Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

18/12/13

Mengkritisi Slogan Kerja, kerja, kerja

(Semoga tulisan ini tidak menimbulkan salah persepsi)

"Kerja, kerja, dan kerja", siapa yang tidak kenal motto itu? Ya, sejak diangkat menjadi dirut PLN hingga menjabat sebagai Menteri BUMN, Dahlan Iskan terus menyebarkan kata-kata tersebut ke berbagai instansi, menggema di berbagai media.

Setelah saya googling dari beberapa sumber berita, ternyata slogan tersebut bermakna seperti ini : "...untuk mencapai target keberhasilan dalam mengelola perusahaan pelat merah itu, modalnya adalah semangat kerja yang tinggi. Dimulai dengan integritas, niat yang luhur, kejujuran dan kerja keras tanpa pamrih." (antaranews.com)

Apa ada yang salah dengan maksud tersebut? Tentu saja tidak. Tidak ada yang keliru dari slogan yang mengandung tujuan mulia itu, selama ditujukan memompa semangat agar para karyawan terus menjaga ritme kerja untuk hasil maksimal.

Beberapa abad lampau Sir Isaac Newton bahkan pernah mengenalkan sebuah postulat yang sangat fenomenal  "...to every action, there’s always an equal and opposite or contrary reaction…”, dimana aksi setara dengan reaksi, yang kita kenal sebagai hukum III Newton  dalam ilmu fisika.

Intinya, jika ingin hasil 10, berarti usahanya juga harus 10. Jangan hanya mengangankan hasil 10 tapi malas-malasan. Going the extra miles... itu adalah slogan lain lagi yang semakin mengukuhkan kesaktian kalimat  kerja.. kerja... kerja. SEbuah frasa yang mengkerek semangat kita untuk push to the limit, hingga di batas kemampuan terakhir kita. Wow sungguh teramat megah... dahsyat dan keramat kedengarannya...

Kawan, kita musti mengingat bahwa design kehidupan mengandung komposisi keseimbangan di dalamnya. Termasuk juga tubuh manusia. Tubuh kita didesign bukan untuk bekerja terus menerus karena kita bukan mesin, bahkan mesin pun punya limit nya sendiri sampai masa ausnya tiba.

Anda tentu masih ingat kasus meninggalnya seorang copywriter muda Mita Diran akibat kelelahan setelah bekerja tanpa tidur selama 30 jam, dengan hanya didopping kafein. Sungguh sangat tragis. Kalo mau jujur, pasti banyak dari kita yang sering mengabaikan alarm dari tubuh. Kepala pusing, mata lelah, dada sesak, lambung perih, dll. Sebenarnya itu adalah diantara tanda-tanda bahwa tubuh meminta haknya untuk beristirahat. Jeda sejenak.

Dr. Ari F Syam, Pengamat Kesehatan, Staf Pengajar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam blognya mengatakan, secara umum waktu 24 jam sebaiknya dibagi 3, yaitu 8 jam untuk bekerja keras, 8 jam untuk bekerja ringan, dan 8 jam untuk tidur. Pada kenyataannya waktu ini bisa bergeser sesuai dengan kebutuhan. Misalnya tidur hanya 6 jam, bekerja keras 10 jam. Tetapi, jika bergesernya terlalu ekstrem, misalnya 24 jam tersebut tidak tidur bahkan 30 jam tidak tidur, pasti kondisi ini akan mengganggu keseimbangan tubuh kita.

Dari sisi spiritual, ketika kita terus memaksa diri untuk bekerja, kerja dan kerja demi mencapai target, lama-lama batin akan terasa keropos. Kosong tak berisi. Pernahkah anda mengalaminya?  Berada di tempat yang ramai, dikelilingi banyak orang, dilayani segala kebutuhan, akan tetapi jiwa terasa kosong. Terasa penat di dalam.

Kita yang terus menerus sibuk bekerja, tanpa menjaga kontak dengan fisik dan batin, ibarat butiran pasir yang terseret arus sungai yang deras. Lama-lama hilang, larut tak berbekas.

Di luar orang riuh mengatakan kesuksesan hanya bisa diraih oleh mereka yang terus bekerja keras tanpa lelah, tapi buat apa sukses dalam ukuran materi jika jiwa menderita tidak bahagia, kosong dan hampa?

Spiritualitas timur sejak lama mengajari kita untuk hening. Meluangkan waktu sejenak dalam sehari untuk berjeda dengan dunia. Hening untuk sekedar mendengar desah nafas kita, merasakan aliran udara yang melewati hidung hingga paru-paru, hening untuk sejenak merasakan kehadiran diri kita sendiri, terhubung dengan batin kita masing-masing.  Ternyata ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, batin dan fisik. Untuk menjaga agar kita tidak terlarut bersama dunia yang terus berputar, yang seolah menawarkan obat namun ternyata fatamorgana.

Pada akhirnya kunci dari semuanya adalah keseimbangan. Sebagaimana bumi pertama kali diciptakan, diramu dengan keseimbangan takaran  penciptaNya.






04/12/13

Balada Lulusan Sarjana


Komposisi Sleep Away dari Bob Acri masih mengalun di labirin telinga saya malam ini. Si kecil sudah tidur. Jarang-jarang saya masih bisa terjaga, karena biasanya kantuk sudah melahap energi saya habis-habisan setelah berjibaku dengan hari.

Saya ambil notebook dan mulai melakukan "backpacking" di dunia maya (tanpa backpack di punggung tentunya) dan menemukan ini...

“Data yang dirilis BPS baru-baru ini menyebutkan, 610 ribu dari total 7,17 juta pengangguran terbuka di Indonesia, adalah "pengangguran intelektual" atau dari kalangan lulusan universitas. Sementara itu Menteri tenaga kerja dan transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan kondisi itu bisa dikategorikan darurat SDM (sumber daya manusia), karena mereka seharusnya bisa berkarya untuk negeri” (sumber : Tribunnews)

Saya manggut-manggut membaca data-data itu dari sebuah laman di internet, sembari memikirkan orang-orang yang masuk dalam kualifikasi “berniat berkarya untuk negeri” menurut definisi pak menteri itu  tentu jumlahnya hanya sekian persen. Sisanya, adalah mereka yang bekerja demi urusan perut dan memburu status sosial.

Andai satu universitas mewisuda 1000 orang tiap tahun, lalu dikalikan dengan jumlah universitas yang ada di Indonesia, maka silahkan ambil kalkulator dan hitung sendiri berapa total lulusan yang akan bersaing memperebutkan lapangan kerja. Hasilnya sebuah perbandingan yang sama sekali tidak seimbang pastinya.

Tapi bagi anda para lulusan sarjana yang sedang mencari kerja, yang tidak ingin menyandang status demografi sebagai "pengangguran terpelajar" .... tenang saja, angka dalam kompetisi itu bisa dikurangi dengan jumlah para lulusan summa cumlaude yang telah dikontrak oleh perusahaan tertentu karena kecemerlangan otaknya selama menimba ilmu di kampus. Lalu dikurangi lagi dengan mereka-mereka yang “beruntung” karena bapaknya orang penting sehingga punya banyak koneksi untuk mempermudah si anak bekerja di perusahaan X. Faktor pengurang terakhir adalah orang-orang yang dari lahir sudah tajir melintir sehingga ketika lulus sarjana langsung diwarisi untuk mengelola dinasti perusahaan orangtuanya.

Nah, baru  sisanya adalah para fresh graduate (dan undergraduate yang sudah tidak fresh) yang berkompetisi memperebutkan lowongan kerja yang tersedia. Mengantre untuk menjadi hamba korporasi.

Secara sistem begitulah produk universitas kita. Sesuatu yang sangat mudah ditebak.  Pasca lulus, melamar kerja di perusahaan, syukur-syukur instansi pemerintah. Ada kepastian finansial, kestabilan tiap bulan, terlindung aman di dalam sistem, bekerja 8 jam dalam 5 hari, cuti 12 hari setahun, pendapatan minimal UMK, masuk tidak masuk tetap digaji, dana pensiun siap menanti. Nikmat memang. Seribu sayang, realita tidak seindah angan, kawan.

Sebenarnya ada lapangan kerja yang masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang status pendidikan yaitu membanting setir menjadi wirausaha. Tapi saya yakin jumlah golongan ini masih menjadi minoritas. Tidak banyak anak muda yang berani mencoba "jalur indie" ini dengan pengalaman yang minim serta modal cekak, sementara hasil belum tentu sesuai harapan. Namun dengan keberanian, kreativitas, semangat pantang menyerah, serta tak kenal lelah untuk belajar,  tidak ada yang mustahil. You are going to impossible...(ahaa, kalimat terakhir ini saya kutip dari seorang trader)

Inilah profesi yang memungkinkan siapa saja memperoleh pendapatan tak terbatas, dengan masa pensiun kapan saja susuai yang didinginkan. Coba anda buka majalah Forbes, lihat daftar nama orang terkaya di Indonesia bahkan dunia, mereka adalah para pengusaha, kawan.

Tapi tidak ada yang instan, karena ini bukan mie instan, apalagi kopi instan. Para pengusaha bekerja 24 jam selama 7 hari. Di Saat karyawan libur, jangan kira pemilik usaha hanya berleha-leha di rumah. Para pengusaha  terus memutar otak, bagaimana mengembangkan bisnisnya, memperbesar laba,  memperkecil kerugian, bagaimana menyejahterakan karyawannya, bagaimana memuliakan konsumennya. Menguji coba berbagai strategi, dengan memperhitungkan segala resiko yang ada. Tidak mudah kelihatannya, itulah kenapa tidak banyak anak muda yang bersedia mengambil jalur ini.

Sebenarnya,  jalan menuju kesana (baca : kesuksesan) akan menjadi ringan jika kita menikmati setiap episodenya. Jatuh, bangun, Untung, rugi. Semua itu bagian dari rangkaian puzzle yang pada akhirnya akan menjadi sebuah gambar besar, yaitu visi kita. Problem terbesar sejatinya adalah bagaimana kita pandai-pandai mengelola emosi dan terus menjaga alam bawah sadar kita tetap fokus pada visi. Kalau kita bisa menjaga itu,  menjaga pikiran terus positif terhadap apapun yang terjadi, segalanya akan terasa lebih mudah. 

Selamat mencoba!!!



Tulisan terkait : Kultus seragam,