Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

05/02/09

Kultus Seragam

Di saat krisis global memberi efek negatif terhadap pergerakan sektor ekonomi dan menyebabkan PHK jutaan karyawan di skala domestik maupun internasional, dunia pendidikan tetap menyediakan lapangan kerja yang abadi. Khususnya sektor pendidikan nonformal. Sayang sekali kebanyakan dari kita lebih memburu sesuatu yang “kasat mata”, atau terus terang saya menyebutnya “SK dan seragam”. Maklum, kultur masyarakat kita masih terjebak pada pola kuno bahwa pegawai instansi dengan seragam yang menempel di anggota badan memberi kesan prestise lebih, paling tidak di depan mereka yang bukan pegawai kantoran.
Sebagai contoh nyata adalah teman saya sendiri yang notabene produk kampus dan saya anggap punya pemikiran lebih maju satu digit dibanding yang lain. Seringkali dia menyindir saya untuk segera mencari pekerjaan. “Maaf ??....” Tentu saja saya bingung dengan maksud kata-katanya mencari pekerjaan. Dalam definisi saya, bekerja adalah ketika kita mampu menghasilkan materi dalam hal ini uang, dengan kemampuan, keahlian, kecakapan yang kita punya di suatu bidang, entah itu berupa produk barang atau jasa (dengan usaha-usaha yang halal tentunya). Dan seingat saya, sudah sejak lima tahun lalu saya melakukannya (yaitu sejak saya masih kuliah di semester 3), dengan menjadi tutor matematika anak-anak sekolah, baik sebagai tutor lepas maupun di bimbingan belajar.
Ternyata dalam bingkai pemikiran teman saya tadi, yang dia anggap bekerja adalah ketika seseorang sudah bernaung di satu instansi resmi, memakai seragam (lebih bagus lagi kalo seragam PNS), dan punya SK. Ngga peduli walaupun harus menempuh jarak puluhan kilo setiap hari dengan honor yang kadangkala hanya sebanding dengan 1 liter bensin dikali 10 tiap bulannya, yang penting uda pake seragam dan namanya tercantum dalam database pemerintah, selanjutnya tinggal nunggu pengangkatan. Itu baru namanya kerja versi teman saya. Hhmmm, Paradoks. (catatan : tentu yang saya maksud disini bukanlah beliau-beliau yang memang secara tulus mengabdikan diri untuk pendidikan di pelosok lho…)
Saya lalu membandingkan dengan kawan-kawan blogger yang hanya dengan duduk di depan computer, kadang berkantor hanya di warnet, tanpa pake atribut kebesaran bernama “seragam”, dan tidak bernaung pada instansi manapun, tetapi mampu menghasilkan ratusan dollar per bulannya. Paradoks jilid dua.
Lagi-lagi kita dihadapkan dengan stigma yang telah menjelma menjadi kultur. Sebuah pandangan kuno ala masyarakat tradisional yang mengkultuskan seragam sebagai simbol prestise keagungan.
Padahal kalo kita mau membuka paradigma kita lebih luas, lihat saja bagaimana Purdi E. Chandra mengembangkan Primagama hingga menjadi bisnis multi frenchise di lebih dari 106 kota yang menghasilkan 70 milyar per tahun. Juga Ir. Ciputra, sang begawan properti yang rela meninggalkan zona nyamannya untuk membangun bisnis real estate yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mereka memulai dari nol, dan tanpa seragam.
Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya mereka yang beranggapan bahwa kerja kantoran adalah kerja yang paling ideal bagi seorang yang bergelar sajana. Itu adalah produk berpikir yang telah mendarah daging ditanamkan keluarga, masyarakat, dan televisi.
Saya kira intinya adalah sekali lagi mengubah paradigma terhadap definisi bekerja itu sendiri. Berapa banyak para sarjana kita yang berpredikat cumlaude menganggur bertahun-tahun menunggu tes CPNS yang ngga jelas proses rekrutmennya, dan malu untuk memulai berwiraswasta. Bukankah seharusnya kaum intelektual mampu menciptakan lapangan kerja? Bukannya mencari kerja?
Sebenarnya kalo kita jeli, banyak peluang usaha yang mampu menghasilkan rupiah. Kuncinya adalah peka terhadap sekitar, kalkulasikan antara kemampuan dengan usaha yang akan dijalani, senantiasa belajar, tidak malu untuk memulai dan menghilangkan kultus terhadap seragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.