Saat Dunia Datar
Saat ini manusia bergerak sangat cepat. Berita kemarin menjadi usang, kabar dua jam lalu bisa jadi basi. Situasi kehidupan seperti terus menuntut perhatian kita. Tidak ada waktu untuk mengobservasi sesuatu, apalagi merasakan. Bahkan akhir pekan, yang tadinya dirancang untuk berhenti sejenak, istirahat, menikmati, dan terhubung – dengan hal-hal yang kita inginkan atau butuhkan – seringkali dialihfungsikan menjadi hari kerja. Ketika tubuh mulai protes, ‘mendadak’ saja Senin sudah tiba.
When you run at full tilt, you are disconnected from yourself. Itu kata psikolog yang juga blogger, Gail Brenner. Pernahkah Anda merasa disetir oleh jadwal atau kewajiban dan lalu pikiran mengambil alih kendali tubuh? Lalu kapan hati kita akan terhubung dengan diri sendiri?
Inilah salah satu alasan mengapa Anda saya ajak melambatkan ritme hidup. Untuk menemukan apa yang sebenarnya kita cari – dan mungkin sebenarnya sudah ada, tapi lalai kita rasa. Pejamkan mata, biarkan tubuh dan pikiran relaks, singkirkan dulu ponsel cerdas (yang tidak mencerdaskan) itu, dan biarkan dunia menjadi datar sementara.
Seperti saya, mungkin Anda akan berkesimpulan masih ada hari di mana kita tidak selalu harus bergegas. Gandhi sudah mengetahuinya, jauh sebelum Anda dan saya melihat dunia.
Source : Majalah Pesona
Marhaban ya Bulan Belanja
Ya, secara lugas saya memang sengaja mencopy-paste sebuah judul opini di Jawa Pos yang di tulis Jusman Dalle (19/7/2012) beberapa hari lalu. Jujur cuma membaca judulnya saja saya langsung tergelitik. Bagaimana tidak, memasuki Ramadhan berita di koran, radio sampai teve sebagian besar infonya didominasi oleh kenaikan harga komoditi sembako di semua daerah. Mulai dari telur, daging, minyak goreng, cabai, beras, dan kawan-kawannya.
Dan lagi-lagi penyebabnya (sesuai dengan hukum ekonomi), harga naik akibat jumlah permintaan yang naik. Klisenya, ini selalu terjadi tiap tahun tiap kali bulan puasa atau momen-momen hari raya. Seakan kenaikan harga di bulan ramadhan sudah menjadi hal yang wajar dan dihalalkan. Sudah biasa.....
Saya tidak perlu mengomentari tentang lambannya pemerintah kita menangani kondisi itu dari tahun ke tahun. Karena saya yakin banyak pakar-pakar ekonomi yang telah memberikan ide-ide kreatif sebagai solusinya, dan moga-moga saja tidak sekedar berlalu begitu saja tanpa dieksekusi.
Nah, yang jadi renungan, kenapa tiap kali puasa tiba, orang-orang cenderung malah berlomba berbelanja sebanyak-banyaknya. Menimbun bahan makanan, menyetok sembako, menumpuk kaleng-kaleng kue. Tanya kenapa ?
“Mengutip data BPS triwulan III 2011 yang terbit November, dalam interval waktu yang bertepatan dengan Ramadan, konsumsi rumah tangga paling tinggi. Sebagai gambaran, pada 2009, total belanja konsumen di bulan Ramadan dan sebulan sebelumnya mencapai Rp 18 triliun. Penggerak belanja konsumen di pusat-pusat perbelanjaan modern adalah makanan yang permintaannya meningkat 29 persen di supermarket dan 19 persen di minimarket daripada bulan biasa. Bahkan, pada Ramadan 2008, ketika belum terjadi krisis ekonomi global, penjualan makanan di minimarket meningkat 40 persen dan di pasar tradisional naik 19 persen”. (Seperti ditulis Jusman Dalle, Jawa Pos, opini 19/7/2012)
Angka-angka itu belum termasuk tingkat konsumsi jelang Idul Fitri yang bisa dipastikan melonjak signifikan secara statistik. Melihat kondisi itu, Istilah marhaban ya bulan belanja... tampaknya jadi tepat sekali menggantikan jargon selamat datang Ramadhan yang kian hilang maknanya. Bulan yang harusnya menjadi momen pembersihan jiwa dan raga, madrasah untuk melatih pengendalian hawa nafsu, sekarang malah berbalik menjadi momen pelampiasan nafsu berbelanja.
Bukankah bulan ini harusnya mengajari kita untuk ingat dan merasakan penderitaan kaum papa ? tapi mengapa kita malah menimbun banyak makanan buat berbuka? Padahal kalau mau jujur, segelas air dan sepiring nasi pastilah sudah mengenyangkan untuk menggantikan energi yang hilang selama puasa sehari penuh, betul tidak? Kalau saja makna Ramadhan benar-benar secara kaffah diimplementasikan, mungkin tingkat konsumsi kita harusnya malah berkurang. Gaya hidup kita menjadi lebih sederhana. Secara ekonomi, pengeluaran pun jadi lebih hemat karena porsi dan jam makan lebih sedikit. Kita pun jadi benar-benar bisa “menjiwai” lapar dan hausnya kaum dhuafa’. Kalau di bulan puasa menu makan sahur dan berbuka kita malah dibikin jadi lebih “wah” daripada biasanya, lantas apalah makna berpuasa itu sendiri ?
Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa menjadi renungan buat kita semua.
Marhaban ya bulan belanja, eh maaf..... Marhaban ya Ramadhan
Mulutmu, Harimau-mu
Banyak yang mengatakan, perempuan dengan segala keistemewaannya telah dikaruniai satu hal yaitu “suka bergosip”. Betul tidak? Hehe mungkin tidak semuanya sependapat dengan silogisme saya. Entahlah, namun tiap kali segerombol perempuan berkumpul ada saja yang dibicarakan. Mulai dari menu masakan hari ini, fashion terbaru, make up, mobil tetangga, atasan yang galak sampe harga cabe di pasar, bla bla bla nggak ada habisnya. Kalau tidak terkontrol, bisa saja obrolan kemudian mengarah ke ranah pribadi yang tidak selayaknya dijadikan konsumsi publik. Yah, meskipun terkadang kita sudah kasih mukadimah, “.... tapi jangan bilang siapa-siapa ya jeng?” Toh bisa ditebak akhirnya sekabupaten akan tahu semua.
Jamak kita jumpai seseorang dipolisikan gara-gara komentarnya di media televisi menyinggung orang lain. Ada juga yang salah menulis status di facebook lantas dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Begitulah rumitnya jika sudah berurusan dengan lisan. Maka nggak salah jika ada pepatah, “mulutmu harimau mu”.
Nah, soal berbagi/ curhat hal pribadi ada baiknya kita pilih orang yang benar-benar kita percaya. Kalau bisa orang terdekat seperti saudara atau orang tua, bisa juga orang lain yang bersedia mendengar sekaligus memegang amanah. Dan ini susah-susah gampang lho.
Saya sempat tidak habis pikir kenapa sebagian teman saya sesama perempuan lebih menyatakan nyaman memilih teman prianya sebagai tempat curhat. Kata mereka sih lelaki lebih mudah dipercaya, ngga “ember”, lebih mau mendengar, lebih dewasa, lebih ngayomi, pokoknya lebih enak lah. Apa benar seperti itu? Lantas apakah kebanyakan perempuan berarti bersifat sebaliknya?
Padahal jika telah menikah perempuan adalah telinga bagi suaminya, penyejuk bagi keluarganya. Jika sang suami hendak berbagi keluh dan kesah kemana lagi kalau bukan kepada sang istri? Jika si anak hendak berceloteh tentang warna-warni dunianya, kemana pula jika bukan kepada sang bunda? Tidak miriskah kita jika mereka harus mencurhatkan urusan pribadinya pada media sosial semacam facebook?
Maka disanalah ketrampilan sekaligus kesediaan untuk mendengar dan menjaga apa yang didengar hendaknya dimiliki oleh setiap perempuan. Tanpa bermaksud menggurui, tapi intinya jangan sampai istilah (maaf) “ember” digeneralisasikan kepada semua perempuan. Setiap apa yang kita dengar, setiap apa yang kita lihat, tak harus lah kita sebarkan kepada dunia.
Kebiasaan buruk teman dekat yang tidak pantas diketahui orang lain, cukup kita saja lah yang tahu. Pun ketika secara tidak sengaja kita mendengar aib seorang ‘alim maka sebisa mungkin berita itu cukup berhenti di telinga kita. Apalagi kekurangan suami, sebisa mungkin kita tutupi. Karena bukankah membuka aib pasangan, ibarat menodai wajah kita sendiri?
Jujur saya pribadi juga sering tergoda untuk membicarakan atau menanyakan kabar-kabar negatif tentang orang lain, padahal kita sendiri pun kalau digunjingkan tentang hal yang tidak sedap tentu bakal merasa sangat tidak nyaman.
Maka saya pun akhirnya lebih memilih menulis sebagai sarana untuk mengeluarkan apa yang terlintas dalam pikiran, tersirat di dalam jiwa. Resah, gelisah, marah, kecewa. Hanya saya, pena dan kertas.
Marah kepada suami, penalah yang menjadi teman curhat saya. Galau dengan kondisi, kertaslah yang menemani keluh kesah saya. Berselisih faham dengan orang lain, lagi-lagi tulisanlah yang membantu saya melalui semua itu. Karena saya tahu mereka dapat dipercaya. Dan saya yakin, aktivitas menulis membantu kita menstrukturkan setiap pecahan masalah ke dalam susunan matriks yang jelas, nir abstrak. Kalau sudah begitu, segala masalah yang tampaknya rumit bakal lebih jelas dan terang.
Pada akhirnya menemukan seseorang yang pandai menjaga kepercayaan apalagi suatu aib memang bukanlah perkara mudah.
Mudah-mudahan kita bisa belajar untuk lebih hati-hati dalam menjaga lisan.
Pelajaran dari Sang Keledai
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana.
4. Berilah lebih banyak.
5. Tersenyumlah.
6. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.
Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. "Apakah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !
Dikutip dari conectique.com
Serenada senja
Dingin. Memang dingin sekali senja ini, bahkan secangkir dua cangkir kopi panas pun tak kuasa mengusir aliran udara dalam pori-pori kulit.
Di hadapanku belasan ekor nila masih asyik berorkestra, seakan tak peduli pada hari. beranak- pinak pada sebuah kolam kecil di belakang rumah. Nyaman sekali tampaknya, kerjaannya hanya berputar-putar, melenggak-lenggok menunggu pakan. Sementara paku-pakuan sengaja kugantung di sekelilingnya, menjuntai-juntai, sebagian hijau, sebagian lagi menguning terbakar matahari. Ada juga mawar merah yang sedang puasa berbunga, hadiah pernikahan tujuh bulan yang lalu.
Tidakkah kau dengar juga suara burung-burung senja itu kawan? Seperti ikut bertakbir bersama suara adzan. Mengabarkan malam yang segera datang berkawan gemintang.
Dan langitpun mulai bertukar warna. Tapi aku masih betah disini, memandangi air, mengintip nila-nila yang tak lelah berputar, menghirup aroma senja yang berangin. Rasanya waktu seakan berhenti, tersekat dalam dimensi paralel yang kompleks. Membaca serenada senja dengan roman-nya sendiri.
Hey, kawan, lihatlah bulan baru saja muncul dari balik randu. Malu-malu mengeja senyum di langit timur. Diameternya hampir satu lingkaran penuh, memikat, dan penuh misteri. Tak ingin melewatkan romansa nila-nila yang sepertinya hendak beranak. Kian menawan saja pendar sinarnya, berbalut purnama yang belum sempurna. Biar saja dia menunaikan tugasnya malam ini bersama awan mengabarkan cuaca.
Angin kian kencang saja menari. Makin dingin menusuk tulang. Ibarat seringai tajam musim dingin Karakoram yang bersalju. Baiknya kukhatamkan dulu cerita ini, lusa aku kembali bersama pelangi.
gambar diambil dari sini
MENGHARGAI SEBUAH PROSES
Bumi terus merotasikan waktu. Siang, malam, merangkai lembar demi lembar sejarah anak adam dengan berjuta cerita. Ada yang singgah, ada pula yang pergi, ada yang berlalu begitu saja tanpa membekas di hati. Namun kenangan demi kenangan itulah yang mewarnai mozaik kita. Dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama.
Terkadang kita ingin waktu berputar menjejak masa lalu. Kita ingin memperbaiki keadaan, mencegah hal yang seharusnya tak dilakukan, mengerjakan apa yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Ya, sesal selalu datang di belakang...
Namun bukankah dari situ kita bisa belajar tentang hidup? Belajar menjadi bijak... belajar menjadi dewasa... belajar untuk lebih bersyukur. Karena mungkin saja tanpa sadar kita terlalu menuntut kepada Tuhan. Kita selalu mengeluh tentang apa-apa yang terjadi. Kita jarang memahami maknanya bagi jiwa, bagi hidup. Maka segala episode yang terlalui, sedih, kecewa, terluka, ataukah bahagia, semestinya bisa menjadi pelajaran buat hari esok yang menyimpan tanya.
Kemarin adalah sejarah, besok belum lagi terlewati, di sini... di detik kita bernafas, di saat inilah kita tinggal. Kita warnai Kanvas yang telah disiapkan. Menjadi merah, hijau, ungu atau kelabu kitalah pemegang kuasnya, kitalah sang Claude Monet. Hanya saja, memang setiap komposisi yang kita tuang mengandung konsekuensi. Setiap langkah dan pilihan mengandung hasil. “Setiap aksi, ada reaksi”, begitu rumusan hukum ke III Newton empat abad silam. Bahkan jauh seribu tahun sebelumnya, Quran telah mewahyukan bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berikhtiar mengubah keadaannya.
Namun tentu bukan otoritas kita menentukan bagaimana kelak design akhirnya. Tugas kita hanyalah bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, kemudian memasrahkan hasilnya pada Sang Pembuat Design Kehidupan. Pasrah dan ridha. (mudah-mudahan kita mampu melakukannya, amin)
"Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah design holistik yang sempurna. Menerima kehidupan, berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan." {Andrea Hirata diinterpretasikan dari pemikiran Harun Yahya}
Menghargai sebuah proses. Saya kira begitulah intinya. Bagaimana kita mampu menghargai detik demi detik yang kita lewati, tiap helaian nafas yang kita hembuskan, setiap pertemuan yang mengajari kita tentang kehidupan, jua setiap tetes usaha yang kita jalankan.
Hidup ini ibarat ladang. Mau ditanami apapun terserah diri kita. Mau dibiarkan kering tak tergarap juga itu urusan masing-masing. Akan tetapi ketika kita menanam dan merawat ladang itu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dengan semaksimal mungkin. Dengan benih yang terbaik, dengan pengairan yang cukup, dengan pupuk yang proporsional. Perkara nanti hasilnya berlimpah atau tidak, itu sudah di luar kewenangan kita. Ada Dzat yang lebih Kuasa menentukan perkara-Nya. Kita hanya mampu melakukan yang terbaik, ikhtiar yang maksimal, dan menikmati setiap proses itu. Kalaupun nanti hasilnya banyak ya syukur, kalaupun sedikit ya tak kecewa sebab kita telah menghargai tiap titik keringat demi merawat ladang tadi.
Sebab tujuan akhir kita bukanlah pada hasil semata. Gimana dengan anda ?
picture is taken from here
Lebaran, lalu...
Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke
Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…
Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.
Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.
Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…
picture is taken from here

