Kenapa Flash Disk Rusak ?

Hari-hari terakhir ini saya harus kembali menelan kenyataan pahit ditinggalkan oleh flashdisk kesayangan. Bukan ditinggalkan sih, lebih tepatnya rusak, intinya uda ngga bisa digunakan lagi. Ini kali kedua saya mengalami hal serupa.
Kronologisnya, waktu itu lagi nyobain ngenet di warnet baru deket rumah. Lumayan kan ngga harus menggeber tunggangan kalo Cuma pengin posting atau cek email. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Semarang ibukota Jawa Tengah (hehe yang terakhir ngaco…), habis masang socket flashdisk ke port USB, sama sekali ngga ada komentar yang muncul di layar. Saya coba intip di jendela explorer juga belum muncul juga. Beberapa menit kemudian, saya cabut flash disk dari port. Sempet kaget juga karena flashdisk tiba-tiba terasa panas dan bau seperti benda terbakar. Aneh, soalnya setelah dicek sama si empunya warnet pake flash disk laen ternyata bisa detect. Jadi bingung, ada apa dengan flash disk saya ?


Seingat saya sejauh ini saya selalu mematuhi dan mengamalkan undang-undang di dalam memperlakukan flashdisk secara baik dan benar, diantaranya :
1. Menjauhkan dari pengaruh medan magnet kuat kayak TV, handphone, dan benda- benda sejenis lainnya.
2. Menghindarkan dari air meski sudah diklaim oleh vendor sebagai waterproof
3. Selalu melakukan proses virus scan
4. Melakukan proses eject sebelum mencabut flash disk dari port USB
5. Menjauhkan dari sinar matahari langsung
6. Menghindarkan dari benturan keras
7. Selalu menutup socket flash disk pas lagi ngga dipakai
8. Dan meminimalisir proses hapus tulis langsung dari flashdisk

Paling tidak itulah rambu-rambu yang saya pegang selama ini. Menurut sebuah artikel usia flashdisk berbeda-beda tergantung kualitas dan merk, biasanya berkisar antara 10.000 – 100.000 kali proses hapus tulis. Sementara umur flashdisk saya sekitar 1, 5 tahun dengan frekuensi pemakaian sedang.
Sempat Tanya ke beberapa teman soal hal ini. Ada yang bilang ini kesalahan pasang socket USB pada CPU, ada juga pendapat kalo CPU ngga bisa support jenis flashdisk tertentu. Setelah saya Tanya ke mbah Google pun belum ada jawaban yang memuaskan. Intinya kalo flashdisk uda rusak ya tamatlah riwayat file-file yang tersimpan di dalamnya, that’s all.
Jadi ingat kali pertama saya kehilangan data-data penting gara-gara flash disk rusak di tempat KKN, padahal umurnya baru beberapa bulan. Kronologisnya benar-benar sama, para flashdisk ini harus mengakhiri hidupnya di komputer orang lain. Padahal waktu itu ada data skripsi, proyek penelitian, naskah-naskah soal yang sudah tertata, presentasi power point, foto-foto , semuanya hilang. Hiks…. Parahnya beberapa bulan kemudian data back up di hardisk juga hilang karena hardisk rusak. Hikz kuadrat ;-(
Oya jujur kedua flashdisk saya yang rusak merk Kingston semua. Saya ngga menyalahkan merk koq, entahlah tapi saya pikir pasti ada alasan lain yang seharusnya bisa menjelaskan kejadian ini, biar ke depannya ngga akan terulang lagi. Mungkin teman-teman ada yang tahu penyebab kenapa flash disk bisa rusak ?

Rendezvous

Ceritanya sore ini saya sempatkan untuk membawa tunggangan mengelilingi kota tercinta Madiun, sesuatu yang uda lama tidak saya lakukan. Ngga ke seluruh kota sih, cuma sebagian saja. Udara masih terasa hangat meski matahari sudah mulai condong ke barat, pertanda kemarau menjelang. Aspal jalanan juga masih menyimpan sisa-sisa panas yang terik sejak pagi hingga siang tadi. Tips : kalo lagi pengen jalan sore, jangan sampe ngga pake sandal atawa sepatu, bisa-bisa pulang dengan kaki melepuh minimal kapalan.

Saya arahkan motor butut kesayangan melewati tempat-tempat yang jadi sejarah hidup sewaktu muda (lagi ngerasa sok tua niy….). Bangunan sekolah di jalan kartini yang dari luar belum banyak berubah kelihatan dingin, anggun membisu, tapi menyimpan kenangan. Lagu Kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7 tiba-tiba terngiang -ngiang di kepala saya. Untung, saya bisa menahan diri untuk tidak berjoget ;-p. Di sebelah selatannya, gedung pengadilan negeri berdiri dengan wajah baru. Saya sampai pangling melihat bangunan yang dulu usang berpayung beringin itu kini terlihat cling. Lupa saya kapan terakhir kali lewat jalan ini.

Karangan bunga ucapan selamat untuk walikota baru juga masih terpajang di pintu masuk kantor Pemkot. Iya, sekedar info buat warga luar, Madiun baru saja mendapat pemimpin baru periode 2009-2014, dilantik di Gedung Graha tanggal 29 April di bawah pengamanan hampir 1000 personil keamanan. Banyak yang bilang, pengamanannya superketat, kayak suasana DOM (daerah operasi militer) di Aceh. Ada watercanon, sniper, untung ngga ada tenk tempur sekalian ya, Pak Kapolres…
(catatan : Bambang Irianto-Sugeng Rismiyanto menang dalam Pilkada kota Madiun 23 Oktober 2008 di bawah dugaan skandal money politik).


obral euy...


Pusat perbelanjaan berdiri menggoda di sepanjang jalur Pahlawan. Heran juga, di kota sekecil Madiun, dengan laju ekonomi yang biasa saja, dengan profil demografi penduduk usia produktif kebanyakan tak berpenghasilan, bisa saja berdiri 4 mall dalam kurun lima tahun terakhir. Mungkin Pemerintah Kota sadar benar kalo para warganya sangat tidak mudah menolak godaan obral tiap akhir bulan dan derasnya migrasi gaya hidup ala kota besar. Kemudian mata saya membaca tulisan besar-besar di bawah jembatan penyebrangan, tepat di depan salah satu mall “PUSAT REKREASI DAN BELANJA KELUARGA”. Qeqeqeqe, benar-benar provokatif …
(Sisi positifnya, beberapa tetangga saya diterima bekerja di pusat belanja yang baru berdiri di bekas lahan terminal lama. Utamakan anak lokal ya Pak manajer ?)


pusat belanja dan rekreasi keluarga weks...


Alun- alun belum banyak berubah, sepertinya sore ini sedang digelar liga sepakbola professional antara RT Baru Maju versus RT Mundur Kena. Rame juga yang nonton, dari penjual bakso sampai anak-anak, lumayan kan bisa nonton bola gratis dari tribun VVIP. Di sebelah timur, satu mall yang sudah eksis sejak saya belum lahir sekarang sudah beralih fungsi menjadi pusat jual-beli handphone, karena kalah saingan mungkin.

Sore jelang maghrib, populasi pedagang kaki lima di area stadion wilis semakin bertambah. Saya tidak ingat kapan tepatnya lokasi ini mulai menjadi pusat wisata kuliner malam hari. Yang pasti mulai dari penjual kacang rebus sampe es puter semua ada. Apalagi dengan migrasi pedagang PBM ke pasar penampungan di utara stadion. Bikin kehidupan malam di Madiun jadi tambah semarak, seperti pasar malam.

Konsentrasi PKL juga tersebar di sepanjang jalan Diponegoro dari timur ke arah barat. Roti bakar, ayam bakar, seafood bakar, sampe bakso bakar tersedia di tenda-tenda pinggir jalan. Tapi menu nasi kucing yang murah meriah sepertinya belum berhenti menjadi primadona.

Di sebelah barat, lapangan basket bosbow dengan background pohon beringin tua masih memamerkan sejarahnya. Hehe, dia saksi bisu betapa aduhainya shooting basket saya dulu, hemmm… ibarat pungguk merindukan keranjang basket. (saya punya usul gimana kalo keranjangnya dibuat agak rendah sedikit ? Ide yang bagus bukan ?... ).



the unforgotten bosbow


Mendekati maghrib, jalanan semakin ramai. Sebagian orang-orang bersepatu yang baru pulang kerja dan sebagian lain mungkin orang-orang yang ingin keluar melepas kepenatan hidup. Tapi saya harus pulang.



senja sore ini lagi bagus...

Karena Mereka Istimewa

Semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada seorang pun yang menyangsikan. Semua orang tua menaruh rasa sayang sekaligus cinta kepada para buah hatinya. Tak ada yang meragukan. Tetapi pada kenyataannya rasa sayang dan cinta itu seringkali diterjemahkan dalam wujud yang tak dapat dipahami, paling tidak oleh nalar saya yang dangkal ini.
Saking sayangnya terkadang orangtualah yang menyetir ke mana anak-anaknya harus melangkah. “Kamu harus menjadi dokter”, atau “Bapak ingin kamu jadi sarjana teknik”, “Kuliah di IKJ kamu mau jadi apa?”, “Swasta itu hidupnya susah”, dll. Banyak orangtua yang meminta anaknya harus jadi anu atau kudu kuliah di jurusan itu, padahal si anaklah yang kelak akan menjalani hidupnya, bukan sang bapak atau ibu kan ?
Saya sadar sebenarnya saya tidak memiliki “wewenang ilmiah” tentang ini (karena saya belum berstatus orang tua), tapi saya coba berbicara dari sudut pandang orang luar yang sering bersentuhan langsung dengan masalah-masalah serupa. Maklum, profesi sebagai tutor mau tidak mau memaksa saya untuk masuk ke dalam area hubungan anak dan orang tua yang seringkali mengalami friksi hanya karena miskomunikasi.



“ Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putra-putri Sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri …..” (K. Gibran)



Dalam bukunya “Dig your well before you thirsty”, Harvey Mackay mengatakan, sebenarnya setiap orang memiliki aspek daya jual baik dalam aspek pengetahuan, kompetensi, ketrampilan, minat, sasaran, visi , misi, maupun pengalaman-. Intinya tiap kita adalah istimewa. Kita lahir dengan potensi, bakat, dan keinginan masing-masing. Untuk itulah guru SD kita selalu bertanya “Apa cita-citamu kelak?”, ketika sang anak telah meretas impiannya untuk menjadi novelis hebat karena terinspirasi kesuksesan JK Rowling misal, tapi kemudian di tengah jalan sang ibu menginginkan anaknya menjadi perwira, bukankah kedengarannya cukup tidak adil bagi si anak ? Terlebih jika si anak samasekali tidak mempunyai minat ataupun bakat menjadi perwira. Kondisi ini sepertinya juga dilematis bagi anak sendiri. Di satu sisi ia ingin mewujudkan mimpi dan cita-citanya, sementara di sisi lain tak ingin mengecewakan orangtua yang telah membesarkan dengan sepenuh jiwa.
Saya mempunyai seorang kawan yang sejak kecil suka sekali menggambar. Buku-buku pelajarannya dipenuhi coretan kartun, desaign baju, model bangunan, gambar-gambar dalam dimensi dunianya sendiri. Bahkan ketika guru menerangkan di depan kelas, tangannya tidak berhenti bergerak ibarat Claude Monet yang menggoreskan sketsa di atas kertas. Hasil coretannya pun bisa dibilang outstanding untuk ukuran seorang otodidak yang berguru pada bakat. Sayang sekali bakat luar biasanya ini tidak tersalurkan sebab sang ibu lebih merestuinya menjadi birokrat. – ini hanya satu contoh.
Alangkah bahagianya ketika orangtua yang kita cintai bisa mendukung, bukan mencibir setiap visi kita, mengingatkan bukan menyalahkan ketika jalan kita menyimpang, menasihati bukan menyetir apa yang kita citakan. Karena restu Sang Hidup berasal dari restu orangtua jua.