Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

27/12/08

Penelitian Tindakan Kelas

Sejak para guru berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi sebagai bentuk bukti profesionalitas mengajar, PENELITIAN TINDAKAN KELAS atau yang lebih dikenal dengan PTK jadi makin popular aja. Sebab untuk mendapatkan kredit poin untuk sertifikasi, para guru diharuskan bikin penelitian, dan model penelitian yang dianggap paling sesuai dengan proses belajar mengajar adalah PTK ini.
Berhubung skripsi saya tahun lalu menggunakan metode PTK, dan kebetulan banyak sekali kenalan yang bertanya tentang metode ini, maka mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa membantu.
Classroom Action Research atau PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) adalah bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik terhadap kurikulum, pengembangan sekolah, peningkatan prestasi belajar, dan sebagainya (Mcniff seperti dikutip oleh Supardi 2006:102). Lebih jauh dirumuskan bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran.
PTK umumnya dilakukan dalam beberapa siklus. Beberapa ahli mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda tetapi secara garis besar ada 4 tahapan yang lazim dilalui dalam satu siklus yaitu : (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Pengamatan dan (4) Refleksi.
Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan identifikasi masalah. Setiap hari mengajar siswa, peneliti dalam hal ini guru tentu banyak menemui kasus di dalam kelas yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pemahaman konsep siswa yang lemah, cara belajar yang cenderung menghafal bukan memahami, tingkat konsentrasi yang lemah, beberapa hal ini bias diangkat menjadi variable penelitian. Selain itu pada tahapan perencanaan, peneliti juga merancang model pembelajaran apa yang akan digunakan untuk menguji variable. Saat ini banyak sekali model pembelajaran yang bisa dipilih, misal model Ketrampilan Proses, Pembelajaran Kontekstual, Pembelajaran dengan Tutor Sebaya, Mind Mapping, dan lain-lain. Tentu disiapkan pula skenario pembelajaran yang akan dilakukan beserta perangkat yang mungkin dibutuhkan untuk mendukung model pembelajaran. Instrument penelitian yang akan dipakai seperti RPP, checklist, angket untuk siswa, kamera/video dan postes hendaknya dipersiapkan sebaik mungkin.
Tahap kedua adalah pelaksanaan tindakan. Setelah merumuskan masalah dan menentukan model pembelajaran beserta skenarionya, peneliti dapat memulai pelaksanaan pengajaran sesuai skenario yang telah dibuat.
Tahap ketiga, Pengamatan. Alangkah baiknya apabila pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung (pada tahap kedua), peneliti dibantu pihak lain (guru lain) yang bertindak sebagai pengamat. Pengamat bertugas mengamati variable-variabel yang diidentifikasi dalam perumusan masalah. Untuk itu peneliti perlu membuat instrument berupa checklist yang bias diisi oleh pengamat. Hasil checklist inilah yang nantinya akan dianalisis untuk mendapatkan gambaran selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengamat juga bias mendokumentasikan jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan kamera/ video.
Tahap keempat Refleksi. Setelah kita mendapatkan hasil dari pengamatan pelaksanaan tindakan, kita akan mengolah data-data tersebut dari data kualitatif menjadi kuantitatif. Dari hasil checklist misalnya, apakah siswa antusias dengan model pembelajaran yang kita laksanakan ? berapa orang yang tampak memperhatikan dengan serius, berapa yang antusias bertanya, berapa orang yang membuat gaduh dan sebagainya. Kemudian hasil postes, dari beberapa soal yang kita teskan, berapa siswa yang tuntas, berapa yang tidak tuntas ? Semua itu dapat kita ukur dalam bentuk prosentase. Dari hasil pengolahan data, kita lakukan refleksi, apa saja yang perlu dibenahi untuk pelaksanaan PTK silklus II. Dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan perbaikan sana-sini, tentunya diharapkan hasilnya akan mengalami progress yang positive dibandingkan siklus I.
PTK biasanya dilaksanakan dalam beberapa siklus. Semakin banyak siklus semakin baik, karena tiap siklusnya harus ada perbaikan kualitas pembelajaran sehingga hasil yang diharapkan pun akan semakin meningkat prosentasenya baik dalam segi nilai siswa, tingkat keaktifan, pemahaman terhadap konsep, dll sesuai variable yang diteliti. Jangan lupa untuk mengukur hasil pengamatan tiap siklus dengan prosentase, jadi kita nantinya bisa mengetahui efektivitas model pembelajaran yang kita terapkan dalam penelitian lewat perkembangan prosentase hasil pengamatan dari tiap siklus.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.