The CoLouR Of LiFe
Saya mempunyai seorang saudara sepupu, usianya terpaut 2 tahun dengan saya, dia masih muda, cantik, pandai, dari keluarga berada pula. Pernah jadi anggota Paskibraka di Istana Merdeka, bahkan produser pun jeli meliriknya jadi model iklan produk kecantikan. Secara logika, banyak orang yang akan berpendapat betapa lengkaplah kehidupan sepupu saya tadi, gimana engga she has everything, she gets anything she wants. Tapi kabar yang saya terima beberapa waktu belakangan ini sungguh membuat saya heran. Dia keluar dari kerjaannya di salah satu hotel ternama di dekat Kute, jadi sering keluyuran ngga jelas tujuan, berhari-hari ngga pulang ke rumah, orang tuanya pun kayaknya uda kehabisan akal buat mengontrol anak yang dulu jadi kebanggaan keluarga ini.
Saya benar-benar ngga habis pikir, sebenarnya apa yang dia cari di luar sana, fasilitas, keluarga, uang, semua dia punya. Tetapi ternyata dia masih belum puas dan lebih memilih jalan lain…...
Lain lagi dengan seorang teman saya yang sudah sejak 5 tahun lalu belum juga menuntaskan kuliahnya. Awal mendaftar SPMB dia diterima di D3 Teknisi Perpustakaan, namun dua tahun kemudian hasrat membawanya masuk di fakultas hukum…. Saya ngga tahu tahun depan dia mau masuk jurusan apalagi… Ketika tiap kali saya menyapanya dengan sebutan ‘bu pengacara’, dia menjawab , “Masih saja kau doakan aku untuk jadi pengacara…”. Kemudian saya berfikir lalu untuk apa dia mengambil jurusan hukum , kalau tidak ada keinginan kesana ? Lalu dia mengatakan bahwa kuliah tu ngga Cuma buat cari kerja, tapi buat cari ilmu… biar bisa mendidik anak-anak kita kelak jadi orang yang berilmu … kata-katanya telah membuka mata hati saya.
Saya ingat tentang teman kuliah saya yang meninggal empat tahun lalu. Dia orang yang sangat supel, pembawaannya ceria, dan tentu saja banyak yang suka padanya. Beberapa bulan sebelum wisuda dia menikah dengan pria tambatan hatinya. Namun Sang kuasa berkehendak lain. Suatu pagi yang mendung saya mendapat kabar bahwa dia mengalami kecelakaan hebat dan meninggal dunia seketika. Itu terjadi tepat seminggu jelang ujian skripsi. Banyak yang terpukul atas musibah itu. Saya masih ingat dia sering menceritakan rencana-rencananya, baju yang disiapkan untuk wisuda, salon untuk rias, taksi yang disiapkan untuk kedua orangtuanya, acara syukuran kelulusan, dsb. Rasanya seperti baru kemarin kami bercanda bersama dan menertawakan tentang diri masing-masing, dan tiba-tiba saja di sudah ngga ada.
Pelajaran hidup no. 7. Manusia berencana, Tuhan yang Berkehendak.
Beberapa hari ini kota tempat saya tinggal disibukkan oleh hiruk pikuk pilkada, pemilihan walikota. Seperti pilkada yang sudah-sudah, sampai hari ini pun yang namanya money politik rasanya ibarat karat di rantai sepeda saya yang susah buat diilangin. Dua hari jelang coblosan, rumah di datangi oleh orang dari salah satu calon pasangan. Ngga tanggung-tanggung Rp 100.000 dibagikan, “ Besok pas hari-H jangan lupa coblos ini ya…” begitu katanya pada ibu yang waktu itu ada di rumah. Lalu keesokan harinya rumah kembali didatangi seorang kader dari calon yang lain tentu saja. Sambil mengucap salam dia membagikan sebuah amplop yang isinya apa coba ?... brosur visi dan misi. Dalam hati saya tersenyum. Ternyata masih ada orang jujur di dunia ini Ya Allah ternyata selama ini penilaian saya tidak salah.. Meskipun pada akhirnya si calon yang membagikan brosur tadi Cuma menduduki juru kunci total perolehan suara, sedangkan si pembagi uang 100 ribu tadi memenangkan pilkada.
Pelajaran hidup no. 3, jujur bukan berarti hancur.
Trus kalo saya bertanya pada anda kira –kira anda bakal pilih calon pemimpin yang membagikan uang tadi atau yang Cuma membagikan brosur ? hehe
Sungguh banyak lagi hal lain di sekeliling kita, makna yang tersembunyi di dalam warna-warni kotak kayu mahoni kehidupan. Kalau saja kita mau bercermin. Kalau saja kita mau belajar.
TENTANG LASKAR PELANGI
Laskar Pelangi memang luar biasa. Betapa kita musti bersyukur memiliki pribadi seperti Andrea Hirata yang telah menyentuh hati kita tentang makna hidup dari kesederhanaan anak-anak Belitong yang luar biasa. Membaca kisah Laskar Pelangi membawa ingatanku ke masa beberapa tahun lalu. Masa-masa berat translasi dari mimpi dan cita-cita ke dunia realita. Suatu masa dimana aku masih bertarung dengan egoisme, kesombongan, dan kekecewaan terhadap Tuhan…
Masa itu, masa dimana aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi sederhana, yang tanpa kusadari dari kesederhanaan mereka tumbuh ilmu dan pengalaman hidup yang begitu menyentuh. Mereka bukan siapa-siapa.
Mereka bukan anak Bupati atau anak dokter. Mereka segolongan anak-anak desa yang menganggap bahwa pendidikan diploma di kota kecil ini adalah sebuah kemewahan. Mungkin terlalu naïf jika aku harus membandingkan mereka dengan kawan-kawan lain yang punya segudang jalan dan sejuta fasilitas untuk mewujudkan mimpi mendapatkan predikat sebagai “anak UI” atau “arek Unair” .
Kesederhanaan orang-orang ini, ketegaran mereka, pengalaman hidup yang mereka punya telah mengajarkan aku untuk berdamai dengan dunia kala itu.Aku malu, malu pada diriku, malu pada Tuhanku. Diri ini mungkin ngga ada apa-apanya jika harus dibandingkan dengan kepolosan sosok Watik yang harus kerja banting tulang, sementara kedua orangtuanya entah ada dimana…
Atau Dian, gadis dari keluarga sederhana yang dikaruniai kecerdasan luar biasa, kontras dengan sosok adiknya yang mengalami keterbelakangan mental. Dia ibarat eidelweiss yang mekar di puncak Semeru.
Juga Dodhi, yang begitu bersahaja dengan kreativitas dan kemampuan leadershipnya yang mungkin bisa saja mengantarnya menjadi presiden BEM di PTN terkenal.
Terkadang kita terlalu dibutakan oleh dunia, oleh mimpi-mimpi semu yang kadang membuat kita berfikir kerdil. Setiap insan pasti memiliki impiannya masing-masing. Bersyukurlah buat mereka yang diberi jalan untuk bias mewujudkan mimpinya. Namun bagi mereka yang belum bias mendapatkan impiannya, selalu ada rencana B kan ?
Kalaupun nasi telah berubah menjadi bubur karena kebanyakan air, buburnya jangan dibuang. Beli aja beberapa ons daging ayam, sedikit taburan bumbu, ditambah sentuhan citarasa bawang goreng, plus adukan ketawakalan. Jadilah bubur ayam special.
Kita ngga pernah tahu hikmah apa yang ada dibalik kehendakNya.
Kadangkala Dia menghilangkan matahari dalam sejenak, bahkan Dia menurunkan awan hitam, guntur dan petir. Puas hati kita mencari matahari, ternyata Allah menghadiahkan pelangi untuk kita. Allah give us what we need, not we want. Terlalu banyak nikmat yang harus disyukuri daripada derita yang disesali. Setujuuuu ngga ?
There's just one Choice : Take it or Leave it

Menjadi produser sebuah acara radio memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika qt tinggal di sebuah kota kecil, dimana idealisme seringkali berbenturan keterbatasan cara pandang orang dalam menilai dunia. Ketika setiap hari harus bergesekan dengan orang-orang dengan isi kepala yang berbeda, ibarat isi es aneka buah kegemaranku yang slalu jadi santapan kegemaran saat buka puasa .... ih, koq jadi ngelantur sampe situ ya ( hehehe...!!!).
Namun yang pasti kalo es aneka buah bisa menentramkan perut, maka jus aneka pendapat yang jadi santapan rohani setiap pagi di tempatku bekerja benar-benar bisa memancing sensasi emosi yang luar biasa....
Pokoknya harus banyak2 istighfar n bersabar... apalagi ini dunia yang benar2 baru buat seorang aq. Tahunan bekerja dengan orang2 yang sekarakter, terkoneksi dengan orang-orang dengan spektrum warna yang monokrom (hingga kadang bikin bosan...). Kini ketika diri ini dihadapkan pada sebuah realitas harus beradaptasi dengan oran-orang baru dengan karakter dari sabang sampe merauke, dengan isi kepala seperti isi es buah kesukaanku... hehehe, rasanya seperti seorang gadis kecil yang baru beranjak mengenal dunia... sabar , sabar, dan sabar !!!
sekali lagi bukannya tanpa alasan aku menerima tawaran ini. sudah terlalu lama aq menunggu untuk sebuah kesempatan bekerja di media. And that was my chance. aq sadar jadi produser bukan lah hal yang mudah, tapi seorang pemenang adalah mereka yang berkata; " INI MEMANG TIDAK MUDAH, TAPI SAYA BISA MENCOBA" Dan bagi mereka para pecundang, mereka akan berkata; "INI BISA TETAPI SULIT". Maka tibalah aq disini, terdampar di sebuah negeri dimana idealismeq tertantang untuk bisa terpuaskan....
Sekali lagi aq bilang ini tidaklah mudah. Apalagi ketika sebagian masyarakat di sekitar belum bisa menghargai dan memaknai harga sebuah idealisme.
Maka, kalo aq boleh mengingat masa awal ketika Kabag Siarku menawariku tugas ini. Tidak ada pilihan lain. There's just one choice , Take it or Leave it. And I... with all of the risks... I prefer to Take this Opportunity.