar matahari yang berlimpah menjadi alasan buat kita untuk berterimakasih kepada Tuhan?

Apa tidak malah kita yang seharusnya berbuat kebaikan terhadap semesta beserta isinya atas apa yang telah disediakan secara Cuma-Cuma berupa kehidupan ini??

Andai pertanyaan ini diajukan kepadamu, kawan, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sudi menyembahNya?????”




Gambar diambil dari sini

17/03/12

Mulutmu, Harimau-mu

Banyak yang mengatakan, perempuan dengan segala keistemewaannya telah dikaruniai satu hal yaitu “suka bergosip”. Betul tidak? Hehe mungkin tidak semuanya sependapat dengan silogisme saya. Entahlah, namun tiap kali segerombol perempuan berkumpul ada saja yang dibicarakan. Mulai dari menu masakan hari ini, fashion terbaru, make up, mobil tetangga, atasan yang galak sampe harga cabe di pasar, bla bla bla nggak ada habisnya. Kalau tidak terkontrol, bisa saja obrolan kemudian mengarah ke ranah pribadi yang tidak selayaknya dijadikan konsumsi publik. Yah, meskipun terkadang kita sudah kasih mukadimah, “.... tapi jangan bilang siapa-siapa ya jeng?” Toh bisa ditebak akhirnya sekabupaten akan tahu semua.

Jamak kita jumpai seseorang dipolisikan gara-gara komentarnya di media televisi menyinggung orang lain. Ada juga yang salah menulis status di facebook lantas dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Begitulah rumitnya jika sudah berurusan dengan lisan. Maka nggak salah jika ada pepatah, “mulutmu harimau mu”.

Nah, soal berbagi/ curhat hal pribadi ada baiknya kita pilih orang yang benar-benar kita percaya. Kalau bisa orang terdekat seperti saudara atau orang tua, bisa juga orang lain yang bersedia mendengar sekaligus memegang amanah. Dan ini susah-susah gampang lho.

Saya sempat tidak habis pikir kenapa sebagian teman saya sesama perempuan lebih menyatakan nyaman memilih teman prianya sebagai tempat curhat. Kata mereka sih lelaki lebih mudah dipercaya, ngga “ember”, lebih mau mendengar, lebih dewasa, lebih ngayomi, pokoknya lebih enak lah. Apa benar seperti itu? Lantas apakah kebanyakan perempuan berarti bersifat sebaliknya?

Padahal jika telah menikah perempuan adalah telinga bagi suaminya, penyejuk bagi keluarganya. Jika sang suami hendak berbagi keluh dan kesah kemana lagi kalau bukan kepada sang istri? Jika si anak hendak berceloteh tentang warna-warni dunianya, kemana pula jika bukan kepada sang bunda? Tidak miriskah kita jika mereka harus mencurhatkan urusan pribadinya pada media sosial semacam facebook?

Maka disanalah ketrampilan sekaligus kesediaan untuk mendengar dan menjaga apa yang didengar hendaknya dimiliki oleh setiap perempuan. Tanpa bermaksud menggurui, tapi intinya jangan sampai istilah (maaf) “ember” digeneralisasikan kepada semua perempuan. Setiap apa yang kita dengar, setiap apa yang kita lihat, tak harus lah kita sebarkan kepada dunia.

Kebiasaan buruk teman dekat yang tidak pantas diketahui orang lain, cukup kita saja lah yang tahu. Pun ketika secara tidak sengaja kita mendengar aib seorang ‘alim maka sebisa mungkin berita itu cukup berhenti di telinga kita. Apalagi kekurangan suami, sebisa mungkin kita tutupi. Karena bukankah membuka aib pasangan, ibarat menodai wajah kita sendiri?

Jujur saya pribadi juga sering tergoda untuk membicarakan atau menanyakan kabar-kabar negatif tentang orang lain, padahal kita sendiri pun kalau digunjingkan tentang hal yang tidak sedap tentu bakal merasa sangat tidak nyaman.

Maka saya pun akhirnya lebih memilih menulis sebagai sarana untuk mengeluarkan apa yang terlintas dalam pikiran, tersirat di dalam jiwa. Resah, gelisah, marah, kecewa. Hanya saya, pena dan kertas.

Marah kepada suami, penalah yang menjadi teman curhat saya. Galau dengan kondisi, kertaslah yang menemani keluh kesah saya. Berselisih faham dengan orang lain, lagi-lagi tulisanlah yang membantu saya melalui semua itu. Karena saya tahu mereka dapat dipercaya. Dan saya yakin, aktivitas menulis membantu kita menstrukturkan setiap pecahan masalah ke dalam susunan matriks yang jelas, nir abstrak. Kalau sudah begitu, segala masalah yang tampaknya rumit bakal lebih jelas dan terang.

Pada akhirnya menemukan seseorang yang pandai menjaga kepercayaan apalagi suatu aib memang bukanlah perkara mudah.

Mudah-mudahan kita bisa belajar untuk lebih hati-hati dalam menjaga lisan.

08/03/12

Sing Your Mind

Seringkali kita malu menjadi diri sendiri. Seringkali kita bersembunyi di balik tempurung kepercayaan diri. Tak jarang kita enggan mengungkap isi hati, terbenam, meredup, menyingkir dari tatapan orang lain.

Percayalah, kawan, diri kita terlalu berharga untuk terus berdiam diri. Ungkapkanlah, tunjukkanlah jati dirimu, kecemerlangan idemu, jangan sembunyikan... yakinlah dirimu begitu berharga dan luar biasa. just sing your mind out...


By : Sherina Munaf

many times you don’t realize the spirit within you
can spread like fire to everyone around you
don’t you wait for a second chance you gotta use the time
to see countless faces that can use a little smile

unlock your power reveal what you can really do
no more running away, today go fight your way

and sing your mind out.. sing without doubt..

let me hear your voice, i wanna hear what you say

sing your mind out....

it is time that you realize the strenght you’ve had all along
like the star shining in the sky glowing for everyone around you
don’t you wait, don’t you hesitate, you gotta use the time
to see countless faces that can use a little smile
shine your light even just for awhile

unlock your power reveal what you can really do
no more running away and today go fight your way

and sing your mind out... sing without doubt ...
let me hear your voice, i wanna hear what you say
sing your mind out

like the star shining in the sky

no more running away, today go fight your way......

just sing your mind out.....



, ancur abis!