Pelajaran dari Sang Keledai
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana.
4. Berilah lebih banyak.
5. Tersenyumlah.
6. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.
Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. "Apakah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !
Dikutip dari conectique.com
MENGHARGAI SEBUAH PROSES
Bumi terus merotasikan waktu. Siang, malam, merangkai lembar demi lembar sejarah anak adam dengan berjuta cerita. Ada yang singgah, ada pula yang pergi, ada yang berlalu begitu saja tanpa membekas di hati. Namun kenangan demi kenangan itulah yang mewarnai mozaik kita. Dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama.
Terkadang kita ingin waktu berputar menjejak masa lalu. Kita ingin memperbaiki keadaan, mencegah hal yang seharusnya tak dilakukan, mengerjakan apa yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Ya, sesal selalu datang di belakang...
Namun bukankah dari situ kita bisa belajar tentang hidup? Belajar menjadi bijak... belajar menjadi dewasa... belajar untuk lebih bersyukur. Karena mungkin saja tanpa sadar kita terlalu menuntut kepada Tuhan. Kita selalu mengeluh tentang apa-apa yang terjadi. Kita jarang memahami maknanya bagi jiwa, bagi hidup. Maka segala episode yang terlalui, sedih, kecewa, terluka, ataukah bahagia, semestinya bisa menjadi pelajaran buat hari esok yang menyimpan tanya.
Kemarin adalah sejarah, besok belum lagi terlewati, di sini... di detik kita bernafas, di saat inilah kita tinggal. Kita warnai Kanvas yang telah disiapkan. Menjadi merah, hijau, ungu atau kelabu kitalah pemegang kuasnya, kitalah sang Claude Monet. Hanya saja, memang setiap komposisi yang kita tuang mengandung konsekuensi. Setiap langkah dan pilihan mengandung hasil. “Setiap aksi, ada reaksi”, begitu rumusan hukum ke III Newton empat abad silam. Bahkan jauh seribu tahun sebelumnya, Quran telah mewahyukan bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berikhtiar mengubah keadaannya.
Namun tentu bukan otoritas kita menentukan bagaimana kelak design akhirnya. Tugas kita hanyalah bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, kemudian memasrahkan hasilnya pada Sang Pembuat Design Kehidupan. Pasrah dan ridha. (mudah-mudahan kita mampu melakukannya, amin)
"Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah design holistik yang sempurna. Menerima kehidupan, berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan." {Andrea Hirata diinterpretasikan dari pemikiran Harun Yahya}
Menghargai sebuah proses. Saya kira begitulah intinya. Bagaimana kita mampu menghargai detik demi detik yang kita lewati, tiap helaian nafas yang kita hembuskan, setiap pertemuan yang mengajari kita tentang kehidupan, jua setiap tetes usaha yang kita jalankan.
Hidup ini ibarat ladang. Mau ditanami apapun terserah diri kita. Mau dibiarkan kering tak tergarap juga itu urusan masing-masing. Akan tetapi ketika kita menanam dan merawat ladang itu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dengan semaksimal mungkin. Dengan benih yang terbaik, dengan pengairan yang cukup, dengan pupuk yang proporsional. Perkara nanti hasilnya berlimpah atau tidak, itu sudah di luar kewenangan kita. Ada Dzat yang lebih Kuasa menentukan perkara-Nya. Kita hanya mampu melakukan yang terbaik, ikhtiar yang maksimal, dan menikmati setiap proses itu. Kalaupun nanti hasilnya banyak ya syukur, kalaupun sedikit ya tak kecewa sebab kita telah menghargai tiap titik keringat demi merawat ladang tadi.
Sebab tujuan akhir kita bukanlah pada hasil semata. Gimana dengan anda ?
picture is taken from here
Lebaran, lalu...
Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke
Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…
Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.
Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.
Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…
picture is taken from here
SORE YANG VIOLET
Akhirnya bisa juga menulis dengan tenang. Setelah beberapa pekan terbelenggu dengan hal yang tak urgen tapi lumayan menguras perhatian.
Rindu sekali dengan suasana ini, duduk di balik jendela kayu sambil memandangi langit sore yang violet. Harum bau tanah basah yang menyegarkan, dan tembok berlumut yang eksotis. Bagi orang seperti saya itu sudah cukup merupakan kemewahan buat jiwa, tak akan setara meskipun ditukar dengan fasilitas di hall cafe beratapkan ukir-ukiran mahakarya Michelangelo, beralaskan porselen terbaik dari Dinasti Qin.
Menghirup sore yang beraroma vanila. Bercengkerama dengan angin musim kemarau yang mengintai dari balik tirai bulan Rajab. Suara gaduh suporter Indonesia Open yang mendukung Taufik Hidayat dari tabung ajaib bernama televisi di belakang saya seperti harmonisasi orkestra Hayden saja. Bisingnya knalpot sepeda motorsport yang digeber keras-keras di samping kantor kecamatan, yang biasanya memekakkan gendang telinga, sore ini layaknya alunan simponi Mozart yang riang. Nikmat, dan syahdu.
Jujur saya tidak tahu akan menulis apa. Saya juga tak tahu ke mana arah paragraf-paragraf ini. Yang saya tahu, saat ini saya kangen sekali menulis. Ya, kangen sekali.
Saya biarkan jari-jari ini menari di atas keyboard yang telah lama terindukan. Biarkan kran kerinduan mengalir membasahi sela-sela jiwa yang tertidur.
Mungkin saya hanya ingin menyapa anda, para sahabat tercinta. Mungkin juga saya hanya ingin menyapa tulisan saya sendiri yang beberapa waktu ini kehilangan tuannya.
“ Menulis sudah menjadi bagian integral dalam hidup. Maka jeda sedikit saja dari menulis, ibarat kehilangan satu bagian dari hidup”, begitu kata orang –orang pandai yang ada di koran.
Buat saya, menulis bagi diri sendiri adalah proses pelepasan sesuatu dari jiwa. Satu bentuk eksistensi bahwa kita bebas. Bebas dari aturan kebahasaan, bebas dari penentuan tema, bebas dari apa saja. Sebab kitalah yang menentukan segalanya. Kitalah tuannya.
Seperti juga sore ini, ketika saya membiarkan diri ini bebas terbawa ‘aliran’. Hanya menulis. Tanpa terikat tema, tanpa diperbudak aturan bahasa. Tanpa prediksi bagaimana saya harus mengakhiri paragrafnya. Tapi buat yang satu ini, saya sepakat dengan Jikustik untuk mengakhirinya dengan indah.
Selamat menikmati sore.
KALA
Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?
Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula.
Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga.
Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar
Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.
Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.
Une Femme Honorable
Takdir telah mencatatkan duka mendalam pada lembar sejarah Polandia manakala presidennya beserta sang ibu negara wafat dalam sebuah kecelakaan pesawat di langit Rusia beberapa waktu lalu. Catatan tragis ini lalu menggelitik rasa penasaran saya untuk mengenal Polandia lebih dekat.
Sejujurnya memang tidak banyak yang saya tahu tentang negeri di sebelah timur Belarusia ini. Hanya benderanya saja saya hafal yang sejak SD, persis dengan warna bendera NKRI tapi terbalik. That’s all.
Perjalanan di antara labirin-labirin rasa penasaran itu lantas menautkan saya pada sebuah memoar bertajuk “Une Femme Honorable”. Rekam jejak wanita kelahiran Polandia, 7 November 1867 bernama Marie Curie. Spontan ingatan saya melaju pada matrikulasi kelas 1 SMA sepuluh tahun yang lalu, bab Kimia Unsur. Terimakasih Tuhan telah memberikan guru kimia yang sangat brilian hingga saya masih bisa mengingat istilah "kimia unsur" yang terdengar begitu terpelajar dan sangat...buku.
Sebelum pembicaraan ini menyimpang terlampau jauh, saya ingatkan bahwa wanita yang kita bicarakan ini memang sosok yang luar biasa cerdas, tekun dan setia. Peraih nobel fisika tahun 1903 bersama sang suami, Pierre Curie, praksis Marie dan Piere mengabdikan hidupnya secara total pada penelitian tentang radium. Bahkan akibat intensitas pekerjaan keduanya di lab, baik Marie mapupun Pierre tidak sadar telah terimbas efek radiasi yang mematikan. Jari-jari Marie melepuh seperti terbakar, tubuh wanita ini pun menjadi lemah dan sering sakit-sakitan. Mereka tanpa sadar telah menjadi korban dari penemuan mereka sendiri. Sungguh ironis...
Tahun 1906, Pierre Curie meninggal dunia. Marie dilanda duka luar biasa. Duka inilah yang lantas mengilhaminya untuk menuliskan segala kesedihan itu pada lembar-lembar diari yang pada akhirnya diangkat menjadi biografi populer berjudul “Une Femme Honorable”(Wanita yang Mulia).

Going the extra miles... mungkin itulah kata-kata ajaib yang melecutkan bara semangat buat para pejuang hidup termasuk Marie Curie. sambil menyeka duka, ia terus menekuni penelitiannya tentang radium yang kelak akan sangat mempengaruhi kosmos politik dunia.
Tahun 1911, kedua kalinya Marie mendapatkan Nobel untuk keberhasilannya mengisolasi radium kali ini di bidang Kimia, tanpa Pierre...
Mudah-mudahan setangkup kecil biografi ini mampu menginspirasi kita ...
Aksioma Rollercoaster
Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. Kotak-kotak Pandora Kehidupan
Menjelajahi satu demi satu blog di dunia maya membawa saya pada ruang-ruang prespektif lain. Menyusuri labirin-labirin pemikiran anak manusia yang terkadang di luar batas jangkauan logika. Menyinggahi kotak-kotak Pandora jiwa yang tidak melulu mejikuhibiniu.
Ini ibarat perjalanan backpacking tanpa ransel, nir peta dan kompas. Seperti berkeliling dunia tanpa pesawat, tanpa jetlag dan tanpa money changer. Lalu secara beruntung bertemu dengan dengan pribadi-pribadi yang ternyata mempunyai spektrum rasa yang sama, meski secara materi, tubuh belum pernah bersua. Oh, God saya harus berterimakasih pada siapapun yang telah menemukan teknologi internet pertama kali.
Seperti analogi kotak Pandora tadi, tiap blog memiliki bingkai keunikannya masing-masing. Penuh warna-warni, kaya teka-teki. Sering saya menebak-nebak kira-kira apa lagi yang akan saya temukan dalam blogwalking saya hari ini. Mungkinkah pulau harta karun ? Yah, mungkin saja. Harta karun ilmu tentunya.

Dalam perjalanan backpacking, ups maaf, blogwalking, saya mungkin saja menemukan kisah-kisah inspiratif yang membirukan rasa, menyungaikan air mata. Di lain waktu, wajah ini hanya bisa berekspresi takjub menyelami puisi-puisi jiwa bertabur metafora di ranah maya. Banyak ungkapan-ungkapan patah hati berbalut emosi, luapan kepenatan memandangi lelakon para wayang orang di atas pentas perpolitikan, sampai potret diari diri yang ringan mengalir seperti sapaan Bengawan Solo ketika tenang. Unik, asyik, menyegarkan. Beberapa blog bahkan idenya saling berseberangan secara diametral, namun malah memperkaya dimensi pikir dalam kosmos demokrasi. Diantara semua itu ada juga blog yang dipenuhi iklan blink-blink sehingga sedikit banyak mengolahragakan mata saat memandangnya hehe, maaf jujur.
Hmm, saya yakin tiap kita memiliki motif berbeda ketika membuat blog pertama kali. Dan itu memang prerogatif masing-masing. Kalau suka boleh dibaca, enggak suka ya lewati saja. Simple. Rene Descrates pernah memahatkan sebuah ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Bolehlah saya ganti sedikit, “Aku ngeblog, maka aku ADA”.
Seperti Bintang
Tawadlu'lah,
Engkau akan seperti bintang,
Bersinar di atas permukaan air, meski ia berada di langit yang tinggi
Jangan engkau seperti asap
ia terbang tinggi menuju angkasa
padahal hakikatnya ia tak berharga.
(dikutip dari buku "Tawadlu" karya Khozin Abu Faqih)
Bukit Tanpa Puncak
Sudah menjadi fitrah, manusia ditakdirkan tidak pernah puas dengan apa yang telah diteguk. Namun, bukankah itu juga merupakan interpretasi dari sabda Nabi bahwa barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka ia termasuk golongan yang merugi ?
Saya yakin tiap kita menginginkan bisa merengkuh pencapaian lebih baik dari waktu ke waktu. Yang masih studi, goalnya bisa lulus dengan predikat cumlaude syukur-syukur honorable mention. Yang uda lulus, penginnya cepet kerja sykur-syukur sesuai bingkai keinginan. Yang uda kerja, diusahakan bisa mencapai posisi yang strategis. Begitu seterusnya, ibarat menapaki bukit yang tidak nampak mana puncaknya.

Dan setiap pilihan mengandung elemen-elemen resiko. Ketika kita terjebak di persimpangan, bimbang dan galau dalam menentukan jalan. Disitulah hidup menuntut kita untuk pandai berhitung, mengkalkulasi peluang keberhasilan yang bakal diraih sekaligus meminimalisasi kegagalan yang mengiringi. Sebagian orang menyebutnya gambling, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai seni dalam hidup.
Yang terpenting adalah bukan tentang materi yang bakal kita dapat dari jalan yang nantinya kita putuskan, tapi bagaimana pilihan itu membuat kita tumbuh menjadi dewasa dalam berpikir.
Suatu ketika, ada teman yang mengatakan bahwa saya tipe orang yang lebih senang berada di zona nyaman, terlalu takut mengambil resiko, takut melakukan gambling. Beberapa hari saya coba mencerna perkataan itu hingga lumat dalam pikiran. Apa benar begitu ?
Mungkin iya saya selalu berkalkulasi tentang jalan yang akan saya tempuh. Bagaimana resikonya, hasil finalnya, pengaruhnya buat orang-orang terdekat, dsb.
Tapi saya pikir pilihan telah mengantarkan diri saya pada posisi 180 derajat dari zona nyaman sebelumnya. Menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dalam banyak hal. Saya kira perubahan itu membutuhkan sebuah keberanian. Bukan bermaksud membela diri, tapi mungkin ukuran “berani” atau tidak berani, sukses atau tidak sukses itu berbeda di benak tiap orang. Dan Tuhan Tahu sejauh mana kapasitas ikhtiar hamba-hambaNya.
Fragmen Jiwa Bernama Kepasrahan
Maka dalam dimensi saya, sekeliling rasanya bergerak melambat ibarat film slow motion. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang ke rumah, berangkat lagi, pulang di petang hari, tidur lagi, bangun berangkat lagi. Begitu seterusnya.
Hidup kadang membawa kita jauh berenang mengikuti aliran, menikmati riak airnya yang nakal menuju pucuk-pucuk mimpi tak bertepi hingga lupa ke mana kan bermuara.

Betapa banyak waktu dan pikiran telah terpenjara hanya untuk mencari dan mencari apa yang disebut pujangga sebagai “lubang hati”. Entah itu pencarian terhadap cinta atau cita.
Ketika lelah telah menggelayuti diri, barulah jiwa ini tersadar, ternyata begitu banyak cinta terhampar dari orang-orang di sekitar. Cinta yang selama ini justru luput dari perhatian, tulus dari orang-orang terdekat, orang tua, keluarga, sahabat, karib kerabat. Dan yang terpenting di atas semua itu ada cinta kekal yang tak pernah lekang dari Sang Maha Hidup.
“Syukuri apa yang ada”, begitu syair lagu D’massive (dasar penyiar hehe...). Sungguh saya tak pernah peduli dengan lagu ini sebelumnya. Namun kata-kata itu terus mengiang meresonansikan makna luar biasa : Kepasrahan total.
Ya, setelah lautan ikhtiar yang dilalui dan puzzle-puzzle optimisme yang telah dirangkai, maka fragmen berikutnya adalah kepasrahan total kepada Sang Maha Hidup. Ketika usaha telah kita lakukan mati-matian tetapi hasil keringat tak sejalan garis takdirNya, lantas kita mau apa ? Semua ada di bawah otoritas Ar-Rahman yang menuliskan tiap desah nafas kita dalam Lauhul Mahfuz. Dan sebagai makhluk, episode yang harus kita jalani adalah pasrah dan tawakal.
Memang melakukan tak semudah mengatakan, kawan. Diri ini pun masih tertatih-tatih memproyeksikannya dalam kehidupan. Namun satu yang saya yakini, di ujung sungai kepasrahan itulah muara ketenangan berada.
Maka secangkir kepasrahan itu yang saat ini sedang saya butuhkan... mudah-mudahan ada yang rasa moccacinno ...
Secangkir kasih buat jiwa-jiwa hangat
Kecuali Sang Maha Hidup, segala sesuatu di hadapan mata tampak tak pasti. Sama tak pastinya dengan nilai kejadian dalam teori probabilitas Blaise Pascal.
Bumi masih merotasikan hari. Langit biru masih membisikkan harapan. Tunas-tunas pakis haji di ujung ruangan ini pun menerbitkan asa di atas seribu luka. Tapi, beri tahu saya tentang episode di ujung senja nanti ? Adakah yang bisa menjamin peri-peri pagi kan kembali ?
Apapun itu, diantara ketidakpastian ini kita masih harus tetap berjalan. Melaju seperti bulan yang setia mengiringi bumi. Jua seperti Colombus yang tak lelah mengarungi Atlantik. Bersama cinta yang selalu ada.
Tak perlu mencarinya hingga ke ujung samudra hingga penat kubaca dalam wajahmu. Sebab dia dekat di sini. Tumbuh dari bibit ketulusan terdalam. Berdifusi dari jiwa-jiwa hangat yang mewarnai sepenggal perjalanan diri. Lalu diproses sehingga menghasilkan secangkir kasih beraroma vanilla persahabatan.

Maka secangkir kasih ini saya persembahkan buat jiwa-jiwa hangat yang telah sudi berbagi. Mba Newsoul trimakasih atas award dan tulisan-tulisan yang selalu menginspirasi, mba Fanda, ijin pasang awardnya di sini yah hehe. Tulisan ini juga saya persembahkan buat jiwa hangat lainnya, Mba Tisti Rabbani dan semua sahabat yang telah sudi berkunjung ke blog ini.

Matahari dan Bulan

Dalam ukuran dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Coba kita lihat matahari. Ia terus bersedekah memberikan potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di sudut – sudut semesta. Tanpa mengeluh, ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi. Energi ini lantas dipancarkan ke mana saja sehingga kita, penduduk bumi tetap bisa merasakan hangatnya pagi. (Dapatkah kita bayangkan terbangun di esok hari tanpa ada sinar matahari ? Hanya ada warna malam yang kelam .... membayangkannya saja saya sudah merinding ....).
Lalu mari sejenak kita pandangi bulan di langit malam. Yang hadirnya selalu dinanti, menyiratkan rasa hangat di hati kita. Bulan selalu istiqomah dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh ia mengekor ke manapun planet induknya pergi. Ia terus berusaha memantulkan “kebaikan” matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang ia pantulkan, mampu menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan Qamariyah. Posisinya mempengaruhi pula terjadinya pasang surut di permukaan laut. Ketika purnamanya merekah, membentuk diameter yang sempurna, akan banyak hal “istimewa” terjadi. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivasi kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis. Akibatnya manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan melahirkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon reproduksi bereaksi lebih intens dibanding momen-momen lain.
“Maka nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan ?”
Mudah-mudahan kita mampu menjadi seperti matahari yang ikhlas. Serta menjadi seperti bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.
Dikutip dengan sedikit perubahan dari buku karya Dr. Tauhid Nur Azhar&Eman Sulaiman : Ajaib bin Aneh, Jadi insan Segala Tahu (2009).
Pertanyaan Dik
Huaaaammm.... kayaknya uda cukup lama berhibernasi terbuai meriahnya Lebaran. Pagi ini meluncur ke blog para sahabat, meneguk sebanyak mungkin ilmu dan hikmah. Sekaligus mencuri semangat untuk mengalirkan kembali kran ide yang sempat mengendap.
Teringat obrolan tempo hari dengan seorang kawan, sebut saja “dik” karena usianya memang lebih muda dari saya. Entah bagaimana mulanya, obrolan kami kemudian berkembang. Dik mengakui ketertarikannya terhadap matematika meski sejak sekolah dia tergolong seorang matematikaphobia. Saya tersentak dengan rasa penasarannya terhadap simbol phi (3,14 = 22/7) yang selama ini hanya ia pahami sebatas dogma. Karena sang guru tidak pernah menjelaskan asal mulanya.
Juga tentang kekritisannya mempertanyakan urutan bilangan. Mengapa 1 harus diikuti 2, kemudian 3, dst. Mengapa bukan bilangan yang lain ? Bagaimana kalau dia tak menginginkan urutan seperti itu ? Mengapa pula 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ? Lalu pertanyaan-pertanyaan lain yang meluapkan dahaganya akan jawaban logis atas itu semua.
Sabar, dik. Pelan-pelan saja. Nanti kau tersedak ;-p
Jujur kekritisan sahabat muda saya itu ikut menohok batas ruang pemikiran saya yang selama ini banyak terjebak pada tuntutan kurikulum. Apalagi sebagai tutor amatiran yang dibatasi jam tatap muka dengan siswa, saya akui substansi materi kadang harus dikalahkan deadline ulangan dan PR-PR sekolah.
Tapi baiklah, dik, saya akan coba menjawab pertanyaanmu sebatas yang saya pahami ya...
Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi (tidak mutlak). Itu yang kadang salah kita artikan. Artinya suatu kebenaran dalam ilmu matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama. Inilah yang kita kenal dengan “postulat” atau “aksioma”. Kelak, bisa saja kebenaran ini berubah apabila muncul kesepakatan baru yang membentuk postulat-postulat baru.
Adalah Al- Khawarizmi yang telah mengenalkan sistem bilangan dengan urutan 0, 1, 2, 3, dst dikembangkan dari sistem bilangan hindu-arabik. Buah pemikiran Al Khawarizmi ini kemudian disepakati bersama untuk digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari demi memudahkan penghitungan. Butuh proses dan perdebatan selama berabad-abad untuk sampai pada penyimpulan sistem numerasi di atas. Dari jaman Mesir Kuno yang menggunakan hieroglyph, hingga masa Yunani kuno yang melahirkan simbol-simbol alfa, beta, teta, gamma, dst. Seiring berkembangnya zaman, manusia di berbagai belahan bumi tentu membutuhkan suatu sistem bilangan yang seragam sehingga memudahkan transaksi dan komunikasi. Itulah mengapa dalam bingkai sistem urutan bilangan setelah 1 adalah 2, kemudian 3 dst.
Lalu “mengapa 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ?”, begitu tanyamu.
Setahu saya, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi). Jadi bukan “tak terhingga” (infinite). Karena antara “tak terhingga” dengan “tak terdefinisi” memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Abdul Halim Fathani dalam buku “Matematika Hakikat dan Logika” (2009), munculnya jawaban tak terhingga dalam pembagian 6 terhadap nol dipengaruhi aliran logisme yang bertumpu pada logika. Coba kita perhatikan :
6 : 6 = 1
6 : 2 = 3
6 : 1 = 6
6 : 0,1 = 60
6 : 0,01 = 600
6 : 0,000.000. 0001 = 6. 000.000. 000
dst
Dalam aliran logisme, jika bilangan real dibagi dengan bilangan yang semakin kecil maka hasilnya akan semakin besar. Maka logikanya 6 : 0 hasilnya sangat besar (tak terhingga). Perlu dicatat tidak semua kalangan sependapat dengan pemikiran ini. Karena sesuai aksioma, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi).
Trus, soal pertanyaanmu tentang bilangan phi itu, lain waktu saja ya kita diskusi lagi.
PS : To “dik”, jangan pernah berhenti untuk mencari. Kelak kau kan temukan jawabannya.
Filosofi Fibonacci

Bagi saya pribadi, hidup lebih identik dengan rangkaian angka Fibonacci. Misterius dan tak terprediksi hingga di saat-saat akhir. 2, 4, 6, 10, 16, 26, dst. Deret Fibonacci sebenarnya memang mempunyai formula yang bisa dicari, sehingga membentuk sebuah keteraturan. Misterius disini maksud saya, bahwa dalam perjalanannya, ternyata para ilmuwan dapat menemukan keteraturan2 lain dalam semesta yang sejalan dengan formula Fibonacci.
Kerennya lagi, deret yang dikembangkan oleh Pak Fibonacci ini kemudian menjadi dasar sebuah pola perhitungan modern chaos theory. Chaos Theory sendiri adalah sebuah cabang ilmu matematika dan juga fisika yang membahas sebuah pola pergerakan yang acak namun beraturan. Acak karena tidak pernah menempati titik koordinat yang sama setiap kali bergerak. Beraturan karena selalu pada arah yang sama. Contohnya adalah pergerakan sayap pada kupu-kupu. Meskipun tidak beraturan, pergerakan sayap kupu-kupu selalu sama dari waktu ke waktu yaitu naik dan turun meskipun tidak pernah menempati titik yang sama setiap kali bergerak. (Running Pig - Fibonacci Retracement).
Bukan mustahil ke depannya masih banyak rahasia-rahasia semesta yang bakal terungkap dengan angka-angka Fibonacci ....
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Maaf lahir batin.
Satu lagi Frame Kehidupan
Setengah terkantuk saya membaca pesan singkat itu, “ Mbak nanti masuk enggak?”. Empat patah kata diakhiri tanda tanya. Simple, tapi kemudian membuyarkan gelembung imajinasi yang telah saya rangkai dengan sempurna untuk mengakhiri hari ini dengan indah.
Yah, setelah seharian penuh bergulat dengan nasib, beradu dengan radiasi matahari, pada akhirnya melepuh bersama hari di jelang senja yang ranum. Seperempat jam lagi bedug maghrib. Buka puasa, delapan rakaat tarawih, lalu segera bersua dengan kasur untuk merebahkan rangka tubuh ini. Hmm, sebuah rencana yang sempurna bukan buatan.
Saya bahkan sudah berpikir untuk membatalkan jadwal mengajar di Rumah Singgah ba'da tarawih. Ego saya terus berbisik, toh tak mengapa kalo Cuma absen sekali. Lagipula minggu depan kan masih ada waktu. Anak-anak itu pasti bisa mengerti. Dan kasur di atas tempat tidur reyot itu rasanya bagai singgasana yang kian kuat memancarkan medan magnet di sekitar saya.
Lalu sms kedua datang , " Mbak Ros, nanti malam masuk kan? ". Akhiran -kan di belakang pesan itu tidak hanya menegaskan pertanyaan pertama, tetapi sekaligus harapan bahwa orang yang ditanya akan menjawab "iya". Tapi siapa yang bakal tega mengatakan tidak untuk wajah-wajah itu ? Anak-anak yang kala pagi harus bekerja entah sebagai PRT, loper koran, bahkan security, lalu malam harinya masih menyisakan semangat demi mendapat gelar paket C setara SMA. Anak-anak usia 20-an yang secara kurikulum harus mendapatkan Teorema fundamental integral meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana mengajarkannya untuk membuat mereka tidak "nggumun". Di saat siswa SMA lain bisa duduk nyaman di pagi hari dengan buku-buku berkualitas berstandar Chambridge, mereka harus puas hanya dengan mencatat dari papan tulis.
Yah, sebuah kelas malam yang lebih sering molor hingga setengah jam demi menggenapkan muridnya menjadi 2 orang. Bahkan tak jarang si pengajar harus rela menjemput siswanya agar mau datang untuk belajar. Satu lagi frame realita kehidupan. Hukum sebab akibat yang sangat populer, "kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan". Tapi melihat semangat di mata anak-anak itu, menemukan pijar antusias ketika mereka baru tahu bahwa aktivitas belanja di pasar bisa dimanipulasi menjadi model persamaan linear. Saya rasa tak ada seorangpun yang akan sanggup mengatakan tidak.
Catatan Pagi
Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 01. 35 dini hari. Saya sudah di atas tunggangan, bersiap untuk meluncur di sirkuit jalanan kota. Sayup suara ibu berpesan, “Yen wis teko enggon, telepon yo nduk…..” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih “Kalo uda nyampe tujuan, telepon ya, Nak”). Pesan seorang ibu yang akan melepas anak perempuannya menunaikan tugas dini hari ini. Bismillah, mudah-mudahan nyampe dengan selamat.
Gusti, mudah-mudahan Kau ikhlaskan hati ini agar apa yang kukerjakan bisa menjadi catatan amal di Ramadhan-Mu. Amin.


