Channel Youtube Rosi Atmaja : Pembahasan soal Identitas Trigonometri

Channel Youtube Rosi Atmaja : Seri Parenting membuat kalung sendiri dari manik-manik

11/02/09

Serenada Kereta Senja


Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 15.46. Kereta Pasundan itu datang tepat waktu, bisa dibilang sesuatu yang jarang terjadi pada jadwal kereta kelas ekonomi. Rencana awalnya, dari stasiun Lempuyangan, saya dan sahabat saya akan naik Pramex turun di Solo Balapan, lalu menggunakan bis untuk menuju Madiun. Tapi beruntung ada kereta Pasundan jurusan Madiun yang jadwalnya hampir bersamaan dengan Pramex. Dan untungnya lagi, baru beberapa menit di atas kereta yang penuh anak manusia, hujan turun dengan deras. Paling tidak kami ngga harus kehujanan di halte bis seperti rencana kami awalnya.
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya, penumpang turun dan naik silih berganti. Sampai akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman tepat di samping jendela yang bingkainya uda berkarat dengan kaca yang tak lagi utuh. Sahabat saya tampak asyik bercakap-cakap dengan ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya, tipikal wanita yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk shopping …(hehe.. habis kelihatan dari 4 tas belanjaan berisi kain dan sandal yang diburunya dari Beringharjo ).  
Saya memilih mengeluarkan Maryamah Karpov dari ransel butut di pangkuan saya. Menekuni lembar demi lembar perjalanan Ikal sambil sesekali melihat ke arah luar jendela. Gradasi langit tak begitu kontras senja ini, hanya warna putih pucat yang menyisakan gerimis yang tidak mempedulikan tubuh-tubuh basah kedinginan para pengadu nasib. 
Sementara itu pedagang-pedagang asongan terus berseliweran ngga kenal lelah, melompat dari gerbong satu ke gerbong berikutnya seperti arus kendaraan  saat mudik lebaran, rame. Menawarkan dagangan dengan semangat 45, seperti penjual aqua yang masih juga kekeh menawari saya minuman itu untuk kali ke-11 sejak saya duduk di kereta meskipun saya telah mengatakan tidak juga untuk ke-11 kalinya.
Kadang kemiskinan membuat orang menjadi sangat kreatif. Seperti halnya profesi-profesi yang berkantor di atas kereta ini. Mulai dari pedagang minuman sampai pedagang alat pijat, pengamen yang lebih mirip preman sedang memalak korbannya, lalu ada juga profesi penjaja jasa sapu gerbong yang memang sudah dipenuhi bungkus sampah makanan sampai-sampai kereta ekonomi ini menciptakan ekosistem tersendiri bagi semut, lalat, kocoa, dan makhluk bersayap lainnya (thank God saya belum pernah ketemu tikus selama pengalaman naik kereta). Kemudian ada juga orang yang tiba –tiba menyemprotkan cairan dari botol bertuliskan Bayfresh ke muka kita lalu menodongkan tangan minta bayaran. Kereta Ekonomi jurusan Surabaya-Madiun jauh lebih "angker", kalo ada pengamen yang genjrang-genjreng lalu kita pura-pura tidur, jangan harap mereka bakal berlalu begitu saja. Frekuensi nada suara mereka yang minor-tenor justru bakal makin ditinggikan. Sebuah intervensi terhadap kenyamanan penumpang yang teramat santun. Benar-benar orang-orang ini jeli melihat peluang sekecil apapun untuk mendapatkan sekeping receh demi bertahan hidup. Sementara di sudut lain yang hangat, bapak-bapak berdasi yang memanggul amanah besar nasib rakyat tertidur nyenyak di atas kasur busa hotel bintang lima setelah kekenyangan menikmati jamuan dinner dengan orang-orang yang ingin memuluskan proyek illegal mereka. 
   



4 komentar:

  1. mbak rosi ini bisa aja ngrangkai kata....hahahaha. masak iya berkantor diatas kreta hehehe

    BalasHapus
  2. Memang Rosi luar biasa, karya tulisnya setingkat Novel Ternama, lanjutkan perjuangan, coz ni dah ada hasilnya, Blognya ber PR 1, Selamat..

    BalasHapus
  3. bayu : Lha bener kan Bay...metafora profesi hehe

    BalasHapus
  4. hanya manusia biasa : biasa saja, masih belajar. PR 1 itu maksudnya apa ya hehehe?

    BalasHapus

Jangan sungkan tinggalkan komentar anda disini agar kita dapat saling berbagi pandangan dan pengetahuan. Salam kenal, dan terimakasih telah berkunjung.