Ketapang - Gilimanuk


Saya mencintai perjalanan, berada dari satu tempat ke tempat lain membentuk prespektif tersendiri bagi saya dalam memandang kehidupan. Kita bisa melihat beragam budaya, bahasa, adat dan kebiasaaan manusia, serta karakter suatu daerah. Buat saya itu menyenangkan, memperkaya diri, mengembangkan pola pikir, dan membunuh rutinitas yang menjemukan. Terkadang saya bermimpi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan travelling dari daerah satu ke daerah lain seperti Riyanni Djangkaru mungkin…(hehe ngayal !!!). Lalu seorang teman merekomendasikan sebuah profesi yang bisa mengakomodir keinginan saya itu. Terus berkelana dari satu kota ke kota lain, bahkan memiliki otoritas penuh atas sejumlah nasib manusia. Ya, teman saya merekomendasikan saya untuk menjadi kondektur bis.
Perjalanan Madiun-Singaraja yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun kurang lebih 12 jam ternyata jauh melebihi prediksi. Ini karena bis dari Probolinggo menuju Banyuwangi yang mengangkut saya berjalan lambat merayap laksana pawai ta’aruf 1 Muharam, penderitaan terjebak bersama para manusia cerobong asap juga memaksa saya harus meluangkan waktu lebih untuk mengembalikan kewarasan di terminal Ketapang. 
Pukul 10.30 pagi, dengan naik kendaraan omprengan sejenis oplet saya menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya terminal-pelabuhan sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 2 km, tapi saya harus rela menunggu satu jam lamanya hingga oplet melebihi kurva maksimum bobot angkutan, fiuh molor lagi. 
Saya mengencangkan tali sepatu kets, membenahi ransel butut 10 kg yang bertengger di punggung, sembari menarik nafas dalam-dalam mengkerucutkan mental sebelum naik ke dek kapal. Maklum cuaca Selat Bali bulan ketujuh hingga kesembilan bisa dipastikan tidak begitu bersahabat. Saya naik ke dek atas karena di dalam telah penuh sesak manusia. Bule-bule dari Jerman acuh berfoto ria tak peduli dengan angin yang bertiup cukup kencang. Saya berpegangan erat pada besi tepian kapal dan berdoa agar tidak terlempar ke lautan. Asap hitam karbondioksida dari cerobong kapal berputar-putar menyengat hidung, tidak berapa lama ombak mulai tenang. Saya bahkan mulai bisa melihat makhluk-makhluk anggota filum coelenterata dan porifera melambai-lambai dari bawah air. Berbagai jenis nekton bahari dan ikan-ikan kecil berkejaran di sela-sela antozhoa, indah sekali. 
Di tengah keasyikan saya bercengkerama dengan para penghuni lautan, tiba-tiba seorang pemuda menegur saya, 
“Ombak uda lumayan tenang mbak …” 
“Iya”, pendek saya menjawab.
“Suka Arsenal ya ?” tanyanya melihat kalung handphone saya yang berlogo Arsenal.
“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab pendek.
“Sayang musim kemarin kalah lagi sama MU, ada Christiano Ronaldo sih.” Katanya mencoba akrab.
“Oya ?” komentar saya pendek lagi. 
“Napa suka Arsenal ?” Tanya pemuda yang kental dengan logat Bali itu.
“Percaya pada the young gun”. Kilahku. 
Dan percakapan berikutnya masih berkutat pada Liga Inggris dan tujuan perjalanan kami. Tapi anehnya kami samasekali tidak menanyakan nama masing-masing. Sekian titik tanpa koma.

30 menit terombang-ambing di laut, 11.45 siang kapal merapat di Gilimanuk. Akhirnya, Bali, I’m coming!!! Tetapi perjalanan ini belum berakhir, saya bergegas menuju terminal di seberang pelabuhan mencari bis jurusan Singaraja. (to be continued)


Fotografi


























Ini beberapa hasil jeprat-jepret dengan obyek makhluk-makhluk berklorofil di halaman rumah saya yang sempit. Ada spider plant yang menjuntai-juntai, melati belanda yang ternyata mudah dikembangkan di tempat panas, boston ferns alias paku-pakuan favorit saya, mawar yang saya kirain uda tamat umurnya tapi masih mau berbunga, kamboja jepang yang setia menemani 16 tahun dan mekar tanpa mengenal musim, rosela yang juga hidup lagi setelah mati suri, juga anggrek purple titipan tetangga hehehe. Saya ambil dengan kamera SE K750 2.0 Megapixel.

Jejak Perjalanan Menuju Kota Singaraja



Senja telah jauh tergulung langit malam ketika saya melaju di atas bis jurusan Surabaya. Malam hari sengaja saya pilih untuk perjalanan kali ini demi memangkas waktu tempuh. Maklum siang berpeluang besar macet.
Destinasi saya adalah Sririt, Kota Singaraja. Kalo kita membuka peta Pulau Bali maka letak Singaraja ada di ujung utara, ditandai bulatan warna merah dengan noktah hitam di tengahnya, sebagai simbol bahwa ia adalah ibukota kabupaten Buleleng.
3 setengah jam perjalanan Madiun-Surabaya saya sempat terlelap, untungnya suara kondektur bis yang seperti kaleng pecah membangunkan tidur saya yang telah memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Bis tiba di Bungurasih tepat saat adzan subuh berkumandang. Saya turun untuk menunaikan dua rakaat di masjid di seberang terminal.
Sebenarnya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih untuk bertolak ke Banyuwangi dari Surabaya. Pilihan pertama, pergi ke stasiun terdekat lalu naik kereta api jurusan Ketapang, tapi saat itu tepat tengah malam, lagipula jadwal KA susah diprediksi. Alternatif kedua, naik bis malam jurusan Singaraja. Sejauh pengetahuan saya hanya ada dua PO yang punya otoritas mengangkut penumpang menyeberangi Selat Bali menuju Singaraja, PO Manggala dan Puspasari. Kelebihan naik bis malam jelas nyaman dan aman sampai tujuan, dan sesuai hukum alam kenyamanan itu tidak bisa dibeli dengan harga murah. Sekitar 120 ribu tarif bis malam Surabaya-Singaraja, dan saya harus realistis karena anggaran financial saya cukup terbatas untuk perjalanan ini, jadi pilihan kedua cukuplah sebatas wacana. Alternatif ketiga naik bis jurusan Muncar langsung nyampe terminal Ketapang, dan terakhir adalah naik bis jurusan Probolinggo. Alternatif terakhir inilah yang saya ambil karena lebih banyak pilihan bis.
Bungurasih dini hari tak ubahnya seperti siang yang redup, ibarat penonton Piala Dunia yang telah meneguk 7 cangkir kopi agar mata tetap terjaga, setengah dipaksakan. Diantara deretan koran dan tabloid yang bertengger di etalase kios tak berkaca, mata saya melirik berita kepindahan Samir Nasri dari Olimpic Marseille ke Arsenal di jendela transfer musim pertama, hehe sayang untuk dilewatkan, maklum saya memang penggemar The Gunners.
Lepas dari Surabaya, bis menembus fajar di Pasuruan. Saya tidak menyangka beberapa bulan setelahnya, nama Pasuruan akan terkenal karena tragedi zakat yang mengenaskan di daerah pinggiran ini.
Memasuki Probolinggo aroma pantai mulai tercium, karena Probolinggo berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Lalu saat matahari telah naik mengembangkan layar episode anak manusia di hari itu, saya harus estafet ke bis jurusan Banyuwangi. Jalanan masih sepi seperti kota yang baru saja membuka mata. Kemudian bis memasuki kabupaten Situbondo. Bagi saya Situbondo ibarat mutiara yang terbungkus lumpur, menunggu investor yang bisa mengeksplorasi kecantikannya yang tersembunyi. Ingat Situbondo, jadi ingat Pasir Putih. Dulu bermacam species kuda laut dan batu karang cantik banyak ditemui disana, ngga tau bagaimana eksistensi mereka sekarang, apakah masih bisa bertahan di tengah habitat yang mulai kronis akibat pencemaran.
Dan ujian sebenarnya dalam perjalanan ini adalah ketika bis memasuki alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh, bahkan lorong antar kursi pun ngga bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau berpangkat kopral memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk. Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor di buku Harry Potter.
Penyiksaan itu berakhir di terminal Ketapang. Saya turun dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kewarasan saya setelah beberapa jam terjebak oleh kepungan manusia-manusia cerobong asap. Mengisi perut saya yang mulai protes meminta jatah sarapan.
Syukurlah saya bisa bertemu nasi pecel di sana… hehe. Dasar lidah Madiun, ke manapun yang dicari ya nasi pecel walaupun lidah saya telah mati rasa bercampur mual kebanyakan suplai TAR, CO, dan nikotin.
Ya, perjalanan menuju Singaraja masih di seberang mata dan saya harus bersiap mental menghadapi apa lagi yang ada di depan sana. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Fenomena Ponari dan Batu Bertuah

Ponari dan Batu bertuah, mengingatkan saya pada buku Harry Potter jilid 1 "Harry Potter and The Sorcerers Stone" hehe... melihat ramainya pemberitaan di media soal Ponari dan batu ajaibnya, benar-benar menggelitik logika saya. Simpul-simpul neuron otak saya seperti kena kejut, terheran-heran, lantas terbengong-bengong. bukan karena kehebatan sang batu yang dibilang orang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, tetapi shock menelan pil realita bahwa masyarakat kita masih tunduk pada hal-hal yang menyerempetkan iman pada jurang kesesatan nomor 1 yaitu kesyirikan.
memang masalahnya lebih kompleks dari itu, lemahnya kualitas pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil, biaya obat dan dokter yang makin mahal, terbatasnya tenaga medis di pelosok diindikasi menjadi beberapa penyebab mengapa puluhan ribu orang rela mengantre demi mendapat "berkah kesembuhan" batu Ponari.
secara ilmiah jelas belum ada postulat yang membenarkan kesahihan sang batu. tetapi ketika sakit telah bersarang pada diri, berbagai obat telah diminum, puluhan dokter telah di datangi, tetapi penyakit ngga kunjung sembuh, maka kekerdilan imanlah yang pada akhirnya mengantarkan kita pada hal-hal unlogic semacam ini.padahal jelas bahwa sakit adalah ujian, ujian untuk mendekatkan kita pada Sang Pemilik Jiwa kita. Ketika mampu dihadapi dengan sabar, maka imbalannya adalah gugurnya dosa-dosa. maka apakah pantas jika manusia yang kerdil dan lemah menyandarkan hidupnya hanya pada sebutir batu ? Andrea Hirata menyebutnya : Obsesif Kompulsif terhadap batu Ponari. Menggelikan sekaligus mengenaskan.

Catatan Perjalanan


Kali ini bis Sumber Kencono membawa saya ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saya perkirakan perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam, hanya selisih sedikit dari jarak tempuh Madiun-Solo. Tapi ternyata kalkulasi saya salah besar, nilai galat perhitungan waktu saya meleset jauh dari kenyataan. 
Melewati RS Muwardi, saya berhenti di Tirtomoyo untuk berganti bis kecil jurusan Bulu-Kelir. Wahyu Putro, nama bis itu, membawa saya dengan laju tak lebih dari 30 km/jam lambat merayap laksana pawai 17 Agustus, melalui sudut-sudut kota Solo di siang hari yang padat pemukiman. Tak jauh berbeda dengan Madiun, sepanjang jalan dipenuhi gambar-gambar anak manusia yang ingin duduk di kursi wakil rakyat, apalagi saat itu bersamaan dengan Mukernas PDI-P yang bertempat di The Sunan Hotel. Aroma pemilu makin terasa tajam siang itu.
Tujuan saya adalah desa Gentan, Kecamatan Bulu, kediaman sahabat saya, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang meninggal beberapa waktu lalu. 
Lepas dari kota Solo memasuki kabupaten Sukoharjo, sawah-sawah hijau muda dengan ujung keemasan terbentang, mengingatkan saya bahwa masyarakat sekitar masih menyandarkan hidupnya pada pertanian. Bis mulai meningkatkan kecepatan, mungkin karena sadar tidak ada penumpang yang bisa diangkut di jalur itu. Suara Koes Plus bersaudara masih setia mengalun dari tape recorder karatan yang terletak di dekat sang supir bis. Saya sempat khawatir karena di depan saya melihat tulisan besar tertera “Selamat Datang di Kabupaten Wonogiri”. Apakah saya sudah terlewat ? Maklum ini kali pertama saya ke sana hanya berbekal petunjuk alamat dari sms. Ternyata jalur bis untuk menuju Kecamatan Bulu memang harus melewati Wonogiri terlebih dahulu, lalu memutar ke barat ke arah Kelir.
Turun dari bis, hawa sejuk perbukitan berhembus menjemput wajah saya. Tepat 5 jam perjalanan di atas bis dari Madiun hingga Bulu Sukoharjo, persis jarak tempuh Madiun-Jogja. Dengan berjalan kaki saya melewati rumah-rumah peduduk yang sangat sederhana di kelilingi hutan jati. Jalanan sangat sepi meski jam menunjukkan angka 11.16 siang. Saya bahkan bisa mendengar desis suara serangga dari pohon-pohon jati di sekeliling saya. Kurang lebih 1 kilometer saya berjalan hingga bertemu sahabat saya tepat di depan pemakaman. Tanah pekuburan masih basah karena hujan semalam, dan bunga mawar yang ditaburkan di atasnya belum lagi kering. Untuk sejenak saya memunajatkan doa untuk sang penghuni kubur, ibunda dari sahabat saya tercinta.
Dia masih sama seperti dahulu, masih mahasiswa UNS semester 10 yang pending skripsi gara-gara proposal ditolak DP II. Hanya bapaknya yang tampak lebih tua dan lelah, maklumlah terakhir kali bertemu beliau 6 tahun yang lalu. Kesedihan telah kehilangan istri tercinta terlihat dari sorot mata dan bias wajah beliau yang sederhana. Saya menyesal tidak bersilaturrahim lebih awal sebelum musibah ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. 
Jadwal mengajar kelas malam  tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama. 14.30 saya pamit pulang. Bis “Wahyu Putro” yang kembali mengangkut saya melaju lebih cepat daripada perjalanan berangkat tadi. Dan untuk kedua kalinya hari ini, kecelakaan sepeda motor kembali terjadi di depan mata saya. Darah berceceran, membuat perut saya langsung mual pingin muntah. Memang ada phobia tersendiri dengan cairan berwarna merah itu. Pelajaran moral no 17. Buat semuanya saja, hati-hati benar kalo naik sepeda motor, ini peringatan!
Hujan deras kembali mewarnai perjalanan kali ini. Saya mengambil headset dan menemukan frekuensi radio anak Solo yang bahasanya sudah “loe-gue”… benar-benar ngga mau kalah sama ibukota. 
Menjauhi kota Solo, hujan semakin deras membuat pemandangan luar dari jendela bis tampak kabur tetapi tidak menyurutkan semangat pengamen bisu yang mencoba bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak terbata-bata di depan saya. Tuhan, lidah saya kelu melihatnya. Potret lain dari jahatnya kemiskinan. 
Dear God” yang dinyanyikan Avanged sevenfold mengalun pelan, membawa ingatan saya pada kepingan-kepingan hikmah yang harusnya mampu saya tangkap dari perjalanan ini. Hidup, nasib, dan kematian semua ada yang berkuasa mengaturnya, dan kita hanya bisa pasrah.  



Serenada Kereta Senja


Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 15.46. Kereta Pasundan itu datang tepat waktu, bisa dibilang sesuatu yang jarang terjadi pada jadwal kereta kelas ekonomi. Rencana awalnya, dari stasiun Lempuyangan, saya dan sahabat saya akan naik Pramex turun di Solo Balapan, lalu menggunakan bis untuk menuju Madiun. Tapi beruntung ada kereta Pasundan jurusan Madiun yang jadwalnya hampir bersamaan dengan Pramex. Dan untungnya lagi, baru beberapa menit di atas kereta yang penuh anak manusia, hujan turun dengan deras. Paling tidak kami ngga harus kehujanan di halte bis seperti rencana kami awalnya.
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya, penumpang turun dan naik silih berganti. Sampai akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman tepat di samping jendela yang bingkainya uda berkarat dengan kaca yang tak lagi utuh. Sahabat saya tampak asyik bercakap-cakap dengan ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya, tipikal wanita yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk shopping …(hehe.. habis kelihatan dari 4 tas belanjaan berisi kain dan sandal yang diburunya dari Beringharjo ).  
Saya memilih mengeluarkan Maryamah Karpov dari ransel butut di pangkuan saya. Menekuni lembar demi lembar perjalanan Ikal sambil sesekali melihat ke arah luar jendela. Gradasi langit tak begitu kontras senja ini, hanya warna putih pucat yang menyisakan gerimis yang tidak mempedulikan tubuh-tubuh basah kedinginan para pengadu nasib. 
Sementara itu pedagang-pedagang asongan terus berseliweran ngga kenal lelah, melompat dari gerbong satu ke gerbong berikutnya seperti arus kendaraan  saat mudik lebaran, rame. Menawarkan dagangan dengan semangat 45, seperti penjual aqua yang masih juga kekeh menawari saya minuman itu untuk kali ke-11 sejak saya duduk di kereta meskipun saya telah mengatakan tidak juga untuk ke-11 kalinya.
Kadang kemiskinan membuat orang menjadi sangat kreatif. Seperti halnya profesi-profesi yang berkantor di atas kereta ini. Mulai dari pedagang minuman sampai pedagang alat pijat, pengamen yang lebih mirip preman sedang memalak korbannya, lalu ada juga profesi penjaja jasa sapu gerbong yang memang sudah dipenuhi bungkus sampah makanan sampai-sampai kereta ekonomi ini menciptakan ekosistem tersendiri bagi semut, lalat, kocoa, dan makhluk bersayap lainnya (thank God saya belum pernah ketemu tikus selama pengalaman naik kereta). Kemudian ada juga orang yang tiba –tiba menyemprotkan cairan dari botol bertuliskan Bayfresh ke muka kita lalu menodongkan tangan minta bayaran. Kereta Ekonomi jurusan Surabaya-Madiun jauh lebih "angker", kalo ada pengamen yang genjrang-genjreng lalu kita pura-pura tidur, jangan harap mereka bakal berlalu begitu saja. Frekuensi nada suara mereka yang minor-tenor justru bakal makin ditinggikan. Sebuah intervensi terhadap kenyamanan penumpang yang teramat santun. Benar-benar orang-orang ini jeli melihat peluang sekecil apapun untuk mendapatkan sekeping receh demi bertahan hidup. Sementara di sudut lain yang hangat, bapak-bapak berdasi yang memanggul amanah besar nasib rakyat tertidur nyenyak di atas kasur busa hotel bintang lima setelah kekenyangan menikmati jamuan dinner dengan orang-orang yang ingin memuluskan proyek illegal mereka. 
   



Mencintai Trigonometri


Saya masih ingat betul bagaimana saya begitu membenci materi pelajaran yang satu ini di kelas 2 SMA dulu. Trigonometri yang dipenuhi pengembangan rumus-rumus, dalil pembuktian, dan aplikasinya dalam teorema limit maupun kalkulus integral benar-benar bikin kepala saya rasanya berpindah dari tempat yang semestinya. Di mata kuliah trigonometri semester 1 pun saya belum juga menemukan intisari trigonometri, dan dengan lapang dada saya menerima predikat nilai c yang dihadiahkan dosen saya tercinta.
Kemudian ujian sebenarnya itupun dimulai. Saya harus membimbing siswa kelas 2 SMA yang kebetulan menanyakan tugas sekolah tentang trigonometri. Satu jam saya tidak berkutik. Bisa membayangkan apa yang saya rasakan saat itu ? Rasanya ada mercon 46, 7 kg yang meletus di kaki saya yang bisa bikin tubuh saya terlempar jutaan tahun cahaya dari bumi…..weks!!!
Yang jadi keprihatinan disini siswa yang saya ajar tadi notabene adalah adik kelas saya satu almamater, guru matematika yang mengajarnya secara kebetulan yang aneh adalah guru saya juga, dan soal trigonometri yang dibawanya adalah soal yang sama pernah diberikan kepada saya waktu sekolah dulu, dan saya masih belum juga mampu menaklukkan soal itu hingga jelang beberapa tahun berikutnya. Memalukan memang … hiks!!!
Sejak detik itu ekspedisi saya menjelajahi dunia trigonometri dimulai. Menyelami ilmu yang dikembangkan oleh Hiparcus dari Alexandria 2200 tahun lalu ini ternyata begitu mempesona. Ternyata ribuan tahun lalu bangsa Yunani telah mengenal aplikasi perhitungan trigonometri untuk menghitung panjang lintasan orbit yang dilewati bintang-bintang. Lalu kemudian ilmu yang menawan ini terus berkembang secara luar biasa. Adalah Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani (940 M), seorang ilmuwan Muslim yang meletakkan dasar-dasar teori relatif segitiga parabola dan mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2) yang akhirnya menghasilkan berbagai penjabaran sudut ganda, penjumlahan dan pengurangan dua sudut dalam perbandingan sisi-sisi segitiga, aturan perkalian sinus kosinus dan tangen. Intisari lain dalam trigonometri adalah konsep kuadran yang secara misterius membagi lingkaran 360 derajat ke dalam empat daerah dengan sudut siku-siku  yang kongruen tetapi memiliki nilai positif negatif perbandingan segitiga yang berbeda.
Kalo saya boleh sedikit membagi sedikit kunci menguasai Trigonometri SMA buat adik-adik di sekolah, yaitu dengan memahami konsep kuadran dengan menggunakan diagram. Memahami dimana letak negatif/positif sinus, cosinus, dan juga tangen dalam kuadran tersebut. Lalu menguasai rumus sudut ganda untuk sin dan cos karena kedua jenis rumus ini bakal sering dipake untuk penyelesaian limit trigonometri. Selain itu beberapa rumus penjumlahan/pengurangan sinus maupun kosinus karena rumus ini akan bermanfaat dalam penyelesaian soal-soal integral dan diferensial trigonometri
Sekarang, melihat murid-murid saya menderita mengerjakan soal-soal trigonometri, rasanya pengin tersenyum penuh kemenangan, menikmati indahnya pembalasan dendam….(jahat ya ? hehe..).


Kultus Seragam

Di saat krisis global memberi efek negatif terhadap pergerakan sektor ekonomi dan menyebabkan PHK jutaan karyawan di skala domestik maupun internasional, dunia pendidikan tetap menyediakan lapangan kerja yang abadi. Khususnya sektor pendidikan nonformal. Sayang sekali kebanyakan dari kita lebih memburu sesuatu yang “kasat mata”, atau terus terang saya menyebutnya “SK dan seragam”. Maklum, kultur masyarakat kita masih terjebak pada pola kuno bahwa pegawai instansi dengan seragam yang menempel di anggota badan memberi kesan prestise lebih, paling tidak di depan mereka yang bukan pegawai kantoran.
Sebagai contoh nyata adalah teman saya sendiri yang notabene produk kampus dan saya anggap punya pemikiran lebih maju satu digit dibanding yang lain. Seringkali dia menyindir saya untuk segera mencari pekerjaan. “Maaf ??....” Tentu saja saya bingung dengan maksud kata-katanya mencari pekerjaan. Dalam definisi saya, bekerja adalah ketika kita mampu menghasilkan materi dalam hal ini uang, dengan kemampuan, keahlian, kecakapan yang kita punya di suatu bidang, entah itu berupa produk barang atau jasa (dengan usaha-usaha yang halal tentunya). Dan seingat saya, sudah sejak lima tahun lalu saya melakukannya (yaitu sejak saya masih kuliah di semester 3), dengan menjadi tutor matematika anak-anak sekolah, baik sebagai tutor lepas maupun di bimbingan belajar.
Ternyata dalam bingkai pemikiran teman saya tadi, yang dia anggap bekerja adalah ketika seseorang sudah bernaung di satu instansi resmi, memakai seragam (lebih bagus lagi kalo seragam PNS), dan punya SK. Ngga peduli walaupun harus menempuh jarak puluhan kilo setiap hari dengan honor yang kadangkala hanya sebanding dengan 1 liter bensin dikali 10 tiap bulannya, yang penting uda pake seragam dan namanya tercantum dalam database pemerintah, selanjutnya tinggal nunggu pengangkatan. Itu baru namanya kerja versi teman saya. Hhmmm, Paradoks. (catatan : tentu yang saya maksud disini bukanlah beliau-beliau yang memang secara tulus mengabdikan diri untuk pendidikan di pelosok lho…)
Saya lalu membandingkan dengan kawan-kawan blogger yang hanya dengan duduk di depan computer, kadang berkantor hanya di warnet, tanpa pake atribut kebesaran bernama “seragam”, dan tidak bernaung pada instansi manapun, tetapi mampu menghasilkan ratusan dollar per bulannya. Paradoks jilid dua.
Lagi-lagi kita dihadapkan dengan stigma yang telah menjelma menjadi kultur. Sebuah pandangan kuno ala masyarakat tradisional yang mengkultuskan seragam sebagai simbol prestise keagungan.
Padahal kalo kita mau membuka paradigma kita lebih luas, lihat saja bagaimana Purdi E. Chandra mengembangkan Primagama hingga menjadi bisnis multi frenchise di lebih dari 106 kota yang menghasilkan 70 milyar per tahun. Juga Ir. Ciputra, sang begawan properti yang rela meninggalkan zona nyamannya untuk membangun bisnis real estate yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mereka memulai dari nol, dan tanpa seragam.
Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya mereka yang beranggapan bahwa kerja kantoran adalah kerja yang paling ideal bagi seorang yang bergelar sajana. Itu adalah produk berpikir yang telah mendarah daging ditanamkan keluarga, masyarakat, dan televisi.
Saya kira intinya adalah sekali lagi mengubah paradigma terhadap definisi bekerja itu sendiri. Berapa banyak para sarjana kita yang berpredikat cumlaude menganggur bertahun-tahun menunggu tes CPNS yang ngga jelas proses rekrutmennya, dan malu untuk memulai berwiraswasta. Bukankah seharusnya kaum intelektual mampu menciptakan lapangan kerja? Bukannya mencari kerja?
Sebenarnya kalo kita jeli, banyak peluang usaha yang mampu menghasilkan rupiah. Kuncinya adalah peka terhadap sekitar, kalkulasikan antara kemampuan dengan usaha yang akan dijalani, senantiasa belajar, tidak malu untuk memulai dan menghilangkan kultus terhadap seragam.