Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan

Aksioma Rollercoaster

Hidup itu ibarat rollercoaster. Ada kalanya kita berada di atas, tetapi di lain episode roda nasib menggelindingkan kita jauh ke titik minimum dalam kurva hidup. Stagnan.

Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. 

Perjalanan hati ini kemudian mengantar saya pada labirin kenangan bersama orang-orang yang meninggalkan jejak pelajaran hidup yang berharga. Bahkan lebih berharga dari buku mantra Hermione Granger yang super jenius. Ini tentang potongan-potongan kolase optimisme, kerja keras, serta mimpi-mimpi yang membentuk siapa diri kita seutuhnya. Serta kemana kita kan melangkahkan kemudi tujuan di esok hari. 


Saya melihat itu pada diri seorang kawan yang biasa saya panggil “kang”, karena secara kebetulan fakta penciptaan menggariskan kami lahir di hari dan tahun yang sama. Lalu secara sporadis dilemparkan oleh takdir lantas bertemu di tempat yang asing bagi kami pada awalnya. Mungkin kang tidak faham apa itu metafora. Mungkin juga dia tak faham tentang seni analogi bercerita apalagi euphoria sastra. Tapi saya tahu betul bagaimana masa-masa berat yang dulu dilakoninya sebagai bagian dari kaum marjinal, memaksanya bergelut dengan nasib yang tak bersahabat. Dia anak lelaki pertama. Tumpuan keluarga dengan kondisi orangtua yang sakit-sakitan. Saya juga tahu ketika dia harus bergadang setiap malam selepas “ngantor” demi mendapatkan tambahan rupiah. 

Saya masih hafal benar wajah ngantuk itu setiap pagi… tapi saya juga tidak lupa bahwa dia adalah seorang pejuang hidup yang tak pernah berhenti meyakini mimpi-mimpi. Dan itulah yang membuat dia mampu membangun istananya sendiri kini. Menjadi seorang dengan penghasilan tujuh hingga delapan digit setiap bulan, dengan gaya parlente setengah dipaksakan, plus perut sedikit buncit, ups……  dan bahasa Inggris yang luar biasa aduhai kacaunya. Saya rasa rollercoaster tengah membawanya pada perbukitan landai yang menenangkan sekaligus mendebarkan. Lalu secara perlahan mengantar Kang pada definisi kesuksesan dalam kacamata mimpinya selama ini. 


Terlalu picik jika saya mendefinisikan teorema kesuksesan hanya sebatas materi. Tetapi paling tidak, kang telah mengajari saya apa itu kekuatan mimpi. Bahwa kekuatan mimpi yang dikatalisator oleh kerja keras dan keuletan bisa mendorong ke mana pun sayap ini ingin mengepak. Barat atau utara, timur atau juga selatan. Seperti kata Arai, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” (Sang Pemimpi). 


Maka kisah sederhana ini pun menundukkan keangkuhan saya untuk belajar menangkap kepingan proton makna yang tersebar di penjuru semesta. Bahwa siapapun, kapan pun, bisa menjadi guru hidup tanpa legalitas akta mengajar. Selama kita peka. Selama hati ini bersedia. Selama kedua bola mata tidak tertutup kabut kesombongan. Dan selama kedua telinga tak tersumbat nada-nada kepongahan.


Seperti Bintang

















Tawadlu'lah,
Engkau akan seperti bintang,
Bersinar di atas permukaan air, meski ia berada di langit yang tinggi
Jangan engkau seperti asap
ia terbang tinggi menuju angkasa
padahal hakikatnya ia tak berharga.


(dikutip dari buku "Tawadlu" karya Khozin Abu Faqih)

Filosofi Fibonacci



Adalah mustahil bila hidup dianalogikan seperti deret geometri yang memiliki rasio keteraturan tetap. 2, 4, 8, 16, kemudian 32 , dst. Artinya setiap apa yang akan terjadi kelak bisa dikalkulasi secara sempurna tanpa meleset sedikitpun. Sungguh tidak mungkin, kecuali hanya dalam bingkai imajinasi kita yang tak terbatas. 



Saya bisa saja membangun imajinasi tentang hidup saya yang sempurna, dengan mengkalibrasi ikhtiar secara maksimal. Tapi menurut garis kalam-Nya, kita dihadapkan pada kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan. Melenceng jauh dari prediksi awal. Maka di situlah eksistensi ketawakalan diperlukan.

Bagi saya pribadi, hidup lebih identik dengan rangkaian angka Fibonacci. Misterius dan tak terprediksi hingga di saat-saat akhir. 2, 4, 6, 10, 16, 26, dst. Deret Fibonacci sebenarnya memang mempunyai formula yang bisa dicari, sehingga membentuk sebuah keteraturan. Misterius disini maksud saya, bahwa dalam perjalanannya, ternyata para ilmuwan dapat menemukan keteraturan2 lain dalam semesta yang sejalan dengan formula Fibonacci

Kerennya lagi, deret yang dikembangkan oleh Pak Fibonacci ini kemudian menjadi dasar sebuah pola perhitungan modern chaos theory. Chaos Theory sendiri adalah sebuah cabang ilmu matematika dan juga fisika yang membahas sebuah pola pergerakan yang acak namun beraturan. Acak karena tidak pernah menempati titik koordinat yang sama setiap kali bergerak. Beraturan karena selalu pada arah yang sama. Contohnya adalah pergerakan sayap pada kupu-kupu. Meskipun tidak beraturan, pergerakan sayap kupu-kupu selalu sama dari waktu ke waktu yaitu naik dan turun meskipun tidak pernah menempati titik yang sama setiap kali bergerak. (Running Pig - Fibonacci Retracement).

Jika kita membagi Un dengan Un-1, maka akan diperoleh rasio emas (golden ratio) yang ternyata memiliki keseimbangan sama dengan sejumlah fenomena di alam semesta. Golden ratio bisa kita jumpai sebagai pendekatan paling ideal dengan perbandingan ukuran bagian tubuh manusia rata-rata. Inilah yang banyak dijadikan dasar acuan para seniman dalam menciptakan karya arsitektur mereka. Cangkang-cangkang kebanyakan moluska yang tumbuh mengikuti bentuk spiral logaritmik , susunan spiral pada bunga matahari dan buah pinus, hingga lukisan Monalisa karya Da Vinci, kesemuanya mempunyai pola kesesuaian dengan golden ratio. (Harun Yahya, "Keindahan yang diciptakan di alam : Rasio Emas").

Bukan mustahil ke depannya masih banyak rahasia-rahasia semesta yang bakal terungkap dengan angka-angka Fibonacci ....
Dalam kerangka nafas manusia, setiap jengkal episode yang dilalui seringkali adalah konsekuensi dari pilihan sebelumnya. Dan sangat mungkin bahwa apa yang kita terima jauh berbeda dengan milik orang lain, karena kapasitas ikhtiar dan garis hidup berlainan. begitulah misteriusnya hidup. 

Saya sadar sepenuhnya jalan titian itu panjang dan berliku, sarat keluputan dan kekhilafan. Seperti yang pernah ditulis Om Andrea Hirata, Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna.

Maka sebagai manusia biasa, di ujung Ramadhan yang biru ini, izinkan saya memohon maaf kepada kawan semuanya. Atas kealpaan diri, atas tulisan-tulisan yang tak berkenan di hati. Mudah-mudahan kepergian Ramadhan meninggalkan jejak ketawakalan mendaki belantara kehidupan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Maaf lahir batin.



Salam Hormatku



Sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat blogger yang luar biasa, izinkan saya untuk memajang award dari mereka.


Here it is, award cantik dari sahabat blogger dengan label “Hottest Female Blogger Award”, am I ?





Ngga nyangka, but anyway trimakasih buat Mbak Reni, Mbak Elly and Mbak Rachel (yang telah menghadiahkan award yang sama buat si blogger kacangan ini. Maaf juga kalo ngga bisa up date and berkunjung secara teratur. Maklum maksud hati pingin pasang spidi sendiri, tapi apa daya tingkat finansial belum nyampe hihi. Yah, jadilah warnet depan rumah menjadi saksi bisu aktivitas ngeblog selama ini ;-p. But we have to keep spirit, right ? (Yuuu huuu….)

Dan ini dia aturan mainnya :

1. Banner award tidak boleh diubah baik tulisan, warna dan signaturenya, kalo di-resize gambar boleh.

2. Tuliskan siapa yang ngasi award dan url nya trus url nya harus di-hyperlink ke bannernya yaa… supaya yang ngasih dapet backlink dari website kamu. Award cantik ini sekali lagi saya dapatkan dari THE OTHERS (30 September 2009), NEWSOUL (4 September 2009), dan PERNIK PEREMPUAN (September, tanggalnya ngga ada hehe).

3. Pilih 10 orang female blogger yang kamu kenal dan belum nerima award ini, dan sebutkan alasan kenapa kamu pikir dia layak dapetin award ini. 
Ya ampun, setelah berkeliling ternyata para bloggerwati yang saya tahu sudah pada memajang award ini. Yah, that's because they deserve to have it. Hiks…Lha trus saya musti gimana nih ?? ? hehe ...

4. Peer selanjutnya adalah :
  • Buka search engine Google
  • Tulis nama kamu dilanjutkan dengan kata ‘needs’, misalnya : Rosi needs
  • Klik “search”
  • Tulis deh 10 hasil pertama yang muncul di halaman itu. (kalo namanya gak keluar, coba ditulis dengan tanda petik “_” misalnya “Rosi needs” baru disearch).

Mari intip hasilnya :

  1. Rosi needs A loving home pet for sale (hehe emang sih I love cats very much )
  2. Rosi needs to find her own authentic voice …(walah lha selama ini berarti suara saya masih belum original gitu maksudnya ? *bingung mode on*)
  3. ROSI needs some skill and experience (Yup, absolutely correct )
  4. Rosi needs help (So, is there anyone want to save me ???)
  5. Rosi needs another sub shop (Buat belanja lebaran kali ya …)
  6. ROSI needs to be amended if there is ever to be any change allowed on the municipal property ( Wah ternyata Rosi adalah nama undang-undang yang bisa diamandemen juga, ckckckckck…)
  7. ROSI needs to be evaluated further (Betul, biar ngga salah melulu )
  8. Rosi needs to concentrate ( wah wah pasti saya ketauan pas lagi bengong di kelas, mikirin buka puasa sih hehe)
  9. ROSI NEEDS TO DIE A HORRIBLE TECHNOLOGICAL DEATH (Hmmmm, sereem )
  10. ROSI needs to be tested over a wide range of operating conditions (Yang ini kayaknya merk produk solar hihihihi )
Yah, award sudah dipasang. Mudah- mudahan ini jadi penanda silaturrahim dengan para sahabat di kawah maya. Salam Hormat dari saya. 

Belajar Mendengar (Sebuah De Javu Tulisan)

Kenapa judulnya De Javu Tulisan ? Sebenarnya saya pernah memposting tulisan ini tahun lalu, tapi ngga tahu kenapa pingin aja memposting ulang. yah mungkin untuk lecutan buat diri sendiri yang semakin ngga peka ini. 

Mencintai diri sindiri. Itulah fitrah kita sebagai manusia. Sadar ngga sih tiap kali kita berbicara dengan orang lain, berapa sering kita mengucapkan ‘aku’ daripada ‘kamu’. Ngga peduli apapun yang lagi dibicarakan, “Emm, Kalau aku sih….gini… gitu…”, “ Aku dulu pernah kayak gitu… anu…”, “ Kalau aku malah …..bla…bla…bla”.
Yah, bicara tentang diri sendiri emang hal yang paling menyenangkan ya ?

Saya pernah punya pengalaman curhat dengan seorang teman, karena saya pikir dia bakal kasih solusi buat saya, tapi coba tebak apa yang terjadi setelah saya cerita tentang masalah saya. …. Twwiiing…, dia malah balik menceritakan masalahnya yang menurutnya jauh lebih besar, lebih hebat, pokoknya lebih … bla..bla. benar-benar saat yang tidak tepat pikir saya. Dari situ saya kemudian lebih hati-hati kalo cari teman buat curhat, sangat sangat selektif bahkan. Coba anda bayangkan, ketika anda sedang dirundung masalah, punya suatu beban yang ingin anda keluarkan, anda ingin ada orang yang bisa memberikan masukan atau paling tidak sekedar mendengar lah. Lalu teman anda dengan tanpa berdosa malah gantian mencenceritakan perihal dirinya, perihal hidupnya… fiuuuh.

Dalam berinteraksi memang dibutuhkan suatu timbal balik. Ketika dua sahabat bertemu bisa saja saling berkisah tentang pengalaman masing-masing. Tapi ada masanya kita juga musti panda-pandai membaca situasi. Ketika ada seorang teman yang datang dengan masalah yang memberatkan punggungnya, disitulah kita ada untuk menampung keluh kesahnya, mengeringkan air matanya, give a shoulder to cry on. Menjadi tong sampah yang baik buat mereka. Disinilah kedewasaan kita dibutuhkan, dan keegoisan kita untuk sekedar mengatakan “Kalau aku … bla bla ” ditahan sebentar deh.

Sekarang coba jujur pada diri sendiri, pastinya kita bakal lebih betah ngobrol dengan orang yang antusias mendengar cerita-cerita kita, orang yang menyimak setiap detil kata yang kita ucapkan. Bahkan ketika kita mulai membual tentang kehebatan diri sendiri, dia masih tampak setia memperhatikan kita sampai tenggorokan kita kering. Bandingkan ketika berada dengan orang yang begitu banyak bicara.

Sahabat saya pernah menceritakan pengalamannya makan bareng temen-temen kerjanya. Diantara mereka ada seorang yang memang sangat ekstrovert. Selama 2 x 60 menit acara makan-makan, dan pembicaraan hanya didominasi oleh cerita-cerita si ekstrovert tentang dirinya, keluarganya, pengalamannya, apa-apa yang dia sukai, hobinya , binatang peliaraannya , bla…bla…bla… (kalo boleh saya ilustrasikan sih dari terbit matahari sampai maghrib, ngga bakal selesai … hehehe…). Dan saya bisa menebak bagaimana perasaan sahabat saya yang sangat introvert itu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran buat siapapun, terutama buat diri saya sendiri, buat menjadi pendengar yang baik.

Setiap pertemuan menjadi petualangan. Setiap orang menjadi pelajaran kehidupan. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, dan yang kesepian, semuanya penuh impian dan keraguan sama seperti kita. Dan setiap orang memiliki kisah unik kalau saja kita bersedia mendengarkan. Betapa sering kita membiarkan kesempatan itu melewati kita. Seorang gadis yang menurut kita bisaa saja, penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah kita, orang orang itu memiliki cerita sama seperti kita. Dan sama seperti kita juga, mereka memimpikan akan ada orang yang mau mendengarnya.”(Chicken Soup For The Soul)

Dilema Masa Skripsi

Kalo masa kuliah diibaratkan dengan sebuah kurva parabola terbuka ke bawah, maka titik pucaknya yang terdiri dari absis sumbu simetri dan ordinat maksimum adalah masa-masa tugas akhir yang rawan dan penuh godaan. Jika titik kulminasi ini berhasil dilewati dengan baik, maka grafik selanjutnya bakal turun dengan mulus membentuk kurva parabola yang sempurna. Itu analogi hidup dari menjadi mahasiswa tingkat akhir yang ngga akan bisa lari kejaran tugas akhir alias skripsi. Diburu waktu, dan pikiran setelah lulus nanti mau kerja dimana semakin melengkapi penderitaan karena pasca wisuda biasanya status demografi yang melekat adalah pengangguran paling intelek di kampung asal.
Belakangan banyak sahabat yang mengaku berada pada titik jenuh, pusing hingga tablet aspirin pun ngga sanggup meredakan, stagnate, dan putus asa karena terjebak pada pilihan judul TA-nya sendiri. Belum lagi pressure dari dosen yang luar bisaa intens. Tiap pengajuan ditolak dengan alasan kurang inilah, kurang itulah, secara teori benar tapi secara statistic pembuktian keliru, dsb. Atau ketika uda lolos sensor pertama, lalu gagal pada sensor dosen pembimbing II. Fiuh.., itu belum termasuk wira-wiri plus begadang sampai ubanan menunggu sang dosen pembimbing tercinta yang sering pura-pura lupa kalo sudah bikin janji. Apalagi kalo dosen sama sekali tidak kooperatif dengan mahasiswanya.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi waktu mengerjakan skripsi dua tahun lalu. Saya memang nekat mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) yang masih menjadi kontroversi diantara para pendidik. Alasannya PTK hanya boleh dilakukan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya, mahasiswa yang belum berpengalaman mengajar tidak berhak menggunakan metode ini. Saya membela diri karena saat itu saya juga sedang menjalani program guru magang di salah satu SMP, jadi saya punya murid sebagai subyek observasi.
Ujian kesabaran itu datang dari dosen pembimbing II yang memang terkenal angker, otoriter, paling ditakuti se-fakultas, bahkan se-kampus karena beliau ketua yayasan, dan yang paling mengerikan adalah beliau termasuk golongan yang kontra terhadap skripsi PTK. Itu belum seberapa, perlu saya beri tahu juga beliau adalah penganut mahzab klasik yang sering tidak bersedia menerima ide-ide pembaharuan dalam dunia pendidikan. Friksi itu pun terjadi, beliau menampik pendapat saya dan puncaknya skripsi saya sempat dilempar di atas meja dan saya digadang-gadang akan dianugerahi maksimal label C minus. Hiks, saya benar-benar membeku seketika itu, frozen. Tidak menyangka dan speechless.
Setelah kejadian itu saya dilanda frustasi. Kehilangan semangat. Kampus bagi saya ibarat ladang pembantaian, yang keluar dengan selamat akan berakhir di RS Jiwa Menur berkumpul bersama para caleg gagal. Benar-benar menakutkan.
Berminggu-minggu saya mengacuhkan skripsi dan penelitian saya hingga berlumut. Saya melarikan diri dengan kesibukan lain mengajar privat anak-anak SMA yang akan menghadapi UAN.
Di tengah kesibukan itu entah bisikan dari mana yang tiba-tiba secara ajaib menegur saya, “Well, sampai kapan mau terus begini ? hampir empat tahun kamu lewati, dan tinggal satu satuan lagi langkahmu tiba”. Magis. Kata-kata singkat itu membius saya dan menjadi pelecut semangat untuk kembali ke jalur penelitian. Waktu itu saya hanya berharap sang dosen terkena amnesia sebagian sehingga lupa telah melempar skripsi saya.
Untung dosen pembimbing I selalu memberikan support dan mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Saya cukup termotivasi. Alhasil kekhawatiran tentang nilai C itu tidak terbukti dan poin 3 koma sudah cukup mengantar saya untuk lulus.
Saya yakin hampir semua mahasiswa tingkat akhir di luar sana mengalami dilemma yang sama dengan konfliknya masing-masing. Karena itulah saya berani mengeneralisasi ini sebagai suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita bisa menjaga niat, konsistensi, dan tujuan hingga batu ujian seberat apapun tidak akan membuat kita berhenti. Em, berhenti sebentar boleh sih tapi jangan lama-lama sampe karatan. Setelah mampu melewati semua itu, saya taruhan anda akan setuju dengan pendapat saya kalo skripsi adalah intisari kehidupan mahasiswa. So, goodluck and wish all the best !!!

Presented to : 'uteng' dan semua mahasiswa tingkat akhir yang lagi dilanda frustasi. Keep on spirit !!