Kesederhanaan itu bernama Don Hasman
Laki-laki itu bernama Don Hasman. Jujur saya tidak tahu banyak tentang Om Don selain dari literatur-literatur yang saya googling dari internet. Pengalaman hidupnya, perjalanannya menyinggahi berbagai sudut dunia, karya fotografinya selama berpuluh tahun , dedikasi dan pengabdian terhadap profesinya sebagai fotografer kelas dunia. Sampai seorang kawan mengenalkan saya dengan sosok sederhana itu dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Saking takjubnya saya sampai spechless, ‘ndesoni’ barangkali. Kharisma lelaki yang seumuran dengan mbah saya itu lah membuat saya kehilangan jurus interogasi yang biasanya jadi gaya saya selama ini.
Don Hasman. Kalau menyimak penggalan episode perjalanannya di dunia fotografi sejak puluhan tahun lalu, saya kira semua akan sepakat Om Don sangat berbakat. Karya fotografinya selalu memberikan sudut pandang yang berbeda, unik, di luar mainstream, unpredictable. Lihat saja ‘kegilaannya’ mempelajari lalu mengabadikan kehidupan suku Asmat di Papua, Suku Tengger di Jawa Timur, kelompok orang Kubu di Sumatra, juga karya fotografinya mengabadikan jalur ziarah Santiago de Compostela dan Finisterrea Spanyol utara dengan berjalan kaki sejauh 1000 km dalam 35 hari, tiga tahun lalu. Dan jarak ini ditempuhnya dalam usia yang tak lagi muda.
Mengawali karir sebagai wartawan di sejumlah harian, ditemani kamera second kelas empat , Om Don berguru pada pengalaman secara otodidak dengan sempurna. Hingga kini masih menjadi Ketua Asosiasi Fotografer Indonesia. Pengalaman memang guru yang terbaik, kan? Saya kira yang membuat karya-karya seorang Don Hasman istimewa adalah karena ia melakukan semua itu dengan hati. Ada makna yang tersirat dalam tiap hasil bidikan gambarnya. Satu kalimat yang saya catat betul dari lelaki ini adalah tentang ketulusan untuk berbagi. Ketika kita bisa berada di satu tempat yang tak terjangkau bagi orang lain, bagilah itu! Abadikan momennya, biarkan orang lain turut menikmati apa yang kita juga nikmati. Sekalipun itu hanya dalam bentuk gambar photo. Maka tak heran ketika Don Hasman ditawari sekian ratus dollar setelah menjadi pemandu dalam sebuah perjalanan di luar negeri, ia menolak. “Sudah diberi kesempatan untuk membantu menjadi pemandu saja sudah syukur”, begitu katanya. Dari situ saya sadar, orang ini luar biasa. Maka tak heran Om Don sering menolak jika disiapkan hotel khusus untuk menginap selama mengisi berbagai undangan. Bahkan ia tak ragu membagi ilmunya secara Cuma-Cuma di seminar-seminar yang diadakan komunitas fotografi di seluruh Indonesia.
Menyerap pengalaman hidup sang fotografer yang sarat makna, menyimak berbagai ekspedisi dan pendakian yang dilakukannya sejauh ini, kadang menyiratkan pucuk-pucuk kerinduan akan kotak mimpi diri yang telah lama berkarat. Bertebaran di muka bumiNya, meneguk segala hikmah semesta, mencium aroma gletser kehidupan yang penuh tantangan, menggoda marabahaya di antartika, lalu menelan saripati makna yang tersimpan dalam tiap kepingan proton semesta.
Hmm, kisah Don Hasman sepertinya telah membangunkan kembali mimpi-mimpi seorang anak manusia di satu sudut bumi. Sedikit jejak impressive Don Hasman ini, mudah-mudahan memberikan inspirasi.
Don Hasman : Fotografi dan Kejujuran
(Indonesian Photo Magazine Online)
Don Hasman di depan karyanya saat berpameran di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (TEMPO/M.Syaifullah)
Don hasman (kiri), saya (kanan), dalam seminar fotografi yang
diadakan Magetan Photography Community
Hobi Fotografi
Seperti menulis, menekuni hobi fotografi ternyata menyenangkan. Bagi saya, ini cara lain menuai bulir-bulir makna dan rasa, karena setiap materi di jagat raya menyimpan hikmah jika kita mau menggali lebih dekat. Dan indah, kalau saja kita bersedia menggeser sudut pandang sebelumnya.
Virus inilah yang menggerayangi hasrat saya untuk terus mengasah kepekaan dari waktu ke waktu. Menajamkan insting, menangkap sudut-sudut hari yang seringkali terabaikan, lalu mengabadikannya dalam sekian ratus pixel gambar. Hehe, amatiran memang, tapi lumayan mengasyikkan.
Potret seorang tukang becak yang tertidur tentu tak pernah semenarik poster bergambar Dian sastrowardoyo yang aduhai dalam baliho iklan sabunnya. Tetapi satu bidikan gambar itu sudah cukup mewakili sosiokultur dan satire realitas kesejahteraan yang menghujam tubuh kurus seorang pejuang hidup. Dia kelelahan, maka ia tertidur. Bisa juga perutnya kosong sehingga ia lebih memilih tidur untuk melupakan demonstrasi sang usus. Dalam juring lingkaran waktu yang lebih luas, batin pun akan bertanya, lalu bagaimana jika ia pulang tanpa selembar rupiah? Bagaimana dengan si kecil yang minta jatah susu? Atau sang isteri yang menuntut dibelikan gincu? Hmmm, dari sini kita hanya diijinkan mengintervensi nasib si tukang becak sebatas dalam kotak imajinasi masing-masing, tidak lebih.
Potret “childhood” barangkali sangat biasa di mata banyak orang. Namun dalam prespektif lain, ini bisa bercerita tentang cermin masa lampau yang berbalut kepolosan sekaligus asa tentang masa depan. Lalu perjalanan itu akan mengantar kita pada kepingan kisah serupa, ketika jiwa belum lagi faham apa itu dosa, ketika bu guru menanyakan apa cita-cita kita, dan waktu belum lagi menyulam usia. Wajah-wajah innocent itu ibarat kertas putih yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi merah, biru atau abu-abu tergantung kepada siapa yang mewarnainya.
Apa saja bisa menjadi objek fotografi. Namun setiap karya bakal melahirkan rasa dan sentuhan aura yang berbeda. Sangat intim, sangat personal, bahkan egosentris. Mungkin itulah yang membuat karya lukisan seorang Van Gogh begitu diagungkan, tanpa menafikkan fakta sejarah bahwa ia pernah memotong kupingnya sendiri gara-gara mengidap penyakit gila.
Di zaman serba digital seperti sekarang, saya rasa siapapun bisa bertransformasi menjadi fotografer amatiran. Kapanpun dimanapun. Karena spontanitas adalah salah satu prinsip acuan. Kepekaan sekitar sebagai bumbu katalisator. Dan ilmu sebagai penyempurnanya.
Hmmm, tak usahlah saya berbincang banyak tentang bab ini. Lha wong saya ini Cuma tukang foto jadi-jadian. Jadi mending pamit kabur dulu sebelum ada fotografer professional baca…
Cerita Langit


























