Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

22/07/12

Marhaban ya Bulan Belanja

Ya, secara lugas saya memang sengaja mencopy-paste sebuah judul opini di Jawa Pos yang di tulis Jusman Dalle (19/7/2012) beberapa hari lalu. Jujur cuma membaca judulnya saja saya langsung tergelitik. Bagaimana tidak, memasuki Ramadhan berita di koran, radio sampai teve sebagian besar infonya didominasi oleh kenaikan harga komoditi sembako di semua daerah. Mulai dari telur, daging, minyak goreng, cabai, beras, dan kawan-kawannya.

Dan lagi-lagi penyebabnya (sesuai dengan hukum ekonomi), harga naik akibat jumlah permintaan yang naik. Klisenya, ini selalu terjadi tiap tahun tiap kali bulan puasa atau momen-momen hari raya. Seakan kenaikan harga di bulan ramadhan sudah menjadi hal yang wajar dan dihalalkan. Sudah biasa.....

Saya tidak perlu mengomentari tentang lambannya pemerintah kita menangani kondisi itu dari tahun ke tahun. Karena saya yakin banyak pakar-pakar ekonomi yang telah memberikan ide-ide kreatif sebagai solusinya, dan moga-moga saja tidak sekedar berlalu begitu saja tanpa dieksekusi.

Nah, yang jadi renungan, kenapa tiap kali puasa tiba, orang-orang cenderung malah berlomba berbelanja sebanyak-banyaknya. Menimbun bahan makanan, menyetok sembako, menumpuk kaleng-kaleng kue. Tanya kenapa ?

Mengutip data BPS triwulan III 2011 yang terbit November, dalam interval waktu yang bertepatan dengan Ramadan, konsumsi rumah tangga paling tinggi. Sebagai gambaran, pada 2009, total belanja konsumen di bulan Ramadan dan sebulan sebelumnya mencapai Rp 18 triliun. Penggerak belanja konsumen di pusat-pusat perbelanjaan modern adalah makanan yang permintaannya meningkat 29 persen di supermarket dan 19 persen di minimarket daripada bulan biasa. Bahkan, pada Ramadan 2008, ketika belum terjadi krisis ekonomi global, penjualan makanan di minimarket meningkat 40 persen dan di pasar tradisional naik 19 persen”. (Seperti ditulis Jusman Dalle, Jawa Pos, opini 19/7/2012)

Angka-angka itu belum termasuk tingkat konsumsi jelang Idul Fitri yang bisa dipastikan melonjak signifikan secara statistik. Melihat kondisi itu, Istilah marhaban ya bulan belanja... tampaknya jadi tepat sekali menggantikan jargon selamat datang Ramadhan yang kian hilang maknanya. Bulan yang harusnya menjadi momen pembersihan jiwa dan raga, madrasah untuk melatih pengendalian hawa nafsu, sekarang malah berbalik menjadi momen pelampiasan nafsu berbelanja.

Bukankah bulan ini harusnya mengajari kita untuk ingat dan merasakan penderitaan kaum papa ? tapi mengapa kita malah menimbun banyak makanan buat berbuka? Padahal kalau mau jujur, segelas air dan sepiring nasi pastilah sudah mengenyangkan untuk menggantikan energi yang hilang selama puasa sehari penuh, betul tidak? Kalau saja makna Ramadhan benar-benar secara kaffah diimplementasikan, mungkin tingkat konsumsi kita harusnya malah berkurang. Gaya hidup kita menjadi lebih sederhana. Secara ekonomi, pengeluaran pun jadi lebih hemat karena porsi dan jam makan lebih sedikit. Kita pun jadi benar-benar bisa “menjiwai” lapar dan hausnya kaum dhuafa’. Kalau di bulan puasa menu makan sahur dan berbuka kita malah dibikin jadi lebih “wah” daripada biasanya, lantas apalah makna berpuasa itu sendiri ?

Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa menjadi renungan buat kita semua.

Marhaban ya bulan belanja, eh maaf..... Marhaban ya Ramadhan