Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Catatan Pagi



Jam digital di
Sony Ericsson saya menunjukkan angka 01. 35 dini hari. Saya sudah di atas tunggangan, bersiap untuk meluncur di sirkuit jalanan kota. Sayup suara ibu berpesan, “Yen wis teko enggon, telepon yo nduk…..” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih “Kalo uda nyampe tujuan, telepon ya, Nak”). Pesan seorang ibu yang akan melepas anak perempuannya menunaikan tugas dini hari ini. Bismillah, mudah-mudahan nyampe dengan selamat. 

Langit masih menyisakan pekat, Cuma ada satu dua kendaraan yang lewat. Ada beberapa warung yang masih buka menemani pengelana malam demi menghimpun segenggam rupiah, menjajakan menu sahur buat para pengais pahala.

Ini memang hari pertama saya menjalankan amanah kerja malam. Membangunkan manusia buat sahur. (Ronda kali ya …. Hehe). Yah, bisa dibilang satu ordo tugas tapi dalam bungkus yang berbeda. Sebenarnya buat saya tidak masalah, insyaallah ini bagian dari ibadah juga. Mudah-mudahan lillahita ‘ala. Yang sempat jadi masalah adalah protes dari ibu yang tidak merelakan anak perempuannya berangkat sendiri di malam buta, walaupun jarak rumah ke tempat kerja tidak lebih dari seperempat putaran penuh jarum jam kalo naik motor. Bahkan beliau sempat berniat menelepon Kabag saya agar membatalkan jadwal malam yang sudah final. Hehehe, Thank God akhirnya enggak jadi. Saya bisa maklum, mungkin begitulah fitrah seorang ibu. Meskipun sudah segede ini, kadang ibu masih saja overprotective. Oh, Ibu….

Gusti, mudah-mudahan Kau ikhlaskan hati ini agar apa yang kukerjakan bisa menjadi catatan amal di Ramadhan-Mu. Amin.

Buat mbak NewSoul yang telah menyegarkan partikel kelesuan dalam hari-hariku, dengan tulisan-tulisan yang penuh makna, terimakasih. Pun jua atas Award yang sudah dihibahkan buat jiwa yang gersang ini. Sungguh, perhatianmu menggetarkan langit (hehehe saya harus mengucapkan itu untuk kesekian kalinya…).



award dari NewSoul

Buat mbak Fanda juga yang telah beberapa waktu menganugrahi award (gara-gara saya yang nodong hehehe). Maaf baru dipajang di tulisan ini. Karena saya merasa belum pantas untuk itu. Trimakasih.


award dari bukuFanda

 

Rendezvous

Ceritanya sore ini saya sempatkan untuk membawa tunggangan mengelilingi kota tercinta Madiun, sesuatu yang uda lama tidak saya lakukan. Ngga ke seluruh kota sih, cuma sebagian saja. Udara masih terasa hangat meski matahari sudah mulai condong ke barat, pertanda kemarau menjelang. Aspal jalanan juga masih menyimpan sisa-sisa panas yang terik sejak pagi hingga siang tadi. Tips : kalo lagi pengen jalan sore, jangan sampe ngga pake sandal atawa sepatu, bisa-bisa pulang dengan kaki melepuh minimal kapalan.

Saya arahkan motor butut kesayangan melewati tempat-tempat yang jadi sejarah hidup sewaktu muda (lagi ngerasa sok tua niy….). Bangunan sekolah di jalan kartini yang dari luar belum banyak berubah kelihatan dingin, anggun membisu, tapi menyimpan kenangan. Lagu Kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7 tiba-tiba terngiang -ngiang di kepala saya. Untung, saya bisa menahan diri untuk tidak berjoget ;-p. Di sebelah selatannya, gedung pengadilan negeri berdiri dengan wajah baru. Saya sampai pangling melihat bangunan yang dulu usang berpayung beringin itu kini terlihat cling. Lupa saya kapan terakhir kali lewat jalan ini.

Karangan bunga ucapan selamat untuk walikota baru juga masih terpajang di pintu masuk kantor Pemkot. Iya, sekedar info buat warga luar, Madiun baru saja mendapat pemimpin baru periode 2009-2014, dilantik di Gedung Graha tanggal 29 April di bawah pengamanan hampir 1000 personil keamanan. Banyak yang bilang, pengamanannya superketat, kayak suasana DOM (daerah operasi militer) di Aceh. Ada watercanon, sniper, untung ngga ada tenk tempur sekalian ya, Pak Kapolres…
(catatan : Bambang Irianto-Sugeng Rismiyanto menang dalam Pilkada kota Madiun 23 Oktober 2008 di bawah dugaan skandal money politik).


obral euy...


Pusat perbelanjaan berdiri menggoda di sepanjang jalur Pahlawan. Heran juga, di kota sekecil Madiun, dengan laju ekonomi yang biasa saja, dengan profil demografi penduduk usia produktif kebanyakan tak berpenghasilan, bisa saja berdiri 4 mall dalam kurun lima tahun terakhir. Mungkin Pemerintah Kota sadar benar kalo para warganya sangat tidak mudah menolak godaan obral tiap akhir bulan dan derasnya migrasi gaya hidup ala kota besar. Kemudian mata saya membaca tulisan besar-besar di bawah jembatan penyebrangan, tepat di depan salah satu mall “PUSAT REKREASI DAN BELANJA KELUARGA”. Qeqeqeqe, benar-benar provokatif …
(Sisi positifnya, beberapa tetangga saya diterima bekerja di pusat belanja yang baru berdiri di bekas lahan terminal lama. Utamakan anak lokal ya Pak manajer ?)


pusat belanja dan rekreasi keluarga weks...


Alun- alun belum banyak berubah, sepertinya sore ini sedang digelar liga sepakbola professional antara RT Baru Maju versus RT Mundur Kena. Rame juga yang nonton, dari penjual bakso sampai anak-anak, lumayan kan bisa nonton bola gratis dari tribun VVIP. Di sebelah timur, satu mall yang sudah eksis sejak saya belum lahir sekarang sudah beralih fungsi menjadi pusat jual-beli handphone, karena kalah saingan mungkin.

Sore jelang maghrib, populasi pedagang kaki lima di area stadion wilis semakin bertambah. Saya tidak ingat kapan tepatnya lokasi ini mulai menjadi pusat wisata kuliner malam hari. Yang pasti mulai dari penjual kacang rebus sampe es puter semua ada. Apalagi dengan migrasi pedagang PBM ke pasar penampungan di utara stadion. Bikin kehidupan malam di Madiun jadi tambah semarak, seperti pasar malam.

Konsentrasi PKL juga tersebar di sepanjang jalan Diponegoro dari timur ke arah barat. Roti bakar, ayam bakar, seafood bakar, sampe bakso bakar tersedia di tenda-tenda pinggir jalan. Tapi menu nasi kucing yang murah meriah sepertinya belum berhenti menjadi primadona.

Di sebelah barat, lapangan basket bosbow dengan background pohon beringin tua masih memamerkan sejarahnya. Hehe, dia saksi bisu betapa aduhainya shooting basket saya dulu, hemmm… ibarat pungguk merindukan keranjang basket. (saya punya usul gimana kalo keranjangnya dibuat agak rendah sedikit ? Ide yang bagus bukan ?... ).



the unforgotten bosbow


Mendekati maghrib, jalanan semakin ramai. Sebagian orang-orang bersepatu yang baru pulang kerja dan sebagian lain mungkin orang-orang yang ingin keluar melepas kepenatan hidup. Tapi saya harus pulang.



senja sore ini lagi bagus...

Ketapang - Gilimanuk


Saya mencintai perjalanan, berada dari satu tempat ke tempat lain membentuk prespektif tersendiri bagi saya dalam memandang kehidupan. Kita bisa melihat beragam budaya, bahasa, adat dan kebiasaaan manusia, serta karakter suatu daerah. Buat saya itu menyenangkan, memperkaya diri, mengembangkan pola pikir, dan membunuh rutinitas yang menjemukan. Terkadang saya bermimpi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan travelling dari daerah satu ke daerah lain seperti Riyanni Djangkaru mungkin…(hehe ngayal !!!). Lalu seorang teman merekomendasikan sebuah profesi yang bisa mengakomodir keinginan saya itu. Terus berkelana dari satu kota ke kota lain, bahkan memiliki otoritas penuh atas sejumlah nasib manusia. Ya, teman saya merekomendasikan saya untuk menjadi kondektur bis.
Perjalanan Madiun-Singaraja yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun kurang lebih 12 jam ternyata jauh melebihi prediksi. Ini karena bis dari Probolinggo menuju Banyuwangi yang mengangkut saya berjalan lambat merayap laksana pawai ta’aruf 1 Muharam, penderitaan terjebak bersama para manusia cerobong asap juga memaksa saya harus meluangkan waktu lebih untuk mengembalikan kewarasan di terminal Ketapang. 
Pukul 10.30 pagi, dengan naik kendaraan omprengan sejenis oplet saya menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya terminal-pelabuhan sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 2 km, tapi saya harus rela menunggu satu jam lamanya hingga oplet melebihi kurva maksimum bobot angkutan, fiuh molor lagi. 
Saya mengencangkan tali sepatu kets, membenahi ransel butut 10 kg yang bertengger di punggung, sembari menarik nafas dalam-dalam mengkerucutkan mental sebelum naik ke dek kapal. Maklum cuaca Selat Bali bulan ketujuh hingga kesembilan bisa dipastikan tidak begitu bersahabat. Saya naik ke dek atas karena di dalam telah penuh sesak manusia. Bule-bule dari Jerman acuh berfoto ria tak peduli dengan angin yang bertiup cukup kencang. Saya berpegangan erat pada besi tepian kapal dan berdoa agar tidak terlempar ke lautan. Asap hitam karbondioksida dari cerobong kapal berputar-putar menyengat hidung, tidak berapa lama ombak mulai tenang. Saya bahkan mulai bisa melihat makhluk-makhluk anggota filum coelenterata dan porifera melambai-lambai dari bawah air. Berbagai jenis nekton bahari dan ikan-ikan kecil berkejaran di sela-sela antozhoa, indah sekali. 
Di tengah keasyikan saya bercengkerama dengan para penghuni lautan, tiba-tiba seorang pemuda menegur saya, 
“Ombak uda lumayan tenang mbak …” 
“Iya”, pendek saya menjawab.
“Suka Arsenal ya ?” tanyanya melihat kalung handphone saya yang berlogo Arsenal.
“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab pendek.
“Sayang musim kemarin kalah lagi sama MU, ada Christiano Ronaldo sih.” Katanya mencoba akrab.
“Oya ?” komentar saya pendek lagi. 
“Napa suka Arsenal ?” Tanya pemuda yang kental dengan logat Bali itu.
“Percaya pada the young gun”. Kilahku. 
Dan percakapan berikutnya masih berkutat pada Liga Inggris dan tujuan perjalanan kami. Tapi anehnya kami samasekali tidak menanyakan nama masing-masing. Sekian titik tanpa koma.

30 menit terombang-ambing di laut, 11.45 siang kapal merapat di Gilimanuk. Akhirnya, Bali, I’m coming!!! Tetapi perjalanan ini belum berakhir, saya bergegas menuju terminal di seberang pelabuhan mencari bis jurusan Singaraja. (to be continued)


Jejak Perjalanan Menuju Kota Singaraja



Senja telah jauh tergulung langit malam ketika saya melaju di atas bis jurusan Surabaya. Malam hari sengaja saya pilih untuk perjalanan kali ini demi memangkas waktu tempuh. Maklum siang berpeluang besar macet.
Destinasi saya adalah Sririt, Kota Singaraja. Kalo kita membuka peta Pulau Bali maka letak Singaraja ada di ujung utara, ditandai bulatan warna merah dengan noktah hitam di tengahnya, sebagai simbol bahwa ia adalah ibukota kabupaten Buleleng.
3 setengah jam perjalanan Madiun-Surabaya saya sempat terlelap, untungnya suara kondektur bis yang seperti kaleng pecah membangunkan tidur saya yang telah memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Bis tiba di Bungurasih tepat saat adzan subuh berkumandang. Saya turun untuk menunaikan dua rakaat di masjid di seberang terminal.
Sebenarnya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih untuk bertolak ke Banyuwangi dari Surabaya. Pilihan pertama, pergi ke stasiun terdekat lalu naik kereta api jurusan Ketapang, tapi saat itu tepat tengah malam, lagipula jadwal KA susah diprediksi. Alternatif kedua, naik bis malam jurusan Singaraja. Sejauh pengetahuan saya hanya ada dua PO yang punya otoritas mengangkut penumpang menyeberangi Selat Bali menuju Singaraja, PO Manggala dan Puspasari. Kelebihan naik bis malam jelas nyaman dan aman sampai tujuan, dan sesuai hukum alam kenyamanan itu tidak bisa dibeli dengan harga murah. Sekitar 120 ribu tarif bis malam Surabaya-Singaraja, dan saya harus realistis karena anggaran financial saya cukup terbatas untuk perjalanan ini, jadi pilihan kedua cukuplah sebatas wacana. Alternatif ketiga naik bis jurusan Muncar langsung nyampe terminal Ketapang, dan terakhir adalah naik bis jurusan Probolinggo. Alternatif terakhir inilah yang saya ambil karena lebih banyak pilihan bis.
Bungurasih dini hari tak ubahnya seperti siang yang redup, ibarat penonton Piala Dunia yang telah meneguk 7 cangkir kopi agar mata tetap terjaga, setengah dipaksakan. Diantara deretan koran dan tabloid yang bertengger di etalase kios tak berkaca, mata saya melirik berita kepindahan Samir Nasri dari Olimpic Marseille ke Arsenal di jendela transfer musim pertama, hehe sayang untuk dilewatkan, maklum saya memang penggemar The Gunners.
Lepas dari Surabaya, bis menembus fajar di Pasuruan. Saya tidak menyangka beberapa bulan setelahnya, nama Pasuruan akan terkenal karena tragedi zakat yang mengenaskan di daerah pinggiran ini.
Memasuki Probolinggo aroma pantai mulai tercium, karena Probolinggo berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Lalu saat matahari telah naik mengembangkan layar episode anak manusia di hari itu, saya harus estafet ke bis jurusan Banyuwangi. Jalanan masih sepi seperti kota yang baru saja membuka mata. Kemudian bis memasuki kabupaten Situbondo. Bagi saya Situbondo ibarat mutiara yang terbungkus lumpur, menunggu investor yang bisa mengeksplorasi kecantikannya yang tersembunyi. Ingat Situbondo, jadi ingat Pasir Putih. Dulu bermacam species kuda laut dan batu karang cantik banyak ditemui disana, ngga tau bagaimana eksistensi mereka sekarang, apakah masih bisa bertahan di tengah habitat yang mulai kronis akibat pencemaran.
Dan ujian sebenarnya dalam perjalanan ini adalah ketika bis memasuki alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh, bahkan lorong antar kursi pun ngga bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau berpangkat kopral memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk. Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor di buku Harry Potter.
Penyiksaan itu berakhir di terminal Ketapang. Saya turun dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kewarasan saya setelah beberapa jam terjebak oleh kepungan manusia-manusia cerobong asap. Mengisi perut saya yang mulai protes meminta jatah sarapan.
Syukurlah saya bisa bertemu nasi pecel di sana… hehe. Dasar lidah Madiun, ke manapun yang dicari ya nasi pecel walaupun lidah saya telah mati rasa bercampur mual kebanyakan suplai TAR, CO, dan nikotin.
Ya, perjalanan menuju Singaraja masih di seberang mata dan saya harus bersiap mental menghadapi apa lagi yang ada di depan sana. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Catatan Perjalanan


Kali ini bis Sumber Kencono membawa saya ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saya perkirakan perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam, hanya selisih sedikit dari jarak tempuh Madiun-Solo. Tapi ternyata kalkulasi saya salah besar, nilai galat perhitungan waktu saya meleset jauh dari kenyataan. 
Melewati RS Muwardi, saya berhenti di Tirtomoyo untuk berganti bis kecil jurusan Bulu-Kelir. Wahyu Putro, nama bis itu, membawa saya dengan laju tak lebih dari 30 km/jam lambat merayap laksana pawai 17 Agustus, melalui sudut-sudut kota Solo di siang hari yang padat pemukiman. Tak jauh berbeda dengan Madiun, sepanjang jalan dipenuhi gambar-gambar anak manusia yang ingin duduk di kursi wakil rakyat, apalagi saat itu bersamaan dengan Mukernas PDI-P yang bertempat di The Sunan Hotel. Aroma pemilu makin terasa tajam siang itu.
Tujuan saya adalah desa Gentan, Kecamatan Bulu, kediaman sahabat saya, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang meninggal beberapa waktu lalu. 
Lepas dari kota Solo memasuki kabupaten Sukoharjo, sawah-sawah hijau muda dengan ujung keemasan terbentang, mengingatkan saya bahwa masyarakat sekitar masih menyandarkan hidupnya pada pertanian. Bis mulai meningkatkan kecepatan, mungkin karena sadar tidak ada penumpang yang bisa diangkut di jalur itu. Suara Koes Plus bersaudara masih setia mengalun dari tape recorder karatan yang terletak di dekat sang supir bis. Saya sempat khawatir karena di depan saya melihat tulisan besar tertera “Selamat Datang di Kabupaten Wonogiri”. Apakah saya sudah terlewat ? Maklum ini kali pertama saya ke sana hanya berbekal petunjuk alamat dari sms. Ternyata jalur bis untuk menuju Kecamatan Bulu memang harus melewati Wonogiri terlebih dahulu, lalu memutar ke barat ke arah Kelir.
Turun dari bis, hawa sejuk perbukitan berhembus menjemput wajah saya. Tepat 5 jam perjalanan di atas bis dari Madiun hingga Bulu Sukoharjo, persis jarak tempuh Madiun-Jogja. Dengan berjalan kaki saya melewati rumah-rumah peduduk yang sangat sederhana di kelilingi hutan jati. Jalanan sangat sepi meski jam menunjukkan angka 11.16 siang. Saya bahkan bisa mendengar desis suara serangga dari pohon-pohon jati di sekeliling saya. Kurang lebih 1 kilometer saya berjalan hingga bertemu sahabat saya tepat di depan pemakaman. Tanah pekuburan masih basah karena hujan semalam, dan bunga mawar yang ditaburkan di atasnya belum lagi kering. Untuk sejenak saya memunajatkan doa untuk sang penghuni kubur, ibunda dari sahabat saya tercinta.
Dia masih sama seperti dahulu, masih mahasiswa UNS semester 10 yang pending skripsi gara-gara proposal ditolak DP II. Hanya bapaknya yang tampak lebih tua dan lelah, maklumlah terakhir kali bertemu beliau 6 tahun yang lalu. Kesedihan telah kehilangan istri tercinta terlihat dari sorot mata dan bias wajah beliau yang sederhana. Saya menyesal tidak bersilaturrahim lebih awal sebelum musibah ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. 
Jadwal mengajar kelas malam  tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama. 14.30 saya pamit pulang. Bis “Wahyu Putro” yang kembali mengangkut saya melaju lebih cepat daripada perjalanan berangkat tadi. Dan untuk kedua kalinya hari ini, kecelakaan sepeda motor kembali terjadi di depan mata saya. Darah berceceran, membuat perut saya langsung mual pingin muntah. Memang ada phobia tersendiri dengan cairan berwarna merah itu. Pelajaran moral no 17. Buat semuanya saja, hati-hati benar kalo naik sepeda motor, ini peringatan!
Hujan deras kembali mewarnai perjalanan kali ini. Saya mengambil headset dan menemukan frekuensi radio anak Solo yang bahasanya sudah “loe-gue”… benar-benar ngga mau kalah sama ibukota. 
Menjauhi kota Solo, hujan semakin deras membuat pemandangan luar dari jendela bis tampak kabur tetapi tidak menyurutkan semangat pengamen bisu yang mencoba bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak terbata-bata di depan saya. Tuhan, lidah saya kelu melihatnya. Potret lain dari jahatnya kemiskinan. 
Dear God” yang dinyanyikan Avanged sevenfold mengalun pelan, membawa ingatan saya pada kepingan-kepingan hikmah yang harusnya mampu saya tangkap dari perjalanan ini. Hidup, nasib, dan kematian semua ada yang berkuasa mengaturnya, dan kita hanya bisa pasrah.  



Serenada Kereta Senja


Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 15.46. Kereta Pasundan itu datang tepat waktu, bisa dibilang sesuatu yang jarang terjadi pada jadwal kereta kelas ekonomi. Rencana awalnya, dari stasiun Lempuyangan, saya dan sahabat saya akan naik Pramex turun di Solo Balapan, lalu menggunakan bis untuk menuju Madiun. Tapi beruntung ada kereta Pasundan jurusan Madiun yang jadwalnya hampir bersamaan dengan Pramex. Dan untungnya lagi, baru beberapa menit di atas kereta yang penuh anak manusia, hujan turun dengan deras. Paling tidak kami ngga harus kehujanan di halte bis seperti rencana kami awalnya.
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya, penumpang turun dan naik silih berganti. Sampai akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman tepat di samping jendela yang bingkainya uda berkarat dengan kaca yang tak lagi utuh. Sahabat saya tampak asyik bercakap-cakap dengan ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya, tipikal wanita yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk shopping …(hehe.. habis kelihatan dari 4 tas belanjaan berisi kain dan sandal yang diburunya dari Beringharjo ).  
Saya memilih mengeluarkan Maryamah Karpov dari ransel butut di pangkuan saya. Menekuni lembar demi lembar perjalanan Ikal sambil sesekali melihat ke arah luar jendela. Gradasi langit tak begitu kontras senja ini, hanya warna putih pucat yang menyisakan gerimis yang tidak mempedulikan tubuh-tubuh basah kedinginan para pengadu nasib. 
Sementara itu pedagang-pedagang asongan terus berseliweran ngga kenal lelah, melompat dari gerbong satu ke gerbong berikutnya seperti arus kendaraan  saat mudik lebaran, rame. Menawarkan dagangan dengan semangat 45, seperti penjual aqua yang masih juga kekeh menawari saya minuman itu untuk kali ke-11 sejak saya duduk di kereta meskipun saya telah mengatakan tidak juga untuk ke-11 kalinya.
Kadang kemiskinan membuat orang menjadi sangat kreatif. Seperti halnya profesi-profesi yang berkantor di atas kereta ini. Mulai dari pedagang minuman sampai pedagang alat pijat, pengamen yang lebih mirip preman sedang memalak korbannya, lalu ada juga profesi penjaja jasa sapu gerbong yang memang sudah dipenuhi bungkus sampah makanan sampai-sampai kereta ekonomi ini menciptakan ekosistem tersendiri bagi semut, lalat, kocoa, dan makhluk bersayap lainnya (thank God saya belum pernah ketemu tikus selama pengalaman naik kereta). Kemudian ada juga orang yang tiba –tiba menyemprotkan cairan dari botol bertuliskan Bayfresh ke muka kita lalu menodongkan tangan minta bayaran. Kereta Ekonomi jurusan Surabaya-Madiun jauh lebih "angker", kalo ada pengamen yang genjrang-genjreng lalu kita pura-pura tidur, jangan harap mereka bakal berlalu begitu saja. Frekuensi nada suara mereka yang minor-tenor justru bakal makin ditinggikan. Sebuah intervensi terhadap kenyamanan penumpang yang teramat santun. Benar-benar orang-orang ini jeli melihat peluang sekecil apapun untuk mendapatkan sekeping receh demi bertahan hidup. Sementara di sudut lain yang hangat, bapak-bapak berdasi yang memanggul amanah besar nasib rakyat tertidur nyenyak di atas kasur busa hotel bintang lima setelah kekenyangan menikmati jamuan dinner dengan orang-orang yang ingin memuluskan proyek illegal mereka.