Catatan Pagi



Jam digital di
Sony Ericsson saya menunjukkan angka 01. 35 dini hari. Saya sudah di atas tunggangan, bersiap untuk meluncur di sirkuit jalanan kota. Sayup suara ibu berpesan, “Yen wis teko enggon, telepon yo nduk…..” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih “Kalo uda nyampe tujuan, telepon ya, Nak”). Pesan seorang ibu yang akan melepas anak perempuannya menunaikan tugas dini hari ini. Bismillah, mudah-mudahan nyampe dengan selamat. 

Langit masih menyisakan pekat, Cuma ada satu dua kendaraan yang lewat. Ada beberapa warung yang masih buka menemani pengelana malam demi menghimpun segenggam rupiah, menjajakan menu sahur buat para pengais pahala.

Ini memang hari pertama saya menjalankan amanah kerja malam. Membangunkan manusia buat sahur. (Ronda kali ya …. Hehe). Yah, bisa dibilang satu ordo tugas tapi dalam bungkus yang berbeda. Sebenarnya buat saya tidak masalah, insyaallah ini bagian dari ibadah juga. Mudah-mudahan lillahita ‘ala. Yang sempat jadi masalah adalah protes dari ibu yang tidak merelakan anak perempuannya berangkat sendiri di malam buta, walaupun jarak rumah ke tempat kerja tidak lebih dari seperempat putaran penuh jarum jam kalo naik motor. Bahkan beliau sempat berniat menelepon Kabag saya agar membatalkan jadwal malam yang sudah final. Hehehe, Thank God akhirnya enggak jadi. Saya bisa maklum, mungkin begitulah fitrah seorang ibu. Meskipun sudah segede ini, kadang ibu masih saja overprotective. Oh, Ibu….

Gusti, mudah-mudahan Kau ikhlaskan hati ini agar apa yang kukerjakan bisa menjadi catatan amal di Ramadhan-Mu. Amin.

Buat mbak NewSoul yang telah menyegarkan partikel kelesuan dalam hari-hariku, dengan tulisan-tulisan yang penuh makna, terimakasih. Pun jua atas Award yang sudah dihibahkan buat jiwa yang gersang ini. Sungguh, perhatianmu menggetarkan langit (hehehe saya harus mengucapkan itu untuk kesekian kalinya…).



award dari NewSoul

Buat mbak Fanda juga yang telah beberapa waktu menganugrahi award (gara-gara saya yang nodong hehehe). Maaf baru dipajang di tulisan ini. Karena saya merasa belum pantas untuk itu. Trimakasih.


award dari bukuFanda

 

Mencari Jalan Buat Jiwa

Beberapa waktu tidak mengunjungi blog ini. Kangen sekali rasanya. Blog yang dilahirkan untuk pertama kalinya dengan semangat dan idealisme. Tentang keresahan hati, keterbatasan diri untuk berbuat sesuatu, tentang isi kepala yang tidak tersampaikan karena belum tentu setiap orang bersedia mendengar. Tentang pemikiran yang mungkin bersebrangan dan melawan arus.

Tentang kejujuran menjadi diri sendiri karena pada kenyataannya tidak semua orang mampu mengungkapkan jati diri. Lagipula postulat hidup telah memperlihatkan bahwa manusia kebanyakan hanya dinilai dari penampilan luarnya. "The Way I am", menjadi diri sendiri apa adanya, begitulah kira-kira alasannya. Meskipun dibuat dengan tertatih-tatih karena si pembuatnya adalah seorang yang gaptek yang minus ilmu tentang cyber space.

Belakangan, ketika berbagai masalah mendera jalan hidup, datang bergantian mengakrabi nasib. Kran semangat menulis itupun seakan ikut macet. Tenaga dan pikiran tersedot, lalu hanya menyisakan eksistensi malas dan murung yang hampir menyentuh stadium lanjut.

Namun, manusia mana yang hidup tanpa masalah ? Di atas Langit masih ada langit. Mengapa pemikiran saya jadi begitu sempit ? Bukankah segala masalah adalah intisari kehidupan yang membedakan seseorang dengan zombie? Tuhan, ternyata jiwa ini masih begitu kerdil.

Perkataan seorang teman di tempo hari seakan menjadi energi listrik yang meletup menyalakan kran semangat ini.
"Ketika engkau menghadapi masalah, bicaralah. Biarkan seseorang meringankan bebanmu, atau paling tidak bicaralah pada secarik kertas. Dengan menulis engkau akan mampu melihat lebih jauh dalam perspektif yang berbeda".

Dengan menulis, semua masalah akan terlihat lebih nyata dalam urutan yang logis dan sistematis ibarat matriks-matriks yang siap dimanipulasi dalam hitungan. Menulis, hhmmm.. sebuah ritual yang beberapa waktu ini terabaikan karena kesibukan yang semu. Mudah-mudahan jiwa ini bisa mencari jalannya untuk segera kembali.