Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

15/04/12

Jika surga dan neraka tak pernah ada


Tak sengaja saya memutar mp3 kolaborasi Chrisye dan Ahmad Dhani itu dari Jazzler.

“Jika surga dan neraka tak pernah ada...masihkah kau bersujud padaNya?”

Tertegun tiba-tiba batin ini mendengarnya, tersengat oleh liriknya. Jikalau memang surga dan neraka tidak ada, apa benar manusia termasuk saya masih mau menjalankan perintah-perintah Tuhan? Beribadah, mengerjakan amal shalih, menghindari dosa...

Saya tersengat. Mungkin selama ini dogma dari para ‘guru’ atau siapapun yang disematkan sebutan kyai/ustad/ulama atas dirinya begitu kuat menghujam. Dogma agar manusia mengerjakan amalan A hingga Z, karena barang siapa mengerjakannya maka mereka akan dihadiahi surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...

Sebaliknya tinggalkanlah amalan-amalan yang dilarang, karena siksa luar biasa dalam neraka akan menjadi ganjarannya. Dan memang begitulah yang tertulis dalam Kitab Suci manapun.

Di sisi lain Kita juga diajarkan untuk ikhlas. Ketika bersedekah, kita diminta tidak berharap terimakasih atau pujian. Ketika beribadah, kita dilarang pamer karena ingin dipandang shaleh semata. Niatkan karena Tuhan agar mendapat ganjaran surga.

Tapi bukankah niatan ingin mendapatkan surga juga merupakan bentuk pamrih kepada Tuhan ?

“ Tuhan, dengan ikhlas aku niat bersedekah demi Engkau. Agar Kau berikan pahala dan ganti berlipat buatku ”. Memang kita telah bersedekah sembunyi-sembunyi, tak ingin dipuji pula, tapi diam-diam kita ingin Tuhan melipatgandakan nilai sedekah kita ... masihkah ini disebut ikhlas??

Sampai-sampai buku dan kajian tentang matematika sedekah yang ditulis seorang ustad laris manis di pasaran. Ambil contoh, penghasilan kita sekian rupiah, jika disedekahkan sekian persen, maka kita akan mendapatkan 700 kali lipatnya, maka tinggal mengkalkulasi saja... hehehe rasa-rasanya koq kita perhitungan sekali ya dengan Tuhan?? Lalu setelah menunggu lama tidak kunjung mendapat balasan hasil seperti yang dirumuskan, kita mulai bertanya-tanya. Kita mulai ragu dengan janji Tuhan...

Mungkin Tuhan Maha Tahu sifat dasar manusia yang serakah dan perhitungan sampai-sampai dalam kitab disebutkan tentang ganjaran 700 kali lipat bagi yang bersedekah.

Di sekitar kita pun banyak amalan-amalan yang mengajari kita membaca bacaan tertentu (biasanya dicuplik dari Kitab Suci) sebanyak ratusan hingga ribuan kali supaya kita mendapatkan “keistimewaan”, misal bisa bertemu malaikat, atau supaya cepat kaya, dll. Manusia sepertinya penuh dengan pamrih rupanya.

Sementara itu, setiap hari kajian-kajian di televisi hanya menyajikan iming-iming surga dan betapa mengerikannya siksa neraka.

“Ustad, gimana jika saya melakukan ini... ?” demikian tanya seorang jamaah.

“Itu DOSA!!! Barangsiapa berbuat demikian akan disiksa ....anda harus BEGINI , baru anda akan selamat dan bisa masuk surga” begitu jawab si ustad.

Lagi-lagi seolah setiap tindakan kita dilandasi pamrih atas surga dan ketakutan akan neraka. Lantas dimana letak Tuhan di hati kita?

Dimana sebenarnya letak ikhlas itu??

Bagaimana jika surga dan neraka itu tak pernah ada?? Masihkah manusia mau berbuat amal kebajikan? Masihkah orang takut berbuat keburukan??

Tidak cukupkah alam semesta beserta isinya yang setiap hari menyedekahkan udara, air dan sinar matahari yang berlimpah menjadi alasan buat kita untuk berterimakasih kepada Tuhan?

Apa tidak malah kita yang seharusnya berbuat kebaikan terhadap semesta beserta isinya atas apa yang telah disediakan secara Cuma-Cuma berupa kehidupan ini??

Andai pertanyaan ini diajukan kepadamu, kawan, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sudi menyembahNya?????”




Gambar diambil dari sini

25 komentar:

  1. boleh koment ya...
    diberi hidup dan menghirup udara gratis ini saja sudah lebih dari cukup alasan untuk bersyukur, ibadah dan amalan agama salah satu ungkapan syukur,..pamrih minta surga dan lain sebagainya itu adalah tanda kalau manusia itu lemah..sangat lemah dan tak punya daya...
    yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa Tuhan memberikan "iming-iming" surga, mengancam dengan siksa neraka, lipatan amal kebaikan, dsb??...karena Tuhan lebih tahu sifat manusia dari manusia itu sendiri,..:)

    mohon koreksi nya kalau salah...Tema nya berat :)

    BalasHapus
  2. makasih komennya mas Eka ;p
    hehe memang sy ini siapa koq diminta mengkoreksi opininya...
    ini hny suara hati. tdk ada nilai BENAR atau SALAH seperti matematika
    Masing-masing hati mempunyai "ukurannya" sendiri

    BalasHapus
  3. heeeeeeeeemmmm...mmg c kl dipikir2, pertanyaan itu cocok banget buat manusia n mmg begitu dalam menghujam kl qt berfikir... tp menurut q Allah mmg Maha tau tabiat manusia yg sangat "materialistis" lagi pelupa, jdnya di Al Quran selalulalu disebutkan surga-neraka, azab-nikmat, kebaikan-keburukan, dan semua akibat dr perbuatan qt.. mungkin Allah berharap manusia selalu mengingat kehidupan abadi nanti, dan q pikir Allah begitu so sweet selalu mengingatkan hamba2Nya, coba kl enggak...huuuuuwaaaaaaaaaa...

    BalasHapus
  4. Ya bisa juga manusia akan bertindak sesuka hati, loncat kesana kesini, hiroukan semua masalah di muka bumi ini...liar , nakal,

    BalasHapus
  5. @ tiwi : ehem pengantin baru masih sempet OL ya;p
    mungkin memang benar dunia ini ladangnya manusia buat diuji

    @tips sehat : koq kayak lagu ya?@#$%^

    BalasHapus
  6. "ya allah anta maksuudi wa ridhokamatluubi"
    ya allah engkau tujuan ku dan ridha MU lah yang ku harapkan..

    BalasHapus
  7. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Seorang pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan,
    orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.,
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus
  8. @khaironi : ya dlm ajaran Islam sy sering mendengar kalimat itu, dan krn kepamrihan manusia hanya sedikit yg mampu mencapai tingkatan tsb

    @outbond malang : thanks kunjungannya

    BalasHapus
  9. Ketika kali pertama mendengarlirik lagu tersebut, yg terbersit di benak saya adalah " berarti ibadah dan semuanya 'tdk ikhlas' karena ada pamrih surga/takut masuk neraka. Semoga bisa memperbaiki niat diri dalam beribadah dan perbuatan2 lainnya dalam tujuan Lillahi Ta'ala.

    Salam kenal juga, salam sebagai sesama orang Jatim:)

    BalasHapus
  10. karena saya muslim dan meyakini adanya surga dan neraka, maka dalam hal ini saya gak akan mengandaikan, saya sangat yakin akan ajaran al-quran :D

    BalasHapus
  11. @ririe : trimakasih kunjungannya

    @stupid monkey : well, we know that absolutely, sob. tp yg jd pertanyaannya bisakah tiap apa yg qt kerjakan atau apa yg qt jauhi itu murni karena Tuhan? bukan pamrih surga semata? anyway thank kunjungannya

    BalasHapus
  12. wah..kalau surga dan neraka itu tidak ada..lalu untuk apa rasa syukur itu :)

    BalasHapus
  13. BlogS of Hariyanto : hehe, begitulah manusia ya, sob...

    BalasHapus
  14. thunder..Jkt
    numpang jawab ya..
    masih tetap menyembahNya tanpa ADA LG mengharapkan "pahala" karena manusia itu diciptakan oleh Allah bukan hanya untuk menyembahNya tapi dapat merasakan kebesaran ciptaaNya..kl kita beribadah kepadaNya hanya untuk mengharapkan surga berarti kita sbg manusia "pamrih" terhadap Allah..sekarang pertanyaan kembali..kl Allah pamrih terhadap manusia,apakah manusia sanggup membayarnya..???

    BalasHapus
  15. *Thunder : hemm, renungan yg lumayan dalem. boleh jadi dlm kitab suci disebutkan tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembahNya. tp apakah ini merupakan bentuk pamrih Tuhan terhadap manusia??? Sy kira sy tdk punya otoritas utk menjawabnya

    *prediksi : trimakasih,

    BalasHapus
  16. surely, i will. dengan gak adanya surga atau nerakapun, Tuhan kan tetap ada, dan aku harus tetap berterima kasih karena sudah diberi hidup :)

    BalasHapus
  17. @dunia kecil indi : like this mbak indi hehe

    BalasHapus
  18. "Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku"

    bukan untuk mendapatkan surga, ketaatan kita kepadaNya lah yang paling penting, sebagai syukur kita atas segala nikmat yang kita rasakan...jika kita sudah taat, tanpa diminta pun surga akan mengikuti kita,,,

    pertanyaan itu pernah dilontarkan seorang ateis untuk menggoyahkan iman ummat muslim...

    semoga kita tidak salah niat,,,,
    wallahu a'lam bishshawaab...

    BalasHapus
  19. sayangnya surga dan neraka itu sejatinya memang ada mbak, sbg tolok ukur amalan manusia, hamba Allah yg lemah ini...

    BalasHapus
  20. kacau lah dunia ini kalo perumpamaan itu jika benar. hahaa

    BalasHapus
  21. @mbak rosi kalau anda katakan ukuran benar dan salah tergantung pada hati masing2 orang, mbak salah besar. Ini pernyataan generalisasi yang berbahaya. Memang ada kebiasaan2 yang disatu daerah berbeda "nilai" benar salahnya. Tapi menyerahkan nilai benar salah secara general kepada masing2 hati orang salah kaprah. Sehingga tidak perlu lagi ada agama dan hukum. Karena seseorang dapat membela "kebenaran" yang dia yakini "benar" menurut ukuran hatinya. Mbak rossi muslim kan? Jika yah yakinlah bahwa nilai benar salah itu secara absolut sudah dinyatakan dalam alquran. Termasuk tujuan penciptaan manusia. Jadi janganlah ragu dengan mengatakan "boleh jadi"..... @budak maja. Saya sependapat dengan anda. Terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. anda gagal fokus, maksud mbak rosi dia itu menghimbau agar kita umat islam beribadah sebagai bentuk rasa syukur karena allah, tidak mengharapkan surga, beribadah karena allah ta'ala . . memang beda kelas dalam tingkatan iman . .antara mereka yg benar" meninggalkan segala kemewahan yg ada di bumilah yg mampu di tingkat yg mbak rosi katakan . . hanya mengharap ridho ALLAH SWT tanpa mengharap apapun. . masalah surga itu hak prerogative sang kholik . .cmiiw

      Hapus
    2. @anonim : hehe trimakasih komentarnya sahabat

      Hapus
    3. smoga kita smua makhluk yang lemah dan terbatas ilmunya ini dijauhkan dari sikap saling menghakimi dan merasa diri paling benar karena bukankah kita hanya sebutir debu di hamparan pantai semesta???? ...

      Hapus
  22. @ bapak taufik yahya : sayang sekali sepertinya bapak belum membaca benar-benar isi tulisan saya. bapak hanya mengomentari sepotong komentar2 di atas.... sungguh sayang sekali

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.