Komposisi Sleep Away dari Bob Acri masih mengalun di labirin telinga saya malam ini. Si kecil sudah tidur. Jarang-jarang saya masih bisa terjaga, karena biasanya kantuk sudah melahap energi saya habis-habisan setelah berjibaku dengan hari.
Saya ambil notebook dan mulai melakukan "backpacking" di dunia maya (tanpa backpack di punggung tentunya) dan menemukan ini...
“Data yang dirilis BPS baru-baru ini menyebutkan, 610 ribu dari total 7,17 juta pengangguran terbuka di Indonesia, adalah "pengangguran intelektual" atau dari kalangan lulusan universitas. Sementara itu Menteri tenaga kerja dan transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan kondisi itu bisa dikategorikan darurat SDM (sumber daya manusia), karena mereka seharusnya bisa berkarya untuk negeri” (sumber : Tribunnews)
Saya manggut-manggut membaca data-data itu dari sebuah laman di internet, sembari memikirkan orang-orang yang masuk dalam kualifikasi “berniat berkarya untuk negeri” menurut definisi pak menteri itu tentu jumlahnya hanya sekian persen. Sisanya, adalah mereka yang bekerja demi urusan perut dan memburu status sosial.
Andai satu universitas mewisuda 1000 orang tiap tahun, lalu dikalikan dengan jumlah universitas yang ada di Indonesia, maka silahkan ambil kalkulator dan hitung sendiri berapa total lulusan yang akan bersaing memperebutkan lapangan kerja. Hasilnya sebuah perbandingan yang sama sekali tidak seimbang pastinya.
Tapi bagi anda para lulusan sarjana yang sedang mencari kerja, yang tidak ingin menyandang status demografi sebagai "pengangguran terpelajar" .... tenang saja, angka dalam kompetisi itu bisa dikurangi dengan jumlah para lulusan summa cumlaude yang telah dikontrak oleh perusahaan tertentu karena kecemerlangan otaknya selama menimba ilmu di kampus. Lalu dikurangi lagi dengan mereka-mereka yang “beruntung” karena bapaknya orang penting sehingga punya banyak koneksi untuk mempermudah si anak bekerja di perusahaan X. Faktor pengurang terakhir adalah orang-orang yang dari lahir sudah tajir melintir sehingga ketika lulus sarjana langsung diwarisi untuk mengelola dinasti perusahaan orangtuanya.
Nah, baru sisanya adalah para fresh graduate (dan undergraduate yang sudah tidak fresh) yang berkompetisi memperebutkan lowongan kerja yang tersedia. Mengantre untuk menjadi hamba korporasi.
Secara sistem begitulah produk universitas kita. Sesuatu yang sangat mudah ditebak. Pasca lulus, melamar kerja di perusahaan, syukur-syukur instansi pemerintah. Ada kepastian finansial, kestabilan tiap bulan, terlindung aman di dalam sistem, bekerja 8 jam dalam 5 hari, cuti 12 hari setahun, pendapatan minimal UMK, masuk tidak masuk tetap digaji, dana pensiun siap menanti. Nikmat memang. Seribu sayang, realita tidak seindah angan, kawan.
Sebenarnya ada lapangan kerja yang masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang status pendidikan yaitu membanting setir menjadi wirausaha. Tapi saya yakin jumlah golongan ini masih menjadi minoritas. Tidak banyak anak muda yang berani mencoba "jalur indie" ini dengan pengalaman yang minim serta modal cekak, sementara hasil belum tentu sesuai harapan. Namun dengan keberanian, kreativitas, semangat pantang menyerah, serta tak kenal lelah untuk belajar, tidak ada yang mustahil. You are going to impossible...(ahaa, kalimat terakhir ini saya kutip dari seorang trader)
Inilah profesi yang memungkinkan siapa saja memperoleh pendapatan tak terbatas, dengan masa pensiun kapan saja susuai yang didinginkan. Coba anda buka majalah Forbes, lihat daftar nama orang terkaya di Indonesia bahkan dunia, mereka adalah para pengusaha, kawan.
Tapi tidak ada yang instan, karena ini bukan mie instan, apalagi kopi instan. Para pengusaha bekerja 24 jam selama 7 hari. Di Saat karyawan libur, jangan kira pemilik usaha hanya berleha-leha di rumah. Para pengusaha terus memutar otak, bagaimana mengembangkan bisnisnya, memperbesar laba, memperkecil kerugian, bagaimana menyejahterakan karyawannya, bagaimana memuliakan konsumennya. Menguji coba berbagai strategi, dengan memperhitungkan segala resiko yang ada. Tidak mudah kelihatannya, itulah kenapa tidak banyak anak muda yang bersedia mengambil jalur ini.
Sebenarnya, jalan menuju kesana (baca : kesuksesan) akan menjadi ringan jika kita menikmati setiap episodenya. Jatuh, bangun, Untung, rugi. Semua itu bagian dari rangkaian puzzle yang pada akhirnya akan menjadi sebuah gambar besar, yaitu visi kita. Problem terbesar sejatinya adalah bagaimana kita pandai-pandai mengelola emosi dan terus menjaga alam bawah sadar kita tetap fokus pada visi. Kalau kita bisa menjaga itu, menjaga pikiran terus positif terhadap apapun yang terjadi, segalanya akan terasa lebih mudah.
Selamat mencoba!!!
Tulisan terkait : Kultus seragam,