Belajar Mendengar (Sebuah De Javu Tulisan)

Kenapa judulnya De Javu Tulisan ? Sebenarnya saya pernah memposting tulisan ini tahun lalu, tapi ngga tahu kenapa pingin aja memposting ulang. yah mungkin untuk lecutan buat diri sendiri yang semakin ngga peka ini. 

Mencintai diri sindiri. Itulah fitrah kita sebagai manusia. Sadar ngga sih tiap kali kita berbicara dengan orang lain, berapa sering kita mengucapkan ‘aku’ daripada ‘kamu’. Ngga peduli apapun yang lagi dibicarakan, “Emm, Kalau aku sih….gini… gitu…”, “ Aku dulu pernah kayak gitu… anu…”, “ Kalau aku malah …..bla…bla…bla”.
Yah, bicara tentang diri sendiri emang hal yang paling menyenangkan ya ?

Saya pernah punya pengalaman curhat dengan seorang teman, karena saya pikir dia bakal kasih solusi buat saya, tapi coba tebak apa yang terjadi setelah saya cerita tentang masalah saya. …. Twwiiing…, dia malah balik menceritakan masalahnya yang menurutnya jauh lebih besar, lebih hebat, pokoknya lebih … bla..bla. benar-benar saat yang tidak tepat pikir saya. Dari situ saya kemudian lebih hati-hati kalo cari teman buat curhat, sangat sangat selektif bahkan. Coba anda bayangkan, ketika anda sedang dirundung masalah, punya suatu beban yang ingin anda keluarkan, anda ingin ada orang yang bisa memberikan masukan atau paling tidak sekedar mendengar lah. Lalu teman anda dengan tanpa berdosa malah gantian mencenceritakan perihal dirinya, perihal hidupnya… fiuuuh.

Dalam berinteraksi memang dibutuhkan suatu timbal balik. Ketika dua sahabat bertemu bisa saja saling berkisah tentang pengalaman masing-masing. Tapi ada masanya kita juga musti panda-pandai membaca situasi. Ketika ada seorang teman yang datang dengan masalah yang memberatkan punggungnya, disitulah kita ada untuk menampung keluh kesahnya, mengeringkan air matanya, give a shoulder to cry on. Menjadi tong sampah yang baik buat mereka. Disinilah kedewasaan kita dibutuhkan, dan keegoisan kita untuk sekedar mengatakan “Kalau aku … bla bla ” ditahan sebentar deh.

Sekarang coba jujur pada diri sendiri, pastinya kita bakal lebih betah ngobrol dengan orang yang antusias mendengar cerita-cerita kita, orang yang menyimak setiap detil kata yang kita ucapkan. Bahkan ketika kita mulai membual tentang kehebatan diri sendiri, dia masih tampak setia memperhatikan kita sampai tenggorokan kita kering. Bandingkan ketika berada dengan orang yang begitu banyak bicara.

Sahabat saya pernah menceritakan pengalamannya makan bareng temen-temen kerjanya. Diantara mereka ada seorang yang memang sangat ekstrovert. Selama 2 x 60 menit acara makan-makan, dan pembicaraan hanya didominasi oleh cerita-cerita si ekstrovert tentang dirinya, keluarganya, pengalamannya, apa-apa yang dia sukai, hobinya , binatang peliaraannya , bla…bla…bla… (kalo boleh saya ilustrasikan sih dari terbit matahari sampai maghrib, ngga bakal selesai … hehehe…). Dan saya bisa menebak bagaimana perasaan sahabat saya yang sangat introvert itu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran buat siapapun, terutama buat diri saya sendiri, buat menjadi pendengar yang baik.

Setiap pertemuan menjadi petualangan. Setiap orang menjadi pelajaran kehidupan. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, dan yang kesepian, semuanya penuh impian dan keraguan sama seperti kita. Dan setiap orang memiliki kisah unik kalau saja kita bersedia mendengarkan. Betapa sering kita membiarkan kesempatan itu melewati kita. Seorang gadis yang menurut kita bisaa saja, penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah kita, orang orang itu memiliki cerita sama seperti kita. Dan sama seperti kita juga, mereka memimpikan akan ada orang yang mau mendengarnya.”(Chicken Soup For The Soul)

Terjebak Biro Jodoh Internasional


Membaca biografi Ennie Van Moorsel Arif membuka mata hati saya tentang dimensi lain yang ditawarkan oleh mimpi-mimpi anak manusia yang sebagian harus berakhir .... ah, bahkan saya tak sanggup membayangkannya.

Adalah biro jodoh internasional yang telah mengenalkan Ennie dengan seorang pria warga Belanda, Gez, begitulah namanya disebut. Saat itu tahun 1986, internet belum lagi singgah merangkul tanah air. Hubungan mereka berjalan via klub penpals (semacam klub korespondensi internasional). Lewat video, Ennie melihat sosok pria itu begitu simpatik, gagah, tinggi, kekar, atletis dan gentleman. Beberapa bulan mereka berkorespondensi, berkomunikasi via telepon, serta saling berkirim hadiah, hingga suatu ketika Gez melamar Ennie menjadi istrinya. Menikah dengan seorang pria Bule bisa jadi adalah mimpi bagi sebagian wanita, dan Ennie adalah satu diantaranya. Maka tanpa banyak pertimbangan, dengan modal menjual asset kekayaan hasil usaha yang telah dibangun bertahun-tahun, Ennie terbang ke Amsterdam membawa putra kecil semata wayangnya hasil pernikahan pertamanya yang telah gagal. Merajut mimpi demi melacak jejak surga kehidupan yang selama ini ia cari. Akan tetapi semuanya menguap tak bersisa hanya sedetik setelah Ennie mendapati sosok Gez yang nyatanya benar-benar jauh berbeda dari profil yang dikenal selama ini. Sosok gentleman itu ternyata adalah makhluk pemabuk paling kasar yang terjebak dalam tubuh manusia.

Tiba di Belanda Ennie dan putranya langsung dibawa ke sebuah apartemen, ditodong dengan pistol, putranya dikunci dalam toilet hingga kelaparan dan kedinginan, disekap selama berminggu-minggu, diberi makan sisa remah-remah roti, dihajar hingga babak belur, dipaksa melayani nafsu bejat si durjana dengan membabi buta –maaf- dengan alat-alat aneh scherp en vreemde voorwerpen. Di titik ini saya tidak sanggup lagi melanjutkan berbagai penyiksaan lain yang diterima Ennie dan putranya. Perut saya rasanya seperti diaduk – aduk membayangkan semua kebejatan Gez yang ternyata adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat kronis !! Mengapa profilnya di video yang direkomendasikan biro jodoh internasional itu awalnya tampak begitu simpatik, ganteng dan lembut ?

Walau pada akhirnya Tuhan menolong Ennie untuk bisa kabur dari Gez, trauma penyiksaan berminggu-minggu itu selamanya akan melekat dalam ingatan En dan putranya hingga dewasa.

Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman hidup Ennie Van Moorsel Arif, adik kandung Pipiet Senja, salah satu penulis terbaik di tanah air. Kisahnya menjadi warning bagi sebagian dari kita yang selama ini telah dilenakan kemudahan transaksi dunia maya. Memang tidak salah kalau kita bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang hingga ujung Tierra del Fuego. Bisa saja lewat myspace atau facebook kita menemukan jodoh yang selama ini dicari. Namun perkenalan lewat chatting, facebook, friendster, myspace, biro jodoh, atau apapun namanya jangan sampai membuat kita bermimpi di siang bolong lalu hilang kewarasan untuk berpikir logis. Sebab bagaimana pun juga, kita harus tetap terjaga dan berpijak pada realita.