Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

25/03/10

Hobi Fotografi


Seperti menulis, menekuni hobi fotografi ternyata menyenangkan. Bagi saya, ini cara lain menuai bulir-bulir makna dan rasa, karena setiap materi di jagat raya menyimpan hikmah jika kita mau menggali lebih dekat. Dan indah, kalau saja kita bersedia menggeser sudut pandang sebelumnya.

Virus inilah yang menggerayangi hasrat saya untuk terus mengasah kepekaan dari waktu ke waktu. Menajamkan insting, menangkap sudut-sudut hari yang seringkali terabaikan, lalu mengabadikannya dalam sekian ratus pixel gambar. Hehe, amatiran memang, tapi lumayan mengasyikkan.




Potret seorang tukang becak yang tertidur tentu tak pernah semenarik poster bergambar Dian sastrowardoyo yang aduhai dalam baliho iklan sabunnya. Tetapi satu bidikan gambar itu sudah cukup mewakili sosiokultur dan satire realitas kesejahteraan yang menghujam tubuh kurus seorang pejuang hidup. Dia kelelahan, maka ia tertidur. Bisa juga perutnya kosong sehingga ia lebih memilih tidur untuk melupakan demonstrasi sang usus. Dalam juring lingkaran waktu yang lebih luas, batin pun akan bertanya, lalu bagaimana jika ia pulang tanpa selembar rupiah? Bagaimana dengan si kecil yang minta jatah susu? Atau sang isteri yang menuntut dibelikan gincu? Hmmm, dari sini kita hanya diijinkan mengintervensi nasib si tukang becak sebatas dalam kotak imajinasi masing-masing, tidak lebih.




Potret “childhood” barangkali sangat biasa di mata banyak orang. Namun dalam prespektif lain, ini bisa bercerita tentang cermin masa lampau yang berbalut kepolosan sekaligus asa tentang masa depan. Lalu perjalanan itu akan mengantar kita pada kepingan kisah serupa, ketika jiwa belum lagi faham apa itu dosa, ketika bu guru menanyakan apa cita-cita kita, dan waktu belum lagi menyulam usia. Wajah-wajah innocent itu ibarat kertas putih yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi merah, biru atau abu-abu tergantung kepada siapa yang mewarnainya.




Apa saja bisa menjadi objek fotografi. Namun setiap karya bakal melahirkan rasa dan sentuhan aura yang berbeda. Sangat intim, sangat personal, bahkan egosentris. Mungkin itulah yang membuat karya lukisan seorang Van Gogh begitu diagungkan, tanpa menafikkan fakta sejarah bahwa ia pernah memotong kupingnya sendiri gara-gara mengidap penyakit gila.




Di zaman serba digital seperti sekarang, saya rasa siapapun bisa bertransformasi menjadi fotografer amatiran. Kapanpun dimanapun. Karena spontanitas adalah salah satu prinsip acuan. Kepekaan sekitar sebagai bumbu katalisator. Dan ilmu sebagai penyempurnanya.

Hmmm, tak usahlah saya berbincang banyak tentang bab ini. Lha wong saya ini Cuma tukang foto jadi-jadian. Jadi mending pamit kabur dulu sebelum ada fotografer professional baca…


Award dari sastra-radio



Award dari de javu







23 komentar:

  1. mantep ulasannya mbak,,,selamat ya awardnya..

    BalasHapus
  2. Sosiokultur dan satire realitas. Aku suka foto tukang becak itu. Hmm, ternyata mbak Rosi hobby banet fotografi ya. Mantap.

    BalasHapus
  3. aku suka foto tiga anak kecil itu :)

    BalasHapus
  4. Itu foto tukang becak yg tidur di sekitar alun2 ya mbak..?

    BalasHapus
  5. wooowwww, keterangan dari foto2nya keren... saya suka...

    BalasHapus
  6. wah, foto 3 anak kecil itu memang seperti membawa kita ke masa lalu ea... hmmmmmm, eSSip!

    BalasHapus
  7. jepretannya bagus mbak.. gimana klo profesional? tambah ciamik euy :D

    BalasHapus
  8. yang penting yang baik2 aja yg difoto

    BalasHapus
  9. oh ya ketinggalan. selamat atas awardnya ya

    BalasHapus
  10. mantab mbak...buat karya pribadi...
    selamat buat awardnya mbak...

    BalasHapus
  11. Salut ma talenta ant ukh...
    buat foto terakhit itu aq suka... buat abang becaknya jg, tp menurutku fotonya nanggung ukh..kl mo deket, deketin aja sekaliaan-biar wajahnya terlihat, kalo mo jauh bisa dibandingkan dengan keadaan sekitar mungkin...he...but it's nice pict...

    BalasHapus
  12. assalamualaikum...terima kasih ukhti...bagus

    BalasHapus
  13. assalamualaikum... wah maaf komentar saya tadi g muncul...

    terima kasih ukhti..bagus jadinya...

    BalasHapus
  14. Thank's mbak atas tulisan yg menarik ini, saya yakin yang ngebaca tulisan ini langsung nyari2 kamera digitalnya buat memfoto objek-objek yang ada di sekitar mereka :D

    Saya juga suka fotografi, tapi temen saya bilang saya ini ga waras, karena objek foto saya itu tempat sampah. Jadi tiap saya pergi ke mana aja, saya selalu fotoin tempat sampah yang ada di tempat yang saya datangi.

    Salam,

    BalasHapus
  15. wow.. keren bngt photonya, lanjutkan Mbak hobbynya

    BalasHapus
  16. wow.. keren bngt photonya, lanjutkan Mbak hobbynya

    BalasHapus
  17. Fotonya keren-keren. Salam

    BalasHapus
  18. Wah mbak ublik ini hobbynya sama dg suamiku, tp dl sewaktu mhsiswa bs dibuat sbg side job, lumayan..lanjutin ya mb hobbynya
    Eh..ada tag dirumahku..

    BalasHapus
  19. Heheheh, kayaknya kita saling men-tag nih mbak. Cuma belum konfirmasi ke mbak tempo hari.

    BalasHapus
  20. Bukan cuma fotonya, tapi narasinya saya juga "dapat".
    Big congrats ya,
    Regards.

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.