Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

16/01/09

Lelaki Subuh

Mungkin inilah hikmahnya dapat jadwal siaran pagi hari. Berangkat subuh-subuh dengan kondisi udara sekitar 15 derajat celcius, di bawah bayang-bayang halimun yang masih menyelimuti jalanan. Tapi di situlah nilai lebihnya, saya bisa melihat kehidupan lain yang tidak akan dapat saya temui ketika matahari beranjak tinggi. Suasana yang masih lengang justru menarik saya untuk mengamati gerak-gerik manusia yang saya temui di sepanjang jalan. Pedagang sayur, merekalah pihak-pihak yang menguasai jalanan di pagi buta. Dan mereka selalu diburu waktu, itulah kesan yang saya tangkap tiap kali berpapasan dengan profesi itu.
Lalu saya selalu berpapasan dengan laki-laki ini, seorang pria paruh baya yang saya perkirakan usianya seumuran dengan proklamasi kemerdekaan RI pertama kali. Rapi dan bersahaja, begitulah impression yang melekat pada tubuh ringkih itu. Dengan sehelai baju batik lengan panjang, celana kain dan sandal jepit, potongan rambut warna keputihan yang tersisir rapi ke belakang, serta tas bahu di lengan kanan. Laki-laki itu selalu berjalan kaki ke barat, satu arah mata angin dengan saya. Saya menyebutnya lelaki subuh.
Saya tidak pernah tahu sudah berapa kilo dia berjalan kaki dari rumahnya dan kemana tempat yang ia tuju. Setiap pagi tiap kali saya berpapasan dengan lelaki subuh, otak saya selalu sibuk merangkaikan kemungkinan-kemungkinan tentang pekerjaan apa yang dilakukan bapak paruh baya ini. Dimana dia tinggal ? Apakah dia memiliki anak? Apa mungkin anaknya seumuran dengan saya ? mengapa dia selalu berjalan tertunduk? Apakah dia seorang kuli di pasar besar Madiun ? Rasanya peluangnya kecil karena pakaiannya cukup rapi untuk ukuran seorang kuli pasar. Tidak mungkin juga dia pedagang sayur karena dia tak membawa barang dagangan apapun selain tas kecil di bahunya. Di sepanjang perjalanan saya mencoba mengkalkulasi berbagai probabilitas profesi yang mungkin dilakukannya.
Beberapa minggu terakhir ini saya tak melihatnya. Sudah pekan kelima, dan itu artinya satu bulan lebih saya tidak berpapasan dengan lelaki subuh itu. Entah apa yang terjadi. Saya pernah sekali melihatnya mengayuh sepeda jengki tua warna biru. Apa mungkin sekarang dia berangkat dengan naik sepeda ? saya berusaha berangkat lebih awal, tapi saya tidak juga menjumpainya. Saya coba mengurangi kecepatan dan berusaha tidak melewatkan setiap pejalan kaki yang saya lewati, tetapi nihil, dia tidak ada. Lelaki subuh seperti hilang tertelan kabut.
Siapapun dia, lelaki subuh itu telah menjadi salah satu cerita yang membingkai perjalanan pagi saya antara rumah dan studio. Dia menjadi potret tentang hidup. Potret prjuangan lelaki tua yang mengajarkan saya tentang berharganya masa muda. Dirinya ibarat cermin pribadi tangguh yang tak mau dikalahkan oleh senja. Lelaki subuh telah memberi saya pelajaran hidup meski saya tak pernah mengenalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.